EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
150. Yara-2


__ADS_3

Yara Pov.


Pada akhirnya, hari ini aku harus benar-benar melepaskan kepergian suamiku yang akan berangkat ke Surabaya. Meski berat hati sebab ini adalah yang pertama kalinya Sky pergi jauh dari keluarga, tapi mau tidak mau aku harus menerimanya.


"Kalau udah nyampek, jangan lupa hubungi aku," kataku dalam dekapan pria itu. Aroma musk dan woody yang menguar dari tubuhnya selalu menenangkan ku. Aku jamin ini akan aku rindukan dalam dua hari kedepan selama Sky berada di kota lain.


"Iya, Sayang. Aku bakal hubungi kamu terus. Anything for you pokoknya," jawab Sky dengan senyuman lebar.


Tak lama, Sky menciumi Cean dan Aura bergantian. Dia tampak tak rela tapi hanya dua hari ku pikir itu tidaklah lama.


"Papa berangkat dulu ya, Cean jagain mama. Aura jangan manja terus sama mama. Temenin mama. Oke?"


Sky berceloteh pada dua bocah berumur 4 tahun yang berdiri di kiri kanan tubuhku. Kedua bocah yang mirip dengannya itu mengangguk sebagai respon atas perkataan sang ayah.


Aku sendiri akhirnya menyunggingkan senyum sendu yang dibalas Sky dengan tatapan serupa.


Saat pria itu sudah mengayunkan langkah-- hendak menuju ruang tunggu keberangkatannya, aku semakin merasa sedih. Entah kenapa aku merasa takut jauh dari dia. Terasa lebay tapi itulah yang ku rasakan.


Tanpa ku sadari, gerakan tanganku yang sigap justru mengambil sedikit ujung kemeja Sky yang telah berbalik arah. Aku menarik-narik kecil pada kain itu, membuat sang pemilik yang mengenakannya tersadar akan apa yang aku lakukan.


Sky menoleh. "Sayang?" Dia terkekeh melihat aku yang kini meneteskan airmata. "Jangan gini dong, aku batalin pergi aja deh," katanya sambil menahan gelak akibat tingkahku yang absurd dan justru menangisinya.


Aku menggeleng, Sky mulai menghapus jejak airmata diujung mataku. Anak-anak kami ikut bersedih seolah tindakan yang ku lakukan adalah pemancing kesedihan mereka juga.


Sky merunduk, dia memelukku sekali lagi.


"Cuma sebentar, dua hari aja. Gak akan lama. I'll be oke. Right?"


Akhirnya aku mengangguk, masih dengan mata yang basah.


Sky akhirnya benar-benar pergi, diiringi dengan lambaianku dan anak-anak kami.


Awalnya aku merasa dua hari bukan waktu yang lama. Nyatanya kebiasaan ku setelah menikah dengannya selama lima tahun-- justru menyebabkan dua hari tanpanya terasa begitu lambat bergerak.


Aku mulai merindukan Sky kendati dia baru saja menyampaikan padaku bahwa dia baru saja tiba di Surabaya. Dia akan langsung pergi ke lokasi yang akan ditinjau disana.


Ya ampun, bahkan dia baru saja meneleponku beberapa menit lalu, tapi aku sudah merasa ingin menghubunginya lagi.


Sky baru pergi ke Surabaya, bahkan satu hari pun belum berakhir tetapi aku sudah berharap dua hari tanpanya segera terlewati.


"Mama, Aula mau ke lumah Kak Elala, ya nanti ciang."


Celetukan Aura membuyarkan pikiranku yang lagi-lagi hanya memikirkan suamiku saja. Ah, aku sampai melupakan kedua bocah yang harus ku perhatikan. Aku sibuk menata hati setelah kepergian Sky yang bahkan baru terhitung beberapa jam saja.


"Ya udah, nanti kita kesana ya. Mama anterin."


"Ma'acih, Mama." Aura tersenyum riang. Dia memeluk kakiku dan kemudian berlalu sambil membawa boneka Barbie yang baru dibelikan Sky beberapa hari lalu.

__ADS_1


Ah, benar kan, belum apa-apa sudah teringat lagi pada suamiku itu.


Ajakan Aura seperti angin segar bagiku. Mungkin jika menghabiskan waktu dirumah Mas Anton akan lebih baik ketimbang aku terus melakukan kegiatan unfaedah dengan melamun tidak jelas seperti yang saat ini kulakukan.


Pukul dua siang, aku mengajak Cean dan Aura ke rumah Mas Anton. Kami akan menaiki mobil Jazz putih yang diberikan Sky sebagai kado ultahku pada tahun lalu.


Awalnya, tentu aku tidak bisa mengendarainya, tapi berkat bantuan Sky serta melakukan les mengemudi-- aku sudah mahir menggunakannya dalam jangka waktu sekejap. Setelah momen belajar yang cukup singkat, akupun mendapatkan SIM untuk pelengkap kebutuhan mengemudi itu.


Kedua anakku yang cantik dan tampan sudah siap dengan penampilan mereka. Aura tak lupa membawa boneka Barbie andalannya agar tidak terjadi perang dunia lagi dengan Elara dan Liora akibat berebut boneka, sedangkan Cean sudah siap dengan ranselnya yang isinya adalah perlengkapan menggambar dan lego yang sering dia mainkan. Berhubung anak Mas Anton perempuan kedua-duanya, jadi akan lebih aman jika Cean memang membawa mainan sendiri ketimbang nanti dia harus ikut bermain boneka Barbie bersama Elara, Liora dan Aura.


"Ayo berangkat!" ajakku semangat.


"Let's go, Mama!" sahut kedua anakku itu kompak.


Aku mulai mengemudikan mobil saat kami sudah masuk kedalam kabin. Aura duduk disisiku dan Cean di jok belakang. Mobil ini memang sudah sangat amat cukup bagi kami bertiga.


Sebelumnya, aku juga sudah mengabari Sky tentang kepergian ini. Kebiasaan ku memang selalu izin padanya jika ingin kemanapun. Ya, meski pesanku itu tidak dibalas, aku yakin nanti Sky akan membacanya. Dia lagi sibuk bekerja sekarang dan aku memakluminya.


"Mbak..."


Kedatanganku langsung disambut oleh Mbak Nadine dikediamannya. Mas Anton sedang di bengkel, dia memang tidak menjadi mekanik lagi tetapi tetap harus memindai pekerjaan orang-orang yang bekerja ditempatnya.


Cean dan Aura sudah berlarian masuk ketika Elara turut menyambut kedatangan kami tadi.


"Ra? Kamu kok gak bersemangat gitu?" tanya Mbak Nadine sambil sesekali memegang perutnya yang membuncit.


"Duh, yang biasanya nempel kayak prangko, giliran ditinggal agak jauh udah galau aja, nih, ceritanya."


"Hmm, mau gimana lagi, Mbak. Udah biasa sama dia."


"Ya udah, sih. Emang apa yang kamu pikirin? Sky kan kesana buat kerja. Ntar dia juga balik, kan?"


"Iya, sih, Mbak."


"Emang berapa lama? Sebulan?"


"Dua hari, Mbak."


Mbak Nadine tertawa pelan mendengar jawabanku. Entah dimana yang lucu. Ah, mungkin dia pikir dua hari itu sebentar tapi buatku itu sangat lama. Jangankan dua hari, dua jam saja kalau Sky tidak di kota dimana aku berpijak rasanya aku sangat khawatir.


"Ya udah, sih. Dua hari doang. Dia juga gak akan lupa jalan pulang, Ra."


"Iya, sih, tapi aku khawatir, Mbak."


"Tenang aja, yang penting kamu tetap telepon dia di jam yang gak sibuk."


Mbak Nadine menepuk-nepuk punggung tanganku sekilas, kemudian kami melanjutkan untuk berbincang hal lain.

__ADS_1


"Mertua kamu apa kabarnya, Ra?"


"Mama baik, kok, Mbak. Cuma ya gitu, sekarang beliau udah jarang ke Singapore lagi. Mungkin udah mau pensiun."


"Sky gak minat lanjutin usahanya?"


"Dia gak mau, Mbak. Sky kan udah ada kerjaan sendiri."


Lagi-lagi pembicaraan kami berujung dengan membahas tentang Sky, membuatku semakin merindukan suamiku saja.


"Terus, perusahaan yang di Singapore, gimana? Kalau Mama mertua kamu pensiun, siapa yang akan mengurus usaha disana?"


"Untuk saat ini ada Pak Dodi, dia tangan kanan Mama sih. Cuma gak tau dia bisa memegang sampai berapa lama. Kayaknya Mama mau ngasih kepercayaan itu sama pihak keluarga aja, cuma mbak tau sendiri kalo Sky gak akan minat. Kata mama mau nunggu Aura dan Cean dewasa, tapi itu kan lama lagi, Mbak."


"Yah... mudah-mudahan aja Pak Dodi itu bisa memegang perusahaan sampai nanti Aura dan Cean bener-bener siap diberi amanat besar itu, Ra."


"Iya, mbak. Mudah-mudahan, ya."


Larut dalam pembahasan yang sudah kesana-kemari. Akhirnya aku dan Mbak Nadine harus dikejutkan dengan tangisan Liora. Kami berdua berduyun-duyun untuk masuk ke ruang bermain anak yang memang ada dikediaman Mas Anton.


Sudah ku duga, seperti biasanya yang selalu berebut mainan adalah Aura dan Liora.


Tak lama setelah Liora menangis, susulan jeritan Aura juga terdengar. Kami berusaha mendamaikan keduanya dan membujuk, hingga akhirnya mereka berdamai dan saling berpelukan singkat.


"Mbak, kami pulang dulu ya. Sampaikan salam aku sama Mas Anton ya kalau dia udah pulang nanti."


"Sip, Ra." Mbak Nadine mengacungkan jempol dengan disertai senyuman manisnya. "Cean, Aura, besok-besok main kesini lagi, ya," ucapnya.


"Siapp, Bunda." Cean dan Aura memang mengikuti jejak Elara dan Liora yang memanggil Mbak Nadine dengan sebutan Bunda.


Mbak Nadine mengacak gemas rambut Aura dan Cean bergantian.


"Elara, Liora ... Tante, Cean dan Aura pulang dulu ya. Kapan-kapan kita main lagi. Oke?"


Kedua anak perempuan itu mengangguk antusias. Mereka tidak kapok bertemu lagi meski tak jarang ribut dan bertengkar karena berebut mainan. Ya, begitulah anak-anak.


Aku kembali mengemudikan mobil saat hari sudah menjelang sore.


Malam harinya, aku baru saja mau menghubungi Sky kembali saat sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponselku. Pesan itu berisi foto-foto yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal.


Aku membuka file foto yang jumlahnya cukup banyak. Disana ada sekitar sembilan foto yang diambil diwaktu dan tempat yang sama. Menunjukkan interaksi Sky dengan seorang wanita cantik dan mereka terlihat sangat akrab sekali.


Aku menduga itu adalah salah satu teman kerja Sky yang juga seorang desaign interior ataupun arsitek juga. Tapi, foto terakhir yang dikirim membuatku terbelalak kaget.


Disana, Sky tampak sedang makan berdua dengan wanita itu dan si wanita memegang pipi Sky dengan sangat mesra. Entah ini hanya perasaanku saja, tapi dalam foto itu Sky tampak membiarkannya.


Rasanya aku ingin menangis sekarang. Siapa wanita ini? Dan siapa yang dengan sengaja mengirimiku pesan semacam ini. Hatiku terenyuh, niatku yang mau menelepon suamiku langsung ku urungkan seketika. Meski aku terbakar cemburu tapi aku harus bisa mengendalikan emosi serta berpikir secara rasional. Aku tidak mau bertindak gegabah yang justru akan membuatku menyesalinya nanti.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2