
Makan malam itu pun terlaksana dengan lancar. Besok, semua wajah-wajah yang dulu pernah bersekolah di tempat yang sama itu harus saling kembali terpisah akibat rutinitas masing-masing.
Malam ini adalah malam terakhir kebersamaan mereka, sebelum nantinya mereka akan kembali pulang ke kediaman masing-masing.
Waktu tiga hari terasa kurang untuk kebersamaan itu, namun semuanya memang tidak sama seperti dulu lagi. Semua sudah memiliki tanggung jawab di kapasitas pekerjaan masing-masing, sehingga mau tak mau mereka memang harus kembali pada pekerjaan utama yang kini bukan lagi seorang siswa seperti 11 tahun yang lalu.
Acara dinner malam itu pun ditutup dengan pesan dan kesan mengenai kebersamaan mereka selama tiga hari di Bali.
Pukul 11 malam, acara pun selesai dan mereka semua memutuskan untuk kembali ke Villa masing-masing.
"Pak Juna?" Seseorang memanggil suami Yara yang hampir memasuki pintu utama Villa.
"Ya?" Juna menoleh, rupanya Rozi dan Rico yang memanggilnya. Mereka memang dalam lingkup villa yang sama dengan Yara dan Juna.
"Lagi gak sibuk, kan? Gimana kalau kita ngumpul-ngumpul dulu disini. Ngopi sama main games."
"Games?" Yara menatap kedua teman sekolahnya tersebut.
Rozi dan Rico mengangguk sembari tertawa pelan. "Iya, besok kita udah pulang ke rumah masing-masing, belum tentu bisa ngumpul gini lagi."
"Kamu mau, Mas?" Yara menanyakan pendapat suaminya.
Juna yang tak enak menolak akhirnya mengiyakan.
Disana hanya tinggal beberapa orang. Rozi, Rico, Nindia, Rina, Dion dan Fera. Ditambah dengan Juna dan Yara.
Mereka duduk di beranda sambil mengelilingi sebuah meja bundar yang cukup besar.
"Kita main truth or dare, gimana?" ucap Fera bersemangat.
"Boleh."
"Boleh."
Semua sepertinya setuju. Yara dan Juna hanya mengikuti saja kemana arah permainan teman-temannya ini.
"Oke, aku ambil botol dulu." Nindia langsung masuk ke dalam villa dan mengambil sebuah botol untuk pelengkap games tersebut.
Tak berapa lama, Nindia kembali dan meletakkan botol kosong ditengah-tengah meja.
"Kita begadang yah, Guys!" sorak Rico dengan kelakarnya.
"Oke, gimana kesepakatan games ini, Fer?" Rozi menimpali dan bertanya pada Fera yang paling ahli dalam hal-hal games seperti ini.
Gadis tomboi itu langsung mengambil alih keadaan, ia menjelaskan dasar-dasar permainannya.
"Jadi, sesuai namanya... kita disuruh milih antara truth or dare, kebenaran atau tantangan. Kalau botol yang diputar menunjuk ke salah satu diantara kita, maka dia diberi pilihan antara menjawab pertanyaan dengan jujur, atau melakukan tantangan yang udah diberikan. Sampai disini pasti udah paham kan sama konsep games ini?"
"Paham..." sahut semuanya kompak.
"Nah, tantangan buat yang gak mau jawab pertanyaan dengan benar maka dia harus mau disuruh minum bir."
"Minum bir?" Yara bersuara. "Kok minum bir sih tantangannya?" protesnya.
__ADS_1
"Gak bakalan mabok, Ra. Bir doang. Tenang aja," kata Rico menimpali, ia merujuk pada brand sebuah bir yang mudah ditemukan dipasaran dan memang mengandung alkohol yang cukup ringan.
"Aku gak bisa minum," kata Yara.
"Ya, kalau gitu... pas giliran kamu, artinya kamu harus jawab pertanyaan dengan kebenaran," sahut Rozi enteng.
"Namanya tantangan, Ra. Udah ngikut aja." Rina membujuk Yara dan diangguki oleh Fera.
"Ya udah, gak apa-apa, Ra." Juna juga tampak sudah menyetujui dasar permainan tersebut. Ia menepuk punggung tangan istrinya seolah meyakinkan semuanya akan baik-baik saja.
"Aku juga ada disini, kan?"
"Kamu juga gak bakalan tahan minum, mas...."
"Bir aja, kan? Bisa kok aku."
"Ya udah, terserah kamu aja lah."
Akhirnya Yara pun mengangguki dengan berat hati.
Saat tangan Rico sudah ingin memutar botol diatas meja, tampak sosok Sky yang baru tiba di Villa. Ia memang pulang lebih lama karena tadi ia tak sengaja bertemu dengan rekannya saat di hotel sebelumnya.
"Sky? Ayo sini..." Fera memanggil pria itu.
Hal ini semakin membuat Yara was-was. Kehadiran Sky selalu berhasil membuat keadaan semakin kacau nanti, entah kenapa Yara sangat meyakini hal itu.
Sky menatap mereka semua termasuk botol yang sudah dalam genggaman Rico.
"Ngapain?" tanya pria itu dengan sikap tenangnya yang sulit ditebak.
Tanpa menjawab, pria itu langsung mendudukkan diri disebelah Rozi yang menghadap tepat ke hadapan Yara.
"Udah tau peraturannya, kan?" tanya Rozi pada Sky.
"Tau. Kayak biasa kan?"
"Iya, tapi ini tantangannya minum bir."
"Boleh, gak masalah," sahut Sky selalu dengan tenangnya. Tidak ada yang menyadari disana, kecuali Yara yang dapat melihat kilatan tengil di mata pria itu.
Permainan dimulai. Rico memutar botol ditengah meja. Lambat laun botol berhenti dan mengarah kepada Juna.
"Nah, siapa yang mau kasih pertanyaan sama Pak Juna?" tanya Rozi.
"Aku aja," sahut Sky. Pria itu pun menatap Juna dengan seringaian tipis.
"Boleh. Silahkan, Pak." Juna pun angkat bicara.
"Kenapa Pak Juna menikahi Ayara?" tanya Sky, ia memang ingin tahu kenapa Yara tiba-tiba menikah dengan pria itu. Yara tidak pernah menyebutkan apa alasannya sehingga dia memilih melupakan janji mereka berdua untuk saling menunggu.
Juna cukup terkejut dengan pertanyaan Sky, ia pikir pria itu akan menanyakan hal lain bukan seputar rumah tangganya bersama Yara.
"Awalnya saya menikahi Yara karena kami dijodohkan. Lambat laun, kami saling mencintai, gak ada alasan lain selain itu." Juna berujar sambil menatap Yara disampingnya. Tangannya juga menggenggam jari jemari wanita itu.
__ADS_1
Sedangkan Sky, ia tersenyum miris menyaksikan hal itu. Kendati demikian, ia pun menjadi tau bahwa ternyata Yara dan Juna menikah karena sebuah perjodohan. Tapi, ia tidak percaya dengan kalimat terakhir Juna-- yang mengatakan jika kini mereka saling mencintai.
Sky menatap Yara, wanita itu kini tertunduk dalam tanpa mau menatapnya.
"Oke, udah dijawab kan? Kita lanjut lagi ya?" Rico mengambil alih keadaan kembali. Bagi Rico dan teman-temannya yang lain, pertanyaan Sky kepada Juna dapat diartikan bahwa Sky masih mengkhawatirkan Yara. Mereka semua jelas-jelas tau jika Sky dan Yara pernah memiliki hubungan dulu.
Berbeda dengan Juna yang tampak biasa saja, karena tak mengetahui hubungan dimasa lalu itu.
Rina sendiri, tidak terkejut dengan pertanyaan Sky pada Juna-- sebab disini, mungkin hanya dia yang paling tau jika Sky memang sudah mengajak Yara untuk kembali bahkan berniat merusak rumah tangga Yara.
Botol kembali di putar, kali ini mengarah pada Nindia.
"Gue aja yang nanya ke Nindi." Fera buka suara, padahal Rico lebih ingin bertanya pada kekasihnya itu.
"Nin, Lo serius mau sama Rico?" tanya Fera membuat Rico melotot.
Nindia tertawa pelan, kemudian ia malah meraih gelas kosong disisinya. "Minum aja deh. Gak mau jawab," ujar gadis itu membuat Rico semakin terperangah.
"Kok gak dijawab, Beb? Berarti kamu ragu dong mau serius atau enggak sama aku?" protes Rico yang disambut dengan kekehan yang lainnya.
Nindia tertawa pelan, ia menyodorkan gelas pada Fera yang kemudian menuangkan bir kedalam sana.
Sesudah itu, sekarang botol kembali diputar. Kali ini mengarah pada Rina.
"Gue mau nanya ke Rina." Rozi menatap wanita itu. "Udah sejauh mana hubungan lo sama pacar lo?" tanyanya.
Rina melirik Dion disisinya. Ia tidak tahu mau menjawab apa, mana mungkin ia mengatakan didepan teman-temannya bahwa hubungannya dan Dion sudah sangat kelewatan dari batas wajar.
"Dare, gue pilih minum." Rina mengangkat gelasnya sebelum akhirnya meneguk minuman beralkohol itu.
"Oke lanjut!" Kali ini Fera yang ingin memutar botolnya. Dan ternyata sekarang mengarah pada Yara.
"Ra? Siapa cinta pertama lo?" Rico langsung angkat bicara, mengalahkan yang lainnya yang juga ingin bertanya pada wanita itu.
Yara terdiam atas pertanyaan Rico.
"Jawab atau tantangan, Ra?" kekeh Rina yang yakin Yara tidak mungkin bisa menjawab kali ini.
"Jawab aja, Sayang. Aku gak apa-apa," kata Juna.
Sky menatap Yara, disaat yang sama Yara juga mengangkat wajah dan pandangan mereka kembali bertemu satu sama lain.
"Cinta pertama aku..." Tiba-tiba Yara ragu. Tidak, ia tidak mungkin menjawab itu adalah Sky dihadapan suaminya dan dihadapan pria itu sendiri. "Aku pilih dare aja..."
Semua mata langsung tertuju pada Yara sekarang. Bukannya tadi wanita itu sempat mengatakan bahwa dia tidak bisa minum? Kenapa justru memilih tantangan?
"Tuang minumannya, Rin!" ujar Rozi sambil tergelak.
Mau tak mau, Yara pun menandaskan minuman yang sudah diisi Rina ke dalam gelasnya.
Bersambung ....
*****
__ADS_1