
Sementara disisi lain, hari ini Sky dan Yara juga terbang menuju Nusa Tenggara Timur. Mereka akan berbulan madu di Labuan Bajo.
Kawasan Labuan Bajo adalah gugusan pulau yang dikelilingi oleh pantai-pantai yang menakjubkan. Salah satunya adalah Pantai Merah atau lebih dikenal dengan nama Pink Beach. Pantai ini berada di kawasan Taman Nasional Komodo.
Disini, pasir pantainya sangat unik dengan warna merah muda yang membuat pemandangannya semakin cantik.
Fenomena pantai dengan pasir pink ini adalah daya tarik tersendiri karena tidak semua pantai bisa seperti ini. Kabarnya, hanya ada tujuh pantai di dunia yang mengalami fenomena yang memang jarang terjadi ini.
Warna pink tersebut berasal dari hewan mikroskopis yang memberikan warna merah pada terumbu karang. Serpihan terumbu karang yang terkena ombak ini kemudian larut bersama air laut dan menyatu dengan pasir putih sehingga memberi warna merah muda pada pasir pantai.
Saat Sky dan Yara tiba disana, mereka langsung disambut oleh pemandangan pantai yang sangat indah serta angin semilir yang terasa menyejukkan.
Tidak sekalipun Sky melepaskan tautann tangannya di jemari Yara. Seolah bernafas lega sekaligus bersyukur dapat mengunjungi tempat itu bersama orang yang paling tepat menurut versi dirinya.
"Sayang, makasih ya udah ajakin aku kesini. Kalau gak sama kamu... mungkin aku gak akan pernah bisa kesini, cuma bisa lihat dari televisi doang," kata Yara disertai tawa kecilnya.
Sky tersenyum tipis. "Aku juga gak akan pernah kesini kalau gak sama kamu," paparnya.
"Kok, gitu?"
"Kan impian aku sama kamu. Kalau gak sama kamu ngapain aku kesini, mending aku kerja," jawab sang pria sembari mengendikkan bahunya tak acuh.
Mendengar itu, Yara pun bergelayut di lengan Sky, merasa itu adalah salah satu bagian ternyaman sebagai sandarannya. Sky tersenyum dan mengusap rambut panjang istrinya yang meriap-riap diterpa angin Pantai.
Mereka berdua kembali berjalan menyusuri pesisir pantai dengan suasana romantis itu.
Sampai disatu sisi, Sky menghentikan langkahnya, mengajak Yara duduk di pinggiran air dan bermain pasir disana. Dia membuat sebuah tulisan dimana kedua nama mereka disandingkan.
Skyara.
Membuat Yara menyunggingkan senyum khasnya dan tertawa lebar kala tulisan itu terhapus oleh sapuan ombak yang lewat.
"Berenang?" ajak Sky, meski dia tau Yara tidak dapat melakukan kegiatan itu.
"Aku gak bisa."
"Bisa. Kan, ada aku," ujar Sky meyakinkan istrinya.
Sky menarik perlahan tangan Yara kemudian mengajaknya ke tengah air yang tidak terlalu dalam, membuat sebagian pakaian Yara basah, sedangkan Sky--memang sejak awal hanya mengenakan celana pendek sambil ber-te-lan-jang dada saja.
Disana, Sky menunjukkan bagaimana caranya berenang dan memberitahu Yara tekniknya, tapi Yara tetap menggeleng sebab tak memiliki keberanian untuk mempraktekkannya.
__ADS_1
Akhirnya Yara hanya melihat Sky berenang mengelilingi dirinya sembari menikmati pemandangan yang ada.
Dalam hati Yara sungguh amat bersyukur dengan kebersamaannya dengan Sky. Ia tidak mau kehilangan pria ini. Pria yang memperlakukannya dengan sangat baik, pria yang paling menginginkannya dan menganggapnya berharga meski ia tidaklah sempurna.
"Sky, aku harap aku bisa mendampingi kamu selamanya. Jikapun umur tidak berpihak pada kita dan salah satu diantara kita harus pergi lebih dulu, aku berharap aku lah yang lebih dulu meninggalkan kamu... karena jika kamu yang meninggalkan aku, aku gak akan sanggup untuk melihat hari esok tanpa kamu lagi." Yara membatin, ia memandang Sky dengan serius.
Pria itu mengernyit dan menyudahi sesi berenangnya. "Kamu mikirin apa, Sayang?" tanyanya.
"Gak ada, aku cuma mikirin gimana caranya membahagiakan kamu."
Sky menangkup pipi Yara, membuat wajah istrinya basah karena sentuhannya. "Caranya cuma satu, jangan pernah berpikir untuk ninggalin aku. Selama kamu disamping aku pasti aku bahagia," tandasnya.
"Makasih ya, Sayang. Aku salah satu wanita yang beruntung punya seseorang seperti kamu."
Sky memeluk Yara ditengah-tengah air pantai yang mengelilingi mereka. Ia juga merasa beruntung karena akhirnya Yara adalah jodohnya. Jodoh yang ia perjuangkan meski harus menguras hampir sebagian kewarasannya.
Sekarang Yara sudah ia miliki, Sky tidak mau kehilangannya, karena jika itu sampai terjadi maka sisa kewarasannya yang tinggal sedikit itu--ia khawatirkan akan habis seluruhnya.
"Kamu capek?"
"Belum."
Sky tersenyum, awalnya dia ingin mengajak Yara snorkeling dan diving, tapi menyadari ketidakmampuan istrinya untuk hal itu, maka Sky masih punya banyak opsi untuk menikmati masa kebersamaan mereka ini.
"Ayo kita hunting foto."
Yara pun mengangguki ajakan suaminya.
Ya, mereka pun naik ke atas Bukit. Lokasi ini memang sangat cocok untuk mereka yang ingin mengagumi keajaiban laut Pulau Komodo dari atas.
Sky memotret Yara dan juga mengarahkan gayanya. Tak lupa, mereka juga berfoto bersama dengan meminta bantuan pengunjung lain yang kebetulan lewat.
Seolah mau menunjukkan kemesraan mereka didepan kamera, tak jarang Sky berpose sembari merangkul dan mencium pipi istrinya.
Sampai akhirnya mereka merasa kelaparan lagi-- padahal tadi mereka sempat makan sebelum tiba di Pink Beach.
Mereka memutuskan bersantai dan menikmati makan siang yang kesorean disana.
Hal yang membuat Yara sangat menyukai pantai meski tak bisa berenang adalah selain pemandangannya yang bagus, juga karena adanya makanan laut yang dia suka.
Seperti yang sudah-sudah, Sky selalu dengan sukarela membantunya untuk memakan hidangan laut. Bahkan kali ini lebih parah, Sky juga turut menyuapi Yara dan membiarkan istrinya makan dari tangannya.
Dengan senang hati Yara menikmatinya. Not bad. Ini menyenangkan dan mesra, pikir wanita itu.
"Kamu tau gak, makan dari suapan aku itu bayarannya mahal, Sayang."
Yara memicing pada suaminya sekarang. Mendengar ucapan Sky membuat perasaannya agak was-was dan deg-degan.
"Emang kamu mau di bayar berapa, sih?" tanya Yara sok-sokan, dia hanya mau tau saja apa jawaban Sky saat ditanyainya seperti ini.
__ADS_1
"Tapi kamu bayarnya harus full, enggak boleh dicicil."
Yara menatap Sky yang memasang senyuman penuh arti. "Hmm, apa lagi sekarang?" tanyanya harap-harap cemas.
"Full servis, semalaman." Sky mengerling pada sang istri, membuat Yara memejamkan mata rapat-rapat.
"Emang sanggup?" tanggap Yara yang malah bertanya seolah memberi tantangan pada suaminya itu.
"Oh, kamu nantangin aku? Kamu lihat aja nanti, ya!" ujar Sky penuh ancaman.
Yara melotot sekarang, dia menyesal dengan ujaran terakhirnya.
"Kalau gitu, aku suap sendiri aja deh."
"Gak bisa, udah deal tadi."
"Mana ada!" kilah Yara.
"Ada kok, buktinya kamu nantangin aku."
Glek... Yara menelan salivanya dengan berat.
"Yah, aku pikir tadi kamu minta bayarannya pake uang, aku mau bayar kamu pake uang, kan aku udah punya suami tajir dan royal," kata Yara sambil tersenyum geli.
"Itu namanya sama aja bohong, masa aku bayar diri aku pake uang aku sendiri." Sky menghela nafas berat.
"Ya, makanya aku suap sendiri aja, enggak jadi disuapin."
"Gak bisa sayang, ini udah terlanjur dan kamu harus bayar dengan full servis semalaman."
Yara menganga, mau jadi apa dia jika itu benar-benar terjadi. Melihat itu, Sky malah memasukkan satu suapan makanan ke dalam mulut Yara yang terbuka untuk membungkam bibir istrinya.
"Besok kamu mau kita keliling kemana?" Sky kembali menanyai Yara yang mulai mengunyah makanannya lagi.
"Gak ada, di resort aja."
"Kok gitu sih kamu." protes Sky.
"Ya, kalau kamu beneran minta full servis semalaman, besok pasti aku remuk redam. Jadi di kamar aja."
Sky tersenyum tengil. "Gak masalah, sih!" katanya penuh maksud.
"Ya, tapi bukan berarti kamu jadi bebas gangguin aku, biarin aku istirahat, ya."
"Berarti full servisnya jadi, kan?"
"Iya, ntar aku beliin kamu kuota yang full servis sampai akhir bulan."
"Kok kuota sih, sayangg....." Sky merengek seperti anak kecil. Sepertinya dia lupa pada umurnya membuat Yara akhirnya jadi tertawa karena sikap suaminya yang sering akward dan diluar prediksi.
__ADS_1
Bersambung ....
Dukung terus ya karya ini. Othor mau up 1 bab lagi nanti. Tinggalkan komentar gaes🥰