
Ardansaka Pradigta, itulah nama bayi laik-laki mungil yang kini masih menjalani perawatan dalam ruang NICU.
Selama di dalam ruangan itu, Saka ditempatkan di sebuah inkubator yaitu sebuah tempat tidur kecil seperti box bayi. Di bagian atas box ini ditutupi pembatas berbahan plastik keras yang transparan. Alat ini juga berguna untuk melindungi Saka dari paparan kuman penyebab infeksi dan menjaga tubuhnya agar tetap hangat. Suhu di dalam alat ini akan diatur agar menyesuaikan kondisi bayi.
Ketika dilahirkan, bayi harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru di luar rahim. Namun karena dilahirkan sebelum waktunya, bayi prematur seperti Saka biasanya belum siap untuk hidup di luar rahim dan menyesuaikan diri dengan lingkungan luar.
Dalam ruang NICU, Saka juga mendapat penanganan seperti Fototerapi yakni untuk menurunkan tingkat bilirubin yang terlalu tinggi yang menyebabkan bayi kuning. Juga alat ventilator untuk membantu pernafasannya.
Organ-organ tubuh Saka belum berkembang secara sempurna, sehingga belum dapat berfungsi dengan baik. Itulah sebabnya, Saka memerlukan perawatan khusus di ruang NICU.
Menjalani beberapa minggu dalam ruang NICU, akhirnya kondisi Saka mulai membaik, Dokter pun sudah mengizinkan Nadine untuk mulai menyusuii Saka secara langsung.
Sebelumnya, segala nutrisi yang masuk ke dalam tubuh Saka harus dibantu dengan alat semacam selang yang dimasukkan ke dalam perut sang bayi melalui mulut atau hidung, sehingga baru sekaranglah waktu yang tepat untuk Nadine memberikan ASI-nya kepada sang bayi sekaligus terjadinya skin to skin diantara mereka. Ini biasa disebut metode kanguru, yang memang memiliki banyak manfaat bagi bayi prematur.
"Aku deg-degan, Mas," akui Nadine pada suaminya. Syukurlah Anton selalu memberi dukungan penuh untuk menyemangati Nadine.
"Kamu pasti bisa."
Meski Saka bukan anak pertama bagi wanita itu, tapi menggendong bayi yang bobot tubuhnya masih sangat kecil tetap membuat Nadine merasa canggung dan gugup.
"Hai, Sayang ... ini bunda." Nadine berucap lembut setelah sang bayi benar-benar berada dalam gendongannya. Ini seperti keajaiban. Bukan, ini lebih terasa seperti sesuatu yang sangat membahagiakan.
Dulu, saat melahirkan Elara, Nadine juga merasakan perasaan takjub yang sama.
Ini adalah kedua kalinya Nadine menggendong bayi yang dia lahirkan. Dan ketiga kali menggendong bayi mungil dengan wajah mirip seperti suaminya.
"Kenapa sih, anak-anak cuma numpang diperut aku tanpa mau nyamain wajah sama aku," gumam Nadine pada dirinya sendiri, namun dia berucap tetap dengan senyuman yang terkembang. Ada rasa haru, bahagia dan entah apa lagi yang sulit dijabarkan oleh kata-kata.
"Sayang, nama kamu Ardansaka, Bunda sama Ayah sayang banget sama Saka. Cepat membaik ya, nanti kita pulang sama-sama." Nadine berceloteh pada sang putra dengan tatapan berbinar-binar.
Anton turut memperhatikan interaksi isteri dan anaknya, dia tidak pandai berkata-kata, tapi tentu dia pun turut dalam rasa haru dan bahagia yang teramat sangat.
__ADS_1
Pada momen selanjutnya, mereka berdua belajar menggantikan popok Saka. Juga turut memperhatikan para perawat yang memandikan bayi itu.
Sampai usia Saka menginjak hampir sebulan, barulah bayi mungil itu diperbolehkan untuk pulang ke kediaman mereka.
Elara dan Liora sangat tidak sabar menanti kepulangan sang adik bungsu. Selama ini mereka memang belum sekalipun bisa melihat adik kecil secara langsung, hanya beberapa foto yang Anton tunjukkan kepada dua putrinya untuk mengobati rasa penasaran dan rindu yang hadir untuk sosok yang adalah adik kandung keduanya.
"Adek ...." Elara berlarian mengejar ke arah pintu utama sesaat Nadine dan Anton kembali ke rumah pada pagi menjelang siang hari itu.
Tak berapa lama, Liora juga turut berduyun-duyun datang mengikuti jejak Kakak sulungnya. Dengan langkah yang lucu, Liora meniru ucapan sang Kakak.
"Dek ... Dek ... Dek ..." gumam bocah kecil itu. Ternyata dia sudah memiliki adik diusianya yang masih sangat kecil, apalagi Saka lahir prematur, membuat mereka lebih cepat bersua satu dengan yang lain.
"Kakak mau lihat Adek bayi, Bunda..." rengek Elara.
"Lio ... Lio ..." Liora tak mau kalah.
Nadine merunduk, sedikit berlutut untuk membuat kedua putri kecilnya dapat melihat paras bayi mungil yang berada dalam gendongannya.
"Wah, adek ganteng banget ...." celoteh Elara.
Elara tampak mengetuk-ngetuk jari didepan dagunya sendiri seraya berpikir singkat. "Ganteng itu ... kayak Ayah, dong!" ujarnya riang.
Mendengar itu, Anton tergelak bangga sementara Nadine mengulumm senyum.
Nadine melirik pada Liora yang kini kebagian sesi melihat sang adik bayi.
"Adek Lio ... sekarang udah ada Adek Saka, jadi ... Adek Lio udah ganti panggilan sekarang, jadi Kakak Lio," kata Nadine memberi pengertian dengan lembut.
"Ya ya ya, Nda ..." Liora merespon cepat, meski dia belum fasih bicara tapi dia sudah dapat memahami ucapan sang Mama. Anak perempuan mereka ini memang cepat tanggap dan pintar.
"Maafin Ayah dan Bunda kalau nanti kita lebih perhatiin Adek Saka. Tapi, Kakak Ela dan Kakak Lio tetap menjadi anak yang Ayah dan Bunda sayangi. Ini cuma untuk sementara waktu ya, Sayang... sampai Adek Saka udah memahami dan mengerti artinya berbagi." Anton angkat bicara dan ucapannya diangguki oleh Elara sementara Liora, turut mengikuti jejak sang Kakak karena dia memang hobi meniru Elara--entahlah Liora paham atau tidak dengan makna kata yang sang ayah ucapkan.
__ADS_1
...***...
Kepergian Juna untuk selamanya, membuat pelajaran yang berarti untuk hidup Sky dan Yara. Mereka mengambil hikmah dibalik kesedihan dan duka yang menyelubungi.
Bagi Sky yang tidak begitu mengenal Juna, hari-harinya selanjutnya terlewati dengan biasa saja. Dia cuma berharap dan berdoa semoga Juna sempat menjadi orang baik di akhir hidupnya.
Akan tetapi, bagi Yara yang mengenal Juna, tentu dia masih merasa ini seperti mimpi. Bukan dia memiliki rasa pada pria yang pernah menjadi suaminya itu, ini bukan tentang rasa melainkan tentang tidak menyangka. Tapi, umur seseorang memang tidak bisa dikulik lebih jauh, itu adalah rahasia sang pencipta.
Yara lebih bersedih untuk Kirani. Dia membayangkan menjadi Kirani. Alangkah malangnya ditinggal suami. Yara tidak sanggup bahkan hanya untuk menayangkannya. Apalagi tempo lalu, dia sempat hampir kehilangan Sky untuk selamanya.
"Kamu mikirin apa, sih?"
"Aku ... masih mikirin Mbak Kirani, Sayang."
"Apa yang buat kamu masih sedih dan mikirin dia? Kalian baru mengenal empat tahun belakangan ini, kan?"
"Aku membayangkan jika aku jadi dia, Sayang."
"Tapi, cepat atau lambat kita pasti akan meninggalkan atau ditinggalkan, kan?" jawab Sky realistis.
Yara mengangguk, wajahnya tampak memerah sendu. Sky merangkul istrinya dan membawa kepala Yara bersandar di dada bidangnya.
"Kita akan bersama selama yang kita bisa. Selebihnya, biar yang maha menciptakan yang mengatur bagaimana selanjutnya. Dan semoga kita bisa berkumpul kembali di Surga-Nya, bersama semua keluarga besar kita."
"Aamiin ..."
...Tamat ......
Selanjutnya, othor bakal kasi Bonus chapter ya. Jadi, tetap dukung karya ini sampai bener-bener ending ya.
Oh iya, buat yang udah baca novel tentang Cean anaknya Sky-Yara di judul baru TETANGGA MERESAHKAN. makasih banyak ya.
__ADS_1
Nanti, bonus Chapternya akan nyambung dengan cerita disana. Dan ... yang udah baca kisah Cean pasti udah tau dong dengan Rion. Nanti di bonus Chapter baru kita munculkan Rion ya🙏🙏🙏
Sehat semuanya guys💚💚💚🥰🥰🥰🥰