
Sky mengecup puncak kepala Yara dengan dalam dan penuh kasih sayang. Beberapa saat bertahan dalam posisi itu, lalu membawa kepala Yara ke dalam dekapannya.
"Kita udah lewatin jam makan malam, Sky. Apa kata mama nanti?"
"Mama juga pasti maklum, dia tau kita udah mulai sibuk sekarang."
"Dih, sibuk ngapain?"
"Sibuk bikinin mama cucu lah."
Yara hanya menggeleng samar dalam dekapan Sky. Apalagi mendengar jawaban pria itu, benar-benar membuat Yara tak bisa untuk kembali berkata-kata.
"Sekarang aku boleh tidur, gak?" tanya Yara, ia menatap manik hitam milik suaminya.
"Sekali lagi, please."
"Daritadi gitu terus," gerutu Yara. "Udahan, ya! Sisain energi buat besok," katanya kemudian.
Sky pun tertawa pelan. "Iya deh, besok lagi, janji?" ujarnya penuh harap.
"Huum ..." Yara langsung memejamkan matanya saat itu juga, membiarkan Sky yang kembali merapatkan jarak diantara mereka--hingga membuat tangan pria itu menjadi bantalan ternyaman bagi wanitanya.
Yara akhirnya tertidur sambil tersenyum. Ia berharap kebersamaannya dengan Sky sampai pada saat ini bukan hanya harapan semu atau bahkan cuma bunga tidur saja.
"Tuhan, jika ini mimpi, maka jangan pernah bangunkan aku. Biarkan aku hidup bahagia bersama dia, selamanya."
Itulah yang ada didalam benak Yara sesaat sebelum ia benar-benar jatuh terlelap.
Sky memandangi wajah Yara yang tampak terpejam sambil tersenyum. Tentu saja bukan cuma Yara yang bahagia saat ini, tapi ia pun merasakan euforia yang serupa.
"Kamu adalah salah satu harapan yang aku titipkan lewat jalur doa. Dan hari ini aku tau, bahwa setiap doa yang aku langitkan, akan terjawab disaat yang paling tepat."
Sky mendekap Yara dengan hangat, kembali menajamkan penciuman untuk merasai bahwa istrinya memiliki feromon yang membuatnya candu hingga betah berlama-lama dalam posisinya.
__ADS_1
Mulai hari ini dan seterusnya--wanita yang tidur dalam dekapan--sudah absah menjadi miliknya. Tidak ada yang dapat memisahkan sesuatu yang sudah ditakdirkan bersama. Ya, seperti hubungan mereka berdua. Bukankah semesta juga turut merestuinya?
...~~~~...
Di sebuah rumah dengan gaya minimalis modern, ada dua orang yang akhir-akhir ini harus terjebak dalam hubungan yang semakin rumit.
Mereka belum menikah. Lebih tepatnya, belum bisa meresmikan sebuah pernikahan dikarenakan sang wanita masih berstatus istri dari orang lain. Ya, dia adalah Shanum dan Juna.
Keduanya harus pasrah karena Anton tidak mau menceraikan Shanum di Pengadilan sebelum wanita itu benar-benar telah melahirkan. Begitupula Shanum, ia tak bisa menggugat perceraian dikarenakan kondisinya yang hamil saat ini. Pengajuan itu pasti langsung tertolak sebelum kakinya sampai untuk mengambil berkas tuntutan cerai.
Juna masih menjalani rutinitas seperti biasanya. Ia memilih tidak tinggal bersama dengan Shanum dikarenakan status mereka yang belum jelas. Juna lebih memilih untuk tinggal dikediaman orangtuanya.
Akan tetapi, Juna selalu mendatangi Shanum disaat ia sedang membutuhkan penyaluran diri. Hal itu pula yang membuat Shanum sering meradang. Ia merasa Juna hanya menganggapnya mainan.
"Yang, kamu selalu datang kesini setiap kamu butuh. Tapi kamu gak pernah ada disaat aku yang butuh! Kamu sadar gak sih, aku ini bukan tempat pembuangan kamu! Pas kamu mau buang, kamu kesini! Pas kamu gak butuh, kamu gak muncul!"
Juna hanya menatap Shanum dengan datar. Seolah ucapan Shanum hanya omong kosong belaka.
"Kamu denger aku gak, Yang?"
"Ya, kamu ada disaat aku butuh kamu. Jangan ngilang gak jelas dan muncul saat-saat tertentu aja."
"Sekarang aku tanya sama kamu, apa semua ini salah aku?"
"Ya, iyalah!" ujar Shanum ngotot.
"Coba bilang, salah aku dimana? Aku begini karena kamu bukan istri aku, Num. Kalau kamu istri aku juga pasti aku selalu bareng sama kamu, kita bisa tinggal seatap, gak datang disaat aku butuh doang! Tapi nyatanya apa? Kamu gak bisa aku nikahin, kan? Terus aku harus gimana, dong?"
Shanum menatap geram pada Juna. "Jadi maksud kamu, ini semua salah aku gitu?"
"Ya iya, coba kamu pikir, yang buat aku gak bisa nikahin kamu itu karena status siapa? Kalau aku udah jelas sekarang duda. Nah, kalo kamu? Gak jelas statusnya apa! Kamu ngerti, dong! Jangan nuntut hal yang berlebihan."
Shanum mendengkus mendengar penuturan Juna yang malah melimpahkan semua kesalahan padanya. Seolah-olah semua ini terjadi hanya karena dirinya sendiri, seakan Juna tidak terlibat menghancurkan hidup Shanum hingga membuat statusnya jadi tak jelas.
__ADS_1
"Kamu! Aku gak nyangka kamu bakal ngomong gini sama aku! Kamu berubah, Juna! Apa ini yang kamu bilang kalau kamu cinta sama aku? Apa kamu lupa? Status aku begini karena siapa?"
Entah kenapa Shanum sangat ingin menangis sekarang. Mungkin ia bisa menerima jika Juna kurang perhatian lagi padanya, mungkin ia juga bisa sabar menghadapi sikap Juna yang menjengkelkan, tetapi ia hilang kendali saat Juna menyalahkannya dan membuat semua yang terjadi padanya-- akibat kesalahannya sendiri.
".... kamu harus ingat, Jun! Jalan hidup aku begini itu karena kamu. Aku memilih kamu daripada Mas Anton, karena aku pikir kita bakal melalui semua ini sama-sama. Tapi ternyata kamu malah menyalahkan aku. Seakan-akan aku sendiri yang paling bersalah, dan kamu gak menyadari dosa kamu itu apa."
Juna terdiam mendengar penuturan Shanum. Ya, benar, ia pun bersalah atas segala yang terjadi pada hidupnya dan nasib wanita itu. Namun, Juna bukan lari dari tanggung jawab, ia juga mau menikahi Shanum, tapi status Shanum lah yang membuat semuanya jadi runyam dan serba salah.
"Dengar, Jun! Aku mau buat pengakuan sama kamu, kalau aja aku gak sedang hamil sekarang, lebih baik aku juga pergi dari sini, gak bersama kamu juga gak apa-apa, ketimbang sama-sama tapi selalu disalahkan."
Mendengar itu, mata Juna langsung membulat. Ia tak menyangka ucapan Shanum kali ini seakan menamparnya. Jadi, wanita itu bertahan dengannya sampai hari ini hanya karena keadaannya yang sedang mengandung?
"Kenapa diam? Kamu mau marah? Kamu nyesel udah pernah berhubungan sama wanita kayak aku? Sama, Jun! Aku juga nyesel berhubungan sama kamu yang cuma mengandalkan naf su! Kamu gak lebih baik dari Mas Anton, Juna! Cam-kan itu!"
Shanum tersenyum sinis pada Juna, memangnya Juna saja yang bisa berkata pedas padanya lalu menyalahkannya, ia pun bisa menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya agar pria itu sadar bahwa dia tidak sepenuhnya bermain hati dengan Juna dan ia pun bisa meninggalkan Juna sewaktu-waktu tanpa ada penyesalan.
Setelah mengucapkan kalimat yang sangat menusuk hati Juna, Shanum segera beranjak dan ingin naik ke kamarnya. Mulai sekarang, jangan harap ia mau melayani Juna lagi, ia bukan toilet yang menerima saja jika Juna ingin membuang hajat. Terserah jika setelah ini Juna mau meninggalkannya, ia tidak peduli. Toh, Juna juga tidak benar-benar tulus kepadanya.
"Ah, iya...." Shanum menghentikan langkah dan menoleh sekilas pada Juna. "Kalau misalnya anak yang aku kandung ini adalah darah daging kamu, kamu tenang aja, aku bakal serahin anak ini buat kamu. Biar kamu terus ingat, bahwa anak ini adalah bentuk dari kesalahan terbesar yang pernah kamu buat sama aku!" tandasnya.
Shanum pun benar-benar berlalu, meninggalkan Juna yang terpaku-- tidak habis pikir dengan semua kalimat yang baru saja dilontarkan oleh wanita itu. Nyatanya, Juna sadar bahwa ia telah salah memilih wanita seperti Shanum.
Juna tau ia tidak lebih baik dari Anton, tapi sekarang ia juga menyadari bahwa Yara seribu kali lebih baik daripada Shanum. Bahkan Shanum dengan tenangnya berkata akan menyerahkan sang anak kepadanya.
Apa itu perilaku yang wajar dimiliki oleh seorang wanita yang seharusnya memiliki naluri sebagai seorang ibu? Mengikhlaskan begitu saja anaknya, tanpa ingin mempertahankan lebih dulu? Sekali lagi, Juna tak habis pikir dengan hal itu.
Kini, penyesalan bagai merayap dalam diri Arjuna Bachtiar, pria berkulit kuning langsat itu harus berusaha menahan diri agar tidak meratapi nasibnya saat ini. Sekarang, harapannya hanya tinggal bayi yang ada dalam kandungan Shanum. Bagaimanapun, Juna sangat menginginkan jika itu benar-benar keturunannya. Selebihnya, jika nanti Shanum harus pergi meninggalkannya, Juna merasa tidak berhak melarang kebebasan wanita itu.
Bersambung ...
***
Hai, jangan bosan sama update-an othor ya... Seminggu ke depan othor bakal up 3 bab sehari. Jadi, setelah bab ini, bakal ada 2 bab lagi yang akan menyusul. Stay tune ya.
__ADS_1
Oh iya, makasih banget buat yang udah berikan like, vote, hadiah dan dukungan di kolom komentar novel EX. Othor sangat menghargai semua reader yang mau membaca karya receh ini. Terharu aku tuh🥲 Semoga kita semua sehat terus ya🙏❤️ Othor harap kalian gak bosen sama kisah mereka yang ada di novel ini🥰 Trims.