
Sky akhirnya turun dari mobilnya. Berjalan kaki memasuki lorong rumah Anton-- yang akhirnya membuatnya basah kuyup karena langsung tertimpa air hujan yang deras.
Sky tiba didepan kediaman Anton dalam keadaan diri yang tampak memprihatinkan. Ia basah luar biasa. Ia sampai lupa memakai payung, padahal seharusnya pasti ada benda tersebut didalam mobilnya.
Tok tok tok.
Beberapa kali Sky mengetuk pintu rumah Yara. Ia ingin menelepon saja, tapi rupanya ponselnya tertinggal dirumah saat setelah menelpon Yara tadi.
Tidak mendapat sahutan bukan membuat Sky menyerah, ia kembali mengetuk pintu untuk kesekian kalinya.
"Ra?"
"Ayara?"
Yara pasti sudah kembali tidur dan suara hujan yang deras pasti menyamarkan suara panggilannya kepada wanita itu.
"Mas Anton?" Kali ini Sky memberanikan diri untuk memanggil kakak Yara, nyatanya itu tetap tak berhasil.
Sky akhirnya beralih ke samping rumah. Ia mengetuk jendela kamar yang ia tau sebagai letak kamar Yara.
"Ayara?"
Yara tersentak, merasa ada yang memanggilnya, padahal ia baru saja hendak terlelap setelah beberapa kali mencoba untuk tidur namun tidak dapat melakukan hal itu.
"Sky?" Yara bangkit dan mendapati Sky didepan jendela kamar. "Kamu.... ngapain disini?"
Yara sampai kaget luar biasa, apalagi melihat keadaan Sky yang kebasahan.
"Bentar, ya, aku bukain pintu didepan."
Yara panik dan langsung menghampiri pintu depan rumah. Sekarang ia dapat melihat pria itu dengan jelas dan itu benar-benar Sky.
"Ngapain?" tanya Yara terheran sekaligus terkejut.
"Aku mau ketemu kamu."
"Sky kamu seneng banget sih berbuat diluar prediksi kayak gini," Yara mengomel tapi ia segera menghampiri Sky yang tampak gemetar kedinginan.
"Duh, gimana sih kamu sampe kayak gini. Ayo, masuk!"
Sky menurut dan masuk ke dalam rumah. Yara entah kemana, meninggalkan Sky yang masih berdiri di ruang tamu dalam keadaan basah kuyup.
Tak lama, Yara kembali dengan handuk dan baju ditangannya.
"Kamu bersih-bersih dulu di kamar mandi. Ini pake baju Mas Anton," kata Yara menyerahkan barang-barang yang dibawanya tadi.
Sky menurut, tapi ia heran karena tidak mendapati Anton sejak tadi.
"Mas Anton mana?"
"Lagi ada kerjaan mendadak, tadi dihubungin temennya karena besok ada event dan perlu mekanik, jadi enggak pulang malam ini, mungkin nginep dirumah temennya."
"Terus kita berdua aja?" Sky tersenyum tengil.
Yara memutar bola matanya. "Jangan aneh-aneh, deh! Udah sana ganti baju. Aku mau ngepel lantai ini, basah semua karena ulah kamu!" keluh Yara.
Sky mengangguk, ia menuju letak kamar mandi diujung tapi Yara melarangnya.
"Pake yang di kamar aku aja, kamar mandi belakang lampunya mati."
"Oh, oke..." Sky menekan kenop pintu dan masuk ke dalam kamar yang ditempati Yara.
Sementara Yara pun mulai mengepel lantai rumah yang basah.
__ADS_1
Hanya berselang sepuluh menit, tiba-tiba Yara dikejutkan dengan suara ketukan pintu lagi.
Yara melotot, melihat ada sekitar lima orang didepan rumah dan sekarang menggedor pintu dengan tidak sabar. Dua diantaranya juga terdapat ibu-ibu.
Yara membukakan pintu dengan rasa was-was.
"Ada apa, ya, Pak?"
"Kamu... adiknya Anton, kan?"
Yara mengangguk kikuk.
"Tadi, Pak Irwan melihat kamu memasukkan laki-laki ke dalam rumah dan itu pasti bukan Anton karena Anton pergi sehabis isya tadi, kebetulan ketemu sama saya di warung depan dan dia nitip rumah karena enggak pulang malam ini."
Yara menggaruk kepalanya yang tak gatal mendengar ucapan ibu-ibu yang ada didepannya.
"Tenang dulu, Bu, kita bisa tanyakan pada Nak Yara secara baik-baik." Seorang pria setengah baya yang Yara kenal sebagai ketua RT-- ikut menimpali ucapan Ibu tadi.
"Ng---itu, iya, Pak." Yara bingung mau menjelaskan sesuatu yang sudah keliru ini.
"Siapa dia nak Yara?" Ketua RT kembali bersuara. "Apa itu mantan suami Nak Yara? Apa boleh kami melihat keadaan di dalam rumah?" tanyanya.
Yara tidak bisa menolak kala kelima orang itu memasuki kediamannya. Ia seperti tengah di gerebek saat ini juga. Sementara alat pel saja masih berada ditangannya. Yara menghela nafas pasrah. Apalagi sekarang Sky jelas-jelas ada di kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Astaga, gara-gara Sky ini," gerutu wanita itu.
Pintu kamar Yara diketuk paksa dari luar oleh ibu-ibu yang tadi melabrak Yara, tampaknya dia yang paling emosional ini.
"Wah, gak bener ini adiknya si Anton Pak RT. Masak masukin laki-laki ke kamarnya?"
"Ini semua salah paham, Pak, Bu... memang ini teman saya, dia kebasahan dan---"
"Halah... mana mungkin kamu mau ngakuin aib kamus sendiri!"
Saat pintu kamar Yara terbuka, nampaklah Sky disana dan dia belum mengenakan bajunya hanya mengenakan handuk saja.
Yara semakin frustrasi.
"Ada apa ya, pak?" tanya Sky dengan wajah keheranan.
Kelima orang itu geleng-geleng kepala.
"Kalau mereka berbuat tidak senonoh di RT sini bisa buat sial, Pak," gerutu Bapak-bapak yang lain.
"Telepon aja Anton, suruh nikahin adiknya malam ini juga sama lelaki ini. Biar mereka gak buat dosa terus!"
Wajah Yara langsung pucat pasi, sementara Sky masih menatap Yara dengan keheranan.
"Pak, ini cuma salah paham..."
Yara kembali membuat pernyataan untuk membela diri tapi, apapun alasan yang diberikan Yara tampaknya hanya sia-sia sebab warga mempunyai pemikiran sendiri.
Kenapa nasibnya dengan Sky selalu saja dipergoki oleh orang lain dan beranggapan yang tidak-tidak?
Dulu, saat di Bali, ia juga dipergoki oleh Rina sampai temannya itu beranggapan yang bukan-bukan tentang mereka? Dan sekarang? Malah lebih parah.
"Nak, siapa nama kamu?" Pak RT itu menanyai Sky yang masih menyembunyikan diri dibalik pintu kamar sebab ia sungkan keluar dan dua orang ibu-ibu yang juga ada disana dapat menatapi dirinya dalam keadaan hanya mengenakan handuk.
"Sky, Pak."
"Nak Sky silahkan pakai pakaiannya dulu, kami akan menunggu di luar."
Sky mengangguk pelan kemudian menutup pintu.
__ADS_1
Yara akhirnya mempersilahkan kelima orang itu untuk duduk di ruang tamu, hingga tak berapa lama Sky keluar dari dalam kamar dengan sudah menggunakan pakaian bersih milik Anton.
"Jadi begini, karena malam ini kita sudah mendapati kalian berduaan didalam rumah, dan melihat keadaan nak Sky tadi yang dalam keadaan kurang baik, jadi ... Intinya kita semua disini sudah dapat menyimpulkan apa yang terjadi."
"Maaf sebelumnya, Pak. Ini maksudnya Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua.... menuduh kami sedang melakukan tindakan yang tidak senonoh dirumah ini? Begitu?" tanya Sky.
"Ya iya, terus menurut kamu apa?" kata ibu yang sejak tadi sinis pada Yara.
Sky menatap Yara yang tertunduk. Wanita itu sepertinya sangat malu. Sky jadi merasa sangat bersalah pada Yara, tidak seharusnya tadi ia mendatangi Yara di jam larut seperti ini.
Sky pikir, tidak ada gunanya ia menyanggah, karena kejadian ini sudah membuat semua orang punya pemikiran dan pandangan masing-masing. Jadi, ia ingin mengambil kesalahpahaman ini menjadi sebuah peluang.
"Baiklah, jika menurut bapak dan ibu kami telah melakukan tindakan yang merugikan. Saya siap untuk bertanggung jawab terhadap Yara."
"Nah gitu, dong! Itu baru adil. Jadi gak seenaknya aja di tempat orang!"
"Jadi apa Nak Sky siap jika kami nikahkan hari ini juga? Ini semua demi nama baik daerah sini. Biar tidak ada lagi anak muda yang berbuat macam-macam. Jadi, setiap perbuatan akan ada konsekuensinya."
Mendengar itu, Yara langsung mengarahkan wajah, semakin melotot kala mendengar Sky yang menyatakan kesediaannya.
"Saya akan menikahi Yara secepatnya kalau perlu malam ini juga," kata Sky mantap.
"Sky?"
Sky malah menatap Yara dengan senyuman tipis, seolah mengartikan jika semuanya akan baik-baik saja.
Hal yang terjadi malam itu, akhirnya sampai ke telinga Anton. Ia mendapat telepon dari ketua RT tempat tinggalnya dan membuatnya harus meninggalkan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan Minggu pagi ini.
Begitu pula Sky, seharusnya pagi ini ia sudah di Bandara bersama dengan Indri. Nyatanya sekarang malah Indri yang mendatangi kediaman Anton hingga membatalkan penerbangannya ke Singapore.
"Sky! Kamu sadar gak sama apa yang kamu lakukan? Pantas aja perasaan Mama gak enak pas kamu pergi tadi malam."
Dan Sky harus pasrah saat mamanya melontarkan berbagai omelan dan kemarahan.
"Kamu buat mama malu tau, gak!"
Sky diam saja, ia tidak berniat melawan sang Mama. Membuat pembelaan diri pun percuma toh semua orang sudah menjudge dia dan Yara. Biar saja, yang penting semua ini ada hikmahnya, ia bisa menikahi Yara dengan cepat--pagi ini juga.
Tak lama setelah kedatangan Indri, Anton juga tiba di kediamannya. Ia menatap Yara dan Sky bergantian.
"Mas, ini semua salah paham, Mas." Yara takut Anton juga jadi ikut menyalahkannya.
Anton hanya diam, tapi raut wajahnya penuh kekecewaan. Ia menatap Sky sekarang.
"Mas udah bilang tunggu sampai tahun depan, kan?" paparnya pelan.
Sky menunduk. "Maaf, mas," katanya.
Anton menghela nafas berat. "Jam berapa penghulunya datang?" tanyanya kemudian.
"Jam 8, Mas."
"Ya udah, Mas siap-siap dulu."
Anton berlalu, Yara jadi semakin tak enak hati. Ia telah mengecewakan mama Sky berikut kakaknya juga.
Sejak kejadian dini hari, Sky belum berani untuk kembali berbicara pada Yara. Entah apa tanggapan wanita itu atas keputusannya karena ia tidak meminta persetujuan Yara mengenai hal ini. Tapi, Sky yakin jauh didalam hati Yara pun pasti menginginkan menikah dengannya, yah, meski seharusnya tidak dengan alur yang seperti ini. Apa boleh buat?
Pukul 8 pagi, penghulu yang mereka tunggu akhirnya datang. Sebentar lagi pernikahan sederhana, tanpa persiapan dan sangat mendadak itu akan dilaksanakan dan itu cukup membuat Sky gugup meski hatinya sedang guruh gempita karena akhirnya ia dan Yara akan menikah beberapa menit dari sekarang.
Bersambung ....
****
__ADS_1
Berikan dukungan untuk Novel ini, kalau komentar dan like-nya banyak, author juga jadi punya semangat yang banyak buat ngelanjutin❤️😘