EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
55. Mengikuti


__ADS_3

Yara tahu, pengakuannya pada Anton tidak akan merubah apapun. Ia berharap Anton menyetujui keputusannya untuk berpisah dari Juna, tetapi justru sebaliknya.


Yara berpikir, kenapa kakaknya malah memintanya kembali pada suami yang sudah mengkhianatinya? Tentu karena merasa mereka sama-sama bersalah.


Namun, disisi lainnya, Yara tidak pernah menyesal telah mengaku pada sang kakak mengenai kebenaran yang memang sudah terjadi.


Kendati yang ia lakukan bersama Sky sampai sejauh ini tidak sebanding dengan apa yang telah Juna lakukan dibelakangnya, tapi tetap saja jika Yara telah kembali main hati bersama mantan kekasihnya itu. Bukankah hal tersebut sudah termasuk ke dalam ranah perselingkuhan juga?


Yara memeluk dirinya sendiri, menatap ke hamparan air danau yang terbentang luas di hadapannya. Ya, sekarang ia memilih menyendiri, di tepi danau yang sempat ia kunjungi bersama Sky tempo hari.


Yara menatap keadaan disana, sekaligus memperhatikan beberapa pengunjung yang datang silih berganti.


Sekarang Yara kembali merasa tak punya tujuan. Kembali ke rumah kontrakannya pun percuma saja sebab ia tengah menghindari pertemuan dengan Juna. Tidak mungkin juga jika ia kembali ke rumah Rina, meski Yara yakin temannya itu masih mau menerimanya disana.


Yara teringat dengan Irna. Bukankah ia sempat meminta pekerjaan pada wanita itu?


Dengan cepat, Yara mengambil ponselnya dan menghubungi Irna saat itu juga.


"Mbak, besok Yara mau kerja, bisa?"


...~~~...


Sejak pulang dari kantor, Sky tidak mendapati kabar dari Yara. Bahkan sore ini dia sudah menghubungi wanita itu sampai belasan kali namun tidak tersambung.


Kemana Yara? Kenapa tiba-tiba menghilang setelah tadi sempat berpamitan ke rumah Anton?


Apa Yara sempat bertemu Juna disana? Sepertinya tidak, sebab diwaktu yang sama Juna sedang menemui Wulan di kantornya.


Atau, selepas dari Decorindo Arsitekture, Juna justru ke rumah Anton juga dan bertemu Yara?


Jika memang begitu, apa yang terjadi diantara mereka? Apakah Juna membujuk Yara dan wanita itu memaafkannya?


Pemikiran semacam itu terus melingkupi Sky dan membuat perasaannya menjadi serba salah serta kesal sendiri.


"Rin? Yara dimana?" Merasa putus asa, akhirnya Sky malah menghubungi Rina.


"Tadi cuma gue anter ke rumah kakaknya."


"Jadi, lo gak sama dia?"


"Enggak lah, ngapain? Kan Yara butuh privasi buat ngelarin masalahnya."


"Oke, makasih."


Panggilan itu berakhir dan Sky justru semakin gusar.


"Kemana kamu, Ra?" batin Sky.


...~~~...


Sementara di sisi lain, malam ini Juna kembali kebingungan sebab Yara tidak juga pulang. Ia pikir Anton pasti sudah bertemu dengan Yara tetapi kenapa istrinya tidak kunjung kembali.


Sebuah panggilan dari Shanum membuat Juna kembali sadar pada keadaan. Wanita itu justru mengajak Juna bertemu. Juna bingung harus mengiyakan ajakan Shanum atau tidak.

__ADS_1


Disatu sisi dia memang merindukan Shanum, tapi disisi lain ia juga belum siap menghadapi kemarahan wanita itu terkait keputusannya yang tetap mempertahankan Yara berikut rumah baru yang ia nyatakan untuk ditempati bersama Yara.


Juna juga takut jika saat masalahnya belum selesai dengan Yara, justru Shanum mempengaruhinya hingga ia kalah dan memberikan sebuah keputusan yang nanti akan ia sesali.


[Kalau kamu gak mau temuin aku malam ini, jangan pernah cari aku lagi, Juna!]


Sebuah pesan dari Shanum masuk ke ponsel Juna, disaat itulah ia semakin merasa frustrasi saja.


Akhirnya Juna memutuskan untuk menemui wanita itu ditempat yang sudah mereka janjikan.


...~~~~...


Shanum berpamitan pada Anton, mengatakan bahwa ia ingin ke rumah Sharla, kakaknya.


"Kenapa mesti malam-malam? Kenapa gak pergi dari sore tadi?" tanya Anton menatap heran istrinya.


"Iya, aku udah janjian sama Mbak Sharla mau makan mie ayam yang dekat rumahnya itu lho, Mas. Kan adanya cuma malam," alasan Shanum.


Anton pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa banyak respon. Ia mau mengantar, tapi Shanum kembali menolak tawarannya dengan alasan sudah memesan sebuah taksi online.


Anton mengiyakan tanpa mencegah. Ia melihat Shanum yang berpenampilan lebih dari biasanya, membuatnya menyunggingkan seulas senyum tipis.


"Aku pergi ya, Mas."


"Iya, hati-hati." Anton bahkan menyambut uluran tangan sang istri yang menyalaminya dengan takzim.


Seperginya Shanum, Anton memutuskan mengenakan jaketnya dan juga sebuah helm.


"Sudah sejauh ini permainan kalian, Num? Mungkin kalau udah ketahuan didepan aku baru kamu bisa jujur," gumam Anton sambil terus mengendarai motor miliknya. Ia pun mengikuti kemana Shanum pergi.


"Yang?" Shanum melambaikan tangan dengan senang ke arah Juna. Sementara Juna mendadak pias saat matanya tak sengaja melihat seseorang yang berjalan tak jauh dari tubuh Shanum.


"Apa itu Mas Anton?" batin Juna. Ia sampai mengucek matanya untuk memastikan apa yang sempat ia lihat sekilas tadi.


"Kenapa, Yang?" Shanum menepuk punggung tangan Juna, melihat gelagat kekasihnya yang agak aneh.


"Kamu sama siapa kesini, Num?" tanya Juna dengan intonasi te-gang.


"Sendirian lah, jadi sama siapa lagi?"


"Aku kok kayak ngelihat Mas Anton tadi dibelakang kamu."


Seketika itu juga Shanum langsung melihat sekeliling termasuk ke belakang tubuhnya sendiri. "Mana? Gak ada," katanya cuek.


Shanum langsung mengambil tempat duduk disamping Juna, bahkan bergelayut manja sekejap pada pria tinggi tersebut.


"Num, jangan gini lah, gak enak dilihatin orang..." kata Juna merasa agak risih sebab ia masih saja menduga jika Anton ada disekitar mereka.


"Kamu kenapa sih? Biasanya enggak gini?"


"Ya gak enak aja."


"Yang, kamu kenapa? Kok jadi risih gitu kelihatannya? Bahkan biasanya kita selalu gini lho," kata Shanum protes.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Kamu mau makan apa?" Juna mengangsurkan buku menu kepada Shanum.


Tapi wanita itu tak menggubris dan malah mencebik kesal. "Jangan bilang kamu begini karena Yara, Yang. Aku masih sebel karena kamu masih mempertahankan Yara. Tau, gak!"


Juna menghela nafas panjang.


"Apa salah aku mempertahankan istriku sendiri?" lirih pria itu yang tanpa sadar mengeluarkan isi hatinya dihadapan Shanum. Sayangnya, tindakan itu adalah kesalahan besar yang menyulut kemarahan Shanum.


"Jun, kamu apa-apaan sih? Yara bahkan nyelingkuhin kamu, dia juga udah ngaku tadi didepan aku sama Mas Anton. Apa wanita yang begitu yang mau kamu pertahanan?" marah wanita itu.


Juna berdecak kesal. Demi apapun ia tidak suka dengan perkataan Shanum yang menyudutkan Yara. Entah kenapa.


"Num, lalu apa bedanya Yara sama kamu? Kamu juga selingkuh sama aku dan ngehianatin Mas Anton, kan?" tukas Juna membuat Shanum ternganga.


"Kamu jangan nyamain aku sama Yara dong, jelas kita berdua itu gak sama!"


"Emang, kamu sama Yara itu gak sama! Sudah jelas adikku lebih berharga daripada kamu, Num!"


Suara seseorang tiba-tiba menginterupsi perdebatan kedua insan tersebut. Ya, itu adalah Anton.


"Mas Anton?" Shanum terbelalak.


"Mas Anton?"


Bersaman dengan Juna yang juga sangat terkejut sebab ternyata tadi ia tidak salah melihat tentang keberadaan Anton yang juga tengah berada di cafe yang sama.


"Iya, kenapa? Kaget?" Anton tersenyum sarkastik.


Shanum langsung pucat, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahan Anton setelah mengetahui semua ini. Bahkan beberapa jam lalu, Anton terlihat sangat mengerikan saat memarahi Yara. Lalu bagaimana sekarang?


Dengan gerak perlahan, Shanum berusaha bangkit dari duduknya. Jangan tanyakan perasaannya sekarang sebab itu tidak penting ketika sekujur tubuhnya mendadak gemetar.


"Ternyata kecurigaan aku benar, wanita dalam foto yang Yara tunjukkan siang tadi, itu adalah kamu, Num!" Kali ini Anton menuding Shanum bahkan jarinya menunjuk langsung ke arah wajah sang istri.


"Mas... aku--aku bisa jelasin semua ini, Mas." Shanum mendadak lemas. Persendiannya seperti tak berfungsi. Bahkan tungkai kakinya seakan berubah menjadi jelly.


Sekarang Anton menatap Juna. Pria itu malah menundukkan pandangan sebab sekarang semua mata pengunjung cafe tengah melihat pada mereka bertiga. Tentu ia merasa sangat malu.


"Mas, kita bisa selesaikan ini di rumah. Aku minta kebesaran hati Mas Anton agar kita bisa bicara dengan kepala dingin."


Anton terkekeh miris. "Masih bisa kamu meminta kebesaran hati aku?" tukasnya menohok sang ipar.


"Mas, kita pulang ya." Shanum pun berusaha membujuk Anton.


Anton menepis tangan Shanum yang hendak menyentuh lengannya. "Kenapa? Malu? Kalian malu? Masih punya malu ternyata!" tudingnya membuat Shanum ikut menundukkan wajah.


Anton berderap ke arah yang berlawanan. Tapi sebelum itu, dia kembali menoleh sekilas pada kedua orang yang tadi ia pergoki kemesraannya.


"Aku tunggu kalian di rumah. Dan kamu..." Anton menunjuk Juna. "Kita selesaikan ini secara laki-laki, bukan dengan cara sembunyi-sembunyi!" katanya memperingati, seruan itu juga sebagai isyarat agar setelah ini Juna tidak berniat untuk melarikan diri.


Bersambung ....


****

__ADS_1


Dah kan, ini part yang kalian tunggu-tunggu, kan? Hmmm...🤔 Kira-kira abis ini apa lagi dong?


__ADS_2