
Juna tidak bisa menahan airmata saat diperjalanan pulang menuju kediaman orangtuanya. Sesekali ia menyeka itu, sebab malu dengan lirikan sang Ayah yang sepertinya menyadari keadaannya. Bahkan Juna membiarkan sang Ayah untuk menyetir mobil sebab ia tidak yakin bisa fokus mengemudi karena pikirannya saat ini benar-benar berkecamuk.
Rupanya seperti ini rasanya. Dikhianati dan dibohongi. Ia baru menyadarinya sesaat setelah Yara menyebutkan nama pria lain. Sky. Ya, rupanya Sky adalah pria itu-- yang telah hadir ditengah-tengah rumah tangganya dengan Yara. Mengambil hati istrinya yang jelas sudah ia lukai dan khianati.
Ya, Juna sadar bahwa kehadiran Sky tidak luput dari kesalahannya juga--yang tanpa sengaja telah memberi akses untuk orang lain masuk. Sky seperti air yang menelusup melalui celah retak itu. Retak karena perbuatannya sendiri.
Dalam hati, Juna membandingkan dirinya dengan seorang Sky Lazuardi. Ia menarik nafas dalam, sudah jelas ia kalah telak.
"Yang udah terjadi, gak usah kamu sesali. Tapi, kamu harus belajar dari kesalahan kamu itu!" celetuk Pak Bayu pada sang putra.
Juna memijat pelipisnya. Tatapannya nanar memandang jalanan diluar sana.
"Kamu kenal sama pria bernama Sky itu?" Bu Laksmi yang duduk di jok belakang tidak bisa lagi menutupi rasa ingin tahunya.
Juna mengangguk. "Dia teman sekolah Yara. Beberapa bulan lalu memang Yara ikut acara reuni. Aku gak nyangka itu jadi awal pertemuan kembali diantara mereka, Ma," lirihnya.
Bu Laksmi memasang wajah masam. Ia juga tak senang dengan kenyataan Yara yang telah mengkhianati Juna. Tetapi, apa mau dikata, perbuatan putranya bahkan lebih parah dan itu sudah terjadi bertahun-tahun. Ia tidak bisa membela Juna, ia juga tak bisa menyalahkan Yara. Semua terasa serba salah.
"Ya udah, kalian udah bercerai secara agama. Nanti segera urus ke pengadilan sebelum Anton yang mengurusnya lebih dulu," timpal Pak Bayu.
Sebelumnya, setelah Yara mengucapkan nama Sky ditengah-tengah rasa ingin tahu Juna tadi, wanita itu langsung meminta Juna untuk mengucap kata talak.
Akhirnya, dengan berat hati Juna mengabulkan itu. Suaranya terdengar bergetar sebab diujung hubungannya bersama Yara hari ini, barulah sebuah penyesalan yang sangat dalam menghantam seluruh sisi dalam dirinya.
Yara adalah wanita baik yang telah ia kecewakan dan khianati. Yara yang telah ia sakiti dan Yara pula yang telah ia sia-siakan.
Tuhan, karma seperti apa yang akan diterimanya nanti? Setelah menyakiti hati seorang istri yang selama ini telah mengabdi dan mendampingi?
Sampai dikediaman orangtuanya, Juna langsung masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati semasa lajang. Dirumah besar itu, memang tinggal Juna saja yang menjadi harapan orangtuanya-- sejak saudara kandungnya, Shinta, meninggal dunia di usia remaja-- karena sakit.
Juna tidak mau diganggu, dia mau merenungi semua ini di kamarnya. Kedua orangtuanya hanya bisa mengendikkan bahu sebab melihat tingkah putra mereka itu. Mereka berharap, kejadian yang terjadi ini dapat menjadi pelajaran terbesar bagi hidup Juna.
Juna pun terduduk di bibir ranjang, ia mencengkram kepalanya sendiri. Sekarang Yara bukan lagi istrinya. Beberapa bulan kedepan status itu akan resmi berganti setelah sebuah surat dari pengadilan jatuh dihadapannya.
Juna memutuskan untuk berbaring, ia memejamkan matanya rapat, masih juga berharap jika semua ini hanya mimpi. Tetapi, yang ia dapatkan dikala terpejam justru sebuah gambaran ketika Sky tengah menjamahh tubuh Yara, meninggalkan bekas kemerahan yang sempat ia temukan pada saat itu. Seketika itu juga Juna terduduk. Rasa cemburu menyerangnya, tapi ia bisa apa? Yara bukan lagi istrinya secara agama. Talak itu sudah jatuh beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Saat Juna masih terbayang akan perlakuan Sky kepada Yara yang memantik kemarahannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nama Shanum tercantum sedang memanggil.
"Yang? Kamu gak pulang kesini?" Terdengar suara Shanum menunggu jawabannya dari seberang panggilan.
"Enggak. Aku masih di rumah Mama."
"Terus? Malam ini aku bakal tidur sendirian??"
"Iya, Num. Gimanapun juga kita belum resmi menikah..." lirihnya tanpa sempat berpikir.
Shanum malah tergelak diseberang sana. "Yang? Kamu lagi ngelindur, ya? Kemana aja kamu selama ini? Sekarang kamu baru sadar kita bel menikah, hah?" kekehnya.
"Udahlah Num, kepalaku lagi pusing. Kita emang belum nikah, kamu mau terus aku tiduri sebelum kita resmi nikah?" jawabnya random.
"Juna? Kamu ini kenapa sih?"
"Udahlah, gak usah nelpon lagi kalo cuma buat pikiranku makin runyam. Hargai diri kamu, Num! Jangan paksa aku untuk tetap kembali kesana sebelum status kita jelas!"
Juna tau ucapannya kali ini pasti sangat menohok bagi Shanum, bahkan mungkin ia juga telah mencampakkan harga diri wanita itu. Tapi, mau bagaimana lagi, terkadang sikap Shanum memang seringkali merendahkan diri sendiri.
Juna memutus panggilannya sebelah pihak. Ia kembali ingin tidur, meskipun malam ini ia pasti akan bermimpi buruk. Setidaknya ia ingin menghindari kenyataan dengan terlelap sejenak.
"Kamu tinggal disini aja, dek. Gak perlu ngontrak lagi." Anton mencegah kepulangan Yara malam ini. Ia tahu Yara tidak tinggal menginap di rumah Nadine.
"Yara udah bayar sewa rumah untuk sebulan ke depan, Mas."
"Gak apa-apa, nanti Mas ganti uang kamu," sahut Anton enteng.
"Bukan masalah uangnya, Mas. Tapi kan jadi mubazir."
Anton diam tak menyahut. Entah apa yang dipikirkan pria itu sekarang. Yara juga bingung, tadi Anton bersikap sangat membelanya didepan kedua orang tua Juna. Tapi sekarang Anton seakan acuh tak acuh. Apa Yara ada salah kata-kata tadi.
Setelah cukup lama diam, akhirnya Anton kembali berkata-kata.
"Mas gak mau kamu ngontrak lagi. Disini aja. Ini rumah Mas, kakak kamu. Gak usah tinggal sendirian di kontrakan apalagi dengan status kamu sekarang."
__ADS_1
"Mas?" Yara menatap Anton dengan tatapan bertanya-tanya.
"Jangan tanya kenapa dek, mas gak mau kamu memberi akses untuk lelaki lain masuk dalam kehidupan kamu sementara proses perceraian kamu sama Juna belum selesai. Mas cuma mau menjaga nama baik kamu. Mas harap kamu paham apa yang mas maksud."
Seketika Yara terdiam. Ya, sekarang ia sudah mengerti kenapa Anton melarangnya untuk mengontrak sendirian.
"Mas antar kamu buat ambil barang-barang kamu ya..." Suara Anton mulai melunak.
Disinilah Yara memberanikan diri untuk bertanya.
"Mas, apa mas takut Yara bakal nerima pria lain di kontrakan Yara? Gitu?"
Anton hanya mengendikkan bahu. "Kamu yang paling tau maksud mas, dek...." katanya.
"Aku gak pernah tidur sama pria lain, Mas!" kata Yara frontal.
Anton berdecak lidah. "Jadi, Sky? Dia pria itu?" tanyanya kemudian.
Yara menundukkan wajah. "Mas, Yara sama Sky---"
"Mas mau ketemu dia nanti. Tapi, setelah hubungan kamu sama Juna benar-benar udah kelar. Bisa?" serobot Anton memotong perkataan sang adik.
Yara mengangguk pelan. "Aku bakal bilang sama dia nanti."
Anton menipiskan bibir. "Ya udah, malam ini kamu tidur aja disini. Besok mas anter kerja kalo kamu emang masih mau kerja. Soal barang-barang kamu juga kita bisa ambil besok. Istirahat ya dek!" katanya sembari hendak berlalu.
"Mas?"
Anton menghentikan langkah dan menoleh sekilas pada Yara.
"Hmm?"
"Makasih banyak ya, Mas."
Pria itu menyunggingkan senyum sambil mengangguk. Tak lama dia benar-benar berlalu dari hadapan Yara.
__ADS_1
Bersambung ....
****