
...2 Tahun Kemudian ......
Yara dan Sky tengah diliputi rasa haru dan bahagia sebab mereka baru saja kehadiran anggota keluarga baru yang menggenapkan dan semakin menyempurnakan keluarga mereka.
Ya, Cean dan Aura akhirnya memiliki adik di usia mereka yang sudah 7 tahun sekarang. Adik bungsu mereka itu laki-laki yang sangat gembul. Yara memanggilnya squishy sebagai julukan untuk bayi lucunya.
"Sayang, nama dia bukan squishy ..." kata Sky memberi Yara pengertian. Sky tidak suka anak-anaknya diberi julukan, tapi ini perbuatan istrinya sendiri jadi sulit untuk diberitahu.
"Biarin, aku mau panggil Rion squishy aja, soalnya pipinya gemesin buat di elus dan cubit-cubit."
Yara menatap gemas pada putra kecilnya yang kini ada dalam gendongannya sendiri.
"Nama anak udah bagu-bagus di panggil squishy," protes Sky sembari berdecak lidah.
"Biarin, aku yang ngelahirin ini."
Benar, kan, karena julukan itu dari Yara sendiri, jadi Sky sulit untuk memperingatinya.
"Ya udah, terserah kamu ajalah. Aku mau jemput Aura dan Cean di sekolah dulu, ya."
Sky mencium pipi Yara kiri dan kanan, kemudian lanjut mencium pipi gembul Rion. Ya, nama putra bungsu mereka itu Grey Orion Lazuardi.
"Papa pergi dulu jemput kakak-kakak, nanti kita ketemu lagi, oke."
Hari ini, Sky memang mengambil cuti bekerja, karena siang nanti akan ada acara syukuran untuk pemberian nama sang bayi di kediaman mereka.
Rumah besar itu bahkan sudah sangat sibuk sekarang. Ada banyak orang yang berlalu lalang untuk mengatur catering, dekorasi dan segala sesuatunya.
Sky beranjak meninggalkan kediamannya dan menjemput Aura dan Cean yang saat ini sudah bersekolah di jenjang kelas 2 SD.
"Papa, Papa!" seru Cean, dia berlari-lari kecil menghirup sang ayah yang menunggunya didepan mobil dengan kacamata yang bertengger di hidung bangirnya.
"Papa!" Kali ini Aura yang datang, bibirnya tampak merengut. Entah apa salah Sky kepadanya.
"Kenapa, Princess?" Sky sedikit berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Aura.
"Aura gak suka kalau Papa yang jemput ke sekolah," sungut bocah perempuan itu.
Cean yang tau Aura akan meledakkan amarah kepada ayah mereka, langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di jok depan--saat itu juga. Sementara, Sky masih setia menunggu Aura menyelesaikan kalimatnya meski Sky tau dan bisa menebak jika putrinya akan memarahinya lagi kali ini.
"Kenapa harus marah-marah sih, princess nya papa?"
"Aura gak suka papa yang jemput. Tadi kan aura udah bilang."
"Kenapa gak suka?" tanya Sky meladeni omelan Aura dengan sabar.
"Coba lihat sekeliling Papa. Semuanya dijemput sama Mama mereka. Jarang yang ada dijemput sama Papanya."
__ADS_1
"Ya bagus, dong... itu artinya Papa masih punya waktu buat jemput Aura dan Cean."
Aura menaikkan telunjuknya, menggoyangkan ke kiri dan kanan.
"No, no, no ... Pa. Itu artinya semua yang ada disini hampir seluruhnya adalah ibu-ibu yang jemput anaknya."
"Terus?"
"Kalau Papa jemput Aura, enak banget deh mereka bisa lihatin papa dengan segitunya."
Disaat yang sama, Sky melirik ke arah yang Aura maksudkan dan benar saja, rupanya sejak tadi dia menjadi pusat perhatian ibu-ibu yang ada disana.
"Bener, kan? Apa aura bilang. Aura gak suka, Pa!" Anak perempuan kecil itu mendengkus. Sky tau Aura tengah protes sekarang.
"Ya biarin aja, mereka punya hak untuk melihat. Mana mungkin Papa melarangnya, kan?"
Aura memicing pada Sky. "Atau ... Papa suka ya diperhatikan sama ibu-ibu disini? Makanya papa pake kacamata gitu biar sok ganteng?"
"Astaga, Aura..." Sky tergelak. Dia tidak menyangka anak kecilnya bisa berkata sefrontal ini seperti orang dewasa saja. Dan yang lebih membuatnya lucu adalah ketika menangkap sifat posesif Aura yang tampak cemburu karena keadaan ini.
"Iya, iya, gak lagi-lagi deh. Papa gak bakal pake kacamata segala biar gak kelihatan sok ganteng," kata Sky mengalah pada akhirnya.
"No, Papa. Lain kali kalau jemput kita gak usah keluar dari mobil. Tunggu di dalam mobil aja. Oke?"
"Oke." Sky menjawab sembari mengacungkan dua jari membentuk huruf V tanda perdamaian dengan gadis kecilnya.
Mereka pun memasuki mobil dan mulai meninggalkan area sekolah.
Sekarang Sky menoleh sekilas pada Cean yang duduk disisinya.
"Kenapa, jagoan?" Sky sedikit khawatir pada Cean yang akhir-akhir ini banyak diam, dia belum tau apa penyebab Cean berubah. Tapi, kali ini dia berniat untuk menanyakannya.
"Sekarang kan udah ada Adek Rion. Apa Papa dan Mama masih mau menyayangi Cean?"
Sky menggaruk pelipisnya sekilas, dia melirik lagi pada Cean yang memasang tatapan sendu. Ini diluar perkiraannya, kini Sky dapat menebak kenapa Cean berubah akhir-akhir ini. Ternyata anak SD bisa baper juga, pikirnya.
"Aura dan Cean adalah anak Papa. Begitu juga adek Rion yang udah ada ditengah-tengah keluarga kita. Kamu tau gak arti keluarga?"
"Keluarga itu tempat kita bernaung. Kumpulan orang-orang yang memahami kita lebih dari siapapun."
Itu adalah jawaban cerdas Cean yang tentu diajarkan oleh Yara kepadanya.
"Nah, itu tau. Adek Rion juga bagian dari keluarga kita. Jadi, dia juga akan bernaung dengan kita didalam lingkup yang sama. Kamu dan Aura gak boleh iri, kita semua harus saling menyayangi."
"Cean sayang sama Adek Rion, Pa. Tapi, Cean takut gak disayangi lagi. Kalau Aura, dia kan anak perempuan papa satu-satunya. Kalau Cean, udah gak satu-satunya lagi sejak ada Rion."
Dalam keadaan fokus mengemudi, Sky menyempatkan untuk mengelus rambut lurus Cean secara berulang-ulang dengan sebelah tangannya yang bebas.
__ADS_1
"Semuanya sayang sama Cean. Meskipun sekarang sudah ada Adek Rion, tapi Cean tetap jagoan Papa yang pertama. Jadi, gak usah sedih lagi ya. Cean nomor 1 dan Rion nomor 2. Keduanya sama-sama anak Papa."
Rion akhirnya tersenyum. sepertinya dia puas dengan jawaban yang Sky berikan.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Sky pun tiba dikediaman mereka. Aura dan Cean diminta untuk membersihkan diri. Bi Dima adalah Asisten rumah tangga mereka yang bertugas menjaga anak-anak selama Yara fokus mengurus Baby Rion.
"Abis bersih-bersih, lanjut makan ya. Nanti siang kan mau ada acara, jadi gak boleh ada drama berantem-beranteman," kata Bi Dima pada dua bocah tersebut. Mereka kerap cekcok juga kendati berbeda gender. Ya, begitulah anak-anak.
Yara datang dengan masih menggendong Rion.
"Anak-anak mama udah pulang?"
"Mama ...." Aura dan Cean heboh dan berebut untuk memeluk sang Mama.
"Hati-hati sayang, nanti mama bisa jatuh, mama lagi gendong Adek, tuh." Sky yang kebetulan lewat, memperingati anak-anaknya dengan lembut.
"Iya, Papa."
Yara mencium kedua putra putrinya secara bergantian. Tidak ada kebahagiaan yang paling lengkap untuknya sekarang selain kebersamaan dengan keluarganya.
"Bi, nanti pastikan anak-anak makan ya." Pesan Yara pada Bi Dima.
"Baik, Nya."
Yara keluar dari arena kamar anak-anaknya, rupanya diluar sudah ramai. Ada Nadine, Anton dan ketiga anak mereka yang sudah datang ke kediaman mereka.
"Mbak ..." Yara dan Nadine bercipika-cipiki.
Selanjutnya, anak-anak riuh dan bermain-main disana, membuat Baby Rion menangis karena tidak biasa dalam keadaan ramai seperti ini.
"Mas, Mbak... nyantai aja dulu ya. Gak usah ngapa-ngapain. Semua udah diatur kok. Sky kayaknya ada di belakang. Aku tenangin Rion dulu ya," pamit Yara.
Anton dan Nadine mengangguki, kemudian melihat-lihat keadaan rumah yang sudah selesai didekorasi untuk acara siang ini.
"Aku temui Sky di belakang ya."
"Oke, Mas," sahut Nadine kepada suaminya.
Nadine memperhatikan anak-anak yang bermain didalam rumah. Disana, selain didekorasi untuk acara pesta. Yara juga sengaja meminta dekorasi Playground agar anak-anak bisa bermain tanpa merengek pada orangtua mereka yang sedang mengikuti acara.
"Kakak Ela?"
"Ya, Ma?" Elara bangkit dari ayunan yang dia duduki.
"Jagain adek-adek ya. Mama mau lihat meja prasmanan dulu, siapa tau ada yang belum disusun disana."
"Iya, Ma." Elara tumbuh menjadi anak yang lembut dan penurut berkat didikan kedua orangtuanya.
__ADS_1
...****...
...Mau di buat berapa chapter ini Bonchap nya??? komen ya guys💚 ...