
Anton menghampiri Nadine ketika Lucky sudah keluar dari area cafe tersebut.
"Nad, semuanya baik-baik apa, kan?"
Nadine mengangguk, tapi masih dengan raut wajah yang tampak syok. Dia tidak tau mau memulai menceritakannya darimana pada Anton.
"Ya udah, kalau semuanya baik-baik aja, aku lega kalau gitu. Tapi, kamu gak berubah pikiran sama rencana pernikahan kita kan?" canda Anton.
Nadine mengadah pada pria tinggi disisinya. "Apaan sih, Mas? Kok jadi berpikir kesana?" ujarnya sembari mengulumm senyum.
"Aku pikir kamu berubah pikiran setelah bicara empat mata sama Lucky."
Nadine mematut senyum tipis. "Gak, Mas. Sekarang aku boleh nanya gak sama kamu."
"Ya, tanya aja, Nad."
"Kamu udah tau sejak awal, kan, kalau aku gak bisa memberi keturunan buat kamu?" Nadine terpikir untuk menguji jawaban Anton kendati dia sudah tau fakta mengenai dirinya sekarang.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Kamu gak keberatan soal itu, Mas?"
"Nad, kalau aku keberatan soal itu gak mungkin aku menjatuhkan pilihan sama kamu. Lagian, kita udah punya Elara. Kita bisa besarkan dia sama-sama."
"Jadi, kamu gak kepengen punya keturunan dari aku nantinya, Mas?"
"Ya, kalau soal itu ... memang ada keinginan, Nad. Tapi dari awal kita udah tau konsekuensi dan kapasitas pasangan kita masing-masing, kan? Ya udah, itu artinya aku gak akan meminta yang gak akan bisa kamu berikan. Sesimpel itu."
Nadine menatap Anton dengan lekat. "Makasih, ya, Mas. Kamu selalu nerima aku," katanya.
"Hmm, kamu juga nerima aku meski aku masih merintis, Nad."
Anton menggenggam kedua jemari Nadine dan membalas tatapan wanita itu dengan sama lekatnya.
"Terus, kalau seandainya aku bisa hamil, gimana, Mas?"
Anton menatap Nadine dengan tatapan aneh.
"Gini, ya, Nad ... aku gak mau berandai-andai kalau ternyata itu justru membuat aku jadi mengharapkan sesuatu yang diluar batas. Aku gak mau jadi punya harapan besar terkait hal itu, karena itu akan membuat kita berdua yang sakit hati nantinya. Jadi, mulai dari sekarang, aku ... kamu ... hindarilah mengkhayalkan sesuatu yang berujung pada sebuah harapan fana. Kita saling menerima itu udah lebih dari cukup, gak perlu ditambahi dengan "seandainya ini' atau 'seandainya itu'," tukasnya panjang lebar.
Nadine menghela nafas panjang, kemudian tanpa kata dia menyandarkan kepala dalam dada bidang pria itu.
"Aku merasa sangat beruntung memiliki kamu, Mas," tutur sang wanita dalam posisinya.
Sementara Anton, dia harus merasa berperang dengan dirinya sendiri, membalas pelukan Nadine atau justru diam saja dan menerima. Masalahnya, ini adalah skinship pertama diantara mereka. Maksudnya, yang lebih dari berpegangan tangan.
Untuk hal ini, jantung Anton rasanya berdentum dengan keras. Dia yakin Nadine yang bersandar disana dapat mendengar suara jantungnya yang sudah selayaknya drum yang dimainkan dengan lincahnya.
"Mas?" Nadine mendongak pada pria yang mati kutu itu.
"Ya-ya?" Anton gelagapan.
"Kamu lucu banget, sih, Mas. Kayak anak baru gede yang gak pernah dipeluk cewek aja," kata Nadine sambil menahan geli, dia memang mendengar suara jantung Anton yang seperti genderang mau perang.
__ADS_1
"Ah, i--iya, Nad."
"Iya, apa?" tanya Nadine kembali mendekap Anton meski tak dibalas oleh pria itu dengan perlakuan yang sama, Nadine memahami sikap malu-malu sang pria. "Iya, kalau kamu lupa rasanya dipeluk cewek, ya?" goda wanita itu.
"Nad, bukannya nolak, tapi diujung sana-- Sky sama Yara ngetawain kita."
Nadine segera terkekeh, namun urung melepas tangannya yang tertaut sampai ke belakang punggung Anton. "Mana? Biarin lah, lagian mereka bukan ngetawain kita, Mas. Aku yakin mereka itu cuma ngetawain kamu, makanya kamu balas pelukan aku, coba!"
Sekali lagi Anton menahan malu karena godaan kekasihnya. Dengan ragu-ragu, ia turut melingkarkan tangannya pada tubuh ramping Nadine dan nyatanya, itu terasa sangat pas sekali, seperti Nadine memang dipasangkan untuk dia.
Anton merasa sangat nyaman dalam posisinya. Namun sayang, baru ingin meresapi momen itu, Nadine sudah keburu membuat jarak diantara mereka. Mau tak mau, Anton segera melepaskan pelukannya dengan tidak rela.
"Udah dulu, sisain buat besok-besok," kata Nadine sambil tergelak.
Anton sampai menipiskan bibir kemudian menghela nafas berat. Tak ada komentar. Hanya dalam hati dia merutuk keras karena dia yang kebablasan memeluk Nadine. Ah, tidak, wanita itu yang menggodanya tadi.
...~~~...
Merasa sudah cukup matang dalam perekonomian. Anton dan Nadine akhirnya terbang ke kampung halaman wanita itu. Rencananya mereka mau meminta restu pada kedua orangtua Nadine.
Tentu Nadine sudah banyak menceritakan tentang pria yang ingin menikahinya. Meski terlalu cepat dan belum genap setahun dari perpisahannya bersama Lucky, nyatanya orangtua Nadine menyetujui keputusan anaknya.
Bagi mereka, kebahagiaan Nadine adalah yang utama, yang penting pria kedua ini adalah pria yang baik dan sudah dapat menerima Nadine apa adanya.
Cukup sudah mereka mendengar penderitaan putri bungsu mereka itu. Jadi, dengan menikahnya Nadine untuk kedua kali nanti, itu menunjukkan bahwa wanita itu telah move on dan dapat melupakan masa lalunya yang buruk.
"Ibu sama Bapak merestui kalian berdua, Nak." Bu Yayuk mewakili jawaban dari suaminya yang-- menyerahkan jawaban baik itu kepadanya--yang lebih pandai bertutur kata.
"Kalau perlu bantuan apapun, mengenai pernikahan kalian, jangan sungkan untuk memberitahu pihak keluarga ya, Nduk."
"Syukurnya kita tinggal menjemput restu dari Bapak dan Ibu saja, kita juga mengharapkan kehadiran para keluarga di pernikahan kita nantinya," sahut Anton dengan bijak.
"Yo wis to, le. Ibu sama Bapak yang penting kalian sama-sama suka, seneng dan bahagia lahir batin. Mengenai kekurangan Nadine bagaimana, apa kamu udah tau, le?"
Anton mengangguk. "Iya, Bu. Sejak awal saya sudah tau. Lagipula saya bukan mengharap keturunan dari Nadine, saya mau mengikat Nadine karena dia wanita pilihan saya apapun kekurangannya."
"Bapak harap, perkataan kamu hari ini bisa dipegang, ya, Nak. Jangan sampai menjadi boomerang atau alasan untuk berpisah di kemudian hari."
"Iya, Pak. Bagi saya, anak itu adalah bonus. Jika Tuhan mengizinkan kami memiliki keturunan maka pernikahan kami diridhoi untuk mendapatkan bonus itu, tapi jika tidak, saya tidak mungkin menuntut keputusan Tuhan karena sejak awal saya sudah tau kondisi Nadine. Lagipula, saya juga sudah memiliki anak yang bisa kami besarkan bersama-sama dan menjadi pelengkap kebahagiaan kami," tandas Anton membuat kedua orangtua Nadine puas akan jawabannya.
Setelah mendapat restu, Anton dan Nadine tidak langsung pulang hari itu juga sebab kedua orangtua Nadine masih merindukan putri mereka.
Nadine juga menunjukkan kamar untuk Anton tempati. Tak lupa Nadine mengenalkan Anton pada dua orang kakaknya berikut pasangan mereka.
"Ini Mas Dodi, suaminya Mbakyu ku, Mas."
Anton pun berkenalan dengan kakak ipar Nadine.
"Nah, ini Mbakyu ku, Mas. Mbak Nada, dia ini istrinya Mas Dodi."
"Apa kabar, Mbak?" sapa Anton ramah.
"Baik, sehat, apalagi denger kalian mau menikah tambah seneng aku," jawab Nada semringah.
__ADS_1
Anton ikut terkekeh, ternyata keluarga Nadine tidak semenyeramkan ekspektasinya. Dia pikir dia akan disambut dengan sikap kaku, nyatanya mereka semua ramah.
"Ini Mbak Nadhifa, dan itu suaminya Mas Herman."
"Hai, bro. Selamat datang di keluarga kita," sahut Herman menimpali. Dia yang paling kocak diantara semuanya dan juga cepat berbaur.
Setelah bercengkrama dan mendekatkan diri dengan keluarga besar Nadine. Anton dan Nadine berkeliling kampung dengan sepeda ontel milik Ayah Nadine.
Sepeda tua itu di goes Anton sampai ke kebun yang luas dengan hamparan pohon teh.
"Bagus banget pemandangan di desa sini, ya, Nad."
"Ini yang sering buat aku kangen pulang ke rumah, Mas."
"Ya, pasti. Aku aja betah disini," sahut Anton.
Nadine tertawa pelan. "Aku berat, gak, Mas?" tanyanya ke topik lain.
"Berat apanya?"
"Ya kamu boncengin aku naik sepeda, apa gak berat?"
"Biasa aja, kurus gini kamu, mana ada berat sama aku," kata Anton lagaknya jumawa.
Nadine terkekeh, namun cerita mereka terputus karena mendengar celetukan dan yel-yelan anak-anak desa yang lewat segerombolan.
"Orang gilak! Orang gilak!" Anak-anak itu menyanyikan lagu ejekannya seperti mengarah pada seseorang yang sedang mereka taburi daun-daun teh kering.
Atensi Nadine dan Anton pun langsung teralihkan pada aksi mereka.
"Mas, kasihan banget, anak-anak ini kok begini, sih kelakuannya." Nadine merujuk kasihan pada orang yang diejek anak-anak itu, orang itu terlihat berjongkok dan dikerumuni para bocah.
"Hei, kalian!" seru Nadine. "Pergi-pergi! Bocah edun!" umpat Nadine kesal. Dia tak menyangka anak-anak di kampungnya akan berlaku demikian.
Berhamburan lah bocah-bocah itu sebab mereka bukan takut pada umpatan Nadine, tapi takut pada sorotan tajam mata Anton yang meski tak berkata-kata tapi terlihat menakutkan. Mereka langsung ngacir karena sungkan.
"Mbak, gak apa-apa? Kok diam aja sih di bully bocah-bocah?" Nadine membantu membersihkan daun-daun kering yang jatuh dan mengotori rambut kusam dan kering milik sang wanita yang dirundung tadi.
Anton sendiri yakin, wanitanya memang berhati emas sampai mau menolong orang dengan gangguan jiwa ini. Berani juga Nadine, pikirnya.
Namun, alangkah terkejut Nadine saat menyadari siapa sosok yang kini ada dihadapannya.
"Firda?"
Wanita dengan gangguan jiwa itu lantas menatap Nadine seketika itu juga.
"Firda? Ini beneran kamu? Kenapa kamu jadi begini, Fir?" Ada raut sendu dalam bola mata Nadine, tapi dia terhuyung saat Firda mendorong tubuhnya kebelakang, untungnya Anton sigap menangkap tubuh wanita itu.
Firda segera melarikan diri saat itu juga, tampaknya dia terlalu malu berhadapan dengan Nadine, atau justru gangguan pada jiwanya yang membuatnya tidak ingat akan siapa Nadine.
Bersambung ...
Next? Komen.❤️✅
__ADS_1