EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
75. Ke Mall


__ADS_3

Sore harinya, Sky kembali menjemput Yara seperti beberapa hari belakangan. Yara masih terbawa suasana karena mendengar cerita Nadine sebelumnya. Ia pun menjadi merenung dalam perjalanan pulangnya.


"Ada masalah?" tanya Sky pada Yara.


"Gak, aku cuma mikirin majikanku aja."


"Kenapa dengan dia?"


"Ada problem."


"Jangan memikirkan problem orang lain, kalau itu malah membebani diri kamu sendiri," saran Sky.


"Bukan gitu, aku cuma prihatin aja."


Sky pun mengangguk. "Lebih baik mikirin aku aja," usul Sky lagi.


Yara terkekeh sekilas sambil mengendikkan bahunya tak acuh.


"Mau langsung pulang?"


"Iyalah, mau kemana lagi?"


"Jalan-jalan dulu, yuk! Please...." Sky menatap Yara dengan tatapan memohon.


"Ya udah, terserah kamu aja."


Sky langsung melajukan mobilnya dengan lebih kencang dari sebelumnya. Ia ingin merilekskan pikiran dengan mengajak Yara berjalan-jalan. Soal perdebatannya dengan sang Mama, ia belum bisa terbuka pada Yara sebab ia juga belum sempat membahas hal ini lagi dengan mamanya.


Sky mengajak Yara ke sebuah Mall yang ada di pusat kota. Mereka pun memilih makan disebuah food court yang ada disana.


Sky meminta Yara duduk menunggunya, sementara ia memesan makanan di sebuah stand yang tak jauh dari tempat duduk mereka.


"Yara ...."


Rupanya ada seseorang yang menyapa Yara ditempat itu. Yara menoleh dan melihat Juna ada disana.


"Mas?" sahut Yara, ia pun berdiri dari duduknya.


"Ngapain? Sama siapa disini?"


"Mau makan, Mas. Sama .... S--Sky," kata Yara ragu-ragu diujung kalimatnya.


Juna sedikit terkejut, ada raut sedih yang terpancar jelas diwajahnya, namun ia bisa apa, Yara bukan lagi istrinya.


Sementara Yara, ia hanya menganggap Juna sebagai seorang yang pernah dikenalnya dan ia berusaha menjalin hubungan yang baik meski mereka berpisah karena suatu hal yang tak baik.


"Mas sendiri ngapain disini?"


Belum sempat Juna menjawab, suara seseorang menginterupsi percakapan mereka berdua.


"Yang, kita jadi makan disini, kan?"


Rupanya itu Shanum yang baru saja memasuki area food court yang sama--sebab sebelumnya ia memilih ke toilet dan meminta Juna untuk lebih dulu mencari meja kosong disana.


Kedatangan Shanum itupun tak luput dari pandangan mata Yara. Ia melihat wanita yang tengah hamil tua itu menenteng beberapa belanjaan yang tidak terlalu banyak.


"Yara?" Keberadaan Yara pun tak luput dari pandangan mata Shanum. Ia cukup terkejut, rupanya Juna sedang bercakap-cakap dengan mantan istrinya disini.

__ADS_1


"Iya, mbak. Apa kabar?" tanya Yara berusaha menyunggingkan senyum kecil, walau bagaimanapun Shanum juga telah melukai hati Anton, kakaknya.


"Aku ... baik," kata Shanum tampak tak acuh.


Yara menarik nafas dalam, ia membuang pandangan ke arah lain. Demi apapun, jika dengan Shanum ia sungguh sulit untuk bersikap seperti biasa, apalagi melihat kehamilan wanita itu yang belum jelas siapa yang harus mempertanggungjawabkannya.


"Ra?"


Yara menoleh, rupanya Sky sudah kembali ke meja mereka dengan nampan yang berisi makanan pesanan mereka.


"Siapa?" tanya Sky yang belum menyadari jika yang berbicara dengan Yara salah satunya adalah Juna--sebab posisi Juna sekarang tertutup oleh tubuh Shanum yang sedang hamil.


Yara memberi isyarat mata pada Sky sebagai jawaban untuk pria itu. Karena tidak memahami maksud Yara, Sky akhirnya menghampiri mereka setelah sebelumnya meletakkan nampan makanan diatas meja.


Kini Sky tersenyum smirk saat mengetahui jika itu adalah Juna dan seorang wanita hamil yang ia yakini sebagai selingkuhan Juna alias istri dari Anton.


"Jadi, ini selingkuhan kamu, Ra?"


Bukannya merasa malu dengan pertemuannya dengan Yara, justru Shanum melontarkan pertanyaan yang membuat Yara memejamkan mata rapat-rapat.


Sky terkekeh pelan mendengar ujaran Shanum. Ia malah mendekat ke sisi Yara dan merangkul wanita itu dengan sikap posesif seolah menunjukkan jika sekarang Yara adalah miliknya.


"Jadi ini istri Mas Anton yang berselingkuh itu, Ra???" balas Sky sambil menatap Shanum dengan senyum mengejek.


Yara mengulumm bibirnya sendiri. Terkadang ucapan Sky pedas dan berhasil membuat Yara tidak menyangka.


Yara tak menyahuti pertanyaan Sky, begitu pula pertanyaan Shanum. Justru sekarang Shanum lah yang merengut karena sindiran dari Sky.


Shanum berniat menyindir Yara malah perkataannya dibalas oleh Sky dengan tepat sasaran dan berhasil membungkam bibirnya. Ia kesal dan langsung menarik tangan Juna sambil berkata.


"Kita gak usah makan disini, Yang!"


Sky, dengan tampang tidak berdosanya itu mulai ingin melahap makanan. Sementara Yara masih geleng-geleng kepala karena pernyataan Sky terhadap Shanum tadi.


"Kamu tuh ya, bisa-bisanya bilangin mbak Shanum begitu."


Sky mengendikkan bahu, cuek. "Ya gimana, abisnya dia juga nggak sadar diri sih. Jadi aku kelepasan, Ra," katanya.


Akhirnya Yara tertawa. Ia ikut menikmati makanan yang sudah dipesan oleh pria itu.


"Gimana perasaan kamu abis ketemu Juna?" tanya Sky. Ia bahkan tak sempat menyapa mantan suami Yara tadi sebab Shanum sudah langsung buru-buru menarik Juna untuk menghindar.


"Gimana apanya? Gak gimana-gimana, biasa aja."


"Harusnya tadi kamu kenalin aku sama dia."


"Kalian kan udah saling kenal, Sky."


"Ya, tempo hari kan kenalnya sebagai teman sekolah kamu. Sekarang kamu kenalin aku sebagai calon suami kamu dong!" Sky terkekeh di ujung kalimatnya.


"Males ih," kata Yara.


"Kok gitu?" protes Sky.


"Ya, abisnya aku mau ngenalinnya kalo udah jadi suami aja."


Mendengar itu wajah Sky langsung memerah. Tak disangka rupanya ucapan Yara justru terkesan sedang menggombalinya.

__ADS_1


"Sayang kamu buat aku melting deh," kata Sky dengan nada dan tingkah yang dibuat-buat. Lebay.


Yara terbahak. Perkataan Sky serta ulahnya kali ini berhasil membuatnya lucu sendiri.


"Udah deh, jangan pasang mimik wajah kayak gitu," protes Yara masih tertawa renyah. Terkadang bersama pria ini selalu membuatnya lepas kendali. Tidak ada kata jaga image didepan Sky, selalu bisa bersikap apa adanya dirinya sendiri.


"Kenapa?" Sky membingkai wajahnya sendiri menggunakan kedua tangan, kemudian mengedip-ngedipkan matanya dengan gaya centil.


Sekali lagi Yara terbahak. "Udah ah, kamu kayak boneka Mampang tau, gak!"


Sky ikut tertawa. Pembahasan konyol ini akhirnya berhasil membuat Yara tertawa. Sky yakin mood Yara pasti tidak baik sejak bertemu dengan Juna apalagi Shanum, sehingga ia berinisiatif untuk membuat Yara nyaman kembali.


Setelah selesai dengan acara makan berdua, mereka mengelilingi Mall dan beberapa kali memasuki store-store tertentu. Dari mulai pakaian dan peralatan olahraga.


Sky membelikan Yara beberapa setel pakaian, meskipun wanita itu sudah menolaknya. Sementara saat memasuki store alat-alat olahraga Yara juga ngotot membelikan Sky sebuah sepatu sport.


"Aku aja yang bayar," kata Yara membuat Sky segera menggeleng tegas.


"Enggak!"


"Aku baru gajian," ujar Yara bersikukuh.


Sky bukan mau meremehkan gaji Yara, hanya saja ia tak tega jika gaji itu dihabiskan hanya untuk membelikannya sebuah sepatu untuk berolahraga. Harganya tidak terlalu mahal bagi Sky, tapi bagi Yara pasti itu akan menguras gajinya.


"Aku gak biasa dibayarin cewek, Ra," kata Sky menolak secara halus.


"Tapi kamu udah beliin aku banyak, aku gak mau nerima ini secara cuma-cuma."


"Aku gak nyuruh kamu balas apa yang aku kasi," tukas Sky yang juga ngotot. Ia pun langsung mengeluarkan sebuah kartu debit untuk membayar sepatu itu, satu tangannya yang lain menepis pelan tangan Yara yang sudah ingin membayar dengan uang cash.


"Simpan aja uang kamu. Itu hasil kerja kamu, bukan untuk aku."


Yara akhirnya mengalah, ia juga tak mau petugas kasir yang ada didepan mereka semakin kebingungan sebab melihat mereka yang berdebat mengenai pembayaran ini.


Sky memang terlalu royal, bahkan sejak dulu. Ia sering memberikan Yara sesuatu yang Yara yakin tak akan bisa membalasnya.


Berbanding terbalik dengan kehidupan Yara sejak menikah, jangankan membelikannya sesuatu, suaminya bahkan tidak mau menuruti sesuatu hal yang jelas-jelas ia pinta dan sangat butuhkan.


Ah, kenapa Yara jadi membanding-bandingkan? Tidak, itu tidak boleh.


Saat mereka keluar dari store perlengkapan olahraga itu, Yara pun bergumam pelan.


"Gimana caranya aku bisa balas semua pemberian kamu, Sky?"


Sky menoleh sekilas pada Yara. Apa ia tak salah mendengar yang dikatakan Yara tadi? Wanita ini mau membalas pemberiannya?


Sky tersenyum lembut. "Kamu cukup balas aku dengan kasih sayang kamu, Ra. Itu udah lebih dari cukup buat aku," katanya membuat wajah Yara merona.


"Receh banget sih!" Yara pun tertawa karena gombalan seorang Sky.


"Aku serius." Sky mengambil tangan Yara dan kembali menggandengnya.


Bersambung ....


*****


Sorry ya kemarin gak jadi up lagi, gak sempat 🙏 tapi hari ini aku udah up dua bab ye. hehe✌️😀 Doain aku biar gak terlalu sibuk di dunia nyata😁, supaya bisa triple up lagi kayak di awal-awal nulis novel ini.

__ADS_1


Mohon dukungannya terus🙏 tanpa kalian aku gak akan semangat nulis❤️🤭


__ADS_2