EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
56. Menyulut kemarahan


__ADS_3

"Jadi, udah berapa lama?" tanya Anton dingin.


Sekarang, mereka bertiga sudah kembali ke kediaman Anton, tentunya Shanum dan Juna harus siap menghadapi penghakiman ini.


"Mas, ini gak seperti yang kamu pikirkan." Juna angkat bicara, ingin menepis tuduhan Anton kepadanya.


Anton menggelengkan kepalanya. "Yang ku tanya, udah berapa lama! Berapa lama kalian mengkhianati aku sama Yara?"


Anton menekankan kata-katanya, bahkan ia menggebrak meja dengan keras, membuat mata Shanum langsung terasa panas dan bendungan air pun langsung terkumpul diujung matanya saat itu juga.


"Udah satu tahun," jawab Shanum akhirnya, sementara Juna semakin menundukkan wajah.


Anton tertawa sumbang karenanya. "Setahun?" tanyanya sarkastik. "Kalau gitu aku gak perlu tanya lagi dong berapa kali kalian berbagi keringat?" lanjutnya.


"Mas--"


"Yang jelas, pasti itu lebih dari sekali, ya, kan?" Anton tertawa, tapi sekarang ia juga tak bisa menahan linangan airmata kecewa. Buru-buru Anton menghapus airmatanya, ia tak mau terlihat lemah meski kenyataan ini begitu menyakitkan bagai mengulitinya sampai lapisan terdalam.


Shanum tampak menarik nafas dalam. Seolah ingin mengutarakan kalimat, tapi juga tampak ragu disaat yang sama.


Beberapa saat hening, mereka seakan berpikir dengan pemikiran masing-masing.


"A--aku pilih Juna, Mas," kata Shanum akhirnya, meski sebenarnya Anton belum menanyakan siapa yang akan dipilih wanita itu, ternyata Shanum malah lebih dulu bicara.


Anton kembali tertawa sinis, ternyata Shanum masih berani bersuara juga dan ucapan wanita itu terdengar jelas jika dia tidak menyesali segala perbuatannya selama ini, melainkan dengan yakin dan mantap menyatakan bahwa Juna adalah pilihannya. Shanum bahkan mengabaikan bagaimana perasaan Anton yang adalah suaminya sendiri.


Anton menatap Juna yang tertunduk. Ingin rasanya ia menghajar adik iparnya itu, tapi untunglah Anton masih memiliki nalar yang berfungsi dengan baik, sehingga dia tidak mau membuang-buang energi hanya untuk menghajar kelakuan pria yang dengan berani mengganggu rumah tangganya.


Toh, Shanum juga bukan istri yang baik, jadi Anton merasa tak perlu memperjuangkannya.


"Baik, jika pilihanmu adalah dia, maka setelah kamu melahirkan... aku akan segera mengurus perceraian kita," tukas Anton langsung ke point-nya.


Sebenarnya Shanum merasa syok sebab tidak ada sedikitpun Anton menghalanginya. Bukankah ia amat berharga bagi pria itu? Kenapa Anton bersikap seperti merelakannya begitu saja? Tapi, sekali lagi Shanum menguatkan hati, setidaknya dengan keputusan yang baru saja Anton katakan tadi, membuatnya bisa terlepas dari pernikahannya saat ini, hingga nantinya ia bisa membersamai Juna di kemudian hari.


Pada akhirnya, Shanum mulai mengembangkan seulas senyum. Setidaknya, Anton tidak mempersulit perceraian mereka nantinya.


"Benar-benar tidak tau malu," gumam Anton. "Aku tidak merugi melepaskan wanita seperti kamu, tapi aku ingatkan, kamu yang akan merugi telah mengkhianati aku!" tandas Anton kemudian.


Hal itu cukup menohok bagi Shanum, ia pun refleks meraih jemari Juna demi mencari pegangan untuk menguatkannya. Juna membalas genggamannya, tetapi pria itu tetap saja menundukkan kepala.


Juna sendiri merasa amat malu, hubungan yang selama ini ia sembunyikan pada akhirnya harus diketahui oleh Anton. Selanjutnya, hal ini juga pasti akan terdengar ditelinga Yara. Lalu, bagaimana ia bisa tetap mempertahankan rumah tangganya?


"Karena kamu memilih dia daripada aku, lebih baik kamu juga mencari tempat tinggal yang lain. Rumahku, tidak bisa menampung seorang wanita yang sejatinya sudah bukan lagi sebagai istriku."

__ADS_1


Shanum pun berdiri dari duduknya, dengan wajah menantang ia kembali menyahut. "Oke, gak ada gunanya juga aku disini. Perlu kamu tau, Mas. Juna juga udah belikan aku rumah, rumah itu sebenarnya buat aku, bukan buat Yara! Jadi, dengan senang hati aku bakal pindah dari sini," jawabnya mulai berani.


Anton terdiam. Ternyata Juna memang se brengsek itu. Tiba-tiba kemarahan yang tadi sempat ia pendam, perlahan muncul dipermukaan.


"Dengar, aku tidak akan memukulmu demi membela wanita seperti Shanum..." Kata-kata Anton sengaja ia jeda. Dengan gerak sigap, ia menghampiri posisi Juna yang terduduk, lalu dengan cepatnya-- ia pun menarik kerah baju pria itu.


"... tapi, kau layak di pukul karena telah menyakiti Yara!" lanjut Anton kemudian, lalu memukul Juna dengan membabi buta.


Bugh! Bugh!


Suara lengu han kesakitan Juna mulai terdengar, beradu dengan suara hantaman dari Anton kepadanya. Shanum yang menyaksikan itu juga memekik dengan keras. Perlahan suara Juna mulai berubah menjadi rintihan dan ringisan.


Shanum pun menjerit-jerit histeris. Ia tidak menyangka jika ucapannya justru menyulut kemarahan Anton yang lebih parah lagi, padahal tadi Anton tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan pemukulan, tapi ucapan Shanum seakan mengingatkan pria itu mengenai kesalahan Juna yang lainnya. Yang justru menyinggung perasaan Anton sebagai seorang kakak bagi Yara.


Juna bahkan terlihat pasrah dan tidak membalas saat Anton kembali memukulnya, bahkan menyerang perut pria itu dengan lututnya secara berkali-kali.


"Bi a dap! Kau mempermainkan perasaan dua orang saudara! Tidak selayaknya kau masuk dalam kehidupan kami. Ku harap kau pergi sejauh mungkin, bawalah wanita ini..." Anton menunjuk Shanum dengan nafas yang terengah-engah sebab baru saja memukuli Juna yang kini telah tak berdaya.


Sekarang Anton bahkan dalam keadaan dibanjiri keringat dengan api kemarahan yang terus membakar dirinya sendiri. Ia benar-benar murka pada kelakuan Juna yang telah menyakiti Yara, bahkan sampai setahun berlalu. Dan dengan gampangnya, Juna juga memperalat Anton untuk mendamaikan hubungannya dengan Yara.


Apalagi nama lain untuk lelaki ini jika tidak 'breng sek'?


"Pergilah selagi aku masih membiarkan kalian hidup!"


Tapi, hati Anton bahkan lebih sakit saat melihat dengan nyata bahwa wanita yang sudah empat tahun menjadi istrinya tengah menangisi pria lain dihadapannya.


"Jangan banyak drama! Rumahku bukan rumah duka untuk menyaksikan tangisanmu!" kata Anton pada Shanum.


Shanum menatap Anton dengan tatapan marah, tapi Anton membalasnya dengan tatapan yang lebih parah. Bengis dan kecewa.


"Dalam lima belas menit, pergi dan tinggalkan rumahku!!" seru Anton yang sekarang intonasinya berubah menjadi kalimat perintah yang tidak bisa dibantah.


"Iya, kami akan pergi, Mas!" sahut Shanum masih terisak. Anton makin muak melihatnya.


"Jika anak dalam kandunganmu itu adalah anakku, maka dia akan menjadi tanggung jawabku," lirih Anton sebelum Shanum benar-benar memboyong Juna untuk pergi.


"Gak, ini anaknya Juna, mas!" ujar Shanum yang sudah putus urat malunya.


"Yakin sekali?" Anton tersenyum meremehkan.


"Aku percaya ini adalah anak Juna, bukan akan kamu, Mas!"


Sekali lagi ucapan Shanum sangat menampar dinding hati Anton.

__ADS_1


"Terserahmu! Tapi satu yang harus kau ingat Shanum, jika kau percaya pada pria yang telah mengkhianati istrinya sendiri, bahkan tega mengganggu rumah tangga kakak iparnya serta membohongi banyak orang, artinya kau melakukan tindakan yang sia-sia. Karena orang seperti itu sudah jelas tidak dapat dipercaya," kata Anton menambahkan.


Shanum hanya diam, tapi ucapan Anton itu seakan terekam jelas di benaknya.


Pada akhirnya, dengan susah payah dan tanpa bantuan orang lain, Shanum membawa tubuh Juna yang tergeletak-- untuk segera bangkit. Meski Juna masih sadar dan pasti mendengar segala ucapan Anton tadi, tapi tak satupun pria itu berani menjawab.


Shanum mulai memapah tubuh Juna untuk keluar dari kediaman Anton.


Tapi secara mendadak, wanita itu ingat akan barang-barangnya yang masih tertinggal didalam rumah pria yang sempat menjadi suaminya itu.


"Bentar ya, aku mau ambil baju-baju aku dulu," katanya lembut pada Juna.


Sementara Anton, memperhatikan saja interaksi mereka berdua dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Hatinya seakan membeku seketika. Ia masih tidak percaya semua ini nyata tapi begitulah adanya.


"Mau apa balik lagi?" tanya Anton yang melihat Shanum akan kembali masuk rumah, setelah sebelumnya mendudukkan tubuh lemah Juna di kursi teras.


"Aku mau ambil barang-barang aku."


Anton menyunggingkan senyum miring. "Barang yang mana maksud kamu?" tanyanya mencibir.


"Semua, baju, make up, perhiasan!"


Anton menggeleng samar dengan senyuman kecil. "Apa selingkuhanmu itu tidak mampu membelikan mu yang baru?" sarkasnya.


"Mas? Kamu ingin meminta kembali semua yang udah kamu berikan ke aku?" tanya Shanum agak terkejut.


"Bukan gitu, aku cuma mau mengingatkan kamu, kalau pada saat kamu menginjakkan kaki dirumah ini untuk yang pertama kalinya, kamu juga gak bawa apa-apa selain baju yang kamu kenakan. Kamu lupa, semua yang kamu punya itu berasal dari siapa?"


"... jadi, aku pikir kamu juga mau angkat kaki dari rumah ini tanpa membawa apapun, sekalian aku mau lihat, apa Juna mampu memenuhi kebutuhan kamu seperti aku yang selama ini berjuang keras untuk kehidupan kamu agar layak!"


Shanum tidak mau mendengar ungkitan masa lalu itu, meski yang Anton katakan adalah kebenaran, tetapi ia tidak mau Anton membanding-bandingkan diri dengan Juna.


"Juna seribu kali lebih baik dari kamu, Mas."


Anton tersenyum getir. "Ya, kalau gitu buktikan kalau omongan kamu itu benar! Kita lihat berapa tahun kedepan. Eh, enggak... beberapa bulan kedepan, apa kamu pikir perbuatan kamu sama Juna itu gak akan ada karmanya?"


"Kamu nyumpahin aku, Mas?"


"Gak, sama sekali enggak. Bahkan aku gak akan membalas kamu, Num. Biar alam yang membalas perbuatan kalian dan seberapa sakitnya hati aku dan Yara hari ini."


Bersambung ....


*****

__ADS_1


Jangan lupa terus dukung novel ini dengan cara like, vote, komen dan tap love🥰 kopi sama bunga juga dehh🙏


__ADS_2