EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
146. Buy one get one


__ADS_3

Kepulangan Anton dan Nadine ke tanah air, disambut hangat oleh Sky dan Yara yang sudah menunggu mereka di rumah. Ya, karena keadaan Sky yang masih radang tenggorokan, akhirnya pasangan pengantin baru itu hanya dijemput oleh Fandi di Bandara.


"Pengantin baru wajahnya cerah banget!" Yara semringah dan memeluk Nadine yang tampak bugar. Jelas saja, olahraga malam terus, pikir Yara yang justru membuatnya terkikik.


"Kenapa kamu ketawa terus, dek?" tanggap Anton yang melihat mimik jenaka dipasang oleh adik perempuannya itu.


"Gak, Mas. Gak apa-apa." Yara berkilah, tak mungkin dia mengatakan apa yang ada dipikirannya saat ini, dia bisa dikatakan sedang berpikir jorok sekarang.


"Mana Elara? Mas kangen banget sama dia."


"Ah, yang bener, Mas. Kirain udah lupa sama anak, sangking indahnya berbulan madu," goda Sky.


"Sembarangan kamu," kata Anton yang tergelak juga pada akhirnya. Dia sudah memaklumi sikap adik iparnya yang sering menggodanya itu.


"Ayo, mbak, Mas. Masuk dulu ke dalam. Jangan jemput Elara terus langsung pulang," kata Sky mempersilahkan.


Anton dan Nadine mengangguki, meski mereka sangat lelah saat ini dan ingin segera tiba dikediaman sendiri tapi tak bisa menolak tawaran yang Sky dan Yara berikan.


"Mas, Mbak, makan dulu disini ya. Aku sama Bi Sri udah masak banyak untuk menyambut kepulangan pasangan andalan kita." Yara menaik-naikkan alisnya menggoda Nadine.


"Kamu bisa aja, Ra."


Setelah meraih Elara dari gendongan Indri, Nadine menciumi bayi itu dengan perasaan rindu yang membuncah. Hal itu juga turut dilakukan Anton yang tak kalah merindukan putrinya yang gembul.


"Ayo, makan, makan," ajak Indri dengan hangat.


Mereka semua berkumpul dalam satu meja makan besar dengan berbagai sajian makanan diatasnya.


Elara didudukkan di sebuah baby chair, sementara kedua bayi kembar Yara masih anteng didalam stroller mereka.


"Tau gak, mama bersyukur sekali. Di umur sekarang mama masih dikasi kesempatan untuk berkumpul hangat dengan keluarga seperti ini. Bersama cucu-cucu mama juga." Indri membuka percakapan ditengah makan siang mereka itu.


"Iya, Ma. Kelak mama bakal makin bersyukur saat menyaksikan semua cucu mama tumbuh dewasa," kata Sky menimpali.


"Doakan mama panjang umur untuk bisa melihat hal itu, ya."


"Aamiin..." ucap semuanya nyaris bersamaan.


Mereka makan dengan khidmat sambil sesekali bercengkrama senang.


Setelah menyelesaikan sesi makan siang itu, Anton dan Nadine undur diri dan membawa serta Baby Elara yang tiga hari ini dititipkan dalam pengawasan keluarga Sky.

__ADS_1


"Mulai hari ini, kamu bakal makin sibuk, Sayang ..." kata Anton yang berkata pada Nadine ditengah-tengah perjalanan mereka untuk kembali ke rumah yang kini akan menjadi hunian mereka bertiga.


Mobil itu dikendarai oleh Fandi, Anton duduk didepan sementara Nadine di jok belakang bersama Elara.


"Sibuk ngapain?" tanggap Nadine atas perkataan suaminya.


"Ya, biasanya kan kamu cuma ngurusin Elara. Sekarang ada aku juga. Kesibukan kamu jadi bertambah, kan?"


"Iya, Mas. Tapi itu juga sumber kebahagiaan aku."


Dari posisinya, Anton mengelus tangan lembut Nadine yang juga tengah memeluk Elara yang sudah tertidur di pangkuannya. Ia menatap wanita yang telah menjadi istrinya itu dengan tatapan penuh cinta.


"Kamu butuh suster untuk jaga Elara? Kalau iya, bilang ya. Aku gak mau kamu terlalu lelah."


Nadine terkekeh atas ujaran suaminya.


"Kamu aneh ya, Mas. Dulu pas aku belum jadi istri kamu, aku ngerawat Elara sendiri. Sekarang udah jadi istri kamu, malah mau dikasi suster."


"Ya, aku cuma gak mau kamu makin lelah."


"Itu udah resiko aku menikahi suami yang ada bonusnya, Mas."


"Buy one get one," kata Fandi menimpali.


...~~...


Nadine baru saja meletakkan Elara ke dalam box bayi dengan hati-hati saat tiba-tiba Anton menangkap tubuhnya.


"Mas!" Hampir saja Nadine berteriak karena tindakan Anton cukup mengejutkannya. "Untung aku gak teriak, Elara bakal bangun lagi nanti, Mas," sungutnya.


Anton hanya tersenyum tipis menanggapi gerutuan istrinya. Dia malah membawa tubuh Nadine yang kini sudah dia gendong ala bridal style ke atas peraduan mereka malam ini.


"Jangan bilang kalau kamu---" Nadine tak melanjutkan ucapannya sebab Anton segera membungkam bibir wanitanya dengan bibirnya sendiri.


Dengan perlahan tapi pasti, ciuman yang awalnya hangat berubah menjadi semakin memanas. Tidak peduli jika momen bulan madu mereka telah usai-- sebab dimanapun dan kapanpun mereka tetaplah sepasang pengantin baru yang sedang membara apapun keadaannya.


Nadine memasrahkan diri pada sentuhan suaminya. Sentuhan seringan kapas yang selalu meruntuhkan pertahanannya, membuainya, bahkan melambungkannya sampai ke langit ke tujuh.


Sementara Anton pun demikian, dia merasa tubuh istrinya memiliki sesuatu yang membuatnya ingin terbang bersama hingga berkali-kali. Membuatnya sangat menyukai saat dapat menyaksikan secara langsung bagaimana wanitanya melenguhh panjang dan mendahuluinya.


Momen dimana Nadine mencapai kenikmatan dengan wajah merah merona seolah merupakan pemandangan terindah yang menjadikan Anton bangga dengan dirinya sendiri-- karena itu artinya dia berhasil membuat Nadine menggapai sebuah kepuasan.

__ADS_1


"Mas?" panggil Nadine sembari menaikkan selimutnya. Dia menatap langit-langit kamar yang kini sudah menjadi kamarnya juga.


"Hmm?" sahut Anton sambil merapikan anakan rambut milik Nadine yang tampak lembab akibat keringat. She's ****, batin Anton.


"Kalau aku gak langsung hamil, gimana?"


Anton mengernyit sesaat sampai akhirnya tertawa kecil.


"Ya gak apa-apa, Sayang. Aku gak akan maksain kamu harus hamil secepatnya."


Nadine membenarkan posisinya hingga dia dapat melihat netra sang suami.


"Terus, kalau aku langsung hamil, gimana?"


"Ya, itu tandanya rezeki baru buat kita."


Nadine menipiskan bibir. "Makasih ya, Mas. Kamu selalu ngertiin aku. Jangan tinggalin aku ya, Mas," ungkapnya sembari mengelus rahang sang suami.


Anton mengangguk. "Iya, sayang. Makanya kamu juga jangan bosan sama aku. Kita mungkin sibuk dengan dunia masing-masing setelah ini, tapi keluarga adalah prioritas utama dalam pernikahan kita. Setuju?"


Jujur saja, Anton merasa takut jika Nadine sampai seperti mendiang Shanum yang bosan dengannya. Jika Nadine takut dia meninggalkannya, maka hal yang sama juga dirasakan oleh Anton. Pria itupun takut jika Nadine akan pergi darinya lalu memilih pria lain. Tapi, Anton yakin bahwa perangai istrinya tidaklah demikian. Anton sangat percaya itu.


"Setuju, Mas. Prioritas kita adalah keluarga ini. Aku gak mau gagal lagi, Mas. Aku bakal bertahan disini sama kamu, tapi ada satu syaratnya..."


"Apa?" tanya Anton dengan alis yang terangkat naik.


"Asal itu tidak berkaitan dengan wanita lain, aku pasti akan tetap bertahan, sesuai janjiku, Mas, karena aku sudah merasakan bagaimana sakitnya ada orang ketiga didalam rumah tangga, itu tidak semudah kita mengatakannya. Menjalaninya terasa sangat sulit dan menguras perasaan."


Anton mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. "Gak, itu gak akan terjadi sayang ..." katanya yakin.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"


"Kamu tau gak, kenapa aku bersyukur memiliki anak perempuan?" Anton justru balik bertanya.


Nadine pun menggelengkan kepalanya.


"Karena kenyataan itu yang akan selalu menyadarkan aku, membuat aku selalu mengingat setiap perbuatan ku. Jika aku hampir menyakiti hati seorang wanita, maka aku masih punya anak perempuan yang mungkin akan terkena imbas dari setiap perbuatanku itu. Jadi, aku harus berpikir dua kali dalam setiap tindakan yang akan aku lakukan, aku gak mau menyesal di kemudian hari sebab anak aku yang harus merasakan karmanya," tandasnya menutup pembahasan ini.


Bersambung ...


Beri dukungan dong. Mana suaranya? Enggak kedengeran🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2