
4 Bulan kemudian ....
Yara menatap Juna yang berdiri dihadapannya. Pria itu tampak lebih kurus dari terakhir pertemuan mereka di rumah Anton waktu itu.
Yara tersenyum simpul, kemudian mengulurkan tangan kanannya kepada Juna.
"Terima kasih, karena Mas tidak mempersulit proses perceraian kita," ujarnya tulus.
Juna ikut tersenyum, tapi senyumnya adalah sunggingan kegetiran. Ia menyambut tangan Yara-- membuat tangan mereka saling menjabat sekarang.
"Aku harap kamu lebih bahagia setelah melepas status sebagai istriku. Maaf, kalau selama menjadi suami... aku banyak melakukan kesalahan dan belum menjadi suami yang baik buat kamu.p"
Yara mengangguk, kemudian segera melepas tautan tangan mereka dengan sedikit memaksa, sebab Juna seakan enggan melerainya.
Semua urusan Yara terhadap Juna benar-benar telah selesai hari ini. Ia tidak berniat merusak kehidupan Juna dengan melaporkan tindakan perselingkuhan Juna pada pihak perusahaan tempat mantan suaminya itu bekerja.
Biarlah, yang sudah terjadi Yara anggap sebagai pelajaran, ia tidak mau melakukan tindakan yang nantinya akan merugikan orang lain. Meski Yara merasa sakit hati atas pengkhianatan Juna, tapi jauh dalam hati Yara-- ia juga menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimanapun, selama ini ia juga tidak menjadi istri yang baik-- karena tidak bisa menaruh cinta yang besar kepada pria yang berstatus suaminya.
Juna menunduk kemudian benar-benar berlalu dari ruangan persidangan itu. Hari ini adalah hari dimana persidangan terakhir--- soal urusan perceraian mereka. Sekarang, status mereka telah resmi bercerai--baik secara agama maupun secara hukum negara.
"Dek?"
Yara menoleh dan mendapati Anton disana. Sang kakak tersenyum simpul dan memeluk Yara penuh kasih sayang.
"Setelah ini, jalani hidup kamu dengan lebih baik."
Yara mengangguk. Tidak ada airmata yang menetes dalam persidangan akhir. Cukup, sudah terlalu banyak airmata yang ia keluarkan hanya untuk seorang suami seperti Juna. Itupun bukan airmata karena ia cinta dan enggan melepaskan sang pria, melainkan airmata kekecewaan-- sebab pengkhianatan yang telah dilakukan Juna--membuat Yara jadi mengingkari amanah dari mendiang ayahnya.
Sudahlah, Yara mau melupakan masa-masa itu. Sekarang saatnya Yara menyongsong hidup baru dengan status yang baru. Yara tau ini akan sulit diawal-awal sebab statusnya sekarang seringkali dipandang remeh dan sebelah mata oleh berbagai pihak.
Anton pun menepuk-nepuk punggung Yara seakan memberi dukungan pada sang adik. Lantas, pria yang berumur tiga tahun lebih tua dari Yara itu langsung keluar dari ruang pengadilan.
Yara menarik nafas dalam. Sesaat setelah ia keluar dari ruangan ini maka kehidupan yang baru sudah menunggunya.
Yara melihat sekeliling, ternyata tinggal ia saja yang berada dalam ruangan itu. Gegas ia berjalan menuju pintu keluar, namun saat ingin menarik handle pintu, kegiatannya terhenti sebab ada seseorang yang lebih dulu membuka pintu ruangan dari sisi luar.
Untuk beberapa saat, Yara terpaku. Dengan keadaan wajah yang mengadah dan menatap langsung pada netra hitam pekat itu. Di menit berikutnya, segera Yara menundukkan pandangan sebab tidak tau harus mengucap apa pada sosok dihadapannya.
"Aku udah nunggu 4 bulan, sampai hari ini akhirnya tiba. Apa sekarang kamu berubah pikiran bahkan gak mau lagi untuk sekedar menyapaku, Ayara?"
...~~~~...
Mercedez-Benz S-Class hitam tengah melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota, meninggalkan gedung pengadilan dimana sebelumnya sempat disinggahi.
__ADS_1
Yara masih saja duduk diam disisi Sky yang mengemudi dengan keadaan tenang dan fokus menatap jalanan.
"Kita mau kemana?" tanya Yara akhirnya.
"Menurut kamu?"
Ah, Sky. Hampir empat bulan mereka tidak bertemu ternyata sikap dan tingkah pria ini masih sama saja.
"Aku serius, kita mau kemana sekarang, Sky?"
"KUA," jawabnya tenang dengan tatapan masih lurus ke depan. Membuat Yara berdecak lidah mendengarnya.
Yara melipat tangan di dada. Entah kenapa perasaannya tidak enak sekarang.
"Kita ke rumah."
Bersamaan dengan itu, Sky membelokkan mobil ke arah kiri membuat Yara semakin bertanya-tanya, 'rumah' mana yang dimaksudkan oleh pria ini?
"Rumah? Kita mau ke rumah siapa? Perasaan rumah mas Anton gak lewat jalan ini."
"Rumah mamaku, Mama mau ketemu kamu."
Deg ....
Pantas saja perasaan Yara tak enak. Rupanya Sky mau mengajaknya bertemu dengan Tante Indri.
"Lebih cepat lebih baik, kan?" ujar Sky enteng.
"Apa tanggapan mama kamu nanti. Dia bisa syok kalau tau semua ini."
"Sayang, aku tinggal bilang hubungan kita yang dulu belum kelar. Aku udah nunggu kamu 11 tahun. Aku nunggu kamu janda. Mama pasti langsung restuin. Kecuali kemarin, waktu status kamu masih jadi istri orang, baru mama menentang dan bisa-bisa dia pingsan." Sky berujar dengan sangat yakin dan mantap.
Sementara Yara langsung mengurut kening, berdebat dengan Sky pasti akan membuat tensinya naik, tapi menuruti keinginan pria itu pun-- Yara belum siap.
"Tapi, aku belum siap, Sky." Yara menggigit bibir diujung kalimatnya.
Disaat itulah Sky menoleh sekilas pada wanita itu, ada seulas senyum jenaka yang tersungging tipis disudut bibirnya. Ia sadar kegugupan Yara sekarang.
"Kenapa belum siap? Terus aku harus nunggu berapa lama lagi sampai kamu siap, hmm?"
"Aku malu, Sky."
"Kenapa harus malu? Kamu pakai pakaian sopan, malunya dimana?"
__ADS_1
Yara menyugar rambutnya frustrasi. "Aku mau pulang aja, ya?" tawarnya.
Sky menggeleng kuat-kuat. "Aku gak bisa nunggu lagi sampai kamu siap. Ngerti dong, Ra," ujarnya ikut-ikutan pasang wajah frustrasi.
Akhirnya Yara pasrah saat sky benar-benar menghentikan mobil di pekarangan rumah yang jelas-jelas Yara ketahui sebagai kediaman Sky bersama sang Mama.
"Ayo, sayang!"
Sepertinya pria ini tidak lagi canggung memanggil Yara dengan sebutan itu. Dia bahkan menarik tangan Yara untuk segera menuruni mobil.
Dengan gerak pelan, Yara pun mengikuti langkah Sky. Tentu saja ia ragu, was-was dan takut ditolak mentah-mentah. Apalagi mengingat statusnya sekarang. Kecil kemungkinan Tante Indri akan mempermudah segalanya.
"Sky?"
Yara semakin menundukkan wajah saat memasuki kediaman mereka dan sudah langsung disambut oleh suara Indri yang menyapa Sky.
"Ma, coba lihat aku datang sama siapa sekarang...." Sky menggeser tubuh yang sebelumnya dijadikan Yara sebagai perlindungan untuk menyurukkan diri.
Indri menelaah seorang wanita yang dibawa Sky, dalam hitungan detik ia sudah dapat menerka siapa wanita yang tidak banyak berubah itu.
"Ayara?" gumam wanita paruh baya itu. Seketika itu juga Indri bangkit dari duduknya, meletakkan majalah yang sebelumnya ia baca, kemudian berjalan mendekat pada keberadaan Sky dan Yara yang berdiri tak jauh darinya.
"Tante, apa kabar?"
Yara memasang cengiran kecil, lebih tepatnya raut yang mengartikan kecemasan diwajahnya.
"Tante baik, Ra. Kamu apa kabar?"
Indri bertanya sembari melakukan cipika-cipiki dengan wanita yang dibawa putranya itu.
Sky tidak dipedulikan lagi oleh Indri, ia mengiring Yara untuk menuju sofa ruang tamu hingga membuat wanita itu terduduk disebelahnya.
"Yara juga baik, Tant," ujar Yara dengan senyum sungkan.
"Kamu udah menikah, Ra? Anak kamu udah berapa? Itu Sky gak mau nikah, Tante jadi bingung." Indri malah mengadukan tingkah Sky pada Yara membuat Yara semakin gugup karenanya.
"Yara udah menikah, Ma. Tapi dia udah bercerai. Pas banget, kan?" ujar Sky menimpali.
Indri pun langsung menoleh pada sang putra. "Pas banget? Maksudnya?" tanyanya kebingungan.
"Pas banget, karena Sky emang nunggu Yara jadi janda," kata pria itu tanpa tedeng aling-aling dan selalu saja meng-enteng-kan situasi.
Seketika itu juga Yara menepuk jidat, sementara Indri masih mencoba mencerna berita-- yang baru saja Sky utarakan.
__ADS_1
Bersambung ...
****