
Setelah mengantarkan Yara pulang, akhirnya Sky kembali ke kediamannya sendiri. Tepat saat ia baru saja menutup pintu, tampak sang Mama yang sepertinya sudah menunggu kepulangannya.
"Ma?"
"Sky, besok kita berangkat pake pesawat pagi. Mama udah pesan tiket untuk kita berdua."
Sky duduk dihadapan sang Mama, terdengar helaan nafas lirih darinya.
"Kenapa mendadak, ma? Coba mama bilang sama aku, apa yang terjadi?" tanya pria itu dengan tatapan teduh pada sang Mama.
Sky tidak mau melawan mamanya dengan sikap yang keras, bagaimanapun ia amat menghargai wanita itu dan ingin tahu sedikit alasan yang membuat Indri melakukan semua ini.
"Sky, mama butuh bantuan kamu kali ini. Bantu mama untuk menggaet investor baru."
Sky menaikkan sebelah alisnya. Heran, tentu saja.
"Ma?"
"Dengar dulu, investor yang sekali ini pasti bakal luluh sama kamu. Ini bukan semata-mata karena uang saja, tapi kita mau join bisnis untuk memperluas jaringan perusahaan."
"Kenapa harus aku?"
"Karena ini perusahaan milik Bapak Aditama."
Sky langsung menggeleng mantap. "Jangan mengait-ngaitkan aku dengan alasan perusahaan, Ma. Kalau nyatanya ada sesuatu dibalik kerja sama ini. Aku yakin, meski tanpa aku mama pasti bisa menghandle semuanya dengan baik."
Indri menundukkan kepala, ia tau Sky pasti sudah bisa menebak maksud dan tujuannya.
"Intinya, besok ikutlah dengan Mama. Temui Bapak Aditama dan putrinya, Karenina."
Sky tertawa sumbang mendengar nama wanita yang akhirnya sang Mama sebutkan.
"Gak, gak! Mama jangan merencanakan sesuatu tanpa persetujuan aku, ma," katanya masih tergelak miris.
"Sky, mama mohon."
"Kalau sekarang aku yang memohon sama mama, gimana? Mama tau aku, kan? Pasti mama sangat mengenal watak putra mama sendiri."
Sky akhirnya bangkit dari duduknya. Ia mau menemani Indri ke Singapore, besok, tapi jika itu menyangkut pertemuan dengan wanita, ia tidak tertarik. Ia sudah bisa menebak ujungnya meski ini adalah kali pertama Indri melakukan tindakan semacam ini.
Indri sendiri memijat pelipisnya, ia hampir melupakan jika putranya telah tumbuh dengan karakter kokoh yang sulit diubah. Sky itu punya komitmen. Setiap iya artinya iya dan setiap tidak berarti tidak. Sky selalu penuh perhitungan, itulah yang membuatnya sukses menjadi seorang arsitek yang handal dan dapat dipercaya. Sky tidak pernah plin-plan dan Dia selalu punya keyakinan yang kuat.
Sky berderap menuju letak kamarnya sendiri, tapi Indri kembali bersuara sebelum sang putra benar-benar beranjak dari sana.
__ADS_1
"Apa gak bisa kamu ketemu dulu dengan Karenina, siapa tau kalian cocok. Mama sudah melihat profilnya, dia cantik, menarik dan dia juga pintar."
"Kalau cuma itu yang dia punya, Yara bahkan lebih dari dia," kata Sky jumawa.
Indri terdiam. Ia pikir Sky mau berubah pikiran apabila nanti bertemu dengan Karenina, nyatanya Sky tetaplah pria yang tidak mudah dipengaruhi.
Sky berbalik dan menatap Indri dengan senyuman yang memancarkan kekecewaan.
"Kenapa, ma? Kenapa mama punya niat seperti ini demi memisahkan aku sama Yara? Aku gak bisa sama wanita yang sama sekali gak aku kenal. Kami belum tentu cocok, dan aku gak bisa munafik untuk pura-pura menyukai wanita lain yang aku sama sekali gak tertarik."
"Apa salahnya dicoba dulu ..."
"Maaf, ma. Maaf dan benar-benar maaf, kali ini aku gak bisa ngikutin kemauan mama. So ... sorry to disappoint, Mom."
"Sky! Yang penting besok kamu harus ikut ke Singapore!"
Sky tak menggubris, ia menaiki tangga dengan cepat, entah kenapa belakangan ini ia malah sering berdebat dengan sang Mama. Padahal biasanya mamanya selalu memahami tentang dia.
Ingin sekali Sky mengatakan pada mamanya, apa yang salah dengan status Yara sekarang? Bahkan mama sendiri pun adalah seorang yang menyandang status sama dengan wanita pilihannya, meski mamanya menjada karena sang papa yang lebih dulu berpulang.
Sesampai di kamarnya, Sky merenungi semua ini. Tidak, ia tidak akan membiarkan semua ini terjadi.
Sky memutuskan untuk mengguyur tubuhnya setelah selesai ia pun memutuskan untuk tidur, nyatanya ia tidak bisa untuk terlelap.
Mendengar suara Yara mungkin akan membuatnya lega. Ia memutuskan menelepon wanita itu.
"Hmm? Kenapa Sky?" Yara menyahut dengan suara yang berat, Sky yakin wanita itu sudah tertidur sebelumnya, mengingat sekarang sudah pukul setengah satu dini hari.
"Aku kangen banget sama kamu, Ra."
"Sky? Kamu nelepon aku selarut ini cuma mau bilang itu? Kita baru ketemu beberapa jam yang lalu," protes Yara.
"Besok aku ke Singapore pake pesawat pagi."
Akhirnya Sky menyatakan hal itu, membuat Yara terdiam beberapa saat diseberang sana.
"Ra?"
"Y-ya?"
"Kok diem?"
"Berapa lama disana?" tanya Yara.
__ADS_1
"Senin mungkin udah disini lagi, kok."
"Oh, ya udah kalau gitu. Lagian itu permintaan mama kamu, kan?"
Entah kenapa Sky merasakan ada nada sedih dari suara Yara.
"Gak semua permintaan mama harus aku turuti, Ra."
"Apa salahnya buat mama kamu senang, Sky?"
"Salah, kalau mama maksa buat ngenalin aku ke wanita lain, Ra."
Sky tidak kuasa menyimpan berita ini dari Yara, cepat atau lambat Yara memang harus tau. Tapi setelah mengucapkan hal itu, Sky merasa menyesal karena Yara langsung terdiam.
"Ra?"
"Hmm..."
"Sayang, aku gak mau ngikutin kemauan mama, bukan karena gak mau buat mama senang. Tapi aku memang gak bisa kalau wanita itu bukan kamu."
Lagi-lagi Yara diam dan ini membuat Sky menjadi serba salah.
"Hmm, kamu mau tidur lagi?" tanya Sky akhirnya. Ia akan membicarakan ini lagi bersama Yara secara langsung, nanti.
"Iya, bye..." jawab Yara, membuat Sky menghela nafas frustrasi.
Sky harus pasrah saat Yara memutus panggilan teleponnya begitu saja, padahal Sky belum menyahuti kalimat terakhir wanita itu. Sky yakin Yara disana pasti tengah merasakan perasaan yang tak enak juga.
Sky bangkit dari posisinya, ia mengambil kunci mobil dari atas nakas. Tidak peduli waktu yang sudah sangat larut. Sky mau menemui Yara malam ini sebelum mengikuti keinginan sang Mama untuk berangkat ke Singapore esok hari.
Indri yang juga belum tertidur, mendengar suara deruan mobil yang baru saja keluar dari garasi rumah.
"Astaga, mau kemana kamu selarut ini, Sky?" batin wanita itu merasa was-was.
Hujan kembali turun saat Sky keluar dari rumahnya, bahkan semakin deras saat tujuan Sky hampir tiba.
Ya, dia mendatangi kediaman Anton untuk menemui Yara, tidak tau bagaimana respon Anton nanti saat mendapatinya datang di waktu yang larut ini.
Sialnya, mobil Sky tidak bisa masuk ke kawasan rumah Anton karena ternyata jalan menuju kesana telah ditutupi portal setiap lewat pukul 12 malam.
Sky melihat arloji ditangannya, ini memang sudah lewat pukul 1 malam. Lalu, bagaimana caranya ia bisa menemui Yara jika mobilnya terjebak di ujung gang ini?
Bersambung ...
__ADS_1
****
Abis ini aku langsung up bab selanjutnya. Tinggalkan jejak guys❤️❤️🤗