
Setelah lamarannya yang diterima oleh Nadine, Anton berusaha keras untuk memajukan perekonomiannya. Bukan hanya demi calon istrinya tetapi juga demi masa depan Elara.
Sky sudah bersedia untuk membantu Anton dan meminjamkan modal usaha, tapi Anton menolaknya. Ia mau berusaha sendiri meski harus mengambil resiko besar jika usahanya nanti akan gagal.
Tapi, Anton pria berprinsip yang pantang menyerah dan penuh perhitungan. Dengan keyakinan penuh, beserta kelihaiannya membaca peluang yang sedang naik daun, Anton pun menjual satu-satunya rumah miliknya untuk kemudian dia putar menjadi modal usaha.
Dari uang hasil penjualan rumahnya, Anton membeli rumah kecil yang letaknya strategis, lalu membuka usaha cafe kecil yang minim budget di halaman rumah barunya. Berkat jiwa kreatifitasnya pula, cafe itu mampu diminati kaum remaja masa kini karena konsepnya yang instagramable.
Usaha Bengkel yang dulu digeluti Anton juga tetap berjalan dan dikelola oleh Fandi berserta teman-teman montir yang ia percayai untuk bekerja disana. Anton memang tak punya kios bengkel sendiri lagi, tapi dia menyewa sebuah tempat yang lebih strategis dan mampu menarik konsumen baru.
Beberapa bulan berjalan, kedua usaha Anton berjalan maju dengan cukup pesat. Usaha, serta segala yang ia korbankan ternyata tidak sia-sia. Semua ini juga berkat doa dan kehadiran Baby Elara yang membawa rezeki baru dalam hidupnya. Tentu Anton tidak melupakan Nadine yang juga selalu mendukung dan menyemangati dirinya.
"Selamat malam semuanya. Hari ini adalah grand opening Cafe Kebun cabang ke dua. Selamat menikmati hidangan yang tertera dalam menu. Setiap pembelian akan mendapatkan diskon 15% apabila meng-upload sesi makan disini ke dalam medsos kalian. Jangan lupa tag IG cafe kita juga, ya. Terima kasih." Seorang pelayan mengumumkan promo tersedia di cafe yang baru diresmikan itu.
Ya, hanya dalam jangka waktu tiga bulan, Anton sudah bisa membuka cabang ke dua untuk Cafenya.
Anton juga melakukan metode promosi lewat sosial media. Berkat kenalan dan banyak teman sepermainannya, cafe itu juga dapat diketahui dari mulut ke mulut.
Bantuan Nadine juga bukan hanya mensupport Anton. Wanita itu tak jemu untuk ikut mempromosikan usaha baru milik calon suaminya. Nadine memiliki relasi yang cukup banyak di Indonesia dan di Singapore. Dia juga pernah memasuki grup komunitas para pengusaha dan itu membuat Nadine tidak menyia-nyiakannya.
"Makasih ya, kamu udah banyak banget membantu aku." Anton menatap Nadine yang ikut hadir dalam grand opening Cafe ke dua ini.
"Harusnya aku yang makasih sama kamu, Mas. Kamu mau membuktikan kalau kamu layak dan bisa jauh lebih sukses. Proud of you, Future," tutur Nadine dengan senyumnya. Wanita itu menggendong Baby Elara yang semakin hari semakin gembul dan menggemaskan diusianya yang kini sudah 13 bulan.
Wajah Anton merona mendengar pujian Nadine, bahkan bukan hanya wajahnya, mungkin daun telinganya juga ikut memerah sekarang. Ia amat bersyukur karena usahanya tak sia-sia.
"Nad?"
"Hmm?" Nadine kembali menoleh pada pria itu.
"Ini, buat kamu ..."
Nadine cukup kaget karena dia tidak pernah menyangka jika Anton akan menunjukkan sebuah kotak perhiasan di hadapannya.
"Ini ... apa, Mas? Bukannya aku udah kamu kasi cincin tiga bulan yang lalu?"
Anton menggeleng. "Emang kalau mau ngasi perhiasan ke pasangan mesti di momen-momen tertentu aja, ya? Ada aturannya begitu? Aku ngasih ke kamu karena aku lagi ada rezeki lebih. Cafe pertama juga laris karena bantuan kamu, kan. Promosi kamu kesana-kesini. Kamu capek, Nad. Aku tau. Jadi, anggap aja ini reward dari aku buat kamu."
Nadine mengulumm senyum malu-malunya. Sejak kapan pria ini jadi berlaku romantis? Biasanya Anton itu selalu dingin, cuek dan kaku. Bukankah sikapnya pada Nadine membuat wanita itu benar-benar merasa istimewa dan dihargai.
"Makasih ya, Mas. Padahal aku gak ngarep reward apa-apa dari kamu. Aku tulus bantuin kamu. Aku salut karena kamu mau usaha yang lebih giat dan membuktikan kalau kamu mampu."
Anton mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku tau. Aku tau kamu selalu tulus sama aku, juga sama Elara," katanya sembari membuka kotak perhiasan lalu memakaikan gelang di tangan Nadine yang masih digunakan untuk menggendong Baby Elara.
"Bagus, Mas," respon Nadine.
"Hmm, aku kasi gelang karena takut kebesaran lagi kalau ngasih cincin," kelakar Anton.
Yara dan Sky tiba di Cafe baru itu dan melihat interaksi manis antara Anton dan Nadine dari kejauhan.
"Wah, wah, romantis banget, sih ..." Yara menggoda pasangan itu yang disetujui oleh suaminya.
"Iya, Mas. Yang udah nikah aja jadi iri," timpal Sky.
__ADS_1
"Ah, kalian itu! Kenapa baru datang?"
"Biasa lah, Mas. Aura sama Cean rewel, baru bisa ditinggal ini, itupun kami gak bisa lama-lama ya, disini."
"Selalu gitu..." Anton berlagak mencebik, membuat Yara terkekeh.
Jiwa humor Anton mulai kelihatan lagi setelah dia melamar Nadine waktu itu, inilah yang Yara harapkan, kakaknya menjadi diri sendiri lagi. Sudah sejak lama Yara tidak mendengar guyonan dan candaan Anton, tepatnya sejak Shanum ketahuan berselingkuh.
"Mas, Yara seneng banget mas udah maju karena usaha Mas sendiri. Yara bangga sama Mas Anton."
"Makasih, ya, dek." Anton memeluk Yara dengan sikap hangatnya. "Maafin Mas udah gak seperhatian dulu lagi sama kamu," lanjutnya.
"Gak apa-apa, Mas. Sekarang ada aku yang bakal selalu perhatiin Yara," kata Sky menimpali.
"Nad?"
Keempat orang yang ada disana langsung menoleh kala seseorang menyapa Nadine.
"Mas Lucky?" Nadine sedikit terkejut mendapati Lucky di acara peresmian Cafe baru Anton.
Anton juga terkejut, tapi dia tidak mewaspadai kehadiran Lucky, mengingat mereka punya perjanjian-- yang Anton tau--Lucky akan memegang perkataannya terkait ikhlas melepaskan Nadine untuk dia.
"Nad, bisakah aku bicara sama kamu, kalau bisa aku mau bicara empat mata. Tapi, kalau Anton juga mau ikut untuk mendengarnya, itu gak masalah."
Nadine melirik Anton dan pria itu menyunggingkan senyum tipis. Anton menganggukkan kepala, ia memberi isyarat pada Nadine bahwa dia mengizinkannya.
"Kalau aku boleh tau, kamu mau bicara soal apa, ya, Mas?" tanya Nadine masih didepan Anton, Yara dan Sky yang ada disana.
"Tenang aja, Nad. Ini bukan tentang kita apalagi masa lalu kita, tapi ini tentang aku."
Lucky telah menempati salah satu meja yang ada di cafe tersebut. Tempatnya di pojok dan Nadine yakin percakapan ini adalah privasi Lucky.
"Ada apa, Mas?" tanya Nadine. Wanita dengan surai lurus itu menatap pria dihadapannya yang tampak lebih kurus dari Lucky yang dia kenal dulu.
Lucky tidak menyahut, dia diam demi menatap netra Nadine dalam-dalam. Kini ia tau, dimata bening milik mantan istrinya itu sudah tidak ada cinta lagi untuk dirinya.
Lucky tampak membuka ransel yang ia kenakan.
Sebenarnya, Nadine sendiri cukup heran dengan penampilan casual Lucky hari ini, sebab biasanya Lucky berpenampilan dengan jas dan dasi--sesuai latar belakangnya yang adalah pemilik perusahaan besar. Tapi itu tak terlihat sekarang, Lucky bahkan mengenakan topi yang nyaris tak pernah dia kenakan selama ini.
"Ambil ini, Nad. Ini hak kamu."
Nadine terkejut saat melihat sertifikat kepemilikan Butik dan Bridal yang dulu dia kembangkan kini disodorkan Lucky ke hadapannya.
"Mas?" Tentu Nadine heran.
"Ambil, Nad. Aku memberi ini untuk kamu karena ini memang punya kamu. Gak seharusnya aku mengambil kembali apa yang sudah aku berikan sama kamu."
Nadine hanya menatap lurus pada berkas dihadapannya. Dia belum mau menyentuh itu.
"Dan soal kamu? Tadi kamu bilang mau bicara soal kamu. Ada apa dengan kamu, Mas?"
"Aku dan Firda sudah bercerai tiga bulan yang lalu. Awalnya aku mau memberikan berkas ini lebih cepat sama kamu, tapi aku terlalu sibuk mengurus Alicia, jadi tidak ada kesempatan untuk memberikan ini lebih cepat. Aku mau menyerahkannya langsung sama kamu makanya aku kesini juga pada akhirnya."
__ADS_1
"Alicia?" Nadine hanya terfokus pada satu nama itu saja.
"Bayi yang Firda lahirkan," papar Lucky.
Ah, Nadine hampir lupa jika Lucky memiliki keturunan. Ya, dia melupakan itu, tapi kenapa Firda melahirkan lebih cepat? Begitulah pemikiran Nadine.
"Ah iya, Alicia anak kalian. Maaf aku lupa, Mas." Nadine memasang cengiran. "Apa Firda melahirkan secara prematur?" tanyanya kemudian.
Lucky menggeleng. "Aku yang bo doh, dia sudah hamil sebelum ku nikahi. Untuk itulah aku menceraikannya dan Alicia bukan darah dagingku."
Nadine terperangah mendengar hal ini. "Tapi, tidak mungkin bayi itu juga anak Mas Heru, karena beliau sudah lama struk, Mas? Bahkan sebelum dia meninggal. Jika itu bukan anak kamu, ataupun anak Mas Heru, lalu--"
"Iya, itu bukan anak Heru juga. Firda sudah lama bermain-main di belakang suaminya dan dibelakang aku juga ..."
Sekali lagi Nadine terkejut, tapi dia tak mau menanyakan lebih lanjut jika bukan Lucky yang menjelaskannya, sebab Nadine tak mau tau aib seorang Firda.
"Dan ya, Alicia terlahir dengan kondisi tidak baik, dia mengalami cacat otak dan Firda tak mau merawatnya."
"Jadi, kamu yang merawat bayi itu meski itu bukan anak kamu, Mas?"
Lucky mengangguk. "Setidaknya, aku masih memiliki jiwa kemanusiaan dan tidak mau bayi itu dibuang. Aku menginginkan seorang anak meski keadaannya seperti itu dan bukan darah dagingku sendiri. Meski kebaikanku pada Alicia tidak akan bisa menebus dosaku pada kamu, Nad."
Nadine paham, seperti itulah dia menganggap Baby Elara hingga timbul rasa sayang yang berlebihan.
"Lalu, jika sekarang kamu disini, siapa yang menjaga Alicia, Mas? Apa kak Sonya?"
Lucky menyunggingkan senyum getir. "Tidak, Kak Sonya tidak mau merawatnya juga sejak awal. Dan aku bisa kesini sekarang karena pada akhirnya Alicia meninggal seminggu yang lalu," tandasnya dengan mimik sendu.
"Mas, are you oke?" Nadine merasa terenyuh karena Lucky menitikkan airmatanya.
"Nad, i'm fine. Aku sangat baik. Aku justru bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk merawat bayi itu meski hanya dua bulan lebih saja. Karena, aku tidak akan bisa merasakannya lagi seumur hidupku. Aku mandul, Nad."
"Apa?"
Lucky mengangguk lagi, kini dengan lelehan airmata yang terus mengalir deras.
"Aku udah tau semuanya, Nad. Ternyata selama ini aku yang mandul. Dan kamu ..." Lucky menjeda ucapannya.
"Aku? Aku kenapa, Mas?"
"Kamu sebenarnya bisa hamil, Nad. Dokter keluarga itu udah dibayar sama Kak Sonya supaya bilang kalau kamu yang bermasalah."
"Apa? Kenapa, Mas?" Nadine syok. Apa dia tak salah mendengar?
"Kak Sonya udah ngakuin semuanya, dia iri sama kita, sejak kita menikah, karena dia gak juga menikah diusianya yang sudah kepala empat. Dia gak mau kamu punya anak, jadi dia lakuin itu. Ternyata keinginan dia terkabul, kita gak bisa punya anak, tapi masalah sebenarnya itu ada di aku, bukan di kamu, Nad."
Nadine menggeleng tak percaya. Ini semua sulit untuk dia cerna kebenarannya.
"Semoga kamu bahagia, Nad. Maaf, karena bukan cuma aku yang menyakiti kamu selama kita menikah, tapi juga keluargaku."
Lucky mengakhiri kalimatnya, lantas berbalik meninggalkan tempat itu.
Bersambung ....
__ADS_1
Kirim komentar disini Guys, 🥰🥰🥰