EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
34. Dikhianati


__ADS_3

Yara memasuki lobby Hotel Argaduta. Seperti orang linglung, matanya menelisik ke seluruh penjuru demi melihat keberadaan sang suami, nyatanya ia sudah tidak dapat menemukan Juna disekitar sana.


Kendati demikian, Yara yakin jika Juna masih berada dalam Hotel itu karena mobilnya masih ada di slot parkiran tempat tersebut.


"Permisi, Bu, ada yang bisa kami bantu?" Seorang resepsionis hotel menanyai Yara yang terlihat kebingungan.


Barulah Yara sadar jika ia memang sudah berdiri tepat diseberang counter resepsionis.


"Ehm, ya..." Buru-buru Yara memasang senyum se-elegan mungkin. "Apakah ada tamu bernama Bapak Arjuna Bachtiar yang memesan kamar di hotel ini? Kebetulan saya istrinya dan ingin menemuinya," ujar Yara mencoba bersikap tenang.


Sang resepsionis dengan lipstik merah itu tersenyum samar. Memang baru saja seorang tamu bernama Arjuna Bachtiar datang dan check in di Hotel ini, tetapi pria itu tampak datang bersama dengan wanita lain. Jika yang ada dihadapannya ini adalah istri dari Arjuna Bachtiar, lalu ia harus menjawab apa, sekarang? Sedangkan Juna meminta layanan *incognito kepadanya.


"Maaf ibu, tidak ada tamu yang check in dengan identitas yang ibu sebutkan." Karena tuntutan pekerjaan, akhirnya sang resepsionis pun terpaksa berbohong.


Yara tersenyum sinis. "Oh, gitu, ya? Lalu apa bisa kamu jelaskan kenapa mobil suami saya terparkir di parkiran hotel ini?" tanyanya menantang.


Sang resepsionis terdiam, harusnya plat mobil Juna juga telah ditutupi oleh pihak security, tapi sepertinya Yara sudah lebih dulu melihat mobil suaminya sebelum plat kendaraan itu disamarkan.


"Mungkin ibu salah melihat." Sang resepsionis berusaha menjawab tenang agar lawan bicaranya tidak terus menyudutkannya.


Tapi, Yara bukanlah wanita bo doh dan buta, ia bisa mengenali suaminya meski sang suami berada di kejauhan. Bahkan, Yara bisa mengenali Juna sekalipun pria itu berpura-pura tidak mengenalnya.


"Gini ya, mbak... saya cuma mau ketemu suami saya dan bicara secara baik-baik, tapi kalau gak diizinkan, pjangan salahin saya kalau saya bakal buat keributan disini," kata Yara berlagak mengancam.


Sang resepsionis langsung pias. Akan tetapi ia langsung menghubungi seseorang lewat tablephone yang ada didekatnya.


Tak lama, dua orang security datang menghampiri Yara dan memintanya untuk keluar dari area hotel. Sontak saja hal itu makin membuat Yara yakin jika suaminya memang tengah berada dalam salah satu kamar yang ada di hotel tersebut.


"Maaf, Bu. Sebaiknya ibu tinggalkan area ini agar tidak terjadi keributan," kata salah seorang security yang menghampiri Yara.


Yara tertawa sumbang. "Saya gak mau buat keributan kok, saya cuma mau ketemu suami saya!" kata Yara bersikukuh.


"Suami ibu tidak ada disini, Bu."


"Mobilnya bahkan masih di parkiran."


"Bisa ibu tunjukkan mobilnya yang mana?"


Yara mendengkus, jika ia melakukan itu sekarang, ia pasti akan mempermalukan diri sendiri karena pihak hotel pasti sudah menyamarkan keberadaan mobil milik sang suami.


Saat salah satu security ingin menggiring Yara untuk keluar dari depan lobby itu, tapi Yara terkesiap karena di detik itu juga seseorang datang dan menarik pergelangan tangannya lalu membawanya ke arah yang berlawanan.


"Aku udah bilang kamu pulang aja, ini urusan aku, Sky!" sentak Yara sembari menepis cekalan tangan Sky.


"Kalau kamu mau tau Juna ada check in disini atau enggak, gak begitu caranya, Ayara...." kata Sky dengan sikap tenangnya.


Yara mendengkus sebal. Sebenarnya lebih kepada kesal terhadap Juna, bukan pada pria yang saat ini tengah berusaha untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Kalau cara kamu seperti tadi, itu sama aja buang-buang waktu, pihak hotel gak bakalan kasi kamu info apapun."


"Terus aku harus gimana? Aku cuma mau ngebuktiin aja, itu mas Juna atau bukan, meskipun aku sangat yakin itu memang dia."


Sky menghela nafas panjang. "Kamu tunggu disini, sebentar," kata Sky.


Entah kenapa Yara mengikuti saja saran dari pria itu, meskipun ia tidak tahu apa rencana Sky selanjutnya.


Tak lama, Sky kembali ke hadapan Yara. Ia menunjukkan sebuah kartu yang biasa digunakan untuk membuka salah satu pintu kamar hotel.


"Kamu pesan kamar?"


Sky mengangguk. "Iya," jawabnya enteng.


"Untuk apa?"


"Kamu mau masuk ke dalam, kan? Kita harus pesan kamar dulu."


"Tapi kita gak tau Mas Juna ada di lantai berapa."


"Ya memang, ini biar kita punya akses masuk aja, kok. Ayo!" Sky kembali menarik tangan Yara tetapi Yara segera melepaskannya.


Sky berinisiatif memesan kamar karena Yara sempat hampir membuat keributan tadi, jika ia tak melakukan itu maka kemungkinan pihak hotel tak akan mengizinkan Yara untuk masuk kembali.


Sementara jika Sky check in atas namanya, maka tidak mungkin pihak hotel akan melarang siapapun yang ia bawa ke area tersebut, sebab sekarang ia juga bagian dari tamu hotel itu, kan?


"Gini deh, kamu coba berpikir positif dulu, mungkin Juna gak mesan kamar disini, mungkin dia cuma ada di restoran yang ada didalam hotel ini. Atau mungkin ada di bar nya."


Yara menggeleng. "Aku gak bisa!" akuinya.


"Kenapa?"


"Firasat aku mengatakan ini gak baik."


"Gak baik gimana?"


"Mas Juna ada main dibelakang aku."


"Terus? Kamu cemburu, gitu?"


"Sky, ini bukan saatnya bicara soal perasaan. Aku cuma mau mastiin aja."


"Kalau memang dugaan kamu benar, gimana?"


Yara terdiam. Ia belum tahu keputusan apa yang akan ia ambil jika ternyata Juna benar-benar terbukti mengkhianatinya.


"Apa kamu bakal pisah sama dia, Ra?" tanya Sky lagi.

__ADS_1


"Aku gak tau. Aku belum punya jawaban soal itu," kata Yara.


Mereka tiba di rooftop hotel. Keadaan saat mereka sampai disana adalah langit yang sudah mulai menjingga. Penampakan dari atas gedung tinggi itu memang sangat indah, banyak lampu-lampu bangunan lain yang mulai dinyalakan.


Untuk sesaat, Yara larut dalam pemandangan itu, tetapi sepersekian detik berikutnya, Yara merasakan jika Sky memegang pundaknya hingga mengarahkan pandangannya pada satu titik hingga membuat matanya terbelalak.


"Mas Juna?" Yara melihat Juna yang sedang bercengkrama dengan seorang wanita. Kelihatan sangat akrab dan mesra, tetapi Yara tidak dapat mengenali siapa wanita yang bersama Juna itu dikarenakan wanita itu mengenakan hoodie longgar yang menutupi bagian tubuh serta kepalanya. Adapun kaca mata hitam lebar ikut menyamarkan penampilan sang wanita.


Kedua tangan Yara mengepal erat. Tidak, ia bukan cemburu, tetapi ia merasa dikhianati oleh seseorang yang ia percayai.


Bukankah selama ini ia percaya jika Juna bertanggung jawab padanya? Ia juga percaya jika Juna tengah menabung untuk rumah masa depan mereka? Tapi, apa yang Juna lakukan sekarang?


Yara merasa kecewa, sebab tingkah Juna ini juga membuat pertahanannya terasa sia-sia.


"Kamu cemburu?" celetuk Sky ditengah-tengah rasa kesal Yara terhadap Juna.


Yara hendak menuju Juna saat itu juga, tentu ia ingin membuat perhitungan pada pria yang berstatus suaminya itu. Setidaknya, Yara ingin menunjukkan wajah pada Juna, hingga pria itu sadar, jika ia sudah mengetahui kelakuan licik sang suami.


"Kalau kamu kesana sekarang, itu gak ada gunanya, Ra," kata Sky lagi-lagi menahan tindakan yang akan Yara lakukan.


"Jadi aku harus apa, Sky?" tanya Yara. Jujur, ia sakit hati, meski ia tidak mencintai Juna, tapi tak dapat dipungkiri jika tingkah Juna ini sungguh keterlaluan.


"Tenang dulu, oke? Kamu perhatikan aja dulu, sehabis ini mereka kemana. Jangan gegabah dan mengikuti amarah kamu aja."


Yang dikatakan Sky benar, beruntung pria itu mengikutinya sampai saat ini. Jika tadi Sky benar-benar pulang sesuai sarannya, maka dapat dipastikan Yara tak akan bisa sampai pada tahap ini hingga mendapati suaminya sedang bercengkrama mesra dengan seorang wanita--- yang posisinya membelakangi tempat Yara berdiri.


Sky mengambil sesuatu dari saku celana bahan yang ia kenakan. Itu sebuah ponsel miliknya. Tak lama, pria itu seperti tengah memotret keberadaan Juna bersama wanita lain itu.


"Buat apa?" tanya Yara.


Sky tersenyum tipis. "Nanti kamu bakal butuhin ini," katanya lagi-lagi dengan aura yang sangat tenang.


"Butuh, untuk?"


"Bukti," jawab Sky. Pria itu kembali memotret beberapa kali sampai akhirnya ia mengajak Yara ke tempat yang agak tersembunyi.


"Sekarang, coba kamu hubungi Juna."


"Iya, aku mau tau dia bakal nerima panggilan aku atau enggak," kata Yara masih dengan intonasi kesal.


Sky tersenyum tipis, pria itu bukan memikirkan tentang Juna, terserah pria itu mau apa, pikirnya. Tapi, tentu saja Sky memikirkan perasaan Yara sekarang. Kenapa Yara terlihat kesal? Tapi, kenapa juga wanita itu tidak menangis?


Bersambung ....


***


Notes: Layanan incognito merupakan layanan yang membuat tamu hotel yang menggunakannya-- tidak diketahui keberadaannya. Informasi mengenai tamu hotel yang menggunakan layanan ini tidak akan tercatat. Sehingga tidak akan ada kunjungan atau telepon dari pihak luar yang dapat mengganggu tamu.

__ADS_1


__ADS_2