
Anton mengerjapkan matanya, sadar jika kini ia tidak berada di tempat yang familiar. Ini adalah ruang yang asing untuknya, tentu bukan kamar atau ruang lain yang ada didalam kediamannya sendiri.
Anton juga tau jika saat ini kondisinya dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat. Kenapa? Terlibat dengan siapa dia hingga bisa berada dalam keadaan seperti ini?
Ruangan ini gelap, hanya ada seberkas cahaya dari sela-sela kusen jendela yang tertutup. Tapi, Anton menyadari jika saat ini dia sedang menduduki sebuah single sofa yang lumayan empuk.
Hhh ....
Sebuah suara dengkusan pelan-- terdengar di pendengaran Anton. Pria itu otomatis melihat pada pintu yang baru saja terbuka, disusul oleh dua orang yang masuk tapi juga tampak asing di penglihatannya.
"Udah bangun, lo?"
Salah seorang pria dengan tubuh besar tambun mulai bersuara saat menyadari jika Anton sudah membuka matanya.
Anton berusaha tetap tenang, otak kanannya langsung memutar memori dengan cepat, seolah ingin mengembalikan ingatannya mengenai apa peristiwa sepintas yang sempat terlewatkan-- hingga akhirnya Anton harus berakhir dalam ruangan gelap seperti ini. Anton ingin mendapatkan penyebab--kenapa ini bisa terjadi?
Perlahan, Anton mulai mengingat sebuah kata kunci. Lucky. Ya, ia ingat betul jika momen terakhirnya adalah bersama dengan pria itu.
Sekarang, otak kirinya pun turut berpikir cepat--seolah bekerja lebih keras daripada biasanya untuk memikirkan strategi apa yang harus dia jadikan alibi agar dapat mengelabui dua orang didepannya yang ia yakini bertugas sebagai penjaga ini.
"Lo gak usah banyak mikir, disini lo gak akan di apa-apain sama si bos. Ini supaya istrinya si bos balik aja," kata penjaga yang satunya.
Anton mengernyit heran. Tapi intuisinya cukup tinggi sehingga ia tau niat utama Lucky menyekapnya hari ini.
Yang dipikirkan Anton sebenarnya hanyalah putrinya, ia ingin cepat keluar dari sini sebab dia khawatir dengan Baby Elara. Mungkin karena terlalu menyayangi bayi itu, padahal Baby Elara pasti aman bersama Yara.
Soal Nadine, Anton juga khawatir dengannya. Anton tidak tau dimana keberadaan wanita itu. Tapi, jika memang dengan cara Lucky menyekapnya seperti ini dapat membawa Nadine kembali kesini dalam keadaan sehat, maka Anton ikhlas dengan situasi ini.
Kedua orang penjaga itu menyingkir perlahan saat suara jentikan jari terdengar. Disusul sebuah siluet yang perlahan muncul dalam ruangan minim cahaya tersebut.
Lucky sudah berada didepan Anton sekarang, dengan santai dia menggulung lengan kemejanya satu persatu. Dia melirik Anton yang juga tengah menatapnya tajam.
Sebuah sunggingan meremehkan, kembali terbit disudut bibir Lucky. Ia menggeleng samar, kemudian menatap pada dua orang penjaga yang masih berada disana.
"Kalian boleh keluar," titahnya pelan pada kedua orang itu.
Lucky berjalan mendekat ke arah Anton setelah anak buahnya beranjak dari ruangan yang sama.
Lucky kini berdiri tegak dengan melipat tangan dihadapan Anton yang terduduk. Seolah mau menunjukkan bahwa dia lebih tinggi dan berkuasa, sementara Anton sebaliknya, bukan siapa-siapa.
"Oke, aku yakin tubuhmu itu masih cukup kuat untuk menunggu disini sampai Nadine benar-benar kembali."
Anton masih diam, dia menyimak lamat-lamat apa perkataan Lucky yang sudah tak berkata formal.
"Tapi, kita buat perjanjian dulu."
__ADS_1
"Apa yang kau mau?"
"Berjanjilah untuk tidak mengganggu Nadine lagi setelah ini. Dia akan kembali denganku ke Singapore tanpa bayang-bayang seorang sepertimu. Huh?"
"Apa untungnya bagiku?" tanya Anton dengan nada tak minat.
"Kau ku lepaskan dari sini hidup-hidup," ujar Lucky dengan senyuman miring setelahnya.
"Kalau aku menolak dan hanya tetap berteman dengan Nadine?"
"Berteman?" Lucky mengernyit tapi hanya sesaat, sebab kemudian dia tertawa sumbang. "Hahaha, kau bilang berteman? Impossible," tukasnya.
"Jika Nadine ingin berpisah darimu dan menginginkan sebuah kebahagiaan, kenapa kau tidak menurutinya?"
"No ... no ... kau mau bernegosiasi denganku dengan membicarakan hal itu? Kau pikir hatiku akan tersentuh? No! Aku tidak senaif itu, Anton. Aku sangat mencintai istriku!"
"Tapi ku dengar kau menikah lagi," jawab Anton yang kini juga menyunggingkan senyum meremehkan ke arah Lucky.
Kali ini, Lucky terdiam atas jawaban Anton.
"Didunia ini, tidak semua yang kau mau harus kau dapatkan. Ada hal-hal yang harus kau relakan, agar kau bisa belajar apa itu ikhlas."
"Kau pikir ceramahmu itu bermakna? Itu terdengar lucu di telingaku saat kau menasehati aku!"
"Hanya orang-orang yang breng sek yang tidak mau mendengar nasehat!"
Anton mengendikkan bahu. "Terserah kau saja, kita tunggu Nadine kembali. Itupun jika dia memang mau."
"Dia pasti kesini setelah tau kau ku sekap!"
Anton hanya mengembuskan nafas panjang. Dia tidak terlalu yakin jika Nadine benar akan kembali kesini karena mengetahui tentang penyekapan ini.
"Kalau kau tidak mematuhi perjanjian kita, maka kau tak akan keluar dari sini dengan kondisi yang sama."
"Jadi kau mau aku menyetujui perjanjian itu?" tanya Anton.
"Tentu saja!"
"Sayangnya aku tidak mau. Aku juga mencintai istrimu!"
"Huh?" Lucky tercengang sejenak demi mencerna pengakuan Anton barusan. "Dasar breng sek!" umpatnya kemudian.
"Kita sama!" ujar Anton dengan senyum mengejek. Ia mengingatkan lagi bahwa tadi Lucky sempat mengakui jika diapun memiliki sifat tersebut.
Seperti kesetanan, Lucky menghantam tubuh Anton dengan seluruh tenaga yang dia punya. Dia emosi mendengar jika Anton juga mencintai istrinya. Fakta ini membuatnya semakin kalut dan takut kehilangan Nadine sebab itu artinya perasaan Nadine terhadap Anton dibalas dengan rasa yang sama pula. Lucky merasa kalah.
__ADS_1
Jika dengan memukuli Anton sampai babak belur bisa memusnahkan perasaan sakit dihatinya-- maka ia akan terus melakukannya.
Suara pukulan, benturan dan tendangan keras terdengar di ruang kosong yang menggema itu. Tentu Anton tak dapat membalas sebab kondisinya yang terikat di sofa itu.
"Haha ... kelakuan si breng sek, memukuli breng sek lain yang dalam keadaan terikat. Apa kau juga pecundang?" cibir Anton dengan tawa hambar.
Mata Lucky membola, bahkan mulut Anton sudah terlihat mengeluarkan darah sekarang tapi bisa-bisanya dia masih mengejek Lucky.
"Dasar pengecut!" kata Anton lagi. "Jika kau benar-benar petarung, jangan memukuli orang dengan keadaanku yang terikat seperti ini. Memalukan!" sarkas Anton diselingi dengan kekehan kemudian.
Lucky kesal sekali dengan perkataan Anton. Dia melihat sebuah balok kayu ada disana dan mengambil itu untuk di hujam ke wajah Anton yang memasang raut menyebalkan seakan terus mengejeknya.
"Bahkan jika aku mati ditanganmu hari ini, Nadine akan tetap mencintaiku dan membencimu seumur hidupnya!" teriak Anton saat Lucky hampir memukulnya dengan balok.
Prak!
Lucky akhirnya menyerah, dia melempar balok kayu itu ke lantai, tak jadi mendaratkan pukulan pada wajah Anton yang membuatnya emosional. Sebab, perkataan Anton ada benarnya, ia tidak mau Nadine semakin membencinya nanti.
Lucky akhirnya terduduk di lantai dengan bahu berguncang. Ia seakan tersadar. Salah, semua cara yang dia lakukan untuk membuat Nadine kembali nyatanya adalah kesalahan. Bukan Anton yang menyebabkan Nadine pergi, tapi karena kelakuan Lucky sendiri. Bukan Anton yang membuat Nadine meminta perceraian, tapi karena Lucky yang telah memberi rasa sakit yang besar terhadap wanita itu.
"Jika kau sudah puas meluapkan amarahmu padaku hari ini. Maka biarkan aku pulang. Aku punya seorang bayi yang membutuhkan aku."
Lucky melirik sekilas pada pria yang sudah dalam keadaan babak belur itu. Mendadak ia merasa kelakuannya sangat keterlaluan.
Lucky bangkit dari duduknya, masih dengan nafas yang memburu karena masih lelah bergelut dan menyerang Anton tanpa ada perlawanan sebab pria itu dalam keadaan tak mampu membalas.
"Aku ganti perjanjiannya..." ujar Lucky menatap Anton dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa?" respon Anton.
"Jagalah Nadine jika dia kembali ke kota ini! Kau ku lepaskan."
Lucky mengulurkan tangan pada pria dihadapannya. Anton tersenyum tipis dan menjabat tangan pria itu.
"Aku anggap ini impas karena kau sudah memukuliku tanpa bisa ku balas," tutup Anton.
Bersambung ....
Next?
Komen✅
Ah iya, mampir ke novel terbaru othor, yuk. Kisah anaknya Sky dan Yara.
Judulnya : Tetangga Meresahkan.
__ADS_1