EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
132. Berubah dingin


__ADS_3

Setelah perceraiannya dengan Nadine 2 bulan yang lalu, Lucky merasa hidupnya kosong. Ternyata bukan hanya momongan yang dia rindukan untuk hadir dalam hidupnya, melainkan juga cinta dari wanita itu.


Akan tetapi, Lucky adalah pria berkomitmen, maka dia harus memegang prinsip yang sudah ia buat. Melepaskan Nadine memang berat, tapi mempertahankan wanita itu dalam belenggu toxic dalam rumah tangga mereka pun bukan pilihan yang baik.


"Mas?"


Lucky terpaksa melepaskan semua bayang-bayang mantan istrinya ketika panggilan Firda harus membuyarkan itu semua. Wanita yang tengah hamil tua itu, tengah menunggu kelahiran bayinya dalam hitungan hari saja, sebab proses Caesar yang dipilihnya--memang sudah ditentukan tanggalnya.


"Apa apa, Fir?"


Sejak Lucky berpisah dari Nadine, Firda seakan terkena imbasnya, pria itu bukan semakin memperhatikannya, melainkan berubah dingin sedingin kutub Utara. Jangan berharap ada panggilan 'sayang' yang keluar dari bibir Lucky untuk Firda, sebab itu tak pernah terdengar lagi--sudah sejak lama.


"Aku mau kontrol terakhir ke Rumah Sakit. Kali ini kamu ikut, ya?"


Bagai tak punya gair@h hidup, Lucky tidak menolak dan juga tidak mengiyakan. Pria itu diam seribu bahasa.


"Ayolah, Mas. Ini anak kita, kamu jangan lupain hal itu, Mas." Firda menatap Lucky dengan mata nanar, sedikit lagi airmatanya akan tumpah apabila Lucky benar-benar menolak.


"Aku tanya schedule dulu sama sekretaris ku, kalau bisa baru aku temenin."


"Usahain, dong, Mas."


Lucky hanya menyahut perkataan Firda dengan gumaman pelan yang tidak jelas artinya. Entah mau mengusahakan atau justru tak tertarik sama sekali.


Firda berbalik badan, airmata yang sejak tadi tertahan, akhirnya tumpah-ruah. Mungkin saat mengetahui Lucky dan Nadine benar-benar bercerai, Firda merasa diatas angin dan membayangkan akan menjadi istri satu-satunya. Namun sayang, harapan hanya tinggal harapan.


Lucky kembali menatap layar laptopnya, ia berusaha untuk fokus sekarang, ia tak mau memikirkan Nadine lagi sebab itu akan merusak tatanan hatinya yang sudah susah payah ia susun. Sementara untuk Firda, ucapan wanita berbadan dua itu bak dongeng pengantar tidur bagi seorang Lucky--yang tidak benar-benar ia resapi. Buktinya, ia tak juga menelepon sekretarisnya untuk menanyakan kekosongan jadwal di esok hari.


Sampai hari yang dimaksudkan Firda tiba, Lucky seperti lupa dan dia tetap berangkat bekerja.


Mereka tak bertemu di meja makan saat sarapan, sebab pria itu lebih dulu berlalu sebelum Firda bangun tidur. Entah kapan Lucky meninggalkan kediaman mewahnya, Firda tak tau sebab semalaman Lucky tak kembali ke kamar mereka. Sang suami lebih memilih menghabiskan waktu malam di ruang kerja sampai fajar menyingsing, tanpa ingin tau keadaan Firda.


Khayalan Firda yang ingin diperhatikan di mada-masa kehamilannya harus musnah seketika, ia pikir dengan kehamilannya itu ia bisa menjerat hati Lucky atau paling tidak membuat pria itu bertahan.


Ya, memang Lucky bertahan dengan status mereka yang masihlah suami-istri, tapi hati pria itu tidak demikian. Lucky lebih parah dari balok es yang membeku, karena jika dia adalah bongkahan Es, Firda masih memiliki harapan untuk melihat Lucky mencair suatu saat nanti. Nyatanya, pria itu selayaknya langit yang sulit untuk Firda sentuh dalam beberapa bulan belakangan, tepatnya--sejak Lucky kembali dari Indonesia.


"Nyonya, mobilnya sudah siap." Panggilan dari Didi, sopir di rumah itu membuat Firda beranjak. Mau bagaimana lagi, mau tak mau ia harus berangkat sendirian.


Jujur saja, Firda melakukan pemeriksaan terakhir ini karena dia sudah cukup lama tidak memeriksakan kandungan. Tentu bukan karena kurangnya biaya untuk melakukan tindakan itu, melainkan karena Firda tak bersemangat mengunjungi Dokter bila datang hanya seorang diri.

__ADS_1


"Kita kemana, Nya?"


"Ke Rumah Sakit," jawab Firda pada sang sopir dengan nada lesu.


Firda memandangi jalanan dari kaca jendela mobil, ia termenung disana, memikirkan perlakuan dan sikap yang ia lakukan pada Nadine--sahabatnya. Ralat, mantan sahabatnya.


Baru hari ini, Firda merasa berdosa. Ia telah salah langkah dan lari dari alur yang digariskan. Ia memilih sendiri cara menjadi pengkhianat. Ia membuat pilihan untuk ikut memiliki Lucky padahal ia tau pria itu masih berstatus suami dari Nadine saat dia menggodanya.


Entahlah, ada rasa takut dalam diri Firda sekarang, padahal kemarin tidak begitu. Mungkin ini disebabkan karena hari kelahirannya sudah sangat dekat. Ia takut tidak sempat mengucapkan maaf pada Nadine.


Akan tetapi, apakah Nadine mau memaafkannya?


Tak perlu ditanya, sepertinya Nadine tak akan memaafkannya. Lagipula, Firda memang tak akan mau mengucap kata maaf pada mantan sahabatnya itu meski dihati sudah mendesaknya melakukan hal tersebut. Firda merasa harga dirinya akan jatuh jika sampai itu terjadi. Mau ditaruh dimana mukanya jika Nadine menolak maafnya nanti? Jadi, lebih baik dia tak perlu mengucap maaf, toh dia sudah dapat menilai jika Nadine tak akan memaafkan.


"Kita udah sampai, Nya."


Firda turun dari mobil dengan susah payah. Memegang perutnya yang besar serta merutuk kelakuan Lucky yang tega membiarkannya pergi seorang diri.


Firda memasuki lobby Rumah Sakit. Tapi, sebelum mendaftar di poli kandungan, dia lebih dulu menelepon suaminya.


"Mas? Kamu dimana? Aku udah di Rumah Sakit. Kamu gak lupa kan kalau aku minta ditemenin kontrol hari ini?"


"Ya udah, dua puluh menit lagi aku tiba disana."


Firda tau, Lucky terpaksa berkata demikian, ia dapat menilai dari nada suara pria itu yang tak terdengar antusias. Mungkin Lucky datang hanya untuk bayi mereka, bukan karena peduli pada Firda.


Firda menahan sesak dalam dadanya. Ingin berteriak sekuat-kuatnya, ia tertekan batin dengan perlakuan dan sikap dingin sang suami. Tapi, ini konsekuensi dari perbuatannya yang memaksakan untuk tetap bersama pria itu meski dia tau sejak awal bahwa Lucky tak mencintainya.


Firda ingat betul, ia pernah mendengar Lucky mengatakan pada Nadine untuk menceraikan Firda sesaat setelah bayi ini lahir. Firda tau karena dia sempat menguping pembicaraan mereka waktu itu.


Dengan kata lain, perkataan Lucky pada Nadine waktu itu dapat Firda simpulkan sendiri maknanya--- yaitu Lucky hanya menitipkan benih di rahimnya, alias meminjam rahim untuk mengandung keturunan pria itu, sebab Nadine--wanita yang dicintai sang suami--tak dapat mengandung dan melahirkan anak untuk Lucky.


Sebenarnya, sejak saat itu hati Firda sudah sangat sakit, tapi dia berusaha kuat sebab dia tau dia yang akan menjadi pemenangnya dan menjadi istri satu-satunya bagi Lucky. Harapannya memang tercapai, ia memang menang dari Nadine, tapi ia tetap kalah dalam hal merebut hati Lucky karena tetap Nadine yang jadi juaranya.


Firda pun berjalan sambil melamun, tujuannya adalah poli kandungan. Tapi karena lamunannya itu, Firda tidak sadar bahwa dari arah luar ada pasien gawat darurat yang dibawa menggunakan brangkar dengan terburu-buru.


Brak!!


Firda terjatuh, sebab dia yang lebih dulu menabrak tandu pasien gawat darurat itu. Beberapa perawat membantunya berdiri namun Firda meringis kesakitan.

__ADS_1


Semua mata perawat yang ikut membantunya turut terbuka lebar saat melihat darah yang merembes keluar dari inti tubuh Firda.


Firda histeris, dia phobia dengan darah. Itu salah satu sebab yang membuat dia mau melahirkan secara Caesar.


"Darah? Darah?" teriak Firda. Dia kalut dan panik, sementara para suster langsung sigap membantu membawa tubuh Firda dengan kursi roda.


"Maaf, Bu, Apa anda bersama keluarga Anda?"


Firda menggeleng keras. "Sakit ..." rintihnya kemudian.


Para dokter dan suster yang menanganinya semakin kalut akibat teriakan wanita hamil itu, mereka mau mengambil tindakan tetapi ingin tau lebih dulu apa Firda bersama sanak saudara atau tidak?


"Darurat, kita operasi secepatnya!" sigap salah satu Dokter yang telah memeriksa keadaan wanita itu.


Bersamaan dengan Firda yang sudah ditindaklanjuti dalam ruang operasi, Lucky datang dengan ketidaktahuannya.


Dia memasuki poli kandungan tapi tidak menemukan Firda disana. Hingga ia mendengar percakapan antara beberapa perawat yang membicarakan tentang wanita hamil yang terjatuh di dekat lobby. Disitulah Lucky tersentak dan langsung menanyakan dimana pasien itu sekarang.


"Beliau sedang diberi tindakan di ruang operasi, Pak."


Lucky memijat kening, matanya memejam barang sesaat. "Astaga, apa lagi ini?" gumamnya. Pria itu pun beranjak menuju letak ruang operasi yang perawat tunjukkan.


Disaat yang sama, salah satu perawat yang menangani operasi Firda-- keluar dari ruang operasi.


"Sudah dapat info mengenai siapa keluarga pasien atas nama Firda, Sus?" tanyanya pada perawat yang kebetulan mengantarkan Lucky.


"Beliau ini suaminya, Sus."


Suter itu menghadap pada Lucky. "Apa anda suami Ibu Firda Wulandari?" tanyanya memastikan.


"Iya, benar."


"Kondisi pasien kritis. Ini juga disebabkan karena rasa takut yang berlebihan. Anda harus memilih siapa yang harus diselamatkan. Bayi anda atau istri anda?"


Bersambung ...


Tenang, ini belum tamat. Karmanya bukan mati kayak Shanum ya. Readers harap tenang🤭 Tapi, kira-kira apa jawaban Lucky? Dia pilih bayi atau Firda?


Tetap tunggu update othor. Kalo lagi senggang pasti up lebih dari sekali. Kalo senggang banget bisa crazy up. Semua tergantung dukungan🙏🤭😅❤️

__ADS_1


__ADS_2