
Sky sudah kembali pada rutinitasnya hari ini. Begitu dia tiba di kantornya, Beno langsung menyambutnya. Ah, bukan, sepertinya sang sahabat memang sudah menunggu kedatangannya.
"Sebenarnya, kau masih anggap aku sahabatmu atau enggak, Sekai?"
Rasanya Sky ingin tergelak. Apalagi melihat ekspresi Beno yang mematut wajah super serius ditambah raut lesu kekecewaannya. Namun, sengaja Sky menahan tawanya, dia tidak mau Beno semakin marah nantinya.
Sky tau arti dibalik kemarahan sahabatnya ini, pasti Beno kecewa karena dia tidak memberitahukan soal pernikahannya. Mau bagaimana? Semua terjadi dengan cepat, bahkan waktu itu Sky sempat mengira dia sedang bermimpi.
Tapi, Sky juga sempat menyinggung perihal cutinya yang dilakukan karena ingin bulan madu, seharusnya Beno tidak terlalu terkejut, kan? Kecuali jika saat Sky mengatakan--ingin berbulan madu waktu itu--tapi Beno hanya menganggap itu hanya percandaan saja.
Ya, sepertinya begitu, makanya Beno masih merasa terkejut sebab melihat postingan foto yang beberapa kali Sky unggah di sosmed miliknya.
"Sorry, aku menikah dadakan waktu itu. Resepsi bulan depan, nanti kau pasti ku undang," kata Sky dengan entengnya.
Beno masih merengut. Sky memang selalu meng-enteng-kan sesuatu, pikirnya.
"Bahkan sama wanita yang jadi istrimu pun aku gak kenal," sungut Beno kemudian.
"Iya juga, ya. Wah... terlalu juga aku, ya?" kata Sky menyadari. "Abel malah udah kenal duluan sama Yara," lanjutnya bergumam.
"Abel? Abel anakku?" tanya Beno memastikan.
"Iya, pernah sekali kita jalan-jalan ke taman sama Abel waktu itu."
"Wah, asli parah kau, Sekai!" marah Beno.
Sky menepuk-nepuk pundak Beno dengan akrab, bahkan bertindak selayaknya memijit singkat disana.
"Sekali lagi, Sorry. Sebagai permintaan maafku gimana kalau nanti ku traktir makan siang, oke?"
Mendengar itu, wajah Beno langsung berbinar lagi. "Kalau makan gratis, siapa yang nolak," ujarnya.
Sky sampai geleng-geleng kepala.Tapi dia memang tau jika itu adalah salah satu cara untuk membujuk temannya yang satu ini.
"Sekai?"
"Hmm?" Sky menatap Beno sekilas sebab dia sudah sibuk melihat gulungan blue print--pekerjaannya.
"Yang jadi istrimu itu ... yang itu, ya?" Beno ragu-ragu menanyakan hal yang ingin diketahuinya.
"Yang itu yang mana maksudmu, Ben?"
"Ehm... yang itu, yang kau bilang istri orang?"
Sky menatap Beno dengan tampang geli. "Iya, yang itu," jawabnya.
Beno langsung berdiri dari duduknya, padahal sejak tadi dia duduk di sofa sembari melipat tangan seolah tengah menyidang Sky yang baru saja datang ke kantor. "Serius? Jadi, kau berhasil merebut dia dari suaminya?" tanyanya dengan nada kaget.
"Iyalah, kau meragukan pesonaku, Ben?"
"Astaga... jadi pebinor kok bangga," kata Beno tak habis pikir.
Sky akhirnya tergelak, tapi dia tidak marah dengan julukan yang diberikan Beno kepadanya.
"Apa dia istri dari pria yang namanya Juna itu? Yang juga pernah kerja di rumah seberang rumahku?"
__ADS_1
"Yups. Mulai pintar kau, Ben."
"Si a lan!" umpat Beno. "Aku emang pintar lah, kalau enggak, mana mungkin kita kuliah terus kerja ditempat yang sama. Aku sama kau-- sebelas dua belas lah!" ujarnya jumawa.
Lagi-lagi Sky terkekeh, membuat Beno kesal seperti hiburan tersendiri untuknya.
"Beda lah, jelas pintaran aku. Buktinya aku duluan lulus kuliah dan kau ngerengek minta bantuan ku juga waktu itu."
"Hah, pintarmu cuma berdebat aja! Seharusnya kau gak jadi arsitek, jadi lawyer lebih cocok, tau!"
Sky mengangkat bahunya dengan cuek, ia kembali sibuk memeriksa pekerjaannya disana.
"Ya udahlah, kerja yang bener, aku mau lanjut kerja lagi." Beno bangkit usai berujar enteng, mengikuti gaya Sky yang selalu bersikap demikian.
Mendengar itu, Sky mengadahkan wajah demi menatap Beno yang sudah berdiri disana.
"Kau yang kembali kerja, jangan disini mengomentari aku, hah?"
Melihat tatapan Sky yang tajam, Beno langsung menyadari keadaan.
"Iya, Pak. Ini saya lanjut kerja lagi. Permisi," ucap Beno formal. Bagaimanapun, posisi Sky tetaplah atasannya di kantor ini, meski dia tau Sky tidak benar-benar serius marah padanya tadi.
...____...
Akibat tegurannya pada Nadine kemarin, Anton harus merasakan konsekuensinya hari ini. Baby Elara yang sudah biasa dimandikan Nadine, hari ini sangat rewel dan tak henti menangis saat Anton mandikan.
Anton tak mengerti salahnya dimana, perasaan dia sudah memandikan Baby Elara dengan lembut dan tata cara yang sama seperti yang Nadine lakukan.
Bukan Anton tak tau, dia sering memperhatikan bagaimana cara Nadine memperlakukan putrinya termasuk bagaimana tata cara memandikan bayi.
Anton sibuk menenangkan bayinya, tapi kemudian dia merasa janggal saat membubuhkan minyak telon ke perut sang bayi.
"Astaga, kok badan Elara panas, ya?"
Ceroboh, harusnya tadi Anton bisa mengetahui jika saat ini Elara sedang dilanda demam. Pria itu pun kelimpungan, ia takut tidak bisa memberikan Elara yang terbaik.
Anton semakin bingung saat Baby Elara tidak kunjung menghentikan tangisan. Mau tak mau dia harus meminta bantuan orang lain untuk memesankan taksi sebab tak mungkin Anton membawa bayinya ke Klinik dengan motor--seorang diri--sebab dia belum berani melakukan itu.
"Fandi udah di bengkel belum, ya?"
Anton menggendong Baby Elara sampai ke ambang pintu, tangisan bayi itu semakin pecah, Anton jadi makin kalut saja.
Rupanya Fandi belum datang ke Bengkel. Pintu kios itu juga masih tertutup rapat.
Wajar saja, ini masih terlalu pagi. Fandi biasa datang ke bengkel pukul 8, sementara ini masih pukul 7 lebih 15 menit.
Saat Anton ingin membawa Baby Elara ke ujung jalan, mendadak dia melihat seseorang yang tak asing melintasi jalanan didepan rumahnya. Seseorang itu juga langsung melambatkan laju motor kemudian berhenti saat menyadari ada Anton disana.
"Mas ganteng?"
"Irna?"
"Mau kemana? Itu bayi siapa? Kok nangis terus? Mas gak nyulik bayi orang kan?"
Anton masih memomong Baby Elara dengan kalutnya, tapi mau tak mau ia harus menanggapi pertanyaan Irna sebab tidak mau disangka sudah menculik sang bayi.
__ADS_1
"Ini anak saya, Ir. Kamu mau kemana? Bisa tolong pesanin taksi, gak? Ini dari ponsel saya aja, saya gak bisa pesan soalnya Elara nangis terus dari tadi gak tenang-tenang."
Irna mengangguk, ia meraih ponsel Anton.
"Tujuannya kemana, Mas?"
"Ke klinik terdekat aja. Kamu tau dimana, tekan aja alamatnya disana."
"Oh, oke..."
Wanita itu lantas memesankan taksi online melalui ponsel milik Anton.
"Bayi kamu kenapa, Mas? Mamanya mana?"
"Kayaknya dia demam, ibunya udah gak ada."
Irna baru ingat jika dia sempat mendengar bahwa kakak ipar Yara meninggal setelah melahirkan bayinya. Waktu itu Irna memang tidak sempat datang untuk melayat karena tuntutan pekerjaan. Sekarang, barulah dia sadar jika yang meninggal itu adalah istri dari Anton.
"Oh iya, maaf ya, mas. Aku gak bermaksud buat kamu sedih."
"Gak apa-apa, kok, Ir."
Irna pun melihat keadaan Baby Elara. "Maaf, Mas aku boleh bantu kamu tenangin bayinya, gak? Kasihan kalau nangis terus seperti itu," pintanya.
"Oh, iya. Boleh aja kalau kamu gak keberatan."
Irna pun turun dari motornya dan memasang standar motor lalu mulai mengambil alih Baby Elara dari gendongan Anton.
Baby Elara masih menangis dalam gendongan Irna, tapi lama kelamaan tangisnya mulai melemah karena Irna mengajaknya bercengkrama lucu.
"Cep cep cep... anak cantik, geulis, jangan nangis lagi. Ntar cantiknya nyasar ke Tante, lho. Udah ya, udah. Tante udah manis soalnya, kalau ketularan cantiknya kamu, ntar Tante makin paripurna," kata Irna berceloteh seakan Baby Elara bisa mengerti saja.
Irna juga menggoyangkan tubuh ke kiri-kanan demi menenangkan sang bayi. Tampaknya dia benar-benar berpengalaman dalam hal ini.
Anton saja sampai terkekeh, kadang tingkah Irna dan perkataannya memang sangat menghibur. Terbukti sejak awal bertemu Irna, Anton sering merasa lucu sendiri.
"Taksinya lama lagi, Mas?" tanya Irna, sebab Anton yang memegang ponsel sekarang dan dapat melihat aplikasi pemesanan taksi tersebut.
"Kayaknya udah dekat. Makasih ya kamu udah mau bantu saya."
"Sama-sama, Mas. Sesama rakyat Indonesia harus saling membantu. Dapat pahala dan bonusnya dapat senyuman dari pria ganteng...."
Sekali lagi Anton terkekeh mendengar ucapan receh Irna beserta gurauannya.
Tanpa mereka sadari, sedari jarak yang tidak terlalu jauh, Nadine ada dibalik kemudi mobilnya, dia dapat melihat kejadian itu dan entah kenapa hatinya memanas melihat keakraban Anton dengan wanita lain. Apalagi wanita itu menggantikan posisinya yang seharusnya memomong Baby Elara hari ini.
"Jadi alasan sebenarnya kamu ngelarang aku dekat sama Elara karena ini, Mas?" gumam Nadine. Entah kenapa dia kecewa padahal seharusnya tidak begitu.
"Harusnya kamu bilang aja kalau kamu mau deketin Elara sama pacar baru kamu, Mas... aku pasti bisa menerima semua ini," kata Nadine yang kembali bermonolog.
Nadine menyandarkan kepalanya di setir mobil. Ia merasa semua pria sama saja. Kenapa Anton mengecewakannya?
Tapi tunggu, kenapa juga dia harus sakit hati melihat interaksi Anton dengan wanita lain? Tidak, tidak, pasti ada yang salah dengan dirinya.
Bersambung ....
__ADS_1
Gimana pendapat kalian Readers? Kita-kira Nadine kenapa begitu? Huhuhu... othor juga pasti sakit hati kalau jadi Nadine. Udah diusir secara gak langsung, eh besoknya udah ada yang gantiin. š¢ poor Nadine... sini othor pelukš¤