
Menjelang sore, akhirnya Sky dan Yara berangkat menuju kediaman Nadine.
Disana, Nadine sudah menunggu kedatangan keduanya karena sebelumnya mereka memang sudah menghubungi wanita itu.
"Jadi, kalian udah menikah?"
Seperti dugaan Yara, respon Nadine tampak sangat terkejut saat mengetahui mengenai hal ini. Bagaimana tidak, kemarin mereka baru saja menghadiri pesta pernikahan Rina dan disana Yara dan Sky malah terlihat jaga jarak, lalu kenapa sekarang tiba-tiba mereka sudah menikah?
Yara tersenyum sungkan. "Ceritanya panjang, Mbak. Intinya, kedatangan aku kesini mau bilang sama mbak kalau aku gak bisa lagi kerja di rumah, Mbak," jelasnya.
"Ya, mbak ngerti kok, Ra."
"Mbak gak apa-apa, kan? Maaf ya karena aku mendadak bilangnya."
"Mau gimana lagi, Ra. Sky juga gak mungkin izinin kamu kerja lagi dirumah mbak. Lagian, mbak setuju kok sama keputusan kamu ini, gak seharusnya kamu terus kerja jadi ART disini."
"Aku harap kita masih bisa komunikasi meskipun aku udah gak kerja disini ya, mbak."
Nadine tersenyum. "Iya, Ra. Mbak juga pengennya gitu. Ah iya, Mbak sampai lupa, selamat ya untuk pernikahan kalian. Mbak ikut seneng denger berita bahagia ini meskipun kaget juga," katanya.
"Makasih banyak, ya, mbak."
"Ntar kalau buat acara jangan lupa undang mbak ya."
"Pastilah, mbak, mbak sendiri gimana? Gak balik ke Singapore? Udah sebulan ini belum ada kesana lagi, kan?"
Nadine menghela nafas berat. "Belum tau sih, Ra. Mbak sebenarnya males kesana, buat apa, gak ada yang nyariin juga, tapi mau gimana ya, namanya mbak masih terikat pernikahan sama Mas Lucky," imbuhnya sendu.
"Aku harap mbak bisa lebih sabar dan berbesar hati. Tapi aku juga mau mbak bisa tegas dalam mengambil keputusan."
"Amin. Semoga aja ya, Ra."
Akhirnya Nadine mengantarkan kepulangan Sky dan Yara sore itu.
Disisi lain, Yara melirik Sky yang sudah kembali mengemudikan mobil. Pria itu tampak senyum-senyum sendiri sekarang.
"Kenapa kamu?"
"Gak ada sih," kilah Sky masih dengan senyum misteriusnya.
"Jadi kenapa senyam-senyum gitu? Kerasukan?" ejek Yara.
Sky malah tertawa mendengarnya.
"Bukan apa-apa, Sayang, jadi aku cuma keinget aja sama tebakan Rina kemarin."
"Tebakan?"
"Iya, jadi kemarin Rina doain supaya diantara aku, Rozi sama Ilyas, ada yang akan menyusul ke jenjang pernikahan seperti dia, nah ... Rina nebak kalau yang selanjutnya bakal nyusul itu aku dan ternyata tebakan Rina jadi doa, sekarang aku bener-bener udah nikahin kamu."
Yara ikut tertawa sekarang. "Terus?"
"Apa aku perlu kasi Rina hadiah, sayang? Kan tebakan dia benar terus manjur pula."
Yara geleng-geleng kepala. "Sky, Sky..." katanya tak habis pikir.
"Eh, tapi, kita kan udah menikah sekarang, kamu gak mau kasi aku panggilan baru, gitu?"
__ADS_1
Yara tersentak mendengarnya, ia melongo beberapa saat. "Jangan bilang kamu mau di panggil Mas sekarang?" ujarnya.
Sky mengulumm senyum. "Kalau Mas, ntar samaan sama mantan kamu, dong!" katanya berlagak mencebik.
"Hahaha, perasaan kamu deh yang mantan aku."
"Itu kan dulu, sekarang udah jadi suami. Lupa?"
"Iya iya, ingat ...."
"Ya udah, kamu manggil aku apa dong sekarang? Masa manggil suami sama kayak manggil mantan?"
Sekali lagi Yara tidak dapat menahan tawanya, akhirnya ia menanyakan saja Sky mau dipanggil apa olehnya.
"Kamu maunya aku panggil apa?"
"Hmm, apa, ya?" Sky tampak berpikir meski sekarang ia tetap fokus mengemudi.
"Sayang? Baby? Honey? Bunny? Sweetie?" tanya Yara dengan intonasi yang seolah tengah mengejek pria itu dan di lebih-lebihkan, lebay.
"Udah biasa! Gak mau!"
"Hubby?"
"Gak!" Kali ini Sky ikut tertawa. Pembahasan konyol semacam ini justru membuatnya lucu sendiri.
"Terus apa, dong? Semuanya gak mau... Oppa? Yeobo? Chagiya?" tanya Yara kemudian.
"Ya kali aku jadi kayak suami di drama Korea," protes pria itu.
"Gimana kalo, Anata? Itu bahasa Jepang. Perempuan Jepang yang udah menikah, biasa menggunakan panggilan itu saat bicara dengan suaminya."
"Anata? Bagus... emang artinya apa?" tanya Yara polos.
"Dalam bahasa Jepang, 'anata' artinya sama dengan 'sayang'."
Yara mengangguk-anggukkan kepalanya sekarang.
"Coba praktek..." titah Sky dengan mengulumm senyum.
Yara terkikik, tapi kemudian ia seperti tengah merangkai kalimat untuk menggunakan kata itu.
"Sekarang kita kemana, Anata?" tanya wanita itu dengan sangat lembut.
Seketika itu juga Sky terbahak.
"Tuh, kan kamu ... aku udah cobain manggil gitu kamu malah ketawa!" Yara pun mendengkus sebal.
"Iya, iya, maaf. Cuma asli, lucu banget sih kamu."
Yara mengerucutkan bibirnya dan membuang pandangan ke luar jendela. Sia-sia usahanya yangp mencoba permintaan pria itu, nyatanya respon Sky malah menertawakannya.
"Maaf ya, aku suka gemes lihat kamu. Bawaannya pengen nyubit pipi kamu kayak gini."
Tiba-tiba tangan Sky terulur dan sudah menarik pipi Yara dengan gemasnya, bahkan Yara belum sempat mengelak, hingga akhirnya dia pasrah dengan perlakuan pria itu.
"Udah deh, panggil yang biasa aja. Aku gak mau yang aneh-aneh, ntar kamu ketawain."
__ADS_1
"Yang biasa itu gimana coba?"
"Panggil 'sayang' aja," kata Yara akhirnya.
"Ya, coba dong, selama ini juga kamu gak pernah manggil aku 'sayang'," protes Sky.
"Tauk!" Yara sudah badmood sekarang, sementara Sky akhirnya berbelok ke arah tujuannya yaitu kediaman sang Mama.
"Udah sampai, apa cintanya akoh masih ngambek?" kata Sky sembari menaik-naikkan alisnya-- menggoda Yara.
Hhh .... Yara memutar bola matanya, tapi Sky malah menggigit gemas bibir wanita itu yang tampak mengerucut sejak tadi.
"Sky!" protes Yara atas tindakan suaminya.
"Biarin, makanya ngambek aja terus. Jadi, kita di mobil aja gak usah turun sekalian."
Akhirnya Yara memasang senyuman, tentu itu senyum yang dipaksakan. "Udah gak ngambek, kok! Ayok turun!" katanya. Yara juga tak mau Sky benar-benar merealisasikan ucapannya hingga mereka akan menghabiskan waktu di dalam mobil terus.
"Sementara ini, kita tinggal di rumah Mama dulu, sampai pesta pernikahan kita berlangsung nanti--- baru kita cari rumah baru buat kita," celetuk Sky membuat Yara menghentikan langkah sejenak demi menatap wajah sang suami.
"Kamu ... mau beli rumah?"
"Ya iya, emang kamu mau tinggal disini terus sama mama aku?"
"Ya gak apa-apa, mama kamu juga sendirian disini, kan?"
Sky memegang kedua pundak Yara, mengarahkan agar wanita itu dapat melihat padanya.
"Sebenarnya yang kamu bilang itu bener, tapi kita juga butuh privasi dan keluar dari rumah orangtua setelah kita menikah--itu jauh lebih baik. Kita bisa kesini setiap Minggu buat mengunjungi mama," paparnya.
Akhirnya Yara mengangguki ucapan sang suami. Mereka pun masuk ke bangunan yang sudah ditinggali Sky sejak ia kecil itu.
"Ma?"
"Sky, Yara...." Indri menghampiri keduanya dengan senyum yang merekah. "Welcome home," katanya hangat.
Yara langsung menyalami Indri dengan takzim, kemudian duduk di ruang tamu selayaknya tamu seperti yang selama ini ia lakukan jika berkunjung ke rumah Sky.
"Sekarang, ini juga jadi rumah kamu, Ra. Jangan sungkan sebab kamu udah jadi anak mama juga, kan."
"Makasih banyak, ya, Ma."
"Kamu harus ekstra sabar ya ngadepin Sky, kamu tau kan dia itu orangnya suka aneh-aneh."
Baru saja Yara mau menjawab pesan dari sang mertua, Sky sudah berdehem-dehem protes karena mendengar ucapan sang Mama.
"Lihat aja kelakuannya, suka tengil," bisik Indri membuat Yara tergelak.
Sky geleng-geleng kepala. Ia tau jika kedua wanita yang ada di hadapannya ini sedang menceritakannya sekarang.
"Oh, jadi mama udah punya komplotan buat gibahin aku sekarang?" Sky tersenyum miring, membuat Indri segera menarik diri dari sisi Yara dan menghentikan aksi bisik-bisik mereka itu.
Bersambung ....
***
Jangan lupa vote, like, hadiah dan berikan bintangnya 🙏🙏🙏🙏 Nanti aku up 1 bab lagi ya❤️❤️❤️❤️stay tune🤗
__ADS_1