EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
155. Sky-2


__ADS_3

Sky Pov.


Aku sebenarnya canggung di supiri oleh wanita seperti ini. Tapi aku harus berterima kasih pada Diandra yang mau menumpangiku meski tadinya dia sudah hendak pulang.


"Kalau kamu mau pulang, antar aku sampai ketemu jalan utama aja, Di."


"Gak apa-apa, Kok, Sky." Wanita itu kembali tersenyum. "Gimana kabar Yara? Berapa anak kalian?" tanyanya kemudian.


"Yara sehat, kebetulan anak kita udah dua."


"Wah, gak sia-sia ya perjuangan kalian dulu."


Aku hanya menipiskan bibir atas ujaran Diandra yang terdengar sarkasme.


"Gak maksud nyinggung, lho. Aku cuma salut ternyata kalian bener-bener bertahan sampai hari ini. Semoga pernikahan kalian rukun dan awet selamanya," kata Diandra kemudian.


"Makasih, Di." Aku menoleh sekilas pada wanita itu. "Kamu sendiri? Gimana?" tanyaku.


"Aku?" Diandra menunjuk pada hidungnya sendiri.


Aku mengangguk-anggukkan kepala. Aku sempat mendengar jika Diandra menikah tak lama setelah aku dan Yara juga menikah waktu itu. Kabarnya dia dijodohkan oleh keluarganya.


"Aku udah berpisah sama suamiku, Sky. Sekarang aku lebih ngejar karir karena aku balik lagi ke dunia modeling," katanya.


"Oh, sorry," ujarku tulus. Aku takut pertanyaanku sebelumnya malah menyinggung perasaan wanita ini.


"Ya, gak apa-apa, media juga tau kalau aku sekarang janda. Gak ada yang perlu ditutupi Sky. Jalan hidup kita gak ada yang tau, kan?"


Sekali lagi aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalaku untuk menanggapi perkataan Diandra.


Sekarang mobil yang dikemudikan Diandra sudah kembali memasuki kawasan jalan utama. Dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Lewat jalan Tol aja, ya? Biar gak kejebak macet di persimpangan sana."


"Oke." Aku tau didepan sana memang macet, sebab tadinya karena jalanan itulah maka taksi yang ku tumpangi jadi berbelok arah.


Mobil pun mulai berpacu kencang saat memasuki kawasan Tol dan aku sedikit was-was sebab memang tak biasa disupiri wanita seperti ini.


"Di, gak usah ngebut, gak ada yang dikejar juga," kataku menyadarkan Diandra yang semakin menaikkan intensitas kecepatan laju mobilnya.

__ADS_1


"Gak apa-apa lah, di Tol emang biasa aku pake kecepatan segini," katanya percaya diri.


Lama-lama aku merasa Diandra benar-benar melewati batas. Aku melotot saat melihat jarum kecepatan yang ada di mobilnya.


"Dian? Kamu gila? Ini terlalu kencang!" Aku memperingatinya dengan keras, tapi wanita itu malah cengengesan seolah senang melihat kemarahan ku dan ujaranku seperti lelucon yang menggelikan.


"Biasa aja, Sky! Jangan pucat gitu!" katanya berseloroh.


"Astaga, Dian! Kurangi kecepatan!"


Diandra malah semakin larut dalam kegilaannya, aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas kawasan yang kini kami lewati sangking kencangnya dia berkendara. Jika begini, aku menyesal setelah tadi mau menerima tumpangannya.


Didalam keadaan itu, Diandra justru mengumpatku dengan keras. Hal yang ku pikir sudah dia lupakan sebab sudah bertahun-tahun berlalu-- nyatanya masih diingatnya seakan itu sudah bercokol di kepala perempuan ini.


"Sky! Apa sih yang kamu lihat dari Yara? Sejak SMA kamu pacarin dia, udah putus lama malah balik lagi. Eh, udah gitu dinikahin pula meski dia udah janda!" Diandra mengoceh seolah sedang mengeluarkan uneg-uneg dikepalanya.


Aku tak menyahuti ucapannya, aku berdoa didalam hati semoga perjalanan ini akan tetap baik-baik saja meski aku sendiri pun tak yakin dengan hal itu mengingat saat ini mobil berpacu melewati batas kecepatan rata-rata.


"Sky bangs*t! Puas banget gue bisa maki-maki lo secara langsung kayak gini!"


Rupanya dia masih menyimpan dendam padaku. Pantas saja. Aku semakin berpasrah saat ini jikapun kecelakaan tak bisa lagi terhindari. Aku tidak menjawab ucapan Diandra karena tak mau semakin menyulut emosinya.


Diandra menekan pedal gas dengan kencang dan hendak menerobos jalur lain dengan kegilaannya, disaat yang sama, aku juga dapat melihat mobil dari arah berlawanan dengan mobil yang kami tumpangi.


Aku dan Diandra saling berebut kemudi dan beberapa kali wanita itu kembali mengumpatku.


"Kamu gila!" tukasku berusaha menyadarkannya.


"Kamu yang jahat, Sky!" kata Diandra ditengah-tengah keriuhan kami yang masih berebut setir mobil.


Semuanya terasa begitu cepat dan saat aku merasa Diandra hilang kendali, aku langsung membanting setir saat itu juga, dan ...


Brak!!!


Brakkk!!!


Suara benturan jelas terdengar. Aku masih sadar ketika mobil justru menabrak pembatas jalan. Berputar-putar dan mungkin terguling-guling. Setidaknya, hanya aku dan Diandra yang akan menjadi korban dan bukan mobil lain yang tadi ingin dituju oleh Diandra.


Saat suara kebisingan jalanan mulai terdengar, bersamaan dengan asap yang menyeruak karena mobil yang pasti sudah ringsek parah. Aku tau jika mobil ini sudah dalam posisi terbalik.

__ADS_1


Diantara ambang kesadaranku pula, aku masih sempat melirik Diandra yang sudah berlumuran darah disisiku. Hingga akhirnya, aku tidak tau apa-apa lagi setelah itu.


...~~~...


Aku tersadar dan merasa kepalaku sangat berat. Rasanya seperti ditimpa godam yang sangat menyesakkan. Saat ku sadari, ada sebuah tangan yang melingkupi jemariku.


Baru saja hendak membuka mataku dan memanggil nama wanita yang tengah menungguiku disana, aku merasa jika jiwaku kembali tertarik ke alam yang antah berantah.


Dan kini aku sudah berada di hamparan pasir yang luas. Setidaknya, begitulah yang ada dalam pandangan mataku.


Disini, Tak ada siapapun kecuali aku. Tidak ada istriku maupun anak-anakku yang menungguiku.


Apa aku telah mati?


Rasanya belum lama bertemu, bahkan baru saja aku merasakan kehangatan tangannya di jemariku. Kenapa sekarang aku malah ada disini, setelah aku bisa merasakan kehadiran wanita yang ku cintai?


Aku berjalan dan terus berjalan menyusuri lapangan berpasir yang sepertinya tidak memiliki pangkal dan ujung.


Lama kelamaan, aku terduduk sangking lelahnya. Aku kehausan. Aku tidak tau jalan untuk pulang padahal aku masih mengingat dengan jelas bahwa sebelumnya aku sangat tergesa-gesa untuk menuju rumah demi dapat melihat istri dan kedua anak-anakku.


"Apa ini adalah kehidupan setelah kematian? Apa benar aku sudah mati?"


Aku benar-benar merasa kerongkonganku sangat kering. Nyaris suaraku tak dapat keluar meski aku ingin sekali berteriak.


Tanpa ku sadari, air mataku menetes begitu saja dan tidak bisa ku kendalikan. Aku merasa sedih, entah karena apa. Mungkin karena keinginanku untuk bertemu Yara belum terealisasikan dan malah sekarang aku harus terjebak dalam dunia menuju kematian. Atau sebenarnya aku ini memang sudah mati? Dan menunggu saat dimana namaku dipanggil untuk menentukan keberadaan ku selanjutnya?


"Yara ..." Aku sudah merasa meneriakkan nama itu, nyatanya tak ada suara yang keluar dari bibirku. Aku ingin menjelaskan padanya, bahwa aku tidak pernah berselingkuh seperti yang dia tuduhkan.


Apa jadinya sekarang? Apa Yara sudah tau kebenarannya? Kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan padanya secara langsung?


Lalu, bagaimana nasib anak-anakku jika aku benar-benar terlah mati sekarang?


Aku belum mau mati. Begitulah hatiku berteriak. Setidaknya, jika aku dapat memilih, aku ingin kembali ke dunia dan menjelaskan pada Yara hingga dia percaya. Aku ingin memastikan istri dan anak-anakku hidup dengan baik. Setelah semua itu terjadi, aku ikhlas jika memang harus menuju alam kematian.


Tapi tidak sekarang, tidak!


Aku sadar bahwa tidak mungkin meminta disaat seperti ini. Aku tau permintaanku ini ada diwaktu yang tidak tepat. Sudah terlambat, karena pada akhirnya aku harus mati tanpa bisa memberikan penjelasan apapun pada anak dan istri ku.


Aku hanya ingin Yara tahu, bahwa seumur hidupku hanya dia yang menjadi wanitaku. Salahkah jika aku berharap lebih? Berharap dapat menjelaskan itu kepadanya? Sekalipun itu hanya waktu beberapa menit saja, sampai melihatnya percaya bahwa aku tidak seperti yang dia tuduhkan?

__ADS_1


Aku kembali berdiri, setidaknya aku harus berusaha mencari jalan keluar meski aku pesimis jika hamparan pasir yang tidak ada sekatnya ini dapat mengantarkan ku kembali pada dunia.


Bersambung ...


__ADS_2