
Akibat permintaan yang sempat tercetus dari bibir Nadine kemarin, membuat mood Lucky tidak cukup baik hari ini.
Lucky pikir, dengan kelembutannya serta semua fasilitas yang masih dia berikan kepada Nadine mampu membuat wanita itu bertahan dan tetap disisinya. Nyatanya, permintaan cerai dari Nadine membuat Lucky sangat syok seakan tak percaya.
"Ya udah lah, Mas. Kalau emang Nadine minta cerai, kenapa gak kamu kabulin aja. Toh, sekarang juga udah ada aku, kan?"
Ucapan Firda membuat Lucky menatapnya tajam, hingga membuat wanita itu menunduk dalam sebab merasa telah salah berkata-kata.
Semuanya tidak mudah bagi Lucky. Dia sangat mencintai Nadine. Jika cinta itu harus diukur mana yang lebih besar, untuk Nadine atau untuk Firda, maka dengan mantap Lucky akan menjawab jika cintanya utuh untuk Nadine saja.
Lalu, kenapa ia bisa bersama dengan Firda? Awalnya dia melakukan kesalahan satu malam bersama perempuan itu, itupun karena dia tidak sadar dan dipengaruhi oleh minuman beralkohol. Selanjutnya, hubungannya dengan Firda hanyalah karena na f su tanpa perasaan. Tidak lebih.
Mendengar Nadine yang sempat setuju untuk dimadu, Firda akhirnya semakin nekad mendekati dan membuat Lucky akhirnya menikahi wanita itu atas permintaan Nadine juga.
Meski mereka sudah menjalin hubungan dibelakang Nadine-- jauh sebelum lampu hijau itu didapatkan, tapi selama berjalannya hubungan itu, Lucky tidak pernah memakai hati dan perasaan terhadap Firda.
Akan tetapi, sekarang Firda benar-benar mengandung anaknya, dan itulah yang Lucky perjuangkan, sebab Nadine memang mengalami masalah dalam hal memberinya keturunan.
Jika sekarang perlakuan Lucky tampak lebih perhatian dengan Firda, itu semua semata-mata karena sang jabang bayi, sejatinya Lucky sangat tidak enak hati karena telah mengabaikan Nadine--istri yang dia cintai. Tapi, mau bagaimana lagi, ia butuh seorang keturunan untuk mewarisi bisnis dan perusahaan yang susah payah dia bangun selama ini.
Lucky juga sangat merindukan Nadine tapi sampai detik ini ia belum bisa meluangkan quality time untuk istri pertamanya itu.
"Mas, aku mau keluar dulu."
Lucky sedikit terhenyak dengan ucapan Nadine yang berpamitan padanya dengan ketus. Biasanya, istrinya akan menyalami tangannya dengan mesra. Setidaknya, Nadine memang punya attitude yang baik selama menjadi istrinya selama 4 tahun ini.
"Kamu mau kemana?" Buru-buru Lucky mengejar langkah Nadine, mumpung Firda sedang melakukan treatment di salon dan tidak sedang di rumah sekarang.
Sedikit banyak, Lucky takut Nadine tiba-tiba memutuskan untuk kembali ke Indonesia, dia belum mau hal itu terjadi karena dia masih menginginkan berada dekat dengan Nadine saat ini.
"Aku cuma mau belanja, barang-barang aku yang harusnya ada di rumah ini udah pada banyak yang hilang." Nadine menekankan kata terakhirnya, membuat Lucky sadar bahwa ini adalah kelakuan Firda yang membuang peralatan Nadine dengan sesuka hatinya.
"Aku temenin, ya."
"Gak usah, Mas. Aku bisa sendiri dan udah terbiasa sendiri," tukasnya.
Lucky menahan sabar, diambilnya kunci mobil dan akhirnya mengikuti langkah sang istri yang hendak menuju garasi.
"Aku anter, Nad." Lucky sudah membuat keputusan, membukakan pintu mobil untuk Nadine hingga sang istri mau tak mau menuruti.
Perjalanan itu terasa hening. Nadine seakan tidak mau menggubris Lucky yang menyetir disisinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah nganterin aku? Bukannya mau jemput Firda setengah jam lagi?"
Nadine tau hal itu karena apapun yang Firda lakukan selalu saja diumumkan seolah mau membuatnya iri hati.
"Nanti biar Firda di jemput sopir," kata Lucky cuek.
"Tumben banget, ntar istri muda kamu lecet, kamu nyesel loh, mas." Jelas-jelas Nadine tengah mencibir sang suami sekarang.
Mendengar itu, Lucky hanya bisa mendengkus pelan. Ia sadar Nadine tengah menyindirnya.
"Kamu mau belanja dimana?"
"Di mall terdekat aja. Gak usah jauh-jauh, ntar kamu capek, gak bisa menghadapi kelakuan manja dari istri kamu."
"Nad, kamu juga masih istri aku..."
Nadine mengendikkan bahu acuh tak acuh. Tak lama, dia memilih membuka ponsel daripada meladeni Lucky dengan obrolan yang tidak penting dan justru membuat pemikirannya semakin dangkal mengenai suaminya sendiri.
Berselancar di ponsel, Nadine pun iseng melihat-lihat story rekan-rekannya. Termasuk status dari nomor--yang baru saja dia simpan kontaknya malam tadi dengan nickname 'Mas Anton'.
Rupanya Anton membuat story' di aplikasi hijau, disana tampak video seorang bayi yang sedang tertidur, namun sepertinya bayi itu tengah bermimpi sehingga menunjukkan ekspresi lucu yang tersenyum-senyum sendiri.
Nadine sampai gemas melihatnya, sudut bibirnya melengkung melihat pertumbuhan Baby Elara yang diabadikan Anton dalam video berdurasi singkat tersebut.
"Gak ada," jawab Nadine jujur. Dia memang tidak sedang berkirim pesan dengan siapapun.
"Jadi, kok senyum-senyum gitu?"
"Emang gak boleh? Kamu mau aku nangis terus?"
"Gak gitu, Sayang."
Nadine tau bukan itu maksud Lucky, tapi entah kenapa dia menyahut ucapan pria itu dengan jawaban seperti itu. Biar saja Lucky tau bahwa dia sedang sensit1f sekarang.
Sampai pada akhirnya, mobil yang dikendarai Lucky tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Nadine pikir Lucky akan menurunkannya saja dan lanjut menjemput Firda di salon, nyatanya pria itu justru memarkirkan mobil di basement mall dan mengikuti Nadine masuk kedalam tempat tersebut.
"Kamu gak kerja cuma buat ngikutin aku?"
"Biar aja kerjaan aku di handle Zola."
Nadine tak menyahut lagi, dia mulai berbelanja untuk melengkapi kebutuhannya yang sudah tak nampak lagi dirumah suaminya.
__ADS_1
Bagaimana Nadine tak meradang, handuk, sisir, bahkan baju-baju tidurnya sudah tidak nampak lagi disana. Membuatnya kesal dan mau tak mau harus berbelanja hari ini.
Tapi biarlah, mungkin dengan begini dia akan melupakan sejenak permasalahannya di rumah.
Setelah keranjang belanja Nadine penuh, dia memutuskan untuk langsung menuju kasir. Tak sekalipun Nadine mengajak Lucky bercanda, bahkan bicara pun tidak. Dia berubah menjadi wanita dingin yang sengaja menampar kelakuan Lucky dengan sikapnya itu.
"Nad, kamu mau sampai kapan sih diemin aku begini?"
Nadine tak menjawab, justru matanya menyelidik ke segala penjuru untuk melihat apalagi yang dia butuhkan disana.
"Sayang, aku minta maaf. Bisakah kita kembali kayak dulu lagi?"
"Dalam mimpi, Mas."
"Sayang, abis ini kita lanjut jalan-jalan terus makan siang di luar, ya?"
Sekali lagi Nadine tetap mengabaikan Lucky, justru matanya berbinar saat melihat ada outlet baby shop di sana.
Nadine berjalan dengan mantap menuju penjualan barang-barang bayi itu, membuat Lucky bertanya-tanya apa Nadine tak salah tujuan sekarang?
"Kamu ... kesini mau beli apa?" tanya Lucky yang merasa aneh dengan tujuan sang istri.
"Mau beli kebutuhan bayi lah," sahut Nadine cuek.
"Kamu ... gak salah?" Lucky takut jika saat ini Nadine tengah bersikap ngelantur sangking inginnya wanita itu memiliki seorang bayi.
"Emang kenapa? Gak boleh? Aku bahkan mau belanja banyak perlengkapan bayi disini," ujar Nadine sambil mengambil sebuah dress bayi yang lucu dan cantik.
"Sayang, kamu gak lagi demam, kan?" Lucky bahkan menaruh telapak tangannya di dahi Nadine untuk memastikan suhu tubuh wanita itu.
"Udahlah, Mas. Kamu gak usah ngira aku yang enggak-enggak. Kalau kamu mau belanja juga buat calon anak kamu, ya belanja aja," kata Nadine terdengar ketus.
"Tapi, kamu mau belanja buat siapa? Jangan bilang kamu mau belanja buat anak aku juga?"
Mendengar itu justru membuat Nadine tertawa sumbang. "Aku?" Dia menunjuk pada dirinya sendiri. "Belanja buat anak kamu sama Firda? Gak salah? Di mimpi pun itu gak akan pernah terjadi, Mas!" tandasnya membungkam bibir Lucky yang akhirnya diam dengan hati bertanya-tanya akan tindakan istrinya ini.
Bersambung ...
Tolong tinggalkan jejak ya, gaes... duh gak berhenti-henti othor ucapin makasih buat yang udah kirim gift, vote, like dan ninggalin komentarnya disini.
Mudah2an kalian gak bosan buat komentar disini seperti othor yang juga gak bosen-bosannya nyapa kalian dan tetap nulis, biar kalian gak kecewa karena udah nungguin up novel ini 🙏🙏
__ADS_1
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰