EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
60. Do you like Sky?


__ADS_3

Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah baru milik Juna, sudah ada Shanum yang menempatinya. Akan tetapi, ia cukup kecewa karena setelah mengantarkannya kesana, Juna justru ingin kembali pulang ke rumah kontrakannya.


"Kamu gak tetap disini, Yang? Terus aku sama siapa, dong?" tanya Shanum.


"Kamu sendiri dulu ya, baju-baju kerja aku juga adanya dirumah lama. Semalam aku udah bolos kerja, gak mungkin hari ini bolos lagi."


"Ya udah, kamu ambil baju kamu di rumah terus bawa kesini semua. Ntar tinggal berangkat dari sini kerjanya."


"Gak bisa, kalau gitu nanti aku bakal bolak balik, aku harus langsung berangkat kerja dari sana aja."


"Tapi, Yang. Apa kamu yakin mau kerja? Lihat.... wajah kamu aja masih bonyok gitu, masa udah mau kerja, sih?"


Kemarin, sepulang dari rumah Anton, Juna yang dalam keadaan babak belur langsung dilarikan Shanum ke Rumah Sakit terdekat untuk diobati. Jadi, menjelang subuh ini--barulah mereka tiba di rumah baru itu, akan tetapi Juna langsung ingin beranjak pergi dengan alasan pekerjaannya.


Juna menggeleng pelan. "Gak bisa, aku harus kerja, banyak cicilan yang mau aku bayar," katanya lesu.


Shanum langsung berdiri mengejar langkah Juna.


"Cicilan apa? Bukannya kamu beli rumah ini dari uang tabungan kamu? Kamu punya hutang dimana, pake mau dicicil segala?" sergap wanita itu.


Juna menatap Shanum dengan ekspresi tak terbaca. "Rumah ini emang beli pake uang tabungan aku, Num. Tapi beli perabotannya pake kartu kredit dan cicilannya juga harus dibayar, kan? Belum lagi kredit mobil... belum lunas!" paparnya menjelaskan.


Shanum terdiam. Untuk beberapa waktu dia berpikir, ternyata tidak sampai seminggu, bahkan belum dua hari saja ia sudah mendengar beban keuangan yang ditanggung oleh Juna. Hal ini membuatnya menimbang-nimbang, langsung membandingkan antara Juna dengan Anton.


"Ya udah, aku pulang ya," kata Juna, ia tak bisa membaca pikiran Shanum yang tengah merenunginya.


Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, Juna langsung berderap pergi.


Shanum akhirnya terduduk di sofa rumah baru yang sekarang ia tempati. Matanya langsung menelisik ke seluruh penjuru ruangan. Memang, semua perabot di rumah ini bisa dibilang elite dan menengah ke atas. Produknya tidak sembarangan dijual dipasaran. Hanya ada di toko-toko perabotan tertentu, itupun dengan bandrol yang pastinya tidak murah. Termasuk juga sofa yang sekarang tengah ia duduki.


"Hhhh.... jadi, Juna beli semua isi rumah ini dengan cicilan credit card? Kalau begini, kedepannya udah pasti jadi beban buat bayarin cicilannya, nih!" kata Shanum mengeluh sambil memijat pelipisnya sendiri.


Sekali lagi Shanum merenung. Selama dengan Anton, ia memang hidup dirumah sederhana yang dibeli Anton sebelum menikahinya. Anton juga punya usaha bengkel pribadi meskipun itu hanya usaha kecil-kecilan. Ia tidak digelimangi harta oleh pria itu, tetapi ia dimanjakan dengan hal yang lain. Contoh sederhananya, ia tidak pernah memikirkan mau masak apa besok, sebab Anton lah yang mengurus hal tersebut. Kadang ia yang masak ketika rajin, tapi lebih sering Anton yang melakukannya.


"Boro-boro mikirin cicilannya Juna... mikirin belanja ke pasar aja aku gak pernah," gumam Shanum kemudian.


Disaat seperti Shanum masih berpikir, Juna sudah mengendarai mobil menuju kediaman lamanya.


"Apa sekarang Yara udah denger dari Mas Anton soal hubungan aku sama Shanum, ya?" gumam pria itu. Ia justru memikirkan Yara sekarang.


"Apa Yara udah pulang ke rumah kontrakan ya?" Kembali Juna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Mudah-mudahan Yara udah dirumah dan belum denger soal aku dan Shanum dari Mas Anton." Juna yakin Yara belum tahu karena nomor ponsel Yara tidak aktif sejak kemarin.

__ADS_1


Saat Juna tiba di rumah kontrakannya, disana terlihat sepi. Bahkan lampu rumahnya tidak satupun yang dinyalakan. Karena keadaan masih subuh dan gelap saat Juna sampai, maka ia dapat memastikan jika Yara-- kembali tak pulang ke rumah lagi.


"Ah, sial! Kemana sebenarnya dia?" umpat Juna entah pada siapa.


Pria itu menuruni mobil, memilih membersihkan tubuh sebab beberapa jam lagi ia harus ke kantor untuk kembali melakukan rutinitas pekerjaannya.


"Aku pikir mas Anton bakal damaikan aku sama Yara, malah dia jadi tau hubunganku dengan Shanum. Benar-benar sial yang bertubi-tubi." Juna bercermin dan melihat luka dan lebam diwajahnya sendiri. Sesekali ia meringis merasakan sakit.


Juna tidak tau harus bagaimana lagi untuk membawa Yara kembali ke sisinya. Sepertinya harapannya sia-sia.


Mendadak, Juna pun mengingat kedua orangtuanya. Apakah kedua orangtuanya mau membantu jika tau semua masalahnya saat ini?


"Gimanapun juga, Mama dan Papa harus tau masalah aku dan Yara. Aku harus ceritakan semua ini sama mereka."


Juna yakin, kendati orangtuanya akan menyalahkannya, tapi pasti mereka akan berupaya untuk mendamaikannya dengan Yara nanti. Sebab, bagaimanapun ia adalah anak bagi meraka.


"Ntar pulang kerja aku harus ke rumah Mama," kata Juna berniat mengunjungi rumah orangtuanya.


Juna pun berangkat bekerja hari ini. Ia sudah dapat ide untuk meminta bantuan orangtuanya demi hubungannya dengan Yara. Akan tetapi ia belum dapat jalan keluar untuk hubungannya dengan Shanum. Apakah nanti setelah orangtuanya tau maka ia akan diminta untuk meninggalkan Shanum? Jika ya, ia belum siap sebab masih saja mengingat kondisi Shanum yang tengah mengandung anaknya.


...~~~...


Hari semakin larut saat Sky menghentikan mobilnya di sebuah Restoran pinggir pantai yang terletak jauh dari pusat kota.


Tidak terasa, ia telah membawa Yara berkeliling setelah sebelumnya mereka sempat mengantarkan Michelle tadi.


Yara menggeleng. Ia memang belum makan malam, tapi ia masih kesal dengan sikap Sky pada Michelle tadi. Meskipun sebenarnya Sky tidak berlebihan tapi dimata wanita itu Sky terlihat sangat cari-cari perhatian.


"Jadi kamu mau terus keliling-keliling, muterin kota, dan gak mau bicara terus kayak gitu? Emang kamu gak laper?"


Yara tidak menyahut, tapi suara perutnya tidak bisa diajak kompromi.


Kruyyyuuukkkk ....


Hal itu membuat Yara cukup malu didepan Sky, tapi pria itu malah terkekeh.


"Denger, kan? Perut kamu aja udah protes minta diisi. Kita makan disini, ya?"


"Ini udah malem banget, aku mau pulang aja."


"Restonya buka 24 jam, Ra. Lagian kamu mau pulang kemana? Ke rumah yang tadi kamu bilang tempat kerja kamu itu?"


Yara mengangguk, ia tidak mau Sky tau rumah kontrakannya yang baru, apalagi jika tau ia tinggal sendirian disana demi menghindari Juna.

__ADS_1


Yara tidak bisa menjelaskan problem rumah tangganya pada pria lain, kendati Sky sudah tau jelas jika suaminya itu memang berselingkuh-- sebab Sky lah orang yang membantunya mencari bukti-bukti itu.


Sky membuka seatbelt dan turun dari mobil. Tak lama, ia juga membukakan pintu mobil untuk Yara-- ia berharap wanita itu bisa segera turun dan mengikutinya.


"Kamu beneran gak mau turun, ya? Beneran mau ngerasain kena hukuman? Kayaknya emang iya deh, kamu suka banget sama hukuman dari aku, kan?" cibir Sky dengan senyum tengilnya.


Yara berdecak. Mendengar pria itu menyebut soal hukuman, Yara langsung ingat bahwa hukuman itu pastilah hal yang menjurus kepada tindakan me sum.


"Ayo!" Sky terkekeh melihat Yara yang akhirnya mengikutinya. Ia langsung menggandeng tangan Yara, meski sang wanita masih saja memasang wajah datar.


Mereka lalu masuk ke Restoran tersebut.


Berhubung itu di pinggir pantai, tempatnya memang sangat indah dengan pemandangan laut dan kerlipan lampu-lampu. Suasana itu cukup romantis meski disana masih banyak muda-mudi yang juga menempati kawasan yang sama.





Sky memilih sebuah meja untuk mereka tempati. Kursi mereka terletak agak terpisah dengan pengunjung lainnya. Cukup untuk memberi ruang dan privasi keduanya, juga agar terhindar dari kebisingan.


"Do you like seafood?"


Yara memutar bola mata akibat pertanyaan sang pria yang sudah jelas-jelas tau kesukaannya. Buat apa lagi bertanya? Pikirnya.


Sky tertawa. "Aku tau kamu suka seafood, kalau gitu aku ganti pertanyaannya, tapi kali ini kamu harus jawab, ya!" katanya.


Yara hanya menipiskan bibir saja, sebab ia tidak yakin dengan apa pertanyaan Sky selanjutnya. Entahlah, ia tidak bisa menebak hal itu.


"Pertanyaannya harus kamu jawab, ingat!" kata Sky mengulangi sekaligus memeperingatkan.


"Iya," sahut Yara mengalah.


"I know you like a seafood, but... do you like Sky?" tanyanya tersenyum kearah Yara.


Yara pun terkekeh. Tapi, ia punya jawaban jahil untuk mengolok pertanyaan yang Sky berikan kali ini.


"Hmm, I like the sky, because tonight is so beautiful and there are many stars..." jawabnya mengarah pada Sky yang berarti langit, bukan Sky yang ada dihadapannya.


Mendengar jawaban Yara, Sky pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm... padahal yang aku maksud bukan Sky yang itu," tunjukknya pada langit diatas sana. "Tapi yang aku maksud adalah diri aku sendiri. Ayolah, Ra... kamu pasti tau maksud aku, kan?" omelnya.


Yara hanya terkikik geli sebab melihat Sky yang kini mencebik karena jawabannya tadi.

__ADS_1


Bersambung ....


*****


__ADS_2