EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
91. Menitipkan


__ADS_3

Anton menyingkir perlahan saat Juna berderap ke arah tempat Shanum berbaring.


Saat itu, Juna ingin sekali menggendong bayinya sebelum Anton yang lebih dulu melakukannya.


Sekarang, posisi Juna berada tepat berhadapan dengan sang bayi, ia melewati Anton begitu saja. Namun, sungguh sangat disayangkan saat ia ingin menggendong bayi cantik itu--ia menghentikan kegiatannya sendiri, membuat Anton jadi bertanya-tanya, kenapa Juna terdiam tiba-tiba?


Sedang Shanum--- hanya memasang wajah datar, seolah sudah dapat memperkirakan kenapa agaknya Juna bersikap demikian.


"Hhh ..." Juna mendengkus, cukup keras, hingga Anton yang berjarak darinya pun dapat mendengar hal itu.


"Sepertinya dia anakmu, Mas," kata Juna langsung berbalik, kemudian menyunggingkan senyum getir. Matanya tampak memerah, entah apa yang ada dalam benak pria itu sekarang.


Baru saja Anton ingin menanyakan apa maksud dari ucapan Juna itu, tetapi pria itu segera berderap pergi dan menutup pintu ruangan begitu saja tanpa kalimat lainnya lagi.


Anton menatap bingung pada Shanum dan wanita itu kembali melemparkan senyum yang tidak dapat Anton tafsirkan maknanya.


Anton pun lebih memilih mendekat, meraup tubuh mungil bayi yang sejak tadi ingin ia gendong.


Meskipun jika anak ini adalah darah daging Juna, Anton tulus untuk menjenguknya, sebab ia tau bayinitu tidak bersalah atas tindakan kedua orangtuanya. Lagipula, Anton cukup merindukan seorang sosok kecil seperti ini untuk hadir dalam hidupnya--suatu saat nanti--karena mungkin itu tak akan dia dapatkan dari Shanum.


Saat Anton melihat wajah bayi mungil itu, ia terhipnotis, mata bening sang anak membuatnya terpedaya dan langsung menyadari saat itu juga bahwa itu adalah darah dagingnya. Anton speechless, ia kehilangan kata. Rasa sayang tiba-tiba muncul begitu saja, mengelus pipi mungil sang bayi dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi.


"Sekarang kamu pasti udah tau maksud ucapan Juna tadi kan, Mas." Shanum bersuara dengan cukup tenang.


Anton mengangguk-anggukkan kepalanya. Jelas saja Juna mundur, wajah bayi itu sudah memberikan sebuah jawaban akurat bahwa itu adalah duplikat Anton dalam versi gadis yang mini.


Anton menitikkan airmatanya, terharu. Akhirnya ia menjadi seorang ayah. Ayah yang sesungguhnya. Bukan cuma ayah di atas kertas sebagai bentuk tanggung jawab karena Shanum melahirkan saat dia masih berstatus sebagai suami dari wanita itu.


"Kamu sayang sama putri kamu, mas?" tanya Shanum menahan sesak dalam dadanya. Dalam benak wanita itu sekarang adalah puas. Dulunya dia memang berharap anak yang dikandungnya adalah anak Juna, tetapi melihat perubahan sikap Juna belakangan hari, dia justru berdoa agar yang dilahirkannya nanti adalah darah daging Anton.


Dan saat melihat rupa putri mungilnya yang sangat mirip dengan Anton, matanya, hidungnya, bahkan bentuk bibirnya, membuat Shanum merasa sangat cukup. Tidak perlu ada test DNA. Dan semua ini pembalasan yang setimpal untuk sikap Juna yang selalu semena-mena kepadanya.


"Tentu aja aku sayang sama anakku, Num!" sahut Anton menekankan.


"Kalau begitu, aku titip dia ya, Mas."


"Maksud kamu?"


Shanum tersenyum tipis. "Juna gak mungkin mau nerima dia," katanya.


"Num, jadi kamu mau bersama Juna tanpa mengurus anak kamu sendiri?"l

__ADS_1


"Terus aku harus gimana, mas? Kamu juga gak bakal mau balik sama aku, kan?" tanyanya dengan senyum sendu.


"Num..."


"Aku titip putri kita, ya, Mas. Kamu jaga dan besarkan dia. Aku lakuin ini bukan karena aku mau bersama Juna tanpa repot dengan bayi itu, tapi aku justru mau pergi juga dari kehidupan Juna."


"Num, kamu apa-apaan? Kamu bahkan ninggalin aku demi Juna. Sekarang kamu mau ninggalin dia juga? Bukannya dia yang kamu mau? Kenapa, Num?"


Shanum membuang pandangan ke arah lain. Ia tak menjawab pertanyaan Anton.


Anton pun tak habis pikir dengan ucapan Shanum. Ia pikir Shanum sudah bahagia dengan pilihannya. Lalu kenapa Shanum juga berniat meninggalkan Juna?


"Apa kamu gak bahagia? Bukannya dia lelaki pilihan kamu?"


Shanum tak menoleh, ia hanya melirik Anton yang tengah sibuk memomong bayi mereka, tapi tetap memberinya berbagai pertanyaan.


"Semua orang pernah salah, Mas. Dan aku udah tau letak kesalahanku dimana."


"Aku gak mau denger kamu bilang kata-kata penyesalan, Num." Anton memperingati Shanum.


"Aku tau, Mas. Aku gak bakal mengeluhkan hal itu didepan kamu."


"Baguslah," kata Anton cuek.


Dalam hati, Anton merasa bersalah pernah menelantarkan anaknya saat masih dalam kandungan Shanum. Ah, andai saja Shanum tidak mengkhianatinya, mungkin dia tak akan pernah melakukan tindakan keji semacam itu. Ia sungguh tak sampai hati, tapi karena ego dan perbuatan Shanum yang sulit ia maafkan, akhirnya ia mengusir Shanum waktu itu.


Tanpa Anton sadari, sejak tadi Shanum berusaha kuat menahan sakit yang menerjang tubuhnya. Entah kenapa kepalanya terasa ingin meledak, jantungnya terasa dipompa berkali-kali lebih cepat, bahkan aliran darahnya berrdesir keras seperti terjangan air terjun yang ingin segera menerobos tanggul.


Shanum merasa hidupnya sudah diambang batas. Dia tidak kuat lagi.


"Terima kasih, Mas. Karena kamu tidak lantas menceraikan aku sesaat setelah aku melahirkan putri kita. Apakah hari ini aku akan meninggal dengan status masih sebagai istrimu, Mas? Aku menyesal dan sangat menyesal telah mengkhianati suami sebaik kamu, semoga kamu selalu bahagia, Mas!" batin Shanum memendam segala kalimat itu untuk Anton.


"Mas, to--long jaga dia," ucap Shanum dengan tersendat-sendat. Sejak tadi, ia berusaha bersikap biasa dan menahan kesakitannya, tapi sekarang ia tak bisa menutupi hal itu lagi. Setidaknya, ia mau menitipkan bayinya pada Anton yang memang paling berhak.


"Gak perlu kamu ingatin, aku pasti jaga anak aku sebaik mungkin, Num."


"I-iya, M-mas. Maafin aku, Mas. Ma--af."


Anton tidak memperhatikan Shanum, ia masih sibuk dengan bayinya.


"Hmm, na---manya, Mas?"

__ADS_1


"Apa?" Kali ini Anton menoleh pada Shanum dan baru menyadari tingkah wanita itu yang terlihat mencurigakan.


"Kamu kenapa, Num?" tanya Anton. Pria itu pun langsung meletakkan bayi mungilnya di box bayi yang berada tepat di sebelah ranjang Shanum.


"Ma--mas, na--ma?"


Disitulah Anton panik, matanya membulat melihat Shanum yang tampak kesakitan. Ia baru ingat bahwa tadi dokter sempat mengatakan bahwa Shanum memiliki riwayat darah tinggi yang cukup serius dan masih dalam pemantauan pasca operasi yang baru dilakukan beberapa saat lalu.


Dengan sigap Anton langsung sibuk untuk memanggil dokter.


Sementara Shanum, dia berusaha menangkap tangan pria itu dengan sisa-sisa tenaganya yang hampir habis terkuras.


"Na--ma putri ki--ta, aku... mau... tau. Na--namanya...." ucap Shanum dengan mata yang sesaat terpejam lalu kembali terbuka.


"Elara?" kata Anton yang menjawab dengan asal sebut, sebab hanya nama itu yang tiba-tiba terlintas dibenaknya.


Mendengar itu, Shanum pun mengangguk samar dengan senyuman yang terlihat puas.


"E--la--ra," kata wanita itu lebih seperti mengeja.


Disaat yang sama, beberapa dokter dan perawat datang dengan panik ke ruangan Shanum. Lantas, langsung memeriksa keadaannya.


Tapi terlambat. Wanita itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah tau nama putrinya yang diberikan oleh Anton.


Dokter menggeleng lemah sebagai isyarat pada Anton. Membuat pria itu membeku ditempatnya dengan perasaan semrawut, kusut dan entah apa lagi.


"Num, Shanum...." Anton menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu, seakan tak percaya dengan yang baru saja dokter katakan.


Perawat pun mulai melepas alat-alat yang tadinya masih terpasang di tubuh wanita itu dengan perasaan yang turut berduka. Bagaimana tidak, Shanum meninggal sesaat setelah melahirkan bayinya. Dia baru saja resmi menyandang status sebagai seorang ibu. Ini sangat menyedihkan.


Dokter mencatat waktu kematian, kemudian meninggalkan Anton yang masih syok dengan kenyataan ini.


Shanum meninggal dihadapannya, sesaat setelah melahirkan putrinya. Shanum bahkan sudah meminta maaf padanya dan memberi isyarat bahwa dia akan meninggalkan Juna.


Jadi, inilah yang dimaksud oleh Shanum. Ternyata wanita itu bukan hanya meninggalkan Juna, tapi dia juga telah meninggalkan semuanya dan sudah menitipkan putrinya untuk diasuh oleh Anton yang menurutnya paling berhak.


Bersambung ....


*****


Note : Shanum merasa Anton belum resmi menceraikannya, gaes, jadi di akhir hidupnya dia berharap meninggal dengan status yang masih sebagai istri dari Anton. Nah, kalau dalam agama (Islam) memang wanita hamil itu gak bisa di talak, jadi talaknya itu gugur atau gak sah. Dalam artian, saat Anton mengusir dan menalaknya waktu itu, Shanum tetap masih sebagai istrinya. Gitulah kira-kira ya. (Koreksi jika salah ya🙏 Othor siap salah, kok ✌️😁) tapi itu dalam agama Islam ya. Kalau dalam agama lain, aku gak tau. Hehehe peace✌️

__ADS_1


Next part? Berikan dukungan terus ya❤️ Author bukan apa-apa tanpa pembaca setia. Absen di komentar yuk, kalian dari kota mana aja? Kalau othor tinggal di Medan.✌️😁 Tempat kalian mendung gak? Disini, hampir semingguan ini mendung terus🤭 jemuran keringnya 2 hari😅😅😅


__ADS_2