
Sesuai dengan janjinya, hari ini Nadine akan mengunjungi kediaman kakak Yara untuk melihat bayi malang yang sudah ditinggalkan sang ibu untuk selamanya.
Sebelumnya, Yara memang sudah mengirimkan alamat kediaman sang kakak pada Nadine agar memudahkan wanita itu untuk menuju tempat tersebut.
"Ra? Mbak hampir sampai di alamat yang kamu kasi." Nadine menelepon Yara.
"Ah, iya, mbak aku juga udah dijalan, kok," sahut Yara dari seberang panggilannya.
Nadine pun memutus panggilan setelah memastikan Yara juga akan tiba disana sesaat lagi.
Kini, mobil yang dikendarai Nadine sudah memasuki area luar rumah milik kakak Yara yang belum pernah dia kenal selama ini.
"Ini rumahnya?" Nadine melihat plang yang bertuliskan nama bengkel Anton. Dia tak curiga, nama itu banyak dimana-mana.
"Iya, kayaknya emang yang ini, deh." Wanita itu bermonolog sembari mulai membuka sabuk pengamannya.
Nadine pun turun dari mobilnya dan melangkah pelan ke rumah Anton yang memang tidak dipagari.
"Permisi ...." Nadine mengetuk pintu rumah. Dia akan memilih menunggu Yara di teras rumah itu saja, daripada menunggu didalam mobilnya seperti orang bo doh, lagipula tak lama lagi Yara juga akan sampai, pikirnya.
"Ya, bentar...."
Terdengar suara sahutan dari arah dalam. Nadine menajamkan pendengaran, dan sudah dapat ia dengar jika disana juga ada suara tangisan bayi yang cukup kencang.
"Kasihan bayi itu," batin Nadine.
Sejujurnya, meski Nadine belum memiliki anak tapi jiwa keibuan yang ada dalam dirinya merasa tersentuh karena mengetahui kabar mengenai sang bayi.
Klek, pintu itu baru saja di bukakan.
Seorang pria muncul dari sebaliknya, menatap Nadine dengan tatapan yang bisa dikatakan bahwa diapun cukup terkejut. Keadaan pria itu adalah hanya mengenakan kaos putih, celana pendek dan rambut yang terlihat acak-acakan.
Satu tangan sang pria masih memegang handle pintu dan satu tangan lainnya menggendong bayi mungil yang masih menangis terus menerus.
Untuk beberapa saat, Nadine tertegun. Ada rasa kaget dan kagum yang bercampur menjadi satu, tapi rasa prihatin juga muncul disaat yang sama --hingga akhirnya wanita itu mengulurkan tangan dengan niat memberi bantuan.
"Boleh aku bantu?" tanyanya.
...~~~...
Anton merasa kerepotan hari ini, ini adalah hari ketiga dimana Shanum telah berpulang selama-lamanya. Ia menjaga Baby Elara dengan penuh perhatian bahkan nyaris tak tidur hampir setiap malam. Ia takut telat memberi susu, ia juga takut Baby Elara digigit nyamuk.
Jika saja bisa, Anton ingin membuka matanya semalaman untuk memantau apapun yang terjadi pada sang bayi. Kedapatan satu tanda bahwa Baby Elara di gigit nyamuk saja, sudah membuat Anton merasa sangat menyesal, kenapa tadi ia harus memejamkan mata? Begitulah.
Baru saja ia selesai mandi, tapi disitulah Baby Elara menangis tak henti-henti, padahal tadi waktu ditinggalkan ke kamar mandi, sang bayi masih dalam keadaan tidur dengan nyenyak. Anton memperhatikan ke sekitar dengan lebih teliti, mencari tau apa yang dialami Baby Elara hingga membangunkan tidurnya. Apakah haus? Sepertinya tidak, Baby Elara baru saja minum susu tadi.
Anton melihat popok dan itu nampak masih kering. Akhirnya Anton menyadari jika Elara di gigit semut. Ingin rasanya Anton mengumpat semut yang sudah berani mengganggu tidur putrinya itu. Padahal tadi dia sudah memastikan jika keadaan tempat tidur dalam keadaan bersih.
Anton belum selesai dengan dirinya sendiri, ia terpaksa sibuk mendiamkan Baby Elara lagi. Ia belum mengenakan baju yang baik. Hanya kaos dalam@n dan sepotong celana pendek yang biasa dia gunakan sebagai celana tidur. Rambutnya apa kabar? Entahlah, ia seakan lupa cara menyisir rambutnya sendiri.
Disaat keadaan repot, terdengar sapaan dari luar. Ah, pasti itu Yara, pikirnya.
Anton segera menyahut.
"Ya, bentar...."
__ADS_1
Sebenarnya Anton merasa tak enak jika Yara harus setiap hari kesini, tapi jika sang adik masih kekeuh menolongnya-- ia juga turut merasa bersyukur teramat sangat.
Mau meninggalkan Baby Elara di tempat tidur lagi, tapi takut masih ada semut yang mengintainya. Jiwa protect dalam diri Anton muncul dan tak tega, akhirnya ia memutuskan untuk menggendong Baby Elara untuk sekalian ikut bersamanya dan membukakan pintu.
Tapi, saat pintu itu telah terbuka olehnya, Anton merasa terkejut dengan kedatangan tamu yang tidak pernah ia duga.
Tidak, tidak, apa ini mimpi? Kenapa bisa wanita ini datang ke kediamannya? Perasaan kemarin mereka hanya berkenalan nama satu sama lain tapi tidak mengatakan alamat masing-masing. Apa dia mau menuntut Anton? karena ketahuan memakai nama belakangnya untuk sang putri? Ah, entahlah. Lagipula, tidak ada hak paten untuk sebuah nama, kan?
Siapa namanya? Tentu saja Anton ingat jika dia bernama Nadine.
Untuk beberapa saat, mereka saling menatap dalam diam, entahlah apa yang dipikirkan Nadine tentang dirinya yang berpenampilan acak-acakan seperti ini. Jujur saja, Anton merasa malu dan rendah diri.
Entah bagaimana, Anton percaya saja pada wanita itu saat dia menawarkan semacam bantuan.
"Boleh aku bantu?"
Dan Anton langsung mengulurkan Baby Elara pada sang wanita dengan entengnya tanpa bertanya niat dan maksud dari kedatangan sang wanita.
Kenapa Anton percaya saja dan menyerahkan Baby Elara pada Nadine? Kenapa ia tak takut jika Nadine akan menyakiti putrinya atau bahkan menculiknya? Mereka bahkan hanya saling berkenalan sepintas, bukan saling mengenal dengan dekat.
Kemana jiwa protect Anton yang tadi sempat datang dan bahkan ingin melindungi Baby Elara dari semut kecil?
Kenapa sekarang jiwa melindungi itu hilang--saat bertemu Nadine? Hingga mempercayai saja tindakan wanita itu yang tampak langsung menyambut tubuh mungil Baby Elara? Dan kini Nadine juga membawa sang bayi dalam gendongan?
Mana jiwa pelindungmu Anton? Kenapa membiarkan bayimu digendong orang asing? Kau percaya padanya begitu saja? Bagaimana jika dia menyakiti Elara?
Begitulah sisi dalam diri Anton berteriak, nyatanya ia mengabaikan itu dan membiarkan Baby Elara yang mulai tenang dalam momongan Nadine sekarang.
...~~~~...
Anton menggosok tengkuknya sendiri, ternyata benar jika Nadine tau nama putrinya. Bagaimana jika Nadine tau ia mengambil nama Elara karena pertemuannya dengan Nadine tempo hari? Kenapa rasanya malu, meski tidak akan dituntut oleh sang wanita.
"Iya, kayaknya dia digigit semut."
"Harusnya kamu kasi oil atau lotion, biar gak digigit nyamuk sama semut."
"Memangnya ada?"
Nadine terkekeh mendengar pertanyaan polos seorang Anton.
"Ada, lotion bayi anti gigitan serangga, banyak kok di supermarket."
Anton menganggukkan kepalanya canggung. "Iya, nanti saya belikan buat Elara."
Kembali wanita itu tersenyum manis, tapi kali ini bukan tersenyum pada Anton, melainkan pada Baby Elara yang mulai kembali mengantuk.
"Gemes banget sih kamu..." gumam Nadine seolah bicara pada sang bayi. Dia mengelus-elus lembut pipi mungil Baby Elara.
Anton memperhatikannya saja, kemudian barulah dia tersadar mengenai sesuatu yang seharusnya ia tanyakan pada Nadine sejak awal kedatangan wanita itu.
"Kamu .... kok bisa kesini? Tau alamat saya dari mana?"
"Jangan pikir kalau aku kesini karena mencari tau alamat Mas diam-diam atau semacam paparazi, ya," canda Nadine.
Untuk itu, Anton menyunggingkan senyumnya. Tentu ia tidak berpikiran demikian, tetapi ia cukup penasaran apa yang mengantarkan Nadine sampai ke kediamannya.
__ADS_1
"Jadi, aku kesini mau ketemu Yara. Jadi, Yara itu adiknya Mas Anton, ya?"
Anton mengangguk. "Ya, Yara adik saya."
"Ampun deh, ternyata dunia emang sempit," gumam Nadine tak habis pikir.
Kemudian mereka saling memandang satu sama lain secara serentak. Sadar jika mereka sama-sama tertangkap basah saling memperhatikan satu sama lain, akhirnya keduanya tergelak.
"Ya ampun, nanti Elara bangun." Nadine merasa terlalu lepas tertawa, sampai lupa jika Baby Elara hampir terlelap dalam gendongannya.
"Ya, kalau Elara bangun, kamu tenangin aja lagi," jawab Anton.
Nadine mengangguk-anggukkan kepalanya yang sekarang kembali menaruh perhatian pada wajah putri Anton itu.
"Ehm ... tapi, kenapa namanya Elara?"
"Kenapa emang?" tanya Anton pura-pura bo doh.
"Soalnya itu nama belakang aku, lho, Mas," akuinya.
"Kok bisa sama, ya?" Anton justru balik bertanya, berlagak tak tau menahu.
Nadine hanya tertawa pelan, sampai perhatian keduanya teralihkan pada sebuah mobil hitam yang baru saja tiba dan berhenti tepat disebelah mobil Nadine yang terparkir.
"Mbak, maaf ya, agak lama. Macet tadi dekat pasar situ." Yara berjalan menuju arah teras.
Nadine menganggukkan kepalanya merasa tak masalah dengan keterlambatan Yara.
"Mas, kok tamunya gak diajak masuk, sih?"
Sebenarnya Anton sampai lupa mengajak Nadine masuk, kalau Yara tak mengingatkannya sekarang, mungkin mereka bisa disana terus sampai wanita itu memutuskan pulang---nanti.
"Eh, iya, ayo silahkan masuk." Anton pun mempersilahkan Nadine masuk berikut Yara dan Sky.
Dan disaat yang sama juga, Yara memicing pada penampilan Anton.
"Mas? Kenapa kayak baru bangun tidur? Jangan bilang kalo Mas juga belum mandi, ya?" Yara cekikikan, dibantu dengan suara tawa Sky yang terpendam karena pria itu membungkam mulutnya--takut dimarahi sang kakak ipar karena menertawakannya.
"Eh?" Anton menatap pada dirinya sendiri dan sontak menyadari jika sejak tadi dia berpenampilan begini dihadapan Nadine.
"Mas udah mandi kok, dek. Lihat rambutnya aja masih basah. Cuma belum sempat pakaian aja, soalnya Elara nangis terus tadi."
"Oh, gitu ya." Yara mengangguk-anggukkan kepala sambil mengulumm senyum. "Bukan karena mau pamer body didepan Mbak Nadine, kan?" godanya.
"Apaan sih kamu, dek." Anton langsung berjalan ke arah kamar, menghindar dari respon Yara yang seakan memojokkannya. Tentu Anton malu didepan Nadine, entah kenapa.
Seperginya Anton, barulah Nadine bercakap-cakap dengan Yara dan Sky yang ada disana.
"Jadi, Mas Anton itu kakak kamu ya, Ra?"
"Lho, emang mbak Nadine kenal sama Mas-ku?" Yara balik bertanya dan Nadine membalasnya dengan senyuman canggung.
Bersambung ....
Tungguin 2 bab lagi ya. Maaf hari ini up nya agak kesiangan. Hehehe🙏 Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes❤️love sekebon buat kalian💚💚💚💚
__ADS_1