EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
154. Sky-1


__ADS_3

Sky Pov.


Akhirnya aku menginjakkan kaki di Surabaya hari ini. Aku sudah beberapa kali ke kota ini untuk urusan pekerjaan, tapi baru kali ini aku kembali bekerja ke luar kota setelah lima tahun pernikahanku dengan Yara.


Boleh dikatakan, ini adalah pertama kalinya aku dan Yara harus berpisah karena jarak sejak kami resmi menikah. Ini semua karena aku harus menggantikan Beno demi meninjau lokasi pembangunan sebuah proyek pembuatan Mall.


Jika saja alasan kealfaan Beno bukan karena putrinya yang sedang sakit, aku pasti menolak mentah-mentah tawaran ini. Aku tidak bisa berjauhan dengan istri dan anak-anakku, apalagi aku tidak mau ketinggalan momen untuk melihat Aura dan Cean bersekolah di hari pertama yang jatuh beberapa hari lagi.


Akan tetapi, keprofesionalan pekerjaanku seakan dipertaruhkan, aku tidak mungkin beralasan karena Beno pun bukan sengaja untuk tidak pergi.


Baru saja tiba di Hotel yang kami tempati, aku merasa sudah merindukan rumah. Bukan, tepatnya sejak naik pesawat tadi aku sudah ingin pulang. Bercengkrama dengan kedua anakku lebih menyenangkan, apalagi bisa melihat istriku tertawa karena kekonyolan yang sengaja aku buat. Ah, rasanya begitu banyak cinta untuk mereka.


Aku, Putra dan Ibra memilih untuk memesan kamar masing-masing karena menghargai privasi satu sama lain. Bagaimanapun, Aku dan Ibra adalah seorang pria beristri, sementara Putra dia adalah jones alias jomblo ngenes yang mungkin akan memanfaatkan situasi seperti ini untuk menemukan pasangan. Entahlah, aku tidak mau tahu mengenai hal itu.


Aku mengempaskan tubuh ke ranjang dan menatap langit-langit kamar hotel yang ku tempati. Ah, seharusnya aku mengajak Yara kesini, biar saja anak-anak ditinggal bersama Mama. Ingin sekali aku egois, tapi jiwa kebapakan yang ada dalam diriku tidak mungkin tega melakukan itu apalagi Aura dan Cean sedang sangat aktif-aktifnya, mama bisa kewalahan.


Aku menghubungi Yara dan mengatakan bahwa aku sudah tiba beberapa menit yang lalu.


Mendengar suaranya sudah membuatku rindu. Jika begini, aku tidak akan fokus bekerja sementara beberapa jam dari sekarang kami akan langsung pergi menuju lokasi yang sudah disepakati.


Kata-kata rindu dan janji akan segera pulang selalu ku utarakan kepada istriku itu. Dia akhirnya memaklumi meski aku masih terbayang wajah sedihnya saat menangisi kepergian ku saat di Bandara pagi tadi.


Siang harinya, Yara mengirimiku pesan mengenai mereka yang akan ke rumah Mas Anton. Semuanya masih terasa baik-baik saja. Tetapi saat malam harinya, aku langsung merasakan sesuatu yang berbeda. Aku yakin ada yang tidak beres sejak aku meneleponnya dan dia banyak diam setelahnya.


Sampai akhirnya aku tau bahwa Yara sedang tidak baik-baik saja. Dia bilang aku sedang membohonginya, dia juga mengatakan sudah memilki bukti perselingkuhan ku. Jelas aku terkejut, sebab sejak siang aku dan kedua rekanku hanya bekerja di lokasi tanpa interaksi dengan orang lain apalagi dengan seorang wanita.


Keesokan harinya, aku melakukan panggilan video dengan anak-anak dan Yara juga tampak semakin mengacuhkanku. Tidak pernah dia bersikap seperti ini.


Aku semakin penasaran dengan sesuatu yang dia katakan sebagai bukti. Ingin rasanya aku meminta bukti itu namun aku takut Yara semakin marah dengan kengototanku. Aku berusaha tenang menyikapinya sambil mengucapkan kata-kata yang bisa membuat Yara berpikir matang mengenai hal ini.


Sejak tau jika Yara marah padaku, aku merasa serba salah. Bekerja juga tak fokus karena aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi.


"Kenapa melamun terus, Pak?" Putra menanyaiku. Jelas dia dapat melihat aku yang tidak memperhatikannya berujar sejak tadi.


"Ah, iya. Sampai dimana tadi?"


Putra menarik nafas pelan. "Pak, kita bicarain proyek ini di cafe situ aja yuk. Biar dingin! Panas disini, saya gak fokus, bapak juga gak fokus."


Tanpa membantah, aku mengikuti ajakan Putra. Sementara Ibra tetap di lokasi karena masih ada yang harus dia lakukan disana sesuai jobdesk nya.


Beruntung saat di Cafe, pikiranku jadi sedikit terbuka. Aku memang lebih fokus ketimbang di lapangan.


"Jadi ... gimana, Pak?" tanya Putra menunggu jawabanku.


"Oke, kita buat skala nya segera. Saya udah mau pulang."


"Kangen sama orang rumah ya, Pak?" goda Putra, sepertinya dia tau aku tak fokus karena memikirkan Yara.

__ADS_1


"Gitulah, belum apa-apa saya udah mau pulang."


"Apa begitu ya kalau udah menikah? Jadi pengen cepat nikah. Hehehe." Putra menyengir.


"Makanya, rasain sendiri," kataku balas menggodanya.


"Saya belum mau, Pak. Takut berkomitmen, takut nyakitin anak orang," kata Putra sembari menutup kertas-kertas pekerjaan yang tadi kami bahas. Jawabannya membuatku terkekeh.


"Itu karena kamu belum menemukan orang yang tepat untuk diajak berkomitmen, kalau sudah ketemu, kamu pasti ingin langsung menikahinya."


"Oh, kalau gak ada keinginan untuk menikahinya berarti orang itu bukan orang yang tepat, ya, Pak?"


Aku mengendikkan bahu atas pertanyaan Putra. Jujur saja, aku bukan pria yang mengetahui seluk-beluk tentang cinta karena aku bukan pria petualang seperti itu.


"Kalau Bapak udah gak sabar pengen pulang, ya udah pulang aja sore ini. Kerjaan disini bisa kita handle karena persetujuan Bapak sudah saya kantongi," katanya menunjuk-nunjuk kertas lebar yang merupakan blue print pekerjaan.


"Lagian, Bapak udah lihat sendiri bagaimana medan dan lokasi yang kita tinjau. Udah aman lah itu," kata Putra selanjutnya. Tatapannya terlihat meyakinkan, aku juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Memangnya jobdesk besok apa?"


"Tinggal finishing aja, Pak. Besok kan kita udah menuju Bandara pas tengah hari."


"Jadi, beneran gak apa-apa kalau saya tinggal?"


"Gak apa-apa dong, Pak. Bapak Bosnya disini." Putra pun terkekeh diujung kalimatnya.


"Aku pulang, Sayang." Aku bergumam bahagia, meski kali ini pulang tanpa Putra dan Ibra.


Aku sengaja tidak mengabari Yara sebab dia tau aku akan kembali besok siang dari Surabaya. Biarlah, aku ingin memberinya kejutan dengan kepulanganku yang tiba-tiba. Sekaligus, aku ingin meng-clear-kan masalah yang sempat terjadi diantara kami.


Tidak dipungkiri, aku penasaran dengan bukti yang Yara katakan. Bagaimana bisa istriku jadi terpengaruh karena itu? Bisa-bisanya dia menuduhku berselingkuh padahal tidak sedetikpun aku pernah melupakan dia sejak jadi istriku maupun sebelum menikahinya.


"Aku bakalan hukum kamu setelah ini, enak aja nuduh aku sembarangan," kataku dengan seringaian tipis, seolah-olah Yara dapat mendengarnya saja.


...**...


Aku tiba di Bandara kota tempat tinggalku. Ku pikir aku akan tiba dirumah sebentar lagi, sayangnya kemacetan kota membuatku jadi tidak sabar. Taksi yang ku tumpangi rasanya tidak bergerak. Sangat lambat seperti kura-kura.


"Pak, saya buru-buru. Gak ada alternatif jalan lain?" tanyaku pada sang sopir.


"Oh, kita lewat jalan sini aja, ya, Pak."


Aku mengangguk setuju saat sang sopir menunjuk ke arah yang dia maksud.


"Biasanya disini lebih sepi, Pak."


"Boleh lah, yang penting saya cepat tiba di rumah."

__ADS_1


Akhirnya taksi yang ku tumpangi melewati jalan lain yang katanya lebih sepi. Aku tidak menaruh curiga ketika jalanan itu memang lebih lengang hanya saja aku baru tau jika jalanan ini bisa menuju ke arah tujuanku.


"Jalan disini bisa menuju ke Perumahan Royal, Pak?"


Sopir itu mengangguk dari posisinya tanpa menyahut dengan suara.


Sampai ditengah-tengah jalan, taksi yang ku tumpangi berhenti. Aku mengernyit heran apalagi sang sopir langsung turun dari balik kemudi.


"Kenapa, Pak?"


"Bannya kempes, Pak. Kalau Bapak mau pesan taksi online, silahkan, Pak. Kayaknya ini bakal lama."


Aku melihat ponsel yang kehabisan baterai. Ah, sial aku belum sempat mengisi dayanya karena tadi aku buru-buru ke Bandara dan lupa dengan daya baterai ponselku sendiri.


Aku menunggu taksi lain yang lewat, tapi karena jalanan sunyi sama sekali tidak ada kendaraan umum lainnya. Hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang lewat disana. Saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat disisiku.


"Sky?" Seseorang dari mobil itu memanggilku, kaca mobilnya diturunkan hingga aku dapat melihat siapa dibalik kemudinya.


"Dian?" Aku terkejut mendapati Diandra disana.


"Ngapain kamu disini?"


"Taksi aku bannya kempes. Kamu ngapain disini?"


"Ini komplek perumahanku. Yaudah, ayo naik!" kata wanita itu menawarkan.


Aku tidak memiliki pilihan lain. Lagipula Diandra adalah salah satu temanku dan Yara juga meski kami sempat sedikit renggang saat dulu aku menolaknya mentah-mentah. Ah, itu sudah lama sekali, ku rasa Diandra tidak akan mengungkit hal itu juga.


"Thanks, ya, Di."


Aku pun menaiki kabin penumpang di mobilnya, duduk tepat disisi Diandra yang tengah berada dibelakang kemudi.


"Kamu tinggal dimana?" tanya Diandra.


"Di Royal."


"Royal? Kok lewat sini? Harusnya jalan ini gak bakal menuju kesana, sih!" kata Diandra.


Aku mengernyit heran, tadinya aku sempat curiga namun aku percaya dengan sang sopir taksi.


"Kita muter aja deh, ya. Taksi kamu salah bawa jalan deh," katanya kemudian.


"Aku juga gak pernah tau sih disini bisa menuju ke arah rumah."


Diandra tersenyum sekilas sembari tetap fokus mengemudi.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2