EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
139. Permintaan di waktu tak tepat


__ADS_3

Matahari telah terbit di ufuk timur, bersamaan dengan orang-orang yang mulai kembali beraktivitas seperti biasanya. Hari ini, udara pagi terasa begitu sejuk, aroma tanah basah yang kemarin tertimpa hujan pun masih tercium samar-samar.


Akan tetapi, di pagi yang mendamaikan ini, Yara tengah sibuk menyiapkan dua bayi kembarnya agar tampil menawan dan menggemaskan.


Sky sendiri baru selesai mandi, dia keluar dengan bathrobe dan secarik handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Dia memperhatikan kesibukan Yara dan berniat membantunya.


"Udah, kamu pakaian aja dulu, bajunya udah aku siapin tadi," kata Yara tanpa melirik suaminya. Dia seakan bisa membaca pergerakan Sky yang ingin menggantikan posisinya didepan bayi-bayi mereka.


Urunglah niat Sky untuk menangani putra-putrinya. Dia langsung bersiap sesuai yang Yara inginkan.


Hari ini memang sangat repot, bukan hanya karena dua bayi yang ingin terlihat eksistensinya, tetapi juga karena mereka sedang mengejar waktu untuk menyaksikan Anton mengucap ikrar pernikahan.


Belum ada lima menit Sky berlalu ke dalam walk in closet, Yara kembali bersuara.


"Sayang? Udah selesai belum?" pekik Yara pada Sky yang masih berada dalam ruang ganti itu.


Sky pun keluar dari sana dengan tergesa-gesa. "Aku belum selesai, Sayang," sahut pria itu dengan keadaan yang membuat Yara menahan geli.


Bagaimana tidak, Sky keluar dengan penampilan yang aneh. Kemeja belum terkancing, rambut belum disisir dan wajah memelas yang membuat Yara cukup prihatin.


Yara pun melirik kedua bayinya yang telah siap dan dalam keadaan cukup tenang, dia memindahkan mereka ke dalam stroller terlebih dahulu, barulah dia menghampiri posisi suaminya.


"Maafin aku, ya, harusnya aku juga merhatiin dan nyiapin kamu." Yara berujar sembari mengancingkan satu persatu kancing di kemeja sang suami. Dia menatap Sky dengan teduh dan tatapan bersalah.


Sky mengangguk-anggukkan kepalanya, dia juga tak pernah menyalahkan Yara. Sky tau Yara amat repot dengan bayi mereka. Yara bukan sengaja mengabaikannya.


"Aku gak nyalahin kamu. Aku aja yang payah," kata pria itu dengan pelan.


"Payah? Payah kenapa?" Yara mengibas sekilas pada kemeja Sky yang sudah selesai ia kancingkan.


"Ya, dulu pas belum menikah aku bisa semuanya, sekarang semua-semua harus ada kamu. Dari mulai milihin baju, sampai ngancingin baju kayak gini aja harus ngerepotin kamu. Aku jadi ketergantungan sama kamu."


Yara tersenyum kecil. "Ya gak apa-apa, Sayang. Ini artinya aku bener-bener berguna buat kamu. Aku juga ketergantungan sama kamu, jadi bukan kamu aja yang begitu."


Sky menangkup kedua sisi wajah Yara. "Makasih ya, kamu udah jadi istri yang terbaik buat aku. I love you, as always ..."


Yara selalu merona apabila mendengar ucapan cinta dari suaminya. Sky masih memegang kedua pipi Yara dan menatapnya lekat-lekat.


"Can you kiss me?"


"Kita mau berangkat, Sky."


Sky menggeleng pelan. "Please ..."


"Aku mau siap-siap juga, kamu sisiran aja sekarang."

__ADS_1


"No, no, morning kiss, please ..."


Percuma saja berdebat dengan Sky. Pria itu hanya mengalah saat Yara tengah mengidam dan sekarang kembali menduduki tahta 'sang pemenang' dalam hal perdebatan.


Yara pun menuruti keinginan suaminya. Dengan sikap yang masih sama seperti dulu, malu-malu saat mengawalinya.


Cup.


Yara memberikan kecupan di bibir Sky dalam tempo sesingkat-singkatnya, namun posisi tangan Sky yang masih melingkupi wajahnya--kini telah beralih menjadi menahan tengkuknya demi memperdalam ciuman itu, seolah tidak rela jika Yara menyudahinya.


Waktu pagi adalah jam rentan bagi seorang pria. Dan ini adalah kesalahan Sky yang memancing g@irahnya sendiri. Dia mencium Yara dengan buas.


Sadar jika Sky tak akan menyudahi ini, serta Sky melahapnya habis-habisan, Yara serta-merta memukul dada pria itu. Ia kehabisan oksigen, Sky selalu begini jika sudah dimulai, pria itu seakan ingin menyerap semua sari-sari kehidupan yang ada dalam tubuh Yara. Inilah yang membuat Yara malas memulainya tadi.


"Sayang?" protes pria itu setelah Yara langsung beringsut saat ciuman itu terlepas.


"Jangan macem-macem, Sky. Kita mau berangkat sekarang dan aku mau siap-siap juga. Baju kamu jadi kusut, tuh."


Sky menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Acaranya masih jam 9, ini baru jam 7. Ayolah!"


Yara melirik Sky sinis. "Jadi kamu mau datang kesana di jam yang udah mepet?" tanyanya.


"Lihat, anak-anak juga udah tidur lagi di dalam stroller. Ini waktu terbaik ..."


"Waktu terbaik apaan, aku aja belum siap-siap," kata Yara. Dia memang sudah mandi tadi, tapi belum mengganti pakaiannya karena dia lebih memilih untuk menyiapkan para bayi dulu, barulah fokus pada penampilannya sendiri.


"Oke, kalau gitu cium sekali lagi,"


Ah, Sky memang tidak pernah puas. Sekali tidak akan cukup, dua kali pasti benar-benar meminta yang lebih-lebih dan Yara sudah tau alur di kepala prianya.


"Enggak!" tegas Yara, kemudian wanita itu berderap memasuki ruang ganti.


Sky menghela nafas berat. Salahnya sendiri meminta hak di waktu yang tidak tepat. Bagaimana lagi, reaksi tubuhnya yang selalu tidak bisa diajak berkompromi jika didekat wanitanya.


...~~~~...


Sky dan Yara akhirnya tiba di rumah baru Anton yang didepannya juga sudah ada cafe. Hari ini, tempat itu disulap menjadi tempat berlangsungnya acara pernikahan Anton dan Nadine.


Sebenarnya, Anton ingin mengucap ikrar pernikahan ketika masih berada di kediaman keluarga Nadine, tapi waktu itu keluarga Nadine lebih menyarankan agar pernikahan berlangsung di kota saja dengan berbagai alasan, salah satunya adalah menjaga perasaan Nadine dari olok-olokan warga yang belum tentu sepemikiran dengan orangtua Nadine.


Bagi orangtua Nadine mungkin kebahagiaan putrinya yang utama, tapi bagi warga sekitar sangat aneh memandang seorang wanita yang belum genap setahun bercerai, tapi sudah mau menikah lagi. Semacam itulah.


"Dimana calon pengantinnya?" tanya Sky, dia mencari keberadaan Anton dan Nadine yang belum terlihat. Disana masih sibuk orang-orang WO yang kesana-kemari untuk mengatur tata letak yang masihp perlu dibenahi lagi.


"Gak tau, aku ke dalam dulu, ya," kata Yara yang diangguki oleh Sky.

__ADS_1


Pria itu pun meraih stroller yang berisi dua anak kembarnya, sementara Yara berlalu mencari keberadaan Anton.


"Mas Fandi? Mas Anton dimana?" tanya Yara saat berpapasan dengan Fandi di dekat Cafe.


"Kayaknya masih di dalam, Ra." Fandi merujuk pada rumah Anton.


"Oh, oke." Yara pun memasuki rumah itu dan mendapati wanita dengan siger Sunda disana.


"Mbak?" sapa Yara pada Nadine yang tampak sangat cantik. "Kenapa masih disini?" tanyanya.


"Iya, tadi Elara pup, jadi mbak bantuin gantiin popoknya dulu," katanya sambil terkekeh meringis.


"Ya ampun, dalam keadaan begini kenapa Mbak yang nangani Elara?"


"Dia gak mau sama yang lain, sama ayahnya aja dia tetap nangis. Gak apa-apa, kok, Ra."


"Terus, sekarang Elara sama Mas Anton mana?"


"Di kamar, Mas Anton kekeuh mau gantikan baju Elara. Padahal Elara gak mau sama dia."


"Duh, kok jadi gini?" Yara buru-buru membuka pintu kamar Anton. Dia tak menyangka Baby Elara akan semanja ini pada Nadine diwaktu yang tidak tepat.


"El ... sini sama Tante," kata Yara begitu melihat Anton kerepotan memakaikan Elara pakaian. Bagaimana tidak, bayi berumur 13 bulan itu sudah pandai mengelak dan bergerak kesana-kemari, membuat Anton kepayahan.


"Dia gak mau sama Mas, Ra." Anton berdecak frustrasi. "Maunya sama Bunda terus," katanya merujuk pada Nadine.


"Ya udah, Mas siap-siapin apa yang belum selesai sama diri, Mas. Biar aku yang urus Elara."


Yara mendekati bocah gembul itu dan Elara kembali merengek mengelak.


"El, Ayah sama bunda hari ini mau menikah, El gak boleh rewel, El harus jadi anak yang penurut. Oke?"


Yara berusaha mengajak Elara berbicara, ia yakin anak itu mendengarkan meski usianya masih sangat kecil tapi pasti Elara akan merespon perkataan lembut Yara dengan sikap yang lebih tenang.


"Da ... Da ... Da ..." Elara menyerukan panggilannya pada Nadine.


Yara sigap menggendong Baby gembul itu dan memomongnya demi menenangkan sang bayi.


"Sama Tante ya, El. Nanti kita ketemu Cean sama Aura. Ya, ya, ya?"


Mendengar itu Elara perlahan-lahan mulai tenang. Yara pun dapat memakainya pakaiannya dengan perlahan-lahan. Yara juga mengalihkan perhatian sang putri kecil dengan mainan-mainannya sehingga Elara bisa disiapkan Yara sambil bermain-main.


Bersambung ....


Next? Komenโœ…

__ADS_1


Dukungannya udah mulai kend0r๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


__ADS_2