
Hari kedua berbulan madu, Sky dan Yara memutuskan untuk mengunjungi Pulau Padar.
Pulau Padar memiliki medan yang cukup menantang untuk melakukan trekking.
Di pulau ini telah disediakan kurang lebih 300 anak tangga yang akan mengantarkan mereka ke puncak bukit.
Bukit di Pulau Padar begitu cantik, berwarna eksotis kuning-kecoklatan saat musim kemarau dan berubah menjadi kehijauan saat musim hujan.
Mereka memang ingin menyaksikan 3 teluk Pulau Padar dengan beraneka warna, gradasi hijau-biru sang bahari, dan pulau-pulau kecil yang eksotis.
Mereka sengaja berangkat sangat pagi untuk melihat sang surya muncul perlahan-lahan dari ufuk timur. Rencananya, keduanya juga akan menutup perjalanan wisata dengan melihat sang surya temaram tenggelam dalam kehangatan senja--saat sore hari nanti.
Pulau Padar termasuk pulau yang sepi dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Daya tarik utama dari Pulau Padar adalah pemandangan lansekap dari bukitnya yang begitu menawan.
Trekking menuju puncak Gili Padar harus dilakukan dengan sangat berhati-hati.
Sky dan Yara bahkan harus mengenakan sepatu khusus untuk mendaki, karena jalur trekking cukup licin, berdebu dan bahkan berbatu.
Dari puncaknya, warna oranye matahari yang mulai muncul di peraduan tampak begitu cantik.
Pemandangan seperti ini memang sangat menawan dan sulit di temukan dimanapun lagi.
Tiba disana dengan penuh perjuangan, Sky dan Yara akhirnya dapat bersenda gurau. Diatas pasir yang beralaskan tikar, mereka kembali melakukan hunting foto dari puncak bukit Pulau Padar.
Spot ini memang spot incaran para wisatawan--sebab dari sini mereka dapat mengabadikan momen berlatarkan 3 teluk indah yang susah ditemukan di destinasi wisata lainnya.
"Kamu tau gak, ini salah satu destinasi wisata terbaik yang pernah aku datangi."
"Hmm..." Sky menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan sang istri. Dia mengelus kepala Yara secara berulang-ulang. "Meskipun kamu harus menguras energi untuk naik ke puncak ini, kamu gak nyesel?" tanyanya.
"Nyesel sih enggak, tapi kalau capek ya pasti, tapi kan sekarang ada kamu yang bisa mijitin aku nanti," kikik Yara.
Sky hanya mengulumm senyum atas ujaran istrinya. Bahkan jika bisa, ia mau menggendong Yara saja tadi, jadi tidak akan membuat istrinya kelelahan. Sayangnya medan yang di daki cukup ekstrem sehingga tindakan menggendong seperti pemikiran pria itu tidak mungkin untuk di realisasikan.
Beruntung pula mereka datang disaat laut sedang pasang, membuat kapal yang mereka tumpangi bisa merapat ke pulau dengan santai. Tak terbayang jika mereka datang disaat laut sedang surut, bisa dipastikan kapal tidak akan dapat merapat hingga mau tak mau mereka harus berenang untuk sampai ke pulaunya.
Sekarang Sky sibuk memasang sebuah drone yang sengaja ia bawa untuk melengkapi perjalanan mereka.
__ADS_1
Drone itu akan merekam serta memotret momen keseruan mereka-- saat tengah berada diatas bukit indah dengan pemandangan estetik tersebut.
Jangan tanyakan berapa banyak sudah kamera milik Sky yang memotret gambar istrinya, sebab sepertinya sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Ada foto yang sengaja Sky arahkan, tapi lebih banyak lagi yang diambil secara diam-diam.
"Jangan fotoin aku terus," protes Yara.
"Biarin," kata Sky cuek sambil melihat hasil jepretannya. "Lagian tempat ini makin cantik karena ada wanita secantik istriku yang mengunjunginya," tuturnya serius, tapi malah membuat Yara terkekeh.
"Gombal kamu basi banget sih," cibir Yara, tapi seorang Sky tidak pernah menganggap cibiran istrinya sebagai hal yang serius.
"Rasanya aku gak mau pulang. Mau disini terus sama kamu." Sky mendekap erat Yara, melingkarkan kedua tangannya dileher istrinya dari arah belakang.
"Hahaha, ada aja sih kamu." Yara mencubit hidung Sky dari posisinya sampai pria itu mengaduh.
Puas berjalan-jalan, mendaki, serta berswafoto di sana, mereka juga menyempatkan untuk melihat beberapa komodo dari kejauhan. Makan siang bersama dengan pengunjung lainnya. Sampai tanpa disadari, matahari mulai kembali ke peraduan di ufuk barat.
Sky dan Yara pun turut menyaksikan pemandangan matahari terbenam. Sunset disana terasa sangat mengesankan karena mereka menatapnya dengan syahdu dan selalu berdua tanpa gangguan dari pihak manapun.
Bulan madu mereka berjalan dengan cukup baik serta sesuai dengan ekpektasi keduanya-- yang memang membutuhkan rehat serta healing dari keriuhan kota dan segala hal yang belakangan hari sudah membuat mereka lelah.
...~~~~...
"Sayang?"
"Hmm?" Yara menghentikan aktivitasnya demi menatap sang suami.
"Setelah acara bulan madu kita selesai, aku mau buat acara resepsi pernikahan kita dan mengundang semua teman dan rekan. Gimana menurut kamu?"
Yara berjalan mendekat pada sang suami. Menepuk pelan punggung tangan pria itu. "Aku gak masalah kalau kamu mau buat resepsi untuk pernikahan kita. Tapi, jangan buat yang berlebihan ya."
"Kenapa?"
"Ini pernikahan kedua buat aku, Sky. Aku gak mau terlalu meriah."
Sky membingkai wajah istrinya. "Sayang ... dengar aku, memang ini pernikahan kedua buat kamu, tapi ini resepsi yang pertama buat kamu, kan? Apa kamu gak punya semacam pesta impian? Aku mau mewujudkan hal itu buat kamu."
Sky tau di pernikahan Yara dan Juna dulu, tidak ada acara istimewa sebab pernikahan itu hanya dilakukan di sebuah Rumah Sakit--dimana ayah Yara sedang berjuang untuk hidup dan matinya.
Yara menggeleng. "Gak Sayang, aku mohon sama kamu, aku gak mau yang berlebihan. Yang terpenting bagi aku bukan pesta atau resepsi itu, tapi yang paling utama adalah hubungan kita berdua yang selalu harmonis sampai tua. Semua itu udah lebih dari cukup buat aku."
__ADS_1
Sky mengangguk-anggukkan kepalanya, dia menghargai permintaan dan keinginan Yara. "Ya udah, kalau kamu memang mau begitu. Tapi aku gak yakin mama bakal setuju," ucapnya.
Ah, Yara sampai lupa jika Sky adalah anak tunggal yang mungkin saja-- sang Mama mau mengadakan perhelatan besar-besaran untuk pernikahan putra satu-satunya itu.
"Iya juga sih." Yara memasang senyum kecil. "Apa Mama mau kalau acaranya kecil-kecilan aja?" tanyanya.
Sky malah mengangkat bahu sembari mengadahkan kedua tangannya disamping tubuh. "Tauk!" katanya enteng.
Yara melihat jika Sky sudah sibuk dengan ponselnya sendiri sekarang. Membuat Yara jadi ingin tau apa yang tengah di lakukan suaminya sekarang.
Yara mencoba mengintip dari posisinya, tampaknya Sky sedang meng-upload sesuatu ke media sosialnya.
Yara baru teringat jika dia belum memegang ponselnya dari kemarin. Lantas, ia pun bergeser untuk meraih ponsel yang ada diatas nakas.
Membuka media sosial termasuk berbagai pesan di aplikasi hijau.
"Ya ampun, Sky..."
"Kenapa?" tanya Sky yang tidak mengerti dengan suara istrinya yang tiba-tiba terdengar seperti terkejut.
"Kamu upload foto kita di IG?"
"Iya, kenapa emang?" tanya pria itu dengan tenangnya.
"Coba kamu lihat! Rina, Fera dan yang lain pada whatsapp aku nanyain tentang foto kamu."
Yara pun menunjukkan beberapa pesan japri dari teman-teman SMA nya-- kepada Sky, agar sang suami dapat membacanya.
"Ya udah, sih. Kamu bilang aja kalau kita udah menikah sekarang."
"Tapi...."
"Sayang, cepat atau lambat mereka juga bakal tau, kan? Lagian, resepsi kita juga gak akan lama lagi... surat nikah juga udah turun. Apalagi yang mau kamu tutupi?"
Yara menghela nafas sepenuh dada. Memang benar yang Sky katakan. Sebab, sampai kapan dia harus menyembunyikan ini? Mereka semua pasti akan mengetahuinya.
"Kira-kira ada yang ngomong gak enak tentang kamu atau tentang hubungan kita, kamu tinggal tunjukin orangnya sama aku atau kamu kasi tau namanya ke aku."
"Buat?"
"Ya buat ditampar dengan kenyataan kalau kita udah bahagia sekarang dan mereka harus tutup mulut dan omongan yang gak berguna," sahut Sky dengan sikapnya yang selalu meng-enteng-kan segalanya.
__ADS_1
Bersambung ....
Yuk dukung terus yuk. Viewers othor mulai anjlok padahal up 3 bab tiap hari. huhuhu. Tinggalkan komentar kalian guys. 1 Bab lagi abis ini, tentang Nadine dan Anton💚