
Sky berjalan santai sambil bersiul-siul senang saat memasuki kantornya. Hal itu membuat Beno yang melihatnya langsung ikut menyunggingkan senyuman.
"Kenapa, kau? Kok kelihatanya senang banget? Udah berhasil ya kau dapatin istri orang?" tanya Beno frontal membuat Sky melotot seketika.
"Mulutmu, Ben! Filter dikit, lah!" Sky menggeleng dengan raut kesal pada sang sahabat.
"Hahah, kelepasan aku. Sorry lah, soalnya udah beberapa Minggu ini, kulihat mukamu itu kusut aja, baru hari ini agak lumayan rapi. Udah disetrika, hah? Hah? Hah?"
"Udah, pake pelicin juga. Puas kau?"
Seketika Beno terbahak kencang. "Pasti pelicinnya mantap," kelakarnya sambil mengerlingkan mata.
"Mantap, kayak isi dompetmu," ujar Sky berlalu pergi sementara Beno masih termenung dan mencerna sesuatu.
"Kok bahas dompetku?" gumam Beno seolah bertanya pada dirinya sendiri. Seketika itu juga Beno langsung mera-ba saku celananya demi mencari keberadaan dompetnya.
"Sekai!!!! Dompetku, Sekai!!!" pekiknya mengejar Sky yang telah memasuki ruangannya.
Beno tiba di ruangan Sky dengan nafas terengah-engah. Beno pun melihat Sky yang baru saja duduk di kursi kebesarannya.
"Selain jadi arsitek, ternyata kau punya bakat jadi pencopet juga, ya!" gerutu Beno merutuk tingkah usil Sky. "Kembalikan dompetku!" sambungnya sambil mengadahkan tangan ke arah Sky.
"Makanya, Ben. Kalau ngomong itu dipikir dulu.... jangan asal aja!"
"Iyalah, sorry... kan, udah ku bilang sorry, tadi."
Sky pun mengembalikan dompet milik pria itu.
"Udah, kerja, kerja!" kata Sky dan Beno pun mengiyakan.
"Kau juga kerja, jangan bisanya mikirin janda aja!" kata Beno tak mau kalah.
"Janda?" Dahi Sky langsung mengernyit karena tak paham apa yang Beno maksudkan.
"Ya, kalau kau udah berhasil merebut wanita idamanmu itu dari suaminya, kan, nanti dia jadi janda dulu, baru bisa nikah denganmu, Sekai!"
Seketika itu Sky terkekeh, tapi ucapan Beno ada benarnya juga.
"Iyalah, pintar juga kau hari ini, Ben!"
"Setiap hari aku pintar, Sekai...."
Sky masih saja terkekeh melihat tingkah Beno, menjahili Beno juga adalah salah satu hiburan untuknya.
"Aku gak peduli kalaupun kau memang niat merebut istri orang, Sekai. Asal ingat, yang penting itu bukan istriku!" ujar Beno sebelum benar-benar meninggalkan ruangan Sky. Sementara Sky masih saja lucu sendiri dan mengulumm senyumnya mendengar gerutuan Beno.
Sky melihat pada bingkisan yang dibawanya. Itu adalah titipan sang Mama untuk Yara. Dengan begini, ia jadi punya alasan untuk menemui wanita itu nanti.
Apa Yara sudah mengatakan pada Juna soal keinginannya untuk berpisah, ya? Batin Sky menduga dan bertanya-tanya.
Tapi, sebuah teka-teki yang belum terpecahkan oleh Sky adalah mengenai wanita bernama Shanum. Sampai hari ini, Sky belum tau siapa wanita itu, meski Sky dapat menebak jika nama Shanum adalah nama selingkuhan Juna.
Apa Shanum adalah wanita masa lalu Juna? Atau justru hadir belakangan setelah Juna menikahi Yara?
__ADS_1
Apa Yara mengenal wanita bernama Shanum itu? Atau justru tidak mengenalnya sama sekali sebab wanita itu memanglah wanita asing?
Begitu banyak pertanyaan dibenak Sky mengenai hal ini, akan tetapi Sky masih bimbang apakah ia harus menyelidikinya lebih lanjut atau tidak?
Sky memang mau merebut Yara kembali ke sisinya, tapi disisi lain ia tidak mau terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga Yara dan Juna. Dalam kata lain, Sky ingin mereka berpisah murni karena masalah yang memang sudah diciptakan Juna tanpa campur tangannya yang malah dengan sengaja menyiram bensin ditengah bara api yang sudah menyala.
"Udahlah, Yara juga bakal tahu sendiri nanti. Lagipula, dengan Yara tahu Juna selingkuh-- ini udah lebih dari cukup, aku gak perlu nambahin cerita lain lagi. Ya, meskipun itu sebuah fakta, bukan fitnah yang sengaja aku buat biar mereka pisah...." gumam Sky sambil memutar-mutar kursi yang ia duduki.
...~~~~...
Disana, Yara baru saja keluar dari kamar yang ia tempati semalaman. Ia sengaja keluar cukup siang sebab ia tak mau bertemu Juna. Yara berharap, saat ia keluar kamar, Juna telah berangkat ke kantornya.
"Huh, syukurlah, Mas Juna udah berangkat kerja." Yara mengurut dadanya yang merasa lega.
Setidaknya, ia bisa terlepas dari Juna barang sejenak. Ia muak jika harus menghadapi sikap Juna yang nanti akan memasang wajah memelas dan memohon didepannya.
"Aku gak boleh goyah, aku bakal tetap pada keputusan aku," tekad Yara dalam hati.
Saat Yara sedang membereskan rumah, ponselnya terdengar berbunyi. Itu adalah panggilan biasa dari nomor tak dikenal. Tapi sepertinya ini bukan panggilan dari nomor ponsel, melainkan sebuah nomor telepon interkom.
"Ya, hallo?"
"Ayara, buka blokiran nomor aku..."
Rupanya itu Sky yang menelpon Yara lewat telepon kantornya.
"Aku bilang kasi aku waktu buat nyelesai-in ini dulu sama Mas Juna, Sky...."
Yara mengehela nafas panjang.
"Kamu gak diapa-apain dia, kan, Ra?"
"Kemarin Mas Juna gak pulang, jadi baru malam tadi aku ngomong sama dia soal keinginan aku buat pisah."
"Terus?"
"Dia gak mau...." lirih Yara.
Seketika hening, tak ada sahutan lagi dari seberang sana pertanda Sky memang tak ingin menjawab ujaran Yara. Atau justru pria itu tengah berpikir disana?
"Sky? Aku matiin teleponnya, ya..."
"Tunggu, Ra!" Sky langsung mencegah Yara.
"Kasi aku waktu sebentar lagi," kata Yara.
"Kalau Juna udah bilang gak mau lepasin kamu, itu artinya dia gak akan lepasin kamu, Ayara," ujar Sky terdengar ikut melirih. Sepertinya pria itu kecewa.
"Aku gak peduli, aku gak bisa sama dia lagi. Kirimin aku bukti-bukti itu, ya. Nanti aku buka blokirnya."
Kembali hening diseberang sana. Tak lama, Yara benar-benar memutus panggilannya tanpa meminta persetujuan lagi dari Sky.
Yara membuka aplikasi hijau di ponselnya. Mencari daftar blokir dan benar-benar membebaskan nomor sky dari list yang ada disana.
__ADS_1
[Kirimin bukti itu, Sky!] Pesannya terkirim pada Sky.
Tak langsung dibalas, padahal Yara berharap Sky membalas pesan itu dengan kiriman foto berupa bukti-bukti yang kemarin mereka dapatkan.
[Aku bakal kirimin tapi kita ketemu siang ini✌️.] Balasan dari Sky.
[Jangan ketemu dulu, Sky! Kirimin aja buktinya kesini🙏.]
[Aku gak menerima penolakan. Aku udah kangen kamu, Ayara🥲.]
[Mulai deh🙄]
[Aku jemput di jam makan siang. Aku pasti datang🤗❤️]
Mau tak mau, entah demi mendapatkan bukti itu, atau memang Yara yang juga ingin bertemu dengan Sky, hingga akhirnya Yara jadi memutuskan untuk bersiap-siap.
Menolak Sky dan mendebatnya, hanya akan berujung percuma, sebab jika Sky berkata iya maka itu pasti artinya iya, pikir Yara.
Dan benar saja, menjelang jam makan siang, mobil pria itu sudah tiba dikediaman Yara dan membunyikan klaksonnya.
"Cantik banget yang mau ketemu aku," goda Sky, membuat Yara merona.
"Aku cuma mau dapetin bukti itu, bukan mau ketemu kamu," sanggah Yara sambil membuang pandangan matanya ke arah lain.
"Yang bener? Gak sekalian mau ketemu aku, gitu?"
"Ya, enggaklah."
Yara salah tingkah dan Sky mengulumm senyum saat melihatnya.
"Padahal aku kangen banget, Ra. Gini banget ya nasib jadi pebinor yang tidak dirindukan," gerutu Sky sambil menyengir.
Seketika itu juga Yara jadi terkekeh. Apalagi Sky terang-terangan mengakui jika ia adalah pebinor.
"Bangga banget kamu jadi pebinor," sarkas Yara, tapi tetap dengan tawanya yang renyah.
"Aku lebih bangga kalau status pebinor nya jadi naik pangkat."
"Emang pebinor bisa naik pangkat?" tanya Yara polos dan bingung.
"Bisalah, pebinor naik pangkat itu... kalau udah berhasil jadi suami yang sah dari wanita yang mau direbut..."
Mereka berdua pun akhirnya terkekeh bersama.
Sky senang melihat perubahan Yara yang tidak lagi lesu seperti tempo hari. Sky yakin Yara sudah mempunyai keputusan yang bulat.
"Kita makan siang diluar, ya?" ajak Sky.
Entah kenapa Yara malah mengangguk setuju, mungkin karena dirumah pun ia akan merasa semakin murung dan jenuh.
Bersambung ....
****
__ADS_1