
Anak-anak Sky dan Yara tumbuh menjadi anak-anak yang periang. Mereka juga memiliki hobi masing-masing yang justru mengantarkan ketiganya menjadi anak-anak berprestasi diluar bidang akademik.
Sky dan Yara amat bangga dengan Aura, Cean dan Rion. Tidak hanya pintar didunia sekolah, mereka juga memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Aura bisa menggambar desain. Beberapa kali dia memenangkan lomba desain. Bukan desain baju atau sejenisnya, tapi dia pintar mendesain rancangan suatu produk yang sedang ngetrend. Diusianya yang kini menginjak 16 tahun, gadis itu dapat membuat rancangan yang elegan dengan hanya melihat satu kali saja.
Misal, di sekolah mereka sedang hits dengan ponsel terbaru, Aura mampu memikirkan sebuah rancangan yang bisa membuat ponsel itu semakin menarik. Dia menggambar desain sebuah casing ponsel yang tampak sangat estetik.
Adapun benda-benda lain turut di desain Aura sesuai dengan minat dan hobinya dalam dunia itu.
Mungkin bakat Aura menurun dari sang Ayah yang hobi menggambar dan mendesain gedung. Tapi, jika ditanya apakah Aura mau menjadi Arsitek seperti Sky, jawaban gadis itu justru sulit dipercaya.
"Aku enggak mau jadi seperti Papa. Aku mau lebih hebat dari Papa."
Membuat Yara sering tergelak jika Sky sudah memanyunkan bibir akibat jawaban anak gadis satu-satunya itu.
Dilain sisi, Cean juga mempunya hobi dan bakat yang lain dari Aura. Kepintarannya di bidang akademik boleh diacungi jempol, tapi dia juga jago dalam hal lain.
Cean lebih senang di bidang penelitian. Dia suka dunia kimia. Segala jenis obat, parfum, bahkan makanan akan dia selidiki kandungannya.
Yara pernah berpikir apakah putranya akan menjadi ahli gizi suatu saat nanti? Tapi setelah memperhatikan segala yang Cean perbuat, anak lelaki itu bukan hanya berfokus pada makanan saja, melainkan dia juga meracik dan membuat beberapa sampel parfum, bedak padat, sabun mandi bahkan deodorant dari bahan alami.
Awal mula Cean menjadi tertarik dengan dunia kimia karena sering sekali mengikuti Indri ke perusahaan pusat yang ada di Singapore. Perusahaan milik sang Oma memang bergerak di bidang pembuatan barang-barang kecantikan dan menjadi produsen untuk beberapa negara berkembang termasuk mengirim produk ke pabrik yang juga ada di Indonesia.
Bakat alami yang sudah ada pada diri Cean, semakin terbentuk akibat rasa ingin tahu dan rasa penasarannya yang besar. Diusianya yang masih belasan tahun, dia bahkan sudah memamerkan beberapa parfum andalan yang dia suling sendiri dari tanaman dan bahan baku yang dia anggap bisa menjadi pengharum.
"Benar-benar akan menjadi penerus Oma," kata Indri kala mengagumi kemahiran Cean diluar bidang sekolahnya.
Indri bahkan memfasilitasi sebuah laboratorium untuk pengamatan yang Cean lakukan. Dia juga mengirimkan seorang profesor untuk mengawasi Cean dalam menggunakan banyak bahan kimia.
Yara dan Sky awalnya cukup was-was dan ragu melepaskan Cean dalam bidang ini. Apakah putra mereka akan menjadi Doktor atau Profesor? Yara khawatir Cean akan asyik dengan dunia itu dan lupa dengan sekitar. Perasaan takut seorang ibu adalah wajar, kendati dia juga mengakui jika kemampuan Cean adalah diatas rata-rata remaja pada umumnya.
Akan tetapi, rasa takut kedua orangtua Cean itu harus dimusnahkan secara paksa ketika Cean justru mendapat dukungan dari sang Nenek. Mau tak mau, Yara dan Sky pasrah dan tidak bisa menolak keinginan Cean, lagipula itu memanglah minat anak itu, mereka hanya bisa mensupport asal Cean benar merasa bahagia.
Untuk putra bungsu mereka, Rion. Mereka belum dapat melihat bakat apa yang dikuasai olehnya. Tapi, minat Rion adalah berbahasa. Di usia yang ke sembilan. Rion sudah banyak memenangkan penghargaan dalam studi bahasa asing. Dia memenangkan debat bahasa Inggris, pidato berbahasa Jerman dan sekarang dia sedang menggeluti bahasa Mandarin.
__ADS_1
Rion juga senang berolahraga, dia suka sekali bermain basket dan sepak bola.
Jika Sky ingin bermain dengan ketiga anaknya dimasa sekarang, rasanya sangat sulit untuk menyamakan waktu dengan mereka.
Kadang Aura lebih sering mengurung diri di kamar dengan desain-desain barunya. Sedang Cean sibuk di Lab dengan penelitiannya.
Tapi, Sky cukup bersyukur sebab putra bungsunya mau menemani dia untuk sekedar berlarian di halaman dengan menggiring bola dan memperebutkannya.
"Kamu kenapa?" Yara bertanya pada Sky. Suaminya itu tampak melamun sembari menatap Rion yang sedang mengikat tali sepatu diujung halaman kediaman mereka.
"Masa-masa kecil Aura dan Cean, sudah hampir berakhir. Mereka udah tumbuh jadi remaja yang sibuk sekarang, kini cuma ada Rion yang masih bisa menemani waktu senggang kita."
Yara mengangguki perkataan suaminya. Sesuai dengan bakat kedua putra-putrinya itu, mereka bahkan sudah diwanti-wanti akan meneruskan perusahaan Indri. Ya, memang Yara sudah tau hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Pasalnya, sejak dulu Indri sudah pensiun dan terlalu lama menitipkan perusahaan pada orang kepercayaannya.
Dari bakat Aura, dia akan sangat mumpuni untuk mendesain semua bentuk dan rupa segala barang yang akan di produksi di perusahaan Indri yang bergerak di bidang kosmetik dan kecantikan. Aura pasti bisa diandalkan. Bukankah barang-barang semacam itu akan semakin membuat konsumen tertarik apabila kemasan dan botolnya didesain sedemikian rupa? Apalagi jika dikemas dengan wadah dan botol yang punya nilai estetika tinggi.
Jika Aura akan memikirkan bentuk fisik dan luar sebuah produk, maka bagian isi dan dalamnya adalah tugas Cean.
Keduanya seakan melengkapi satu sama lain. Sangat pas dan benar-benar terhubung satu sama lain.
Ya, sesuai dengan Aura dan Cean yang kembar, ternyata bakat keduanya pun saling berkesinambungan. Yara patut mensyukuri ini. Meskipun jika suaminya bukan Sky, dan mertuanya bukan Indri, mungkin anak-anaknya tidak mungkin dapat mengekspresikan hobi dan minat mereka dengan semudah ini.
Sky menghela nafas panjang, tatapannya masih lurus menatap Rion disana.
"Rion bentar lagi juga bakal SMP, terus SMA. Abis itu lanjut kuliah dan bakal ninggalin kita."
Benar kata Sky, Rion, si kamus berjalan juga akan tumbuh dan berkembang, kelak dia juga akan sibuk seperti kedua kakaknya.
"Iya, Sayang. Ini adalah momen-momen dimana anak-anak masih tinggal satu atap dengan kita."
"Yup. Kelak, ada masanya mereka pasti mau lebih mandiri. Gimana menurut kamu?" sahut Sky kemudian.
"Hmm, kalau Cean atau Rion mau mandiri dan tinggal di tempat sendiri, misal kuliah, ya aku oke-oke aja. Tapi kalau Aura, kenapa rasanya berat ngelepas anak gadis kita satu-satunya ya, Sayang."
Sky tersenyum simpul. "Justru Aura yang bakal ninggalin kita lebih lama. Kamu tau kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Kenapa?" Dahi Yara berkerut dalam.
"Karena nanti dia bakal ikut suaminya. Dia anak perempuan, dia akan menjadi milik suaminya dan kita cuma bisa mendoakan semoga Aura mendapat suami yang baik. Syukur-syukur suaminya juga baik sama kita, jadi gak akan membuat jarak dengan kita. Nah, kalo suaminya gak ngizinin, kita mau bilang apa?"
"Tapi kan, Aura putri kita, Sayang."
"Anak perempuan, kalau udah bersuami adalah milik suaminya. Makanya, kita berdoa aja, semoga anak-anak kita kelak dapat jodoh yang baik. Terutama Aura, dia harus menuruti kata suami, kan? Semoga suaminya tetap bisa membuat kita dekat dengan dia."
Yara mengangguki. "Aamiin," gumamnya.
Tapi, mendadak mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Sayang, Aura dan Cean masih kelas 1 SMA, masa udah mikirin kesana? Jauh banget pemikiran kita," kata Yara tak habis pikir.
"Iya, juga ya. Kok jadi mikirnya jauh," kata Sky dengan suara tawa khasnya.
"Mama sama Papa asyik banget ketawanya?" Rion mendatangi kedua orangtuanya, dia sudah selesai dengan permainan sepak bola itu.
"Iya nih, Papa kamu ceritanya lucu."
"Dih, Papa lagi main bola sama Rion kok jadi cerita-cerita lucu sama Mama, sih?" sungutnya.
Yara mencubit gemas pipi Rion yang sudah tidak terlalu gembul lagi seperti dulu, namun tetap masih berisi.
"Squishy ... jangan ngambek, ya. Papa kan nemenin mama disini, lagian Papa udah tua, dia gak sanggup lari lama-lama kayak kamu."
Rion pun tergelak akibat ujaran sang Mama.
"Iya, juga ya. Papa kan udah tua," cibirnya kemudian.
"Enak aja, Papa masih muda. Uban aja belum ada," kata Sky tidak mau kalah.
"Ya jelas gak ada, kan Minggu semalam baru semir rambut," olok Yara membuat Rion semakin terpingkal diposisinya. Dia suka sekali jika Yara berkomplot dengannya dan mereka kompak mengejek sang Papa.
...****...
__ADS_1
Baca kisah Cean, Rion, Aura di Tetangga Meresahkan🙏