
Yara menolak diantarkan oleh Sky menuju kediaman Anton. Ia pun pergi menggunakan sebuah taksi sebab hari mulai hujan rintik-rintik.
Saat Yara tiba di kediaman sang kakak. Rupanya disana sudah ada Juna dan kedua mertuanya.
Jujur saja, Yara sangat canggung karena harus bertemu lagi dengan kedua orangtua Juna dalam keadaan seperti ini. Untuk beberapa saat, ia dan mereka hanya terdiam dengan saling menatap.
Yara buru-buru sadar dengan keadaan, ia pun langsung menyalami kedua mertuanya dengan takzim.
"Ma, Pa... udah lama ya? Maaf Yara telat nyampeknya," kata Yara dengan wajah sungkan.
"Gak apa-apa, Ra. Mama sama Papa juga baru sampai, kok." Bu Laksmi menjawab Yara dengan senyum merekah.
Yara duduk di single sofa, berhadapan langsung dengan Juna yang juga duduk di sofa serupa diujung sana.
"Eh, udah nyampek, dek?" Tiba-tiba Anton datang dari arah dapur dengan membawa nampan yang berisi air minum untuk para tamunya.
Yara ingin membantu tapi Anton memberi kode agar Yara hanya duduk saja.
Setelah menyajikan minumannya, Anton mempersilahkan mereka semua untuk minum.
Sebenarnya Anton sangat malas dan enggan bertatap muka lagi dengan Juna. Bagaimana tidak, pria itu yang telah membuat rumah tangganya berantakan. Tapi, Anton juga tau ini bukan hanya kesalahan Juna, melainkan juga kesalahan Shanum, istrinya. Terlepas dari entah siapa yang memberi umpan lebih dulu, intinya Juna dan Shanum adalah dua orang yang telah berhasil menghancurkan perasaan dan hidupnya.
"Jadi, kedatangan kami kesini mau menyampaikan permintaan maaf atas kelakuan anak kami, Arjuna, yang sudah menyakiti ananda Yara...." Pak Bayu memulai kata-katanya.
"Disini, saya juga ingin memohon maaf pada Nak Anton selaku kakak dari Yara dan juga suami Shanum."
Anton menghela nafas dalam. Entah bagaimana perasaannya hari ini, tapi permasalahan Yara juga tetap harus segera diselesaikan melalui dirinya-- sebab dia adalah satu-satunya wali bagi Yara, kan?
"Saya sebagai Orangtua Juna, sangat malu dengan perbuatan anak saya. Saya harap kalian berdua mau memaafkan Juna." Pak Bayu menatap Yara dan Anton bergantian dengan tatapan penuh penyesalan dan tampak bersungguh-sungguh.
Juna hanya bisa menundukkan wajah, saat mendengar ayahnya yang tengah menyatakan permohonan maaf.
"Mama juga tidak menyangka Juna akan bersikap seperti ini. Mama sangat marah. Mama malu. Mama juga paham kenapa Yara berniat membalas kelakuan Juna..." Tiba-tiba Bu Laksmi angkat bicara dan menimpali.
"Mama tidak menyalahkan Yara, mama sadar betul disini adalah murni kesalahan Juna yang mengkhianati kalian bersama dengan Shanum. Mama harap, kalian bisa memaafkan Juna, ya," sambungnya.
Yara ingin sekali menangis sekarang, tapi tentu bukan menangisi Juna, melainkan ia amat menyayangkan kedua orangtua Juna yang dia hormati dan sayangi---sampai harus mengorbankan harga diri dan meminta maaf kepadanya atas kelakukan Juna.
"Ma, Pa... Yara disini, sudah memaafkan Mas Juna," kata Yara.
__ADS_1
Mendengar itu, Anton langsung menoleh tak percaya, begitu pula dengan Juna yang langsung mendongakkan wajah demi menatap wanita yang masih berstatus istrinya tersebut.
Apa benar Yara memaafkannya dengan mudah? Batin Juna.
".... tapi, Yara juga minta maaf sama Mama dan Papa karena Yara dan Mas Juna tidak bisa lagi untuk kembali bersama-sama menjalani rumah tangga kami. Semuanya udah hancur, semuanya juga udah bobrok, yang Yara mau adalah kami tetap berpisah."
Anton tersenyum miring sekarang, entah kenapa mendengar ucapan Yara yang sekali ini--cukup membuatnya puas.
Sementara Juna, kalimat Yara yang terdengar lugas barusan terasa seperti mencabik-cabiknya. Memang Yara sudah mengatakan ingin berpisah sampai berkali-kali, tapi sekarang berbeda. Ini dikatakan Yara didepan kedua orangtuanya. Selama ini ia mengira Yara tidak serius tapi sekarang artinya Yara tidak main-main lagi. Yara memang memaafkannya, tetapi perpisahan tetap menjadi jalan keluar. Begitulah yang Juna tangkap dari keinginan sang istri.
"Yara, apa kamu tidak bisa memaafkan Juna, nak? Kembali bersama. Jalani rumah tangga kalian seperti dulu. Mama sangat senang apabila kalian dapat kembali damai."
Yara tersenyum kecut. "Yara udah bilang kalau Yara udah memaafkan, Ma. Tapi Yara gak bisa menjalani lagi, keputusan Yara udah bulat, Yara mau Mas Juna menceraikan Yara," tukasnya.
Bu Laksmi langsung terdiam. Ia tidak mungkin memaksa Yara lagi. Apalagi disini kesalahan Juna memang sangat fatal.
"Tapi Nak Yara juga bersalah, kan? Papa mau kalian saling memaafkan dan melupakan kesalahan masing-masing. Kita jangan berfokus pada kesalahan Juna saja.... tapi, kalian juga harus saling introspeksi diri," timpal Pak Bayu membuat Yara memejamkan mata rapat-rapat.
"Apa sekarang saya boleh bicara?" Kali ini Anton angkat suara.
".... saya selaku wali untuk Yara, yang menggantikan kedua orangtua kami ... menentang keras, jika adik saya ingin kembali bersama suami seperti dia," tukas Anton yang tak bisa menahan emosi. Ia langsung menunjuk-nunjuk wajah Juna. Ucapan Pak Bayu sebelumnya, terdengar sedang menyinggung soal kesalahan Yara juga--hingga membuatnya semakin naik darah.
"... bagaimana bisa, Bapak dan Ibu meminta adik saya untuk kembali bersama anak kalian? Saya yakin Juna juga tidak mau meninggalkan Shanum. Benar, kan?"
Ketiga orang didepan Anton langsung tertunduk. Tebakan pria itu memang benar, Juna tak mau meninggalkan Shanum--sebab Shanum sedang hamil sekarang. Juna memang mau kedua-duanya.
"Jika begini, itu artinya Bapak dan Ibu mendukung Juna untuk memadu adik saya, kan? Karena cepat atau lambat Juna juga pasti akan menikahi Shanum, mengingat Shanum yang sedang hamil."
"Tapi anak yang dikandung Shanum belum tentu anak Juna," sanggah Pak Bayu.
"Ya, memang benar, bahkan saya juga belum bisa menceraikannya sebelum dia melahirkan. Tapi, terlepas siapapun bapak bagi bayi yang dikandung Shanum... pada hakikatnya, Juna menginginkan mereka berdua, kan?" tuding Anton lagi.
Kembali mereka bertiga terdiam. Tak satupun berani beradu argumen dengan Anton yang sudah dapat mengira segalanya.
"Lalu, apa saya disini yang selaku kakak bagi Yara, mau merestui itu? Tidak! Saya tidak terima Yara di madu, lebih baik bercerai. Jika Juna tetap bersikukuh untuk tetap mempertahankan Yara, maka kami yang akan lebih dulu menuntut ke pengadilan."
"Jangan, Mas!" Kali ini Juna yang angkat bicara.
Juna tidak akan membiarkan Yara yang menuntut cerai lebih dulu ke pengadilan. Sebab, jika Yara melakukan itu, dan mengatakan apa kesalahan Juna nanti, maka itu akan berdampak bagi karir dan pekerjaannya di perusahaan milik Negara. Perselingkuhan itu akan mencoreng nama baiknya, kan?
__ADS_1
"Takut?" Anton tersenyum penuh cibiran. Dia juga sudah memperkirakan ini. Juna bekerja di BUMN, sudah jelas tidak berani jika perselingkuhannya tercium pihak perusahaan tempatnya bekerja.
Perselingkuhannya dengan kakak iparnya sendiri---bisa membuat desas-desus dan menjadi skandal yang sangat hangat diperbincangkan.
Juna harap-harap cemas, ini bahkan bisa membuatnya di depak secara tidak hormat.
"Makanya kalau mau berbuat, dipikir dulu. Minimal udah jadi pengusaha atau punya usaha sendiri lah! Giliran begini, kamu sendiri yang rugi!"
Kali ini ucapan Anton jelas-jelas mengolok Juna yang wajahnya semakin ciut dan malu.
Kedua orangtua Juna tidak memiliki kemampuan lagi untuk membela anaknya yang memang benar-benar bersalah. Pak Bayu sudah memijat kening, sementara Bu Laksmi langsung memberi kode pada Juna untuk segera menceraikan Yara sebelum Anton lebih dulu mengambil tindakan.
"Baiklah, kalau aku memang gak punya kesempatan lagi untuk bersama dengan kamu. Aku akan wujudkan keinginan kamu itu," kata Juna sembari menatap Yara dengan mata berkaca-kaca. Keputusan yang akan ia ambil pastilah membuatnya menyesal dikemudian hari. Tapi, ia tidak memiliki pilihan lain.
Juna pun menghela nafas panjang, kemudian tersenyum sendu ke arah Yara. "Tapi, sebelum kita benar-benar berpisah, apa boleh aku tau siapa pria lain itu, Ra?" tanyanya.
Yara hanya diam, ia mere mas jemarinya sendiri yang berada dalam pangkuan.
"Kenapa, Ra? Aku cuma ingin tau. Dia teman SMA kamu, kan?"
Anton ikut menatap Yara, ia juga ingin tahu sama seperti Juna. Tapi, ia akan menanyakan ini nanti, tidak dihadapan kedua orangtua Juna seperti ini, pikirnya.
Yara tidak bisa menjawab sebab ucapan Juna memang benar jika pria itu adalah salah satu alumni di SMA nya. Bukan teman, melainkan mantan kekasihnya, dulu.
"Apa dia ... Rico? Rozi? Atau mungkin ... Sky?" Juna terkekeh kecil diujung kalimatnya. Kekehan itu seperti ia yang tengah menertawakan dirinya sendiri.
"Kamu gak bisa jawab, Ra? Siapa pria lain itu diantara mereka?" Sekali lagi Juna bertanya. Membuat Yara gugup luar biasa.
"Oke, kalau kamu belum mau jawab, aku bakal nunda---"
"Ya, pria itu ... Sky," kata Yara memotong kalimat Juna dengan lugas.
Seketika ruangan itu hening dengan keadaan Juna yang masih syok dengan jawaban Yara barusan.
Bersambung ....
****
Maaf ya, beberapa hari ini aku gak bisa up lebih dari 1 bab. Kesibukan didunia nyata buat susah up. Dua anak balita mau diurus dan diperhatikan✌️☺️Belom lagi balita yang besar nuntut perhatian juga, karena sering diabaikan gara-gara nulis. Aelah... jadi curcol 🙏😆
__ADS_1
Tetap dukung novel ini yah guys... Caranya pasti udah tau semua dong🙏 Makasih banyak-banyak. Love sekebon untuk Readers setiakuuhhhh❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️