
"Lucky?"
Anton terkejut saat Fandi menyebutkan nama itu untuk memberitahunya siapa yang mengutus ketiga orang asing untuk memukulinya hari ini.
"Ya, mereka nyebut satu nama itu. Mau ngasih kau peringatan katanya. Memangnya kau kenal sama yang namanya Lucky? Ada masalah apa kau dengan dia?" tanya Fandi kemudian.
"Dia ... suaminya Nadine," ujar Anton dengan nada lesu dan tatapan yang tampak menerawang.
"Owalah!" Fandi menepuk jidatnya sendiri. "Pantas aja," sambungnya dengan nada maklum.
"Menurutmu gimana, Fan?"
"Gak tau lah, pusing aku. Dari awal kan udah ku kasih tau kau buat jauhi Nadine. Belum lagi anakmu yang makin dekat dengan dia. Kayaknya suaminya juga bukan orang sembarangan, kalau kau tetap nekat ya kau harus terima apapun konsekuensinya."
Belum siap pembicaraan itu mereka bahas, suara lemparan yang mengenai kaca jendela terdengar keras, bersamaan dengan itu suara tangis Baby Elara pun terdengar sebab terkejut. Begitu pula kedua pria itu, Anton dan Fandi saling bertatapan kaget.
Anton pun berusaha menenangkan putrinya, kemudian sontak saja kedua pria itu langsung beranjak ke arah luar untuk melihat siapa yang pelaku pelemparan itu.
Sayangnya, saat mereka tiba di teras tak terlihat siapa pun disana.
Fandi melihat jendela depan rumah Anton yang sudah pecah disertai serpihan kaca yang berjatuhan di lantainya. Sementara Anton memungut sebuah batu besar yang dia yakini sebagai benda yang tadi sengaja dilemparkan ke rumahnya.
"Lucky ..." gumam Anton menggeram.
Fandi melihat pada yang sekarang Anton pegang, itu adalah sebuah surat kaleng yang ternyata disertakan pada batu tadi.
"Apa isinya?" tanya Fandi ikut penasaran.
"Dia mau ketemu."
"Halah, gak usah kau ikuti kemauannya. Biarin aja," kata Fandi memberi usul.
Anton tak bergeming, jika ini dia diamkan begitu saja, pasti hidupnya akan terus diteror seperti ini, maka ada baiknya dia mengikuti keinginan Lucky yang ingin bertemu dan bicara empat mata dengannya.
__ADS_1
...~~~...
Pukul setengah empat sore waktu setempat, Anton terpaksa mendatangi undangan dari Lucky. Sebelumnya, dia menitipkan Baby Elara pada Yara dan Sky yang tak keberatan dengan hal itu. Mereka bahkan membawa Abel yang juga tampak sangat senang melihat Baby mungil itu.
Anton datang kesana sendirian, seperti yang Lucky inginkan. Dia juga ingin tahu apa yang Lucky inginkan. Kendati perasaan Anton tak enak, tapi dia merasa bisa menjaga dirinya sendiri.
Suara deheman seseorang terdengar di indera pendengaran Anton. Begitu dia menoleh, seorang pria yang tingginya hampir setara dengannya tampak disana dengan sunggingan senyum miring. Anton yakin Lucky datang kesini untuk membicarakan perihal Nadine.
Ah, bicara soal Nadine, Anton tidak bertemu dengannya dua hari ini. Terakhir pertemuan mereka adalah ketika Nadine mengungkapkan rasa cinta kepadanya yang belum sempat ia tanggapi.
Sejujurnya Anton juga merasa kehilangan dengan hilangnya contact antara dia dengan Nadine, tapi untuk saat ini dia harus melakukannya dengan sebuah alasan kuat. Anton tak mau pertemuan-pertemuannya dengan Nadine justru berbuntut pada perasaan sang wanita yang semakin mendalam kepadanya.
"Ternyata anda benar-benar datang kesini, huh..." Suara Lucky terdengar sarkasme saat menyapa Anton.
Anton hanya mengangguk samar. Dia ingin tau-- apalagi ucapan dan pembicaraan yang akan Lucky lontarkan kepadanya.
"Baiklah, karena saya sudah mengetahui semua tentang anda. Jadi, tidak perlu ada yang kita tutupi disini," kata Lucky memulai.
Anton mengernyit namun hanya sesaat, sebab kini dia menyadari bahwa Lucky telah menyelidiki tentang latar belakang kehidupannya sampai ke titik yang terdalam. Ya, bagi seorang sepertinya mungkin itu adalah dasar yang paling mudah untuk mengetahui kelemahan seseorang.
Sekali lagi Lucky mematut senyuman smirk. "Baiklah, saya menemui Anda disini karena ingin menanyakan keberadaan Nadine secara baik-baik dengan Anda. Jadi, jawab dimana anda menyembunyikan Nadine?" tanyanya.
Anton terperangah. Tentu saja dia tak tau dimana Nadine sekarang. Ia pikir Nadine berada dikediamannya sendiri selama dua hari ini.
"Maksudnya, Nadine tidak dirumah?"
Lucky terkekeh sumbang. "Jangan berlagak bodoh. Anda pasti tau dimana istri saya sebab dia tidak kembali ke rumah setelah nekat menemui anda dua hari yang lalu padahal saya sudah mencegahnya!" marahnya kemudian.
Mata Anton membola. Kemana kiranya Nadine pergi jika dia tak pulang ke rumah?
"Saya tidak tau dimana--"
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Lucky memukul rahang Anton kiri dan kanan tanpa mau mendengar penjelasan pria itu. Tinjuan itu cukup keras, membuat darah pun ikut keluar dari mulut Anton sesaat setelahnya.
"Kalau anda tidak mau jujur dan mengatakan dimana keberadaan istri saya, maka saya akan membawa kasus ini ke ranah hukum."
"Ohok ... ohok..." Anton terbatuk, dia menahan rasa sakit sebab tinjuan Lucky. Berusaha menetralkan degup jantung dan darah yang berdesir seolah memacu adrenalin. "Saya tidak tau dia dimana, dua hari lalu adalah pertemuan terakhir saya dengan Nadine," jelasnya susah payah.
Bukan Anton tak bisa membalas pukulan Lucky, tapi dia masih syok akibat pertanyaan Lucky yang menanyakan keberadaan Nadine. Anton mendadak khawatir pada wanita itu.
"Breng sek!" Lucky kembali ingin menghujam Anton dengan pukulannya, namun kali ini Anton dapat menangkis seolah bisa menerka gerakan pria itu.
"Saya datang kesini untuk bicara secara baik-baik. Jika anda menggunakan kekerasan maka saya juga tidak segan untuk berlaku sama," papar Anton kemudian.
Lucky tersenyum sinis.
"Kalau anda dapat mengetahui semua info dan latar belakang kehidupan saya, kenapa anda tak bisa mencari tau dimana keberadaan Nadine. Seharusnya jika Nadine bersama dengan saya maka itu juga akan mudah untuk anda selidiki."
Lucky mendengkus keras, ucapan Anton memang ada benarnya. Tapi, mendadak dia ingat percakapan terakhir Anton dengan Nadine. Ya, dia juga mengetahui mengenai ungkapan rasa yang Nadine ucapkan pada pria itu. Lucky tau jika sekarang cinta Nadine untuknya telah berpindah haluan kepada pria yang dihadapannya saat ini.
"Oke, jika Anda memang tidak mengetahui dimana Nadine ... kita lihat seberapa lama Nadine akan menghilang setelah anda berada di tangan saya."
Baru saja Anton ingin menanyakan apa maksud perkataan Lucky tapi dia tak sempat, sebab tiba-tiba mulutnya dibekap oleh orang suruhan Lucky.
Anton diberikan obat bius untuk membuatnya tak sadarkan diri. Lucky sadar bahwa pria itu mempunyai keahlian bela diri yang mumpuni maka ini salah satu caranya.
"Bawa dia!" titah Lucky pada orang-orang suruhannya.
Lucky akan menjadikan Anton sebagai pancingan untuk membuat Nadine kembali. Pasti wanita itu akan datang jika tau pria yang dicintainya telah sekarat dalam tangan Lucky.
Lucky mencoba menghubungi Nadine kembali, tapi dia tak mendapat apapun. Nomor ponsel sang istri berada di luar jangkauan.
"Oke, Nad. Mau sampai kapan kamu main petak umpet seperti ini? Kamu udah tau dari awal bahwa ucapan aku gak pernah main-main. Aku bakal buat perhitungan sama kamu!"
__ADS_1
Bersambung ....
Tekan like, vote, dan komen๐๐๐