EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
141. Thailand


__ADS_3

Kilasan-kilasan masa lalu saat pertama kali Nadine bertemu Anton waktu pria itu menolongnya dari tragedi mobil mogok di tengah hujan badai--mulai melintas di kepala Nadine bagai film dokumenter yang diputar secara berurutan.


Pertemuan kedua mereka--di bengkel mobil-- yang berakhir pada sebuah perkenalan singkat. Hingga perkenalan itu menemukan jalannya sendiri dengan alur yang sudah ditentukan.


Bayi yang lahir tanpa ibu, lalu Anton memberikan nama belakang Nadine sebagai nama putrinya. Kemudian, mengantarkan mereka pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang justru membuat keduanya jadi semakin mengenal diri satu dengan lainnya.


Mengenal, akrab dan mulai terbiasa. Merasa kehilangan pada momen yang menyebabkan keduanya tak bisa bertatap mata. Urung mengungkapkan rasa, hingga berakhir pada sebuah pengakuan yang justru memisahkan.


Tidak sampai disitu, Anton bahkan harus berdarah-darah, bahkan babak belur, sebab kepergian Nadine juga berimbas pada kemarahan mantan suaminya terhadap pria itu.


Bisa dibilang singkat, namun usaha yang dilalui bukan main-main. Tapi tak ada yang sia-sia. Semua itu berujung bahagia.


Nadine merasa beruntung mengingat seseorang yang kini tengah menggenggam tangannya. Kepala pria itu sedikit mengadah ke atas dengan mata yang terpejam dan punggung yang disandarkan di sandaran kursi pesawat. Nadine mengagumi wajah tampan itu dalam diam dan mematut senyum sendirian.


Ya, saat ini mereka sedang dalam perjalanan udara untuk menuju Thailand.


Tak main-main, Sky dan Yara benar-benar berniat menyuruh Anton dan Nadine untuk bulan madu, bahkan telah menyiapkan tiket dengan waktu keberangkatan di hari yang sama dengan hari pernikahan mereka.


Tiket itu di pesan pada penerbangan terakhir di tanggal yang sama. Menyebabkan Anton dan Nadine harus meninggalkan resepsi pernikahan mereka kendati itu belum selesai sepenuhnya.


Bisa dibayangkan betapa lelahnya pasangan pengantin itu? Mereka bahkan belum sempat tertidur atau merentangkan tubuh di kasur empuk.


Anton ingin protes, tentu saja. Tapi, dia cukup menghargai usaha adik dan iparnya yang tidak mau mereka berubah pikiran hingga menyebabkan gagalnya kepergian untuk berbulan madu.


Tidak cukup hanya mengangumi pemilik wajah dingin itu--- kini tangan Nadine mulai terulur, ia ingin menyentuh rahang tegas sang pria yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang sangat membuatnya penasaran.


Namun, Anton menggeliat pelan sebelum tangan wanita itu sampai di sisi wajahnya.


"Ngh ..." Anton membuka matanya dan tatapannya langsung bersirobok dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


"M--mas?" Nadine gelagapan, dia tertangkap basah sedang memperhatikan gerak-gerik pria yang tadinya tidur itu.


"Kamu gak tidur, Nad?"


"Enggak, Mas."


"Gak ngantuk? Gak capek?"


"Ya capek dan ngantuk juga."


"Terus, kenapa gak tidur?"


"Aku gak bisa tidur kalau keadaannya kurang nyaman, Mas."


Anton menipiskan bibir. "Kamu mau baring, ya?" tanyanya menebak.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sabar, ya, bentar lagi kita nyampek, kok." Anton mengacak gemas rambut Nadine.


Nadine terpana akan kelakuan Anton ini. Tapi kemudian dia mengangguk kembali atas ujaran sang pria.


...~~~...


Sesampainya di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. Kedatangan Anton dan Nadine sudah ditunggu oleh pihak tour guide yang juga sudah disediakan oleh adik iparnya. Sky memang yang terbaik, dia sudah memikirkan dan menyiapkan segala akomodasi dan transfortasi untuk keperluan mereka--selama Anton dan Nadine berada di Negeri Gajah Putih tersebut.


Anton dan Nadine berkenalan dengan seorang pria yang menjemput keduanya.


"Saya Aroon, yang akan membantu Bapak dan Ibu selama berada di Thailand." Pemuda seumuran Sky itu mengulurkan tangan kepada sepasang pengantin baru itu.


"Saya Anton dan ini istri saya, Nadine."


"Nadine," sahut wanita itu dan ikut berkenalan dengan Aroon.


Aroon adalah Warga Negara Thailand. Meski begitu, dia juga mahir berbahasa Indonesia, Mandarin dan Inggris.


"Selamat datang disini, Pak. Semoga bulan madu anda dan istri akan menyenangkan."


Aroon bahkan membantu Anton membawakan koper dan mengangkatnya ke mobil yang dia bawa.


"Yup. Ini pekerjaan saya," ujarnya profesional.


Mobil yang dikendarai Aroon, mengantarkan mereka pada sebuah hotel berbintang, Kimpton Maa-Lai Bangkok.


"Ini adalah kamar untuk anda, Pak. Silahkan hubungi saya kembali apabila sudah ingin berjalan-jalan. Selamat beristirahat." Aroon berpamitan setelah mengantarkan pasangan pengantin baru itu ke depan pintu kamar hotel mereka.


"Sekali lagi, terima kasih Aroon."


Pria muda itu mengangguk, lantas berderap pergi dari hadapan Anton dan Nadine.


"Ayo, masuk!" Anton menggenggam tangan Nadine sesaat setelah dia membuka pintu kamar mereka.


Penampakan pertama ruang yang menjadi kamar mereka itu adalah nyaman.


Desain kamar yang bagus. Suite room. Sama seperti kamar hotel pada umumnya, ada tv kabel/satelit, pendingin ruangan, kamar mandi yang nyaman dan disertai ruang makan pribadi.


Fitur ruangan sangat terstruktur. Tirai kedap cahaya dan pastinya kamar yang kedap suara. Hmm ...


"Mau aku buatin kopi, Mas?" tanya Nadine berbasa-basi. Dia menuju meja dimana ada mesin pembuat kopi terletak disana. Sejujurnya, Nadine masih gugup luar biasa karena sebentar lagi dia akan bersama dengan Anton di tempat tidur yang sama.


Membayangkan itu rasanya Nadine langsung bingung luar biasa. Dia mendadak linglung. Padahal ini bukan pertama kalinya bagi dia. Tapi, bersama Anton dan berada hanya berdua saja memang baru sekarang ini.

__ADS_1


"Aku gak mau kopi, aku maunya yang lain, Nad."


"A-apa?" Nadine menggigit bibirnya. Dia pikir Anton akan beraksi sekarang juga. Apalagi ucapan Anton terdengar sangat ambigu. Apa itu 'mau yang lain'?


"Iya, aku mau mandi dulu. Gak enak langsung ngopi atau tidur sementara dari Indonesia langsung diburu-buru disuruh terbang ke Thailand."


Hhh ... Nadine menghela nafas dalam.


"Ya udah, mandi dulu deh, Mas. Ntar gantian."


"Gantian?"


"Iya. Terus?"


Anton terkekeh. Entah apa maksud kekehan itu. Sampai akhirnya, Anton bergerak menuju letak kamar mandi. Disaat itulah Nadine menghela nafas lega.


Nadine mencari koper mereka dan membuka isinya. Disana dia mencari pakaian ganti untuk pria yang sudah menjadi suaminya.


Beberapa kali wanita itu menggaruk kepala. Bingung. Haruskah ia juga menyiapkan dal@man untuk Anton? Hah?


"Nad?"


Suara Anton terdengar berseru dari ambang pintu kamar mandi.


"Ya, Mas?" Nadine menoleh, tapi bersamaan dengan itu kepala Anton muncul disana. Meski hanya melihat wajah pria itu saja, tapi entah kenapa wajah Nadine langsung memerah.


"Aku lupa bawa sikat gigi. Boleh tolong ambilkan di koper?"


"Ng--- iya, iya, Mas. Sebentar aku carikan."


Nadine segera mencari benda itu dan mendapatkannya dengan cukup mudah.


Mau tak mau Nadine menghampiri pintu kamar mandi dimana kepala Anton masih menyem-bul disana.


"Ini, Mas."


Nadine menyodorkan sikat gigi milik Anton tetapi bukan menyambut sikat giginya, pria itu malah menarik Nadine untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas!!!" Nadine memekik tertahan akibat perlakuan me sum suaminya.


Bersambung ...


Nanti kalo gak repot, aku up sekali lagi💚 Tetap dukung karya ini ya. dukungannya makin berkurang nih😭 tapi makasih banyak yang masih tetap baca ya 🙏🙏❤️❤️❤️ love kalian semua.


Baca juga kisah-kasih anaknya Skyara. Di judul baru : TETANGGA MERESAHKAN. Cek profil aku ✅

__ADS_1


__ADS_2