
Menjelang sore, Yara sudah tiba di kediamannya. Sambil menenteng sebuah paperbag yang sempat Sky berikan kepadanya. Yara langsung menolak pemberian pria itu, tentu saja. Tapi, Sky mengatakan itu adalah amanah dari sang Mama.
"Apa Tante Indri tau, aku dan Sky kembali dekat sekarang?" batin Yara.
Yara sempat mengenal Indri, dulu dan mereka cukup dekat waktu itu. Yara tau, ibu Sky adalah orang yang baik dan hangat. Tapi, apa beliau akan menerima jika nanti Sky benar-benar memilihnya menjadi seorang istri? Sedangkan sekarang statusnya tidak sama lagi seperti dulu. Apa mungkin jika tau kenyataannya, ibu Sky akan merubah sikap saat bertemu dengannya lagi?
Yara pun menghela nafas berat. Entahlah ia harus bagaimana jika nanti harus benar-benar berhadapan dengan Indri, ibu kandung Sky.
Yara memasuki rumah setelah melihat mobil Sky yang benar-benar telah menjauh. Ia masuk ke kamar yang tadi malam ia tempati--bukan kamarnya bersama Juna.
Yara membersihkan diri dan mengganti bajunya. Setelah itu, barulah ia membuka bingkisan yang dititipkan Mama Sky untuk dirinya.
Yara terkesima saat melihat benda apa yang kini ada dihadapannya. Sebuah cardigan simpel berwarna hitam dari sebuah brand yang terkenal.
"Ya ampun, pasti Tante Indri gak tau deh kalau yang bakal nerima cardigan cantik ini adalah aku... Pasti Sky gak bilang kalau ini buat aku. Pasti ada kesalahan," Yara speechless, tapi ia juga ragu jika ia dihadiahi barang seperti ini.
"Harusnya oleh-oleh yang cocok buat aku itu bukan barang mahal gini. Dapat permen aja udah paling bagus," gumam Yara sambil tersenyum miris.
Sepertinya, ia memang tidak pantas untuk Sky. Seketika itu juga, Yara langsung merasa rendah diri. Yara membandingkan antara dirinya dengan seorang Sky.
Sky itu sama seperti arti dari nama sang pria. Sky itu langit, yang berada diatas, dia begitu tinggi, yang tidak sepatutnya Yara inginkan. Apa iya, Yara bisa meraihnya? Meski Yara yakin jika Sky memang benar-benar mencintainya?!
Sedangkan Yara sendiri, sudah jelas jika ia wanita yang tidak layak untuk pria itu. Jangankan mendampingi, menjadi kandidat saja harusnya sudah paling dulu tereliminasi.
Mengingat hal itu, Yara kembali menyunggingkan senyum miris.
Apa Sky tidak salah telah memilihnya?
Akhirnya, Yara pun menggantung cardigan tersebut di lemari yang ada di kamarnya. Sebenarnya ia tidak tahu kapan bisa mengenakannya.
Sangat disayangkan, Cardigan itu akan dianggap murah jika Yara yang mengenakannya. Sebab, tidak akan ada yang percaya bahwa ia tengah memakai pakaian dari brand yang asli. Lucu sekali. Rasanya Yara ingin mengembalikannya, agar cardigan itu dapat dikenakan oleh orang yang lebih pantas.
Lalu Sky? Apa ia juga akan menganggap Sky sama seperti cardigan itu? Ia pun merasa tak pantas berdampingan dengan pemuda itu, kan? Apa ia juga akan mengembalikan Sky agar sang pria bersanding dengan wanita yang lebih pantas pula?
Yara terkesiap saat mendengar suara mobil yang berhenti didepan rumah kontrakannya. Yara langsung melirik jam yang tergantung di dinding kamar.
"Apa mas Juna udah pulang? Gak biasanya dia pulang tepat waktu," gumam Yara heran. Bagaimana tidak, hampir setahun ini Juna selalu pulang terlambat, paling cepat pria itu akan tiba saat hari menjelang senja.
"Yara?" Terdengar Juna mengetuk-ngetuk pintu rumah.
Mau tak mau, Yara pun bangkit, tidak mungkin ia terus menghindar dari pertemuan dengan Juna sebab merekapun masih tinggal di atap yang sama.
"Sayang?"
__ADS_1
Yara menghela nafas berat saat mendengar kata itu kembali dilontarkan Juna untuk memanggilnya.
Kenapa setelah aku bilang kata pisah, kamu baru mau kembali seperti dulu lagi, Mas? Batin Yara.
Yara membuka pintu rumah dan mendapati Juna yang memasang tampang semringah saat menatapnya.
"Sayang, kamu masih marah?"
Yara menggeleng samar, apa Juna kira kemarahannya hanyalah main-main atau percandaan semata?
"Kita bicara ya. Aku mandi dulu, abis itu kita makan diluar."
Sepertinya Yara tengah bermimpi sekarang melihat sikap Juna yang manis dan sudah lama sekali tak seperti saat ini.
"Kamu siap-siap ya. Aku mau ajakin kamu ke tempat spesial sekalian ngasih kamu kejutan."
Sedikitpun Yara tidak tertarik dan tak mau tau apapun kejutan yang sudah dirancang Juna untuk dirinya.
Yara berlalu tanpa mengucap sepatah katapun pada pria itu.
Juna memanggil-manggil nama Yara sampai merasa lelah sendiri. Tak lama, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.
Saat Juna keluar kamar, Yara masih mengurung diri di kamar yang satunya. Ia jadi gusar, ternyata keinginan Yara untuk berpisah tidaklah main-main, pikirnya.
"Ra, aku udah siap, kita berangkat yuk!" ajaknya merayu sang wanita.
Dalam hati Juna yakin jika istrinya tidak mengetahui siapa wanita yang menjadi selingannya.
"Yara, mau sampai kapan kamu begini? Kita harus bicara...."
Suara pintu terdengar dibuka. Juna tersenyum mendapati istrinya. Akhirnya, Yara mau memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.
"Kita bicara ya," kata Juna kembali membujuk.
"Kalau mau bicara, ya ngomong aja, Mas. Aku kasi kamu waktu lima belas menit dari sekarang."
"Tapi aku mau ngajak kamu makan malam diluar sayang," tutur Juna dengan sangat lembut, sayangnya Yara semakin merasa jengah dengan kalimat pria itu.
"Sekarang, disini, atau gak usah sama sekali," tukas Yara membuat Juna menelan ludah dengan cepatnya.
Juna menarik tangan Yara, ingin membawanya duduk di ruang tv tetapi Yara segera menepis keras tangan Juna.
"Aku bisa jalan sendiri. Aku belum buta," katanya sarkas.
Sekali lagi Juna hanya bisa mengurut dada, menahan sabar melihat sikap dingin istrinya. Ia tahu, Yara begini juga karena kesalahannya.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Ra. Udah buat kamu kecewa."
Juna memulai kata-katanya sementara Yara melipat tangan di dada sambil menatap langi-langit rumah.
"Aku ngaku, aku memang salah. Aku.... aku udah ngehianati kamu," lanjut pria itu lagi.
Yara menyunggingkan senyum sinis. "Terus?" tanyanya.
"Terus, aku mau kamu kasi aku kesempatan, Ra. Aku janji gak akan mengulanginya lagi. Aku mau kita tetap sama-sama."
"Tapi aku gak mau, Mas."
"Kenapa?" Juna berusaha menatap mata Yara tapi wanita itu terus mengalihkan pandangan.
"Aku gak bisa hidup sama seorang penghianat. Selingkuh itu penyakit yang bisa kambuh lagi suatu saat nanti," tegas Yara.
Juna mengusap kasar wajahnya sendiri. "Aku gak akan mengulanginya, Ra. Aku mohon, kasi aku kesempatan sekali ini aja."
"Gak, Mas. Gak ada yang bisa menjamin kamu bakal selingkuh lagi atau enggak."
"Aku yang menjaminnya, Ra."
"Apa? Kamu? Gak salah, Mas? Sedangkan aku aja udah gak percaya lagi sama kamu."
"Tapi, Ra.... aku mohon, Sayang."
Yara mendengkus keras. "Keputusan aku udah bulat, kita pisah, Mas."
"Jangan ambil keputusan disaat hati kamu sedang emosi, Ra. Kamu bakal nyesel nanti!" Juna mencoba memberi Yara peringatan tetapi Yara tetap pada komitmennya.
"Nyesel? Kamu bilang nyesel, Mas? Yang ada aku nyesel udah pernah naruh kepercayaan besar sama kamu!"
Yara bangkit dan hendak meninggalkan Juna saat itu juga.
Tetapi, kembali pria itu berkata-kata.
"Lalu, gimana dengan rumah kita, Ra? Aku udah beli rumah untuk kita, harusnya hal itu yang mau aku jadikan kejutan buat kamu malam ini. Aku mau nunjukin rumah yang udah aku beli sama kamu. Apa kamu tetap mau pisah setelah kerja keras aku dan menabung buat beli rumah impian kita?"
Yara terdiam dan membeku saat Juna melontarkan kalimatnya.
"Ra, aku memang bohong sama kamu soal usaha konveksi itu. Sebenarnya uang tabungannya aku gunain untuk beli rumah kita. Aku terpaksa bohong karena aku berniat ngasih kamu kejutan. Kalau kamu gak percaya, kita bisa ke rumah itu malam ini juga, Sayang!"
Bersambung ....
****
__ADS_1
Aku triple up lagi hari ini yah, guys... jadi, buat kalian yang belum sempat ninggalin like di bab sebelum-sebelumnya, mohon untuk di lihat lagi dan di tekan jempolnya di setiap bab, ya 🙏 Siapa tau ada yang kelewatan✌️😅 Makasih banyak buat yang masih stay baca novel ini. Semoga kita semua sehat terus dan dijauhkan dari segala penyakit.... Aamiin❤️❤️❤️