
Saat Yara keluar dari rumah baru milik Juna, ia mendapati hari yang sudah menggelap. Bukan karena waktu yang sudah melewati batas senja, tetapi awan diatas sana juga telah menunjukkan tampilan bergulung-gulung dengan warna serupa.
Nampaknya hujan akan segera turun, mengguyur dan membasuh bumi dengan sederas-derasnya. Beberapa kali gemuruh terdengar di indera pendengaran Yara, membuatnya semakin tidak tahu hendak menuju kemana.
Sejujurnya, Yara tidak memiliki tujuan lagi selain rumah kontrakannya yang biasa ia jadikan tempat pulang. Tapi, mengingat pertengkarannya dengan Juna beberapa saat lalu, ia jadi enggan untuk kembali kesana sampai beberapa waktu.
Apakah Yara harus datang lagi ke rumah sang kakak? Sementara saat ini ia sangat menghindari berbagai pertanyaan dari banyak pihak. Jika melihat keadaannya yang seperti ini, pasti Anton akan menanyainya dan ingin mengetahui apa yang telah terjadi kepadanya.
Tidak, sepertinya ia tidak bisa ke tempat Anton, lagipula Shanum sedang dalam kondisi yang tidak baik sekarang.
Lalu, kemana ia harus pergi? Bahkan ia sangat bingung saat ingin memesan taksi online--sebab tak tau tujuan mana yang akan menjadi titik akhir untuk mengantarkannya.
Beberapa kali mobil asing melintas di jalan tersebut, melewati Yara yang tampak aneh penampilannya di pandangan mata mereka. Tapi, tiba-tiba sebuah mobil merah berjalan sangat lambat disisi Yara, lampunya terlihat menyilaukan saat menyorot pandangan mata wanita itu.
"Yara?"
Yara mengadah saat seseorang dari dalam mobil itu malah memanggil namanya.
Dari balik kemudi, seorang wanita menyunggingkan senyum tipis dan Yara dapat melihatnya sebab wanita itu telah menurunkan sedikit kaca jendela mobil merahnya.
"Rina?"
...~~~~...
Hujan benar-benar turun dengan derasnya. Beruntung, saat ini Yara sudah berada didalam mobil bersama Rina.
Rina tidak banyak bertanya pada Yara, tapi didalam pemikirannya sudah bisa menebak jika saat ini Yara sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Melihat bagaimana penampilan Yara sekarang, Rina tau Yara sedang dalam masalah.
"Kamu mau kemana, Ra? Biar aku anter," kata Rina pengertian. Dia memulai percakapan karena sejak tadi mereka berdua hanya diam.
Yara menggeleng lemah, sampai sekarang ia tidak juga mempunyai tujuan yang tepat.
"Ya udah, kalau ke rumah aku, mau?" ajak Rina.
Yara menoleh demi menatap wajah wanita itu. Rina memang terkenal nakal dan memiliki pergaulan yang bebas, akan tetapi Rina memiliki sikap yang humble dan lebih memahami ketimbang teman Yara yang lainnya. Meski saat SMA-- Yara dan Rina tidak begitu akrab, tetapi Rina mampu membaur dengan banyak orang karena sikapnya memang pandai bergaul.
Terkadang, orang yang tidak pernah ia duga, justru mau membantunya, pikir Yara.
"Gak usah sungkan, kamu tau kan aku tinggal di rumah sendirian. Biasalah, dari SMP udah jadi anak broken home," kata Rina yang selalu ceplas-ceplos.
Yara tersenyum tipis. "Makasih ya, Rin," ujarnya tulus.
"Halah, gak perlu makasih segala. Aku juga seneng kalau ada temen di rumah. Biasanya ada Dion, tapi dia lagi di luar kota sekarang."
Sesampainya di kediaman Rina yang cukup besar, Yara diarahkan Rina ke kamar tamu.
"Kamu bisa nginep disini sampe kapanpun kamu mau, Ra." Rina mengelus pundak Yara lembut. Sorot matanya mengartikan bahwa ia juga senang dengan kehadiran Yara di rumahnya.
"Sekali lagi, makasih banyak ya, Rin. Aku cuma mau nenangin diri sehari dua hari."
__ADS_1
"It's oke. Gak masalah sama sekali. Oh iya, kalau laper di kulkas banyak bahan masakan, kamu juga boleh masak. Anggap aja rumah sendiri."
Yara semakin sungkan pada teman SMA nya itu.
Rina masih menatapi Yara yang menampilkan sorot mata sendu.
"Ganti baju kamu, ya." Rina memegang sekilas kain penutup sofa yang sejak awal Yara kenakan untuk menutupi baju robeknya. "Dan ini, buang aja deh, pake aja baju aku dulu," lanjutnya mengarah pada kain itu.
Yara mengangguk dan Rina segera memasuki kamarnya sendiri. Tak lama, wanita itu keluar dengan membawakan sebuah piyama katun.
"Malam ini, pakai ini aja dulu. Besok-besok aku cariin baju yang lain."
Yara sampai tak tahu mau berucap apalagi pada Rina. Kebaikan wanita ini tidak pernah disangkanya.
"Ya udah, aku mau mandi dulu ya."
"Sekali lagi makasih ya, Rin."
Rina terkekeh pelan tapi dia sempat mengangguki ucapan Yara, sebelum akhirnya dia benar-benar masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.
...~~~~...
[Gue gak tau ini bener atau enggak, tapi gue cuma mau ngasih tau lo... kalo Yara sekarang ada di rumah gue.]
Sebuah pesan singkat dari nickname 'Rina SMA' masuk ke ponsel milik Sky.
Sky mengernyit dalam. Untuk apa Yara di rumah Rina? pikirnya.
[Gue gak tau... gue ketemu dia tadi, di perumahan Citra Indah. Penampilannya acak-acakan, jadi gue tebak dia pasti lagi ada masalah.]
Sky menghela nafas dalam. Perumahan itu adalah letak rumah baru milik Juna. Apa sekarang Yara sudah tau jika rumah itu dibeli Juna bukan untuknya? Atau justru ada masalah lainnya?
Sky kembali membaca pesan singkat dari Rina yang menjelaskan soal penampilan Yara. Seketika itu juga pria itu langsung khawatir terhadap keadaan Yara.
[Makasih infonya, kalau boleh, gue mau ketemu Yara dirumah lo.]
[Boleh aja, tapi jangan ribut-ribut ya, gak enak sama tetangga gue. Gue udah sering ribut sama Dion soalnya.]
[Oke, kalau sekarang juga gue kesana, bisa?]
[Ngebet banget lo! Udah malam gini. Tapi, serah lo aja lah. Gue fine-fine aja.]
Tak perlu berpikir dua kali, Sky langsung mengambil kunci mobilnya dan menarik sebuah hoodie dari standing holder di kamarnya.
"Sky? Mau kemana?"
"Eh, iya, ma..." Sky menggaruk-garuk pelipisnya yang tak gatal. Mau jawab apa pada mamanya?
"Mau kemana? Udah malam, hujan juga. Ada hal penting?" tanya Indri.
Sky menyengir. "Ada urusan dikit," katanya.
__ADS_1
"Urusan apa? Ada masalah ya, Nak?"
"Gak ada apa-apa, kok, Ma. Sky cuma mau.... mau ke rumah Beno. Iya, ke rumah Beno." Sky memasang wajah tanpa dosanya dihadapan sang Mama, padahal jelas-jelas ia tengah berbohong pada wanita itu sekarang.
"Ngapain? Besok kan ketemu di kantor?"
"Ada deadline kerjaan, Ma. Kalau besok udah gak keburu. Aku pergi ya, Ma... bye!" Sky mengecup sekilas pipi sang Mama kemudian segera ngacir dari sana.
"Sky? Hati-hati di jalan, Nak... jalanan licin."
"Iya, Ma," sahut Sky memekik sambil melambai-lambaikan tangannya pada sang Mama.
Tidak sampai satu jam berkendara, Sky telah tiba di kediaman Rina.
Saat Sky datang, Yara sedang memasak di dapur, sehingga ia tidak tahu jika Rina sudah membukakan pintu untuk pria itu.
"Yara lagi masak di dapur. Dia belum makan malam katanya."
"Oh... oke," kata Sky menanggapi pemberitahuan Rina.
"Kalian masih berhubungan?" tanya Rina lagi.
Sky mengendikkan bahu, tak mau menjelaskan lebih lanjut pada wanita itu.
Hhh... Rina menghela nafas pelan. "Semua itu terserah kalian, Sky. Kalian juga bukan anak-anak lagi. Tapi kalo bisa jangan sampe nyakitin suaminya Yara," katanya memberi nasehat.
"Gak ada yang tersakiti disini, tenang aja," kata Sky yakin. Sebab, jikapun ada yang tersakiti itu bukanlah Juna, melainkan Yara sendiri.
"Ya udah, gue mau masuk kamar. Ingat ya, jangan me sum di rumah gue!" kata Rina mewanti-wanti.
Sky malah terkekeh. "Masih mending disini kan daripada di villa umum," cibirnya mengarah pada kelakuan Rina dan Dion saat di Bali tempo hari.
Rina memukul lengan Sky sekilas kemudian benar-benar berlalu. Ia tahu Sky hanya berniat menggodanya saja.
Seperginya Rina, Sky pun beranjak menuju dapur dikediaman wanita itu. Ia menyandarkan tubuh di kusen pintu. Tangannya ia lipat didada, sembari pandangannya fokus menatapi wanita yang tengah memotong-motong bawang diseberang sana.
"Ayara...." panggilnya.
Yara yang mendengar suara itu langsung menoleh dan begitu kaget saat mendapati sosok pria bernama Sky sudah ada disana.
"Hah?" Yara terbengong.
Yara mengira pasti saat ini ia tengah bermimpi. Ah, kenapa kemanapun ia pergi bayangan pria itu selalu mengikuti? batinnya.
Bersambung ....
*****
Tinggalkan jejak yuk guys, jangan jadi silent Readers🙏
Pesan Author : Cerita ini hanya fiktif ya. Bagaimanapun perselingkuhan itu tetap salah. Apapun alasannya✌️ Jangan meniru sikap dari male lead (Sky) atau second lead (Juna) yang ada di novel ini. Bahaya.😅 Cerita ini hanya sebagai penghiburan tanpa berniat menyinggung siapapun dan pihak manapun.🌹
__ADS_1