
Nadine masih termangu melihat kepergian Firda yang begitu saja. Ia tidak menduga jika kondisi wanita itu harus seperti sekarang ini. Ah, mendadak Nadine jadi mengingat sebuah petuah tentang hukum tabur tuai. Apa sekarang Firda sudah menuai apa yang dulu dia tanam?
"Kamu gak apa-apa, kan? Dia Firda yang--"
"Iya, Mas. Dia Firda, wanita yang sempat menjadi sahabat dekatku lalu menjadi maduku," kata Nadine memotong ucapan Anton.
Anton lantas mengelus pundak Nadine sekilas, seolah memberi kekuatan untuk calon istrinya itu.
"Aku gak apa-apa, Mas. Kamu tenang aja, ya. Aku cuma syok ngeliat keadaan Firda yang begitu sekarang."
Anton pun menganggukkan kepalanya. "Sekarang, kamu mau ke mana lagi? Aku bakal boncengin kamu kemanapun kamu mau," ujarnya.
Nadine mengulumm bibirnya. "Naik ini?" rujuknya pada sepeda ontel yang disandarkan asal dekat pepohonan teh disana.
"Iya, emang kamu mau naik apa lagi? Andai aku bisa bawa pesawat, aku bakal ajak kamu naik itu, Nad."
Kali ini Nadine terkekeh, tak dapat menahan tawa geli akibat gombalan Anton yang nyeleneh.
"Oke, Mas. Kayaknya naik sepeda lebih aman deh, daripada naik pesawat yang dikendarai sama kamu," kelakar Nadine dan itu membuat Anton tersenyum kepadanya.
Mereka kembali berboncengan dengan posisi Nadine yang duduk menyamping.
"Baru ini aku boncengin cewek naik sepeda selain Yara," kata Anton di sela-sela perjalanan mereka menyusuri ladang teh kembali.
Suasananya dan udara disana sangat segar, nampak juga bukit barisan yang berjejer meski ditutupi oleh kabut.
"Oh, ya? Emang kapan terakhir kamu boncengin Yara, Mas?"
"Kapan, ya? Pas dia SMP kali."
"Kamu kakak yang baik ya, Mas."
"Ya, ya, dan jangan lupa, aku juga calon suami terbaik," ujar Anton jumawa.
Nadine tertawa geli, entah sejak kapan Anton bisa bersikap absurd seperti ini. Yang dia tau selama ini Anton selalu berlagak kaku dan dingin. Pria itu juga irit bicara, tapi Nadine juga ingat bahwa Yara pernah mengatakan bahwa sikap Anton yang sebenarnya adalah pria yang humoris.
"Mas, kamu tau, gak, aku masih penasaran sama kamu."
Untuk sejenak, Anton menghentikan laju sepeda yang tengah ia kayuh. Ia melirik sekilas pada Nadine dari posisinya-- namun tidak menolehkan kepala demi melihat wajah wanita itu.
"Kok, berhenti?" protes Nadine keheranan.
"Ya, tadi aku kayaknya salah denger pas kamu bilang penasaran sama aku "
Nadine membungkam bibirnya yang hampir mengeluarkan tawa kencang. "Astaga, kamu gak salah denger kok, Mas. Aku emang penasaran sama kamu," ujarnya.
"Emang apa yang kamu penasarin dari aku?"
"Ya, kata Yara kamu itu sebenarnya humoris, tapi kenapa sama aku kamu gak kayak gitu, lebih sering serius. Aku mau lihat dong Mas, gimana kamu yang aslinya."
__ADS_1
"Jadi, kamu pikir yang sekarang boncengin kamu ini Anton yang palsu, gitu?"
Sekali lagi Nadine terkekeh kencang, sudah cukup, ia sudah tau rupanya pria ini memang memiliki jiwa humor yang tinggi.
"Mas, kenapa sih, dulu kamu jadi montir? Kenapa gak jadi pelawak aja?" goda Nadine.
Anton tetap dengan wajah datarnya, dan itu justru membuat Nadine semakin merasa lucu. Ah, selera humor wanita itu memang se-receh itu.
"Ya, karena bakat aku emang jadi montir dan mekanik, Nad. Emang aku cocoknya jadi pelawak? Apa selucu itu?"
"Ya gak tau, kan kamu belum nunjukin jati diri kamu yang sebenarnya. Sok jaim sih kamu," ejek Nadine.
"Oh, jadi kamu mau aku nunjukin diri aku yang sebenernya?"
"Iya, dong, Mas!"
"Yakin? Ntar kamu kaget lagi."
"Kok, kaget? Aku kan emang harus tau kamu yang sebenarnya kayak gimana, Mas. Bentar lagi kita menikah, kan?"
"Nah, itu tau. Makanya nanti aja liatnya kalau kita udah nikah. Kalau sekarang jangan, ntar aku khilaf..."
Dan saat itu juga Nadine memutar bola matanya, namun kemudian terkekeh. Ia tau kemana pikiran Anton sekarang.
"Mas, aku bukan mau liat yang macem-macem, ya."
"Ternyata selain absurd kamu juga me sum ya, Mas! Dasar ca bul!"
Kali ini barulah Anton tergelak akibat pernyataan calon istrinya itu.
"Ini belum seberapa, Nad."
"Lah, terus?"
"Ya, nanti kamu bakal tau sendiri kok, seberapa me sum nya aku ini. Tentu setelah kita menikah."
Plak!
Nadine memukul pundak Anton, bahkan kini dia mencubit pinggang pria nakal itu dari posisinya yang duduk dibelakang punggung Anton.
"Issh... kamu, Mas!" Nadine mendesis akibat pernyataan pria itu.
"Udah berani kamu, ya?" Anton terkekeh kembali. "Kan, tadi kamu sendiri yang mau lihat gimana aku. Gak mau aku jaim lagi. Sekarang malah aku di cubit," protesnya sambil menggeliatkan badan sesekali-- sebab Nadine terus saja menghujani pinggangnya dengan cubitan--yang meski tidak sakit--tapi itu terasa menggelikan.
"Udah deh, malas ngomong sama kamu kalau obrolannya jadi ngalur-ngidul!" kata Nadine menginterupsi.
"Pegangan, Nad!?" seru Anton karena tiba-tiba kini mereka sampai di perjalanan yang menurun.
Nadine segera mengeratkan pegangannya. Yang tadinya dia hanya berani memegang erat kaos Anton disisi kiri-kanan tubuh pria itu, sekarang malah jadi melingkari pinggang Anton dengan kedua tangannya. Dia benar-benar takut jatuh sebab sepeda mereka tengah meluncur ke bawah.
__ADS_1
"Wuhuuu..." Anton bersorak seperti anak kecil yang baru lulus naik sepeda. Perjalanan terjal dengan sepeda ontelnya terasa memacu adrenalin, tapi pemikiran itu langsung sirna kala mereka sudah tiba di jalanan rata namun pelukan di pinggangnya masih terasa belum mengendur.
"Nad? Kamu gak apa-apa, kan?"
Nadine hanya diam tak menjawab.
"Nad?" Anton tidak suka diabaikan, ia takut Nadine takut karena aksinya tadi.
"Gak apa-apa, Mas. Ini pertama kalinya aku suka diboncengi naik sepeda dan itu sama kamu."
Anton menarik sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan sempurna. Dia melirik jari-jemari Nadine yang kini telungkup di perutnya. Lantas, pria itu mengelus tangan halus itu.
"Ini juga pertama kalinya aku benar-benar bisa melupakan masa lalu yang pahit. Semoga kita bisa menua bersama, Nad. Ada atau tidak adanya keturunan yang bakal kamu kasih buat aku, kita syukuri saja dengan adanya Elara. Hmm?"
Nadine kembali mengeratkan pelukan, bahkan dia menyandarkan sisi wajahnya di punggung bidang pria itu.
"Elara tetap bakal jadi anak kita yang pertama, Mas. Tapi ..." Sang wanita sengaja menggantung kalimatnya.
"Tapi, apa, Nad?"
"Tapi, kalau di kedepan hari bakal ada adik-adik Elara yang akan hadir di tengah-tengah keluarga kecil kita, aku harap kamu gak akan keberatan ya, Mas."
"Maksud kamu?"
Anton tidak paham kemana arah pembicaraan Nadine, meski dia dapat menebak jika di kalimat itu terdapat harapan dalam diri Nadine untuk memiliki keturunan dengannya, tapi bukankah mereka sudah sepakat jika tidak akan ada hal semacam itu yang tersemat dihati keduanya karena sudah tau kapasitas pasangan masing-masing?
"Sebenarnya, selain ingin mengembalikan sertifikat Bridal dan Butik sama aku. Kedatangan Mas Lucky tempo hari juga ingin memberitahuku ... bahwa diagnosa dokter keluarga yang pernah mengatakan bahwa aku sulit hamil itu adalah kesalahan."
"Apa?" Mata Anton melebar seketika itu juga.
Nadine mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum manis. "Iya, Mas. Aku subur. Aku bisa punya keturunan. Kita masih bisa berharap bahwa Elara bakal mendapatkan adik. Kamu gak keberatan, kan, Mas?" tandas Nadine.
Demi apapun, Anton ingin sujud syukur sekarang. Berita ini seperti dia menemukan kebahagiaan lain. Jauh dalam lubuk hati pria itu amat merasa senang, terutama turut bahagia untuk Nadine juga. Bagaimanapun, Anton tau jika Nadine amat merindukan untuk memiliki anak dari rahimnya sendiri.
"Aku gak akan beda-bedain antara Elara dan anak-anak kita nantinya, Mas. Karena Elara adalah bayi pertama yang hadir dalam hidupku disaat aku terpuruk. Elara semacam terapi tak langsung yang memulihkan kondisi hati aku yang waktu itu tengah hancur-hancurnya."
Anton pun turun dari sepedanya, kegiatannya itu diikuti oleh Nadine pula. Lalu, tanpa kata lagi, pria itu segera merengkuh dan membawa tubuh Nadine kedalam dekapan. Tak satupun orang lagi yang dapat merebut kebahagiaan mereka berdua. Tidak ada.
"Masa depanku ..." bisik Anton disela-sela pelukannya.
Nadine memejamkan mata, menghirup aroma maskulin dari tubuh sang pria yang entah mengapa saat dekat seperti inipun amat sangat dua rindukan. Sudah sedalam itu perasaannya pada Anton dan dia tak mau kehilangan sedetik saja kebersamaan dengan pria ini.
"My future husband," gumam Nadine membalas perkataan pria-nya.
Bersambung ...
Next? Komen✅
Yang udah di undang sama mereka ke pesta pernikahan? Mana suaranya?? Hayukk .... siapkan dresscode karena pesta semakin dekat🥰🥰🥰🥰
__ADS_1