EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
61. Ingin keduanya


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Juna langsung menemui kedua orangtuanya. Dia berniat menceritakan semuanya.


Dan hal itu ia buktikan. Meski gugup, akhirnya Juna mengakui semua dihadapan Mama dan Papanya.


Tidak seperti didepan Anton, yang hanya mengatakan kesalahan Yara saja, kali ini Juna juga membicarakan tentang perselingkuhannya dengan Shanum.


Bak pengakuan dosa, Juna tidak menutupi apapun lagi sebab ia takut jika kedua orangtuanya mengetahui keburukannya di belakang hari maka akan berdampak buruk pula baginya.


Diakhir kalimatnya, Juna juga mengatakan tentang keadaan Shanum sekarang.


Plak!!!


Sebuah tamparan keras mengenai wajah Juna yang sebelumnya juga sudah dipenuhi bekas pukulan dari Anton.


"Wajar jika Yara membalasmu dengan hal yang sama, Juna!" murka Bu Laksmi, Mama Juna.


Plak!!!


Sekali lagi tamparan itu mengenai pipi Juna yang satunya, kali ini adalah hadiah dari Ayah kandungnya.


"Kamu bahkan layak mendapatkan pukulan yang lebih keras! Apa kamu tidak ingat jika mendiang Bapaknya Yara sudah memberimu amanah untuk menjaga anak perempuannya? Kamu benar-benar membuat Papa malu, Juna!" Pak Bayu pun angkat suara.


"Ma, Pa... Juna khilaf, Juna gak bermaksud menyakiti Yara."


"Khilaf itu sekali. Kalau berkali-kali, sampai bertahun-tahun, bahkan sampai wanita itu hamil itu namanya bukan khilaf, itu namanya doyan!" tuding Bu Laksmi yang semakin marah mendengar ujaran putranya.


Juna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak berani menatap kedua orangtuanya yang dipenuhi amarah akibat kelakuannya.


"Urus anakmu lah, Pa. Mama angkat tangan kalau udah begini. Orangtua pengen tenang dimasa tua malah dikasih aib yang memalukan, mana selingkuhannya istri Anton lagi," kata Bu Laksmi dengan wajah kesal yang tidak dibuat-buat. Wanita itu memang tegas tetapi dia sangat menyayangi putranya. Dalam hati ia juga tidak mau rumah tangga Juna dan Yara harus bubar. Benar ia marah pada Juna, tapi dihatinya yang terdalam ia juga kasihan melihat sang anak, apalagi wajah Juna yang babak belur saat mengunjungi kediamannya.


Seperginya Bu Laksmi, tinggallah Juna bersama sang Papa.


"Jadi, maumu sekarang apa? Kalau mau menikahi wanita itu, ya sudah, kamu ceraikan Yara secepatnya."


Juna langsung menggeleng cepat. "Juna mau tetap sama Yara, Pa... Juna gak mau cerai," katanya dengan wajah memohon.


Pak Bayu langsung menghela nafas dalam-dalam. Ia berharap di beri kekuatan agar tidak terkena serangan jantung akibat ulah putranya yang tidak tahu di untung. Bagaimanapun, Pak Bayu cukup tahu bagaimana karakter Yara, menantunya. Apalagi ini menyangkut penghianatan Juna, apa Yara masih mau menerima? Pikirnya.


"Tolong, Pa... bantu Juna mempertahankan rumah tangga kami. Papa sama Mama bantu bujuk Yara."


"Kamu bilang Yara juga selingkuh? Apa kamu tetap mau menjalani rumah tangga kalian yang tidak sehat? Apa kamu rela meninggalkan wanita lain itu dan apa Yara juga siap meninggalkan lelakinya?"


Juna menggaruk tengkuknya sekilas. "Juna yakin Yara gak selingkuh pakai perasaan, Pa. Dia cuma mau membalas kelakuan Juna aja. Kalau mama dan papa berhasil meyakinkan Yara, pasti dia bakal luluh dan kembali sama Juna."

__ADS_1


Pak Bayu tampak berpikir dan menimbang-nimbang.


"Ya udah, Papa bakal bantu kamu tapi selesaikan dulu hubunganmu dengan si Shanum itu. Anak yang dia kandung juga belum tentu anakmu, kan?"


Juna menundukkan pandangan. "Juna juga gak bisa ninggalin Shanum, Pa," katanya lesu.


Disaat itulah kemarahan Bu Laksmi kembali mencuat. Rupanya ia tidak benar-benar pergi, ia mendengarkan percakapan kedua pria itu dari ruang tv.


Seketika itu juga Bu Laksmi mendatangi ruang tamu lagi. Ia menatap Juna dengan nyalang.


"Jadi, maksudmu kamu mau kedua-duanya, hah?" tanyanya semakin marah.


Juna mengangguk samar, menyatakan bahwa jawabannya adalah 'iya' tetapi ia juga ragu untuk mengucap itu dengan kata-kata karena melihat pancaran amarah dari wanita yang melahirkannya.


Bu Laksmi langsung geleng-geleng kepala. "Pilih salah satu! Mama gak pernah ngajarin kamu jadi serakah, Arjuna!" tekannya.


Juna mengadah pada sang Mama. "Juna gak bisa, Ma. Juna cinta Yara, gak mau kehilangan dia. Sementara Shanum, dia sedang hamil yang kemungkinan itu adalah benih Juna, darah daging Juna!" tukasnya.


Bu Laksmi langsung pening, tidak terpikir olehnya jika sang anak akan memiliki sikap seperti ini.


"Juna, jadi laki-laki itu harus punya komitmen. Kamu harus bisa memilih. Yara atau Shanum." Pak Bayu mulai menengahi, suaranya juga tak sekeras diawal tadi.


"Juna mau tetap sama Yara, Pa. Tapi dia belum kunjung hamil anak Juna. Sementara Shanum sekarang lagi hamil, gak mungkin Juna tinggalkan. Apa Mama dan Papa gak ada keinginan untuk gendong cucu? Cuma Shanum yang bisa mewujudkan itu."


"Baiklah, papa dan mama akan bantu kamu untuk membujuk Yara. Tapi, apapun pilihan Yara nanti kita gak bisa memaksanya."


"Makasih, ma, makasih, pa...." Juna sampai berlutut karena tujuannya tercapai. Akhirnya orangtuanya mau untuk membantunya.


Juna yakin, Yara tidak akan berkutik jika kedua orangtuanya sudah meminta. Yara sangat menghormati kedua orangtua Juna sebagai mertuanya selama ini.


...~~~...


Setelah makan di pantai itu, Sky akhirnya mengantarkan Yara ke rumah kontrakannya yang baru. Mau tak mau akhirnya Yara jujur pada pria itu mengenai tempat tinggalnya.


"Udah, ini udah hampir jam 12 malam. Kamu langsung pulang aja," kata Yara mengusir Sky secara terang-terangan.


"Udah diajak jalan-jalan. Diajakin makan. Masih juga selalu diusir," tutur Sky yang berlagak cemberut.


"Terus? Kamu mau mampir, gitu?"


"Kalau boleh. Kan aku tamu."


"Mana ada orang bertamu jam segini. Yang bertamu jam segini itu hantu," papar Yara mengolok.

__ADS_1


"Jahat banget sih, masa aku dikatain hantu. Untung cinta, kalo gak, udah aku kata-katain juga kamu," gumam Sky pelan.


"Apa kamu bilang?" tanya Yara yang mendengar sekilas saja.


"Gak."


"Bilang apa tadi?"


"Aku bilang... aku cinta Ayara."


"Bukan yang itu..."


"Orang memang itu kok yang aku bilang tadi."


"Gak, kamu bilang mau ngata-ngatain aku, kan? Emang kamu mau ngatain aku apa?" tanya Yara dengan tatapan menantang.


Sky menyengir, memasang wajah tanpa dosanya. "Gak ada, Sayang. Aku cuma bilang cinta kamu, sayang kamu, itu aja kok. Mana mungkin aku ngata-ngatain kamu," elaknya.


Yara mengangguk-anggukkan kepalanya, "Gitu ya? Emang, kalo aku kasih kamu kesempatan untuk ngata-ngatain aku, kamu mau bilangin aku apa, coba?"


"Hehe, kamu jutek, bawel, ngeselin, cemburuan---" Sky tak sempat melanjutkan kalimatnya karena di detik yang sama Yara juga menarik telinga pria itu.


"Terus, apa lagi?" tanya Yara pada Sky yang sekarang mengangkat kedua tangannya sambil meringis memohon ampun.


"Kamu makin mirip mama aku kalau jewer telinga aku kayak gini, Ra..." kata Sky dengan wajah memerah sebab benar-benar merasa kesakitan.


Yara langsung melepaskan tangannya dari telinga Sky. "Makanya jangan ngatain aku. Dah, pulang sana!" katanya.


Yara pun menarik handle pintu mobil, tapi Sky kembali menarik lengan wanita itu.


Cup...


Satu kecupan lembut dilabuhkan Sky pada kening Yara, membuat wanita itu tertegun sejenak.


"Love you," bisik Sky didepan wajah Yara yang terdiam.


"Y-ya..." sahut Yara gugup, ia langsung menuruni mobil saat itu juga-- sebab sekarang jantungnya terasa berdetak lebih kencang daripada sebelumnya.


Yara pun menatapi mobil Sky yang perlahan mulai menjauh.


"Love you too, Sky..." gumamnya, seolah membalas perkataan pria itu beberapa menit lalu.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2