
Sesuai perkataannya, Anton menyempatkan diri untuk bertemu dengan lelaki dalam foto editan itu. Mereka telah membuat janji disebuah cafe yang tidak jauh dari Bengkel milik Anton.
"Apa anda yang bernama Bapak Anton?"
Seseorang menyapa saat Anton baru saja memesan secangkir kopi pada pelayan cafe.
"Anton saja." Pria itu mengulurkan tangan pada pria yang menyapanya lalu tersenyum ramah.
Pria yang sengaja datang untuk memenuhi janji temu dengan Anton itu duduk setelah menyambut tangan Anton.
"Saya Radja."
"Ya, saya sudah mengetahui nama anda," terang Anton. "Mau minum apa?" tanyanya kemudian.
"Apa saja."
Anton kembali memanggil pelayan dengan isyarat tangan, kemudian pria bernama Radja itu memesan segelas es kopi.
"Sebenarnya, saya masih bertanya-tanya, kenapa anda ingin bertemu saya? Perasaan, kita belum pernah mengenal sebelumnya," celetuk Radja kemudian.
"Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih karena anda mau memenuhi undangan saya hari ini," kata Anton memulai pembicaraannya.
"Iya, tidak masalah, karena ini hari Sabtu, jadwal saya memang kosong dan saya pikir anda ingin mengetahui suatu hal dari saya."
Anton mengangguk, sepersekian detik berikutnya, dia mengeluarkan sebuah foto yang sudah dicetak. "Yang ada dalam foto ini benar-benar anda, kan?" tukasnya pada Radja.
Radja melongok ke arah foto itu, kemudian terheran-heran kenapa dirinya bisa berada dalam genggaman Anton.
"Benar ini adalah saya dan ini kekasih saya, Daisy."
Anton manggut-manggut, kemudian menunjukkan sebuah foto lain yang tampak sama tapi wajah Radja sudah diedit dengan wajah Sky.
"Bagaimana bisa? Ini artinya foto saya di edit? Ada yang memanfaatkannya?" tanya Radja setelah menyadari keadaan.
"Ya, jika anda merasa bukan anda yang sengaja mengedit foto itu, saya ingin tahu siapa kiranya yang memanfaatkan foto anda hingga mengubah wajah anda dalam foto itu menjadi wajah adik ipar saya."
...****...
Beberapa hari kemudian, Sky sudah diperbolehkan untuk pulang ke kediamannya. Dia merasa tidak betah di Rumah Sakit dan soal luka-lukanya, dia sendiri bingung kenapa setelah mengalami near-death experience, semua luka dalam tubuhnya seakan tidak berarti lagi. Bukan dia tak merasa sakit, hanya saja kondisinya bisa dikatakan membaik secara drastis.
Tinggal luka di kepala dan dada Sky yang harus diganti perbannya setiap tiga hari sekali sebab luka itu memang belum mengering sepenuhnya.
"Baiklah, Dokter. Kami akan menghubungi pihak Rumah Sakit untuk membantu menggantikan perban suami saya setiap tiga hari sekali," kata Yara yang mendengarkan penjelasan dokter.
__ADS_1
Hari itu, akhirnya mereka pulang ke rumah dan ternyata kedatangan mereka disambut dengan meriah.
Indri sengaja mengatur dan menata dekorasi dibantu oleh Bi Sri, Bi Dima dan kedua bocah kecil yang adalah cucunya, Aura dan Cean--khusus yang dua ini, sebenarnya bukan benar-benar membantu melainkan malah membuat keadaan semakin berantakan. Tapi Indri tetap mengatakan ini berkat bantuan mereka agar kedua bocah itu turut senang atas usahanya.
"Welcome home, Papa!!!" Sorak-sorai mereka yang ada di rumah turut memeriahkan kepulangan Sky di rumah.
Ada dekorasi simpel dengan balon-balon huruf yang disusun membentuk tulisan 'Welcome Home Papa' serta mereka juga menyambut dengan suara tiupan terompet mini yang berwarna warni.
Tak lama, sebuah balon juga sengaja diletuskan, hingga mengeluarkan banyak kertas-kertas kecil yang berkilauan dan menghujani kepala Sky yang baru menginjakkan lantai rumah.
"Wah, Papa merasa kayak lagi ulang tahun," cicit Sky yang dalam posisi duduk menggunakan kursi roda.
Yara dan yang lain tertawa senang karena respon Sky yang tampak bahagia atas penyambutan ini.
"Makasih ya, aku seneng banget bisa balik lagi ke rumah." Sky mendongak pada Yara yang berdiri dibelakang kursi rodanya. Dia menggenggam jemari Yara yang memegang pundaknya.
"Makasih juga karena kamu masih mau kembali pulang untuk kami semua," kata Yara dengan mata berkaca-kaca.
Sky lanjut menatap pada semua orang disana yang kini menyambutnya.
"Ma, terima kasih banyak udah repot nyiapin ini semua buat aku. Ini pasti rencana Mama."
Indri tersenyum hangat, dia mengangguk-anggukkan kepala. "Selamat datang kembali ya, Nak. Kami selalu menunggu kamu pulang. Jangan pergi terlalu lama," katanya dengan binar mata penuh haru.
Sky meringis tertahan, tapi dia tau kedua putra-putrinya ingin melakukan ini sejak datang ke Rumah Sakit tempo hari, dia menahan sakitnya dan membiarkan anak-anaknya untuk meluapkan rasa rindu mereka.
"Papa jangan pelgi lagi yah." Aura membelai wajah Sky dengan bibir mencebik sedih.
"Jangan sakit lagi Papa." Cean ikut menimpali, dia yang paling erat memeluk pinggang sang Ayah.
"Iya, doakan Papa sehat terus ya. Kalian udah bisa berdoa belum?"
"Bisa dong, Pa!" sahut Aura.
"Cean juga udah pinter doa, Pa." Cean pun tak mau kalah.
"Ya udah, ayo-ayo. Kita makan siang sama-sama. Bi Sri sama Bi Dima udah masak enak lho hari ini." Yara menginterupsi percakapan Sky dengan kedua anak-anaknya.
Mereka berduyun-duyun memasuki area ruang makan dan duduk mengelilingi meja makan yang sudah dipenuhi lauk-pauk yang sangat menggugah selera.
"Wah, udah rindu masakan rumah. Apalagi masakan istriku," kata Sky dengan gembira.
"Iya, nanti aku bakal masakin buat kamu setiap hari lagi. Tapi, untuk sekarang makanan yang bisa kamu konsumsi masih terbatas. Jadi sabar dulu ya..." Yara mencolek pipi Sky dengan senyuman menggoda. Sky pun menghela nafas panjang.
__ADS_1
...***...
"Kamu tau gak, ini yang paling aku rindukan," kata Yara yang saat ini berbaring disebelah suaminya dalam kamar pribadi mereka. Rasanya sudah terlalu lama tidak berada sedekat ini dengan Sky. "Aku gak tau apa jadinya jika kamu bener-bener udah gak ada. Aku gak mau ngebayangin lagi, karena kemarin itu ... waktu kamu ..." Yara tak melanjutkan kalimatnya, dia tidak bisa.
"Udah, udah, jangan diingat lagi ya." Sky berusaha menenangkan Yara yang mulai ingin terisak jika mengingat Sky yang sempat berhenti bernafas.
"Aku mana bisa ngelupainnya, Sayang."
"Ya, anggap itu pelajaran buat kita. Aku juga mau belajar jadi lebih baik lagi karena---" Mendadak, Sky mengingat apa yang dia lihat waktu itu, dimana dia diberikan tontonan tentang bagaimana keadaan surga dan neraka.
"Ngomong-ngomong, apa yang kamu rasain waktu itu?"
"Entahlah, sulit diungkapkan. Semua seperti mimpi. Aku cuma dikasi lihat gimana keadaan surga dan neraka."
Yara mengeratkan pelukan tangannya di perut Sky dan dibalas pria itu dengan mengelus-elus kepala Yara lembut.
"Terus, apa perasaan kamu setelah itu?"
Sky terkekeh sekilas. "Ya, sejujurnya aku takut masuk neraka, Sayang. Dan jelas aku mau masuk surga, tapi aku ngerasa gak layak," paparnya.
"Kalau gitu, kita perbaiki diri sama-sama supaya jadi pribadi yang lebih baik lagi."
"Aku seneng kalau kamu mau mengambil sisi positif dari kejadian kemarin."
"Hmm, mudah-mudahan kita bisa jadi orang yang layak didalam surga-Nya. Memperbaiki diri dan jadi orangtua yang baik buat Aura dan Cean."
"Aamiin ..."
Dalam keheningan malam, mereka saling bercerita sekaligus berkeluh-kesah mengenai diri mereka masing-masing. Jika Sky yang bercerita, Yara akan mendengarkan dengan seksama, begitupun sebaliknya. Mereka juga turut memberi saran yang lebih baik untuk dilakukan. Bukankah menikah untuk saling melengkapi dan menerima? Itulah yang menjadi kebiasaan mereka selama berumah tangga.
"Ah iya, tadi Mas Anton nelepon, katanya ... dia udah tau siapa yang ngirim foto editan waktu itu."
"Oh ya? Kok kamu gak bilang sama aku?"
"Karena tadi sibuk sama anak-anak, jadi lupa deh." Yara mengelus rahang sang suami yang sudah ditumbuhi rambut-rambut halus karena belum bercukur.
"Terus? Apa kata Mas Anton? Siapa orangnya?"
Bersambung ....
Vote, hadiah, like, komen, ✅
Nanti othor lanjut bab selanjutnya🙏
__ADS_1