EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
47. Hal serupa


__ADS_3

Yara bangkit dari posisinya. Karena tak memiliki sesuatu untuk menutupi bajunya yang telah robek, Yara terpaksa membalut tubuh dengan kain penutup sofa yang terpasang disana--syukurnya kain itu memang dipakai untuk melindungi sofa dari debu akibat pengerjaan renovasi rumah.


"Jawab aku, Ra! Kenapa udah dua kali ini aku ngeliat tanda seperti itu di dada kamu?" sentak Juna yang tak kunjung dijawab Yara. "Jangan kasi aku alasan yang sama, bahwa itu alergi karena salep atau cuma digigit semut!" lanjutnya meluap-luap.


Yara menghela nafas singkat. "Iya, ini memang bukan di gigit semut, Mas," tukasnya.


Seketika itu juga Juna terperangah sebab pengakuan Yara.


"Jadi---" Kalimat Juna menggantung di udara, entahlah, mungkin ia telah kehabisan kata-kata. Tak menyangka Yara mengakui begitu saja.


Dalam hati Yara, entah kenapa ia justru bersyukur Juna telah melihat tanda yang ditinggalkan Sky di tubuhnya. Meski Yara jadi harus melihat kemarahan Juna, paling tidak hal itu juga menyelamatkannya dari sikap Juna yang ingin menyentuhnya dengan kekerasan.


Beberapa saat hening, Juna kembali bersuara, sepertinya dia sudah memikirkan kata apa yang harus ia lontarkan kembali pada sang istri.


"Siapa dia, Ra? Siapa yang udah buat tanda itu di dada kamu?"


Yara tak menjawab, ia beranjak menuju pintu keluar, masih dengan membalut tubuhnya seperti semula.


"Jawab aku, Ayara!!!!" pekik Juna tidak sabaran.


Berbeda dengan Sky, bila marah, barulah Juna berani menyebut nama Yara dengan panggilan demikian.


Yara hanya menoleh sekilas untuk menjawab pertanyaan suaminya.


"Kamu gak perlu nanya soal itu, Mas. Karena akupun gak pernah menanyakan sama kamu, siapa wanita yang menjadi selingkuhan kamu!" tukas Yara dengan sangat tenang.


Juna menghampiri posisi Yara dengan langkahnya yang jenjang. Demi apapun, ia harus segera mengetahui jawabannya, siapa pria yang dengan berani menyentuh miliknya, bahkan dengan terang-terangan meninggalkan jejak seperti ini seakan menantangnya?


Pria ke pa rat mana yang mempunyai nyali hingga dengan sengaja melakukan ini, meninggalkan tanda seolah memang berniat agar Juna melihatnya?


Bahkan, Juna sendiri yang telah lama berselingkuh dengan Shanum pun, tak pernah membuat jejak yang sama di bagian tubuh wanita itu. Tentu saja demi menyamarkan hubungan gelap mereka supaya tidak ada yang mencurigainya, terutama Anton.


Tapi yang ditinggalkan di tubuh Yara ini, apa? Sengaja agar ia curigai, begitu?


Kenyataan macam apa ini? Ternyata Yara juga telah mengkhianatinya.


"Jawab aku, siapa orangnya, Ra!!" Emosi Juna tidak bisa dikendalikan lagi.


"Kalau aku tanya sama kamu, siapa yang jadi selingkuhan kamu, apa kamu bisa jawab, Mas?" tanya Yara dengan senyum sinisnya.


Juna mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Demi apapun sekarang ia merasa sangat ingin mele dak.

__ADS_1


Jika Shanum yang berhubungan dengan Anton saja dia akan merasa cemburu, apalagi jika Yara yang melakukan hal itu dengan pria lain? Bukankah disini Juna yang menjadi suaminya?


Juna amat marah karena merasa miliknya telah diganggu orang lain. Bukankah Yara itu miliknya?


Tapi, Juna tidak sadar bahwa dirinya sendiri juga telah mengganggu milik orang lain. Shanum milik Anton, kan?


"Breng sek!" umpat pria itu, ia menendang pintu sekuat yang ia bisa. Menimbulkan suara benturan yang cukup keras.


"Dasar wanita murahan! Beraninya kau bermain dengan pria lain dibelakang ku!"


Yara tertegun dengan hinaan pria yang masih berstatus suaminya itu. Padahal Juna juga melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah, tapi bisa-bisanya dia mengatai Yara seakan dia makhluk tersuci didunia. Apa Juna lupa dosanya sendiri?


"Aku pikir kau wanita baik-baik yang polos, nyatanya kau sama saja! Pe la cur!" Juna tersenyum miring diakhir kalimatnya. Matanya mengisyaratkan kemarahan yang besar juga ada kekecewaan yang mendalam disana.


Saat itu juga, bendungan air mata tak dapat lagi Yara tahan. Tangisnya pecah, bersamaan dengan perkataan Juna yang menyesakkan dadanya.


Jadi, Yara berani membantahnya bukan hanya karena penghianatan yang Juna lakukan, melainkan karena ada pria lain yang mempengaruhi sang istri.


Begitupun soal perpisahan, Yara tidak sepenuhnya mau berpisah jika dia tidak memiliki pria lain. Karena pria itulah maka Yara bersikukuh untuk berpisah dengannya. Kenapa? Karena sejatinya Yara memang mau meninggalkannya demi pria itu.


Maka, penghianatan yang Juna lakukan dimanfaatkan Yara sebagai alasan untuk bercerai, agar hanya Juna yang disalahkan.


Begitu lah pemikiran Juna yang dangkal.


Mendengar Yara yang lagi-lagi meminta perceraian, tangan Juna langsung beranjak naik, untuk pertama kalinya ia sangat ingin memukul pipi Yara karena kekecewaannya pada wanita itu. Akan tetapi, secara tiba-tiba kilas balik mengenai track record kesalahannya pada sang istri mulai terlintas di benak diri.


Di detik yang sama, Juna sadar bahwa ia juga bersalah, bukan hanya Yara saja.


Secara perlahan, Juna menarik turun tangannya kembali, ia tak jadi menghadiahi Yara dengan sebuah kekerasan. Lagipula, ia yakin akan menyesal jikapun nanti berhasil memukul wanita yang ada dihadapannya ini.


Yara yang sudah bersiap menerima pukulan itu, harus terkesiap ketika ponselnya berdering disaat yang sama.


Nama Irna tercantum dalam layar ponsel, Yara segera menerima panggilan itu, tak peduli tanggapan Juna yang seakan menatapnya penuh selidik, seolah ingin tahu siapa yang kini menghubunginya.


"Ya, Hallo, Mbak?" jawab Yara berusaha biasa saja walau pipinya sudah banjir airmata.


"Ra, kamu dimana? Kenapa tadi gak datang ke kerjaan barunya?"


Yara baru ingat jika kemarin malam-- Irna sudah mengirimkannya sebuah alamat dimana Yara seharusnya bekerja hari ini. Tetapi, Yara jadi lupa untuk datang kesana setelah pagi tadi menerima telepon dari Anton yang mengatakan bahwa Shanum masuk Rumah Sakit.


"Maaf, Mbak. Aku kelupaan. Gimana ya, mbak?" jawab Yara sungkan.

__ADS_1


Sedikit banyak, masalah yang menimpa rumah tangganya, membuat Yara jadi tidak fokus sampai melupakan janjinya dengan Irna hari ini.


"Owalah, Ra. Ya udah, tadi memang harusnya masih pengenalan tempat aja, sih. Kalau gak bisa harusnya kamu ngabarin aku, toh. Jadi kapan kamu bisa, Ra?"


"Nanti aku kabarin lagi ya, Mbak. Aku lagi ada urusan sedikit. Maaf ya mbak, aku jadi gak enak sama kamu Mbak."


"Wis, gak apa-apa. Aku tunggu kabar kamu ya. Kalau bisa secepatnya jadi kerjaannya gak diambil alih sama orang lain."


"Iya, mbak. Makasih banyak lho, mbak."


"Sama-sama."


Yara pun memutus panggilan itu, akan tetapi ia sadar bahwa sedari tadi Juna menatapinya dengan seksama, pasti pria itu juga menguping pembicaraannya bersama Irna.


"Siapa?" tanya Juna akhirnya. Suaranya sudah mulai melembut. Aura diwajahnya juga tidak semarah tadi.


"Mbak Irna."


"Mau apa dia?"


"Bukan urusan kamu."


"Apa dia yang ngajarin kamu buat main-main di belakang aku?"


"Jangan mencari orang lain untuk kamu jadikan luapan kemarahan, Mas. Termasuk aku. Baiknya kamu berkaca, sadari dulu kegilaan kamu, baru kamu bisa menyalahkan orang lain."


Setelah mengucapkan itu, Yara benar-benar berlalu dari hadapan Juna. Tidak peduli bagaimana penampilannya yang sangat kacau sekarang, ia hanya ingin menjauh dari pria itu. Meskipun ia tidak mendapat kepastian dari Juna soal perpisahan mereka.


Bagi Yara, Juna bukanlah rumah untuk ia pulang dan kembali. Juna hanya persinggahan yang tidak akan pernah ia kunjungi lagi.


"Arrggghh!" Juna meninju udara setelah kepergian Yara.


Tamparan yang paling sakit bagi pria itu adalah sebuah pengkhianatan yang juga dilakukan Yara terhadapnya.


Apa ini balasan yang setimpal untuk dia? Dengan kata lain, ini adalah karma yang datang menghampiri kehidupannya?


Jika hal ini sangat menyakitinya, lalu bagaimana dengan perasaan sang istri yang juga merasakan hal serupa akibat perbuatannya?


Bersambung ...


******

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk karya ini. Tinggalkan komentar, vote, hadiah, dan jangan lupa untuk tekan jempol di setiap bab nya🙏💚


__ADS_2