EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
173. Menerima hukuman


__ADS_3

Michele keluar dari kamarnya dalam keadaan histeris. Dia tidak mau menatap semua yang ada disana, baginya disana bukan hanya ada Jenifer dan Beno, tapi juga ada arwah Sky yang gentayangan untuk menuntut pertanggungjawaban darinya.


"Michi! Kau mau kemana?" Jenifer mengejar langkah Michele yang terburu-buru sambil menggeret kopernya.


"Aku mau pergi! Aku tidak mau disini lagi!"


"Kau ini kenapa? Kami belum selesai bicara denganmu!" Jenifer menatap bingung pada ulah Michele, karena dia tidak tau apa yang ada dalam kepada wanita itu.


Jenifer mau mengatakan bahwa Sky ingin bicara dengannya, tapi kenapa Michele malah ketakutan sebelum mendengar Sky bicara?


"Aku mau pergi! Jangan ada yang mencegahku!" senggak Michele kemudian, Jenifer sampai mundur beberapa langkah ke belakang karena kaget dengan suara wanita itu yang berteriak-teriak.


"Apa kau selalu begini jika sudah membuat masalah? Kabur? Kau pikir dengan melarikan diri kejahatan yang kau lakukan akan lenyap dan dilupakan oleh orang lain?" Beno akhirnya angkat suara, perkataannya yang dingin berhasil membuat Michele mengurungkan niat untuk kembali melangkah.


Dengan kepala yang tertunduk, Michele menatap pada lantai marmer yang ada di ruang apartemennya.


"Kau tau, kan, Sky itu adalah sahabatku. Tindakanmu sangat keterlaluan dan membuat aku sangat malu. Lalu, kau dengan seenaknya mau pergi begitu saja?" Beno mendekat ke arah Michele, dia berjalan pelan dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya.


Michele merasa berada dalam ruang persidangan sekarang.


"Apa maumu sebenarnya, Michele?" tanya Beno masih dengan aura yang pekat padahal dalam hati dia sudah dapat menebak jika Michele berkelakuan aneh sejak melihat adanya Sky diantara mereka. Sedikit banyak, Beno tau jika wanita ini tengah ketakutan karena menganggap Sky adalah hantu.


"A-aku tidak bermaksud mempermalukan ka-kalian. Aku melakukan itu karena---karena aku menginginkan untuk memilikI Sky."


Jenifer berdecih karena jawaban sepupunya itu. Michele seperti perempuan tidak punya harga diri saja yang mengejar pria beristri yang bahkan tidak pernah menggubrisnya. Cara Michele sangat kekanakan, pikirnya.


Sementara Beno, mulai berniat mengulik semua kejujuran dari perempuan itu. Dia sudah mengaku, jadi Beno ingin tau apa saja yang sudah diperbuat Michele, sejauh mana dia berbuat curang.


"Baiklah." Beno melipat tangan di dada, dia melirik Sky sekilas tapi dahabatnya itu mengendikkan bahu, sebab Sky sendiri tidak tau harus menghukum Michele seperti apa, dia hanya ingin menyaksikan kejujuran wanita itu, setelah itu baru dia akan memikirkan lagi apa hukuman yang pantas bagi Michele.


Beno memahami Sky yang bingung, akhirnya kembali bersuara.


"Coba kau jelaskan sejak awal, apa saja yang kau perbuat untuk memprovokasi Yara."


"Ya, itu, aku mengedit foto temanku dengan wajah Sky." Michele menjelaskan masih dengan kepala yang menunduk. Dia tak berani mengangkat wajah, merasa diperhatikan oleh hantu Sky.


"Lalu?"


"Aku menelepon Yara, mengatakan bahwa dia lebih baik melepaskan suaminya karena Sky sudah tidak mencintainya lagi."


Sky mendengkus di posisinya karena ucapan Michele membuatnya cukup terpancing emosi.

__ADS_1


"... aku mengatakan akan membuktikan pada Yara, karena dia sepertinya tidak percaya dengan kata-kataku mengenai suaminya. Jadi---jadi---" Michele tidak sanggup berucap lagi, dia terisak sekarang.


"Jadi kenapa?" Kali ini suara Beno naik satu oktaf. Dia kesal sekali pada Michele, andai tidak menghargai jika Michele adalah sepupu dari sang istri, mungkin Beno juga ingin ikut memukul Michele yang berkelakuan kurang ajar.


"Ja-jadi, ke-ketika Sky kecelakaan aku memanfaatkan itu. Kebetulan sekali ... dia mengalami kecelakaan itu bersama model cantik itu."


Sesuai dugaan Sky, Michele memang memanfaatkan keadaan yang sudah terlanjur terjadi.


"Apa kau yang menyebarkan hoax tentang isu hubungan Sky dan Diandra ke media?"


Michele tergugu, dia tidak berani menyahut.


"Jawab!" Beno tidak tahan untuk tidak membentak wanita ini. Jenifer diam dan malah membiarkan, dia rasa Michele berhak mendapatkan ini.


"Y-ya, aku aku minta maaf."


"Kau pikir maafmu itu bisa mengembalikan keadaan!" Jenifer mendengkus.


Michele luruh ke lantai, dia berlutut disana. "Sudah ku katakan, aku salah. Ya, aku bersalah. Aku minta maaf, tapi aku hanya mengambil kesempatan itu saja. Bukan berarti Sky meninggal karena aku, karena aku sendiri merasa sedih saat tau Sky sudah tiada," lirih Michele dengan suara terisak-isak.


Beno berdecak lidah malas, sementara Jenifer menghela nafas berat. Entahlah, mereka juga jadi bingung bagaimana agar Michele jera.


"Sky?" Suara Michele terdengar lemah dan tak berdaya, dia takut, tapi dia juga merindukan pemilik wajah tampan itu. Apa Sky benar-benar mau menghantuinya sekarang?


"Kau tau perbuatanmu itu merugikan orang lain? Meski aku tidak rugi materi, tapi istriku tersiksa perasaannya karena kelakuanmu." Sky membuang pandangan ke arah lain, tidak mau menatap wajah meratap yang dipasang Michele saat ini.


Sky tidak akan tersentuh meski Michele mengiba di bawah kakinya. Tapi, baru saja pemikiran itu terlintas, wanita itu benar-benar meringsek dan mencium kaki Sky yang terduduk di sebuah kursi roda.


"Aku mohon, ampuni aku. Jangan hantui aku. Pergilah dengan tenang." Michele merasa gemetaran, tapi dia juga heran kenapa kaki Sky bisa untuk dia sentuh, pria ini terlihat seperti manusia biasa.


"Siapa yang mau menghantuimu? Apa kau pikir Sky yang sejak tadi ada disana adalah hantu?" Jenifer mengernyit melihat dan mendengar ujaran Michele.


"Y-ya, dia---" Michele menunjuk ke arah sky dengan jemarinya, lalu dia seakan dapat meresapi ujaran Jenifer hingga menyadarkannya akan sesuatu. "Jangan katakan kau tidak meninggal. Apa? Apa ini?" Michele kembali histeris.


"Aku memang tidak meninggal." Sky kembali menyahut.


Michele mulai memahami keadaannya. Dia tertipu.


"Apa kalian menipuku?"


"Tidak ada yang menipumu!" kata Beno.

__ADS_1


"Kalian menipuku! Apa kalian tau apa yang ku rasakan? Aku ikut merasa bersalah atas kematian Sky dan sekarang ternyata dia tidak meninggal? Apa ini lelucon!"


"Sama seperti lelucon yang kau kirimkan pada istriku! Apa kau pikir itu lelucon? Mengacaukan perasaan Yara dan hubungan pernikahan kami adalah lelucon bagimu!" Kali ini Sky tampak marah, kemarahan yang diluar dugaan Michele karena aura pria itu langsung gelap, bahkan membuat Michele menciut seketika, dia mengakui Sky itu tampan tapi jika marah ternyata sangat mengerikan.


"Terserah! Aku mau pergi sekarang!" Michele kembali ingat dengan tujuannya hari ini, dia harus segera kabur. Setidaknya, sekarang dia sudah tau jika Sky tidak mati.


"Baguslah, kau memang harus pergi karena sudah ada mobil yang menunggumu di bawah gedung Apartmen ini!" kata Sky setenang mungkin.


Ekspresi yang Sky tunjukkan berubah, dari marah hingga kini tampak tidak terbaca. Apa rencana pria itu sekarang? Padahal sesaat lalu Beno sendiri tidak yakin Sky memiliki rencana untuk menghukum Michele.


"A-apa maksudmu?" tanya Michele.


"Ku lihat kau sudah sangat bersiap untuk pergi. Jadi, ku pikir aku hanya membantumu untuk pergi dan tidak usah kembali ke sini sampai kapanpun!"


"Apa?"


Bukan cuma Michele yang terkejut, tetapi Beno dan Jenifer juga syok mendengar perkataan Sky.


"Turunlah, karena sudah ada yang menunggumu. Pergilah segera." Sky kembali melempar pandangan pada jendela kaca dimana menampilkan pemandangan gedung-gedung mencakar langit disana.


"Sky, kau punya rencana apa terhadap Michele? Kenapa aku tidak tau?"


"Aku juga baru memikirkannya beberapa saat lalu. Dan ku pikir, ada baiknya Michele pergi jauh karena aku tidak mau melihat wajahnya lagi sampai kapanpun."


"Sky ..." Michele menatap Sky dengan tatapan mengiba.


"Sorry, Jen. Aku memilih untuk menyingkirkan sepupumu seperti ini, karena dia adalah duri yang berwujud manusia."


"Kau mau menyingkirkan ku?" Michele merasa lemas seketika, kakinya langsung bergetar. "Apa kau mau melaporkanku ke polisi?" tanyanya kemudian. Pemikiran semacam itu sudah terlintas dibenaknya sejak awal.


"Aku tidak melaporkanmu ke polisi," Sky sengaja menjeda ucapannya, dia melihat Michele menghela nafas lega, tapi dia sendiri belum selesai berbicara, hingga akhirnya Sky kembali melanjutkan kata, "Kau akan segera di deportasi dari Indonesia. Tapi, bukan berarti kau bisa pulang ke rumah orangtuamu juga, karena aku sudah menyiapkan tempat yang terbaik untukmu," kata Sky dengan senyuman miring. Skeptis.


Melihat senyuman Sky, justru membuat Michele merinding membayangkan hukuman apa yang akan dia terima. Belum lagi Sky mengatakan sudah menyiapkan 'tempat terbaik' untuknya, hal itu malah membuat perasaannya tidak enak.


"Sky... ku mohon," lirih Michele kembali mengiba.


"Aku tidak kesini untuk mengasihanimu jadi simpan permohonanmu, karena itu hanyalah sia-sia."


Menyingkirkan Michele ke pulau terpencil yang semuanya serba sulit-- mungkin akan membuat wanita itu berpikir dua kali untuk kembali mengganggu Sky dan keluarganya. Sky memang tidak memiliki akses kuat untuk melakukan hal itu, tapi Indri selalu mempunyai banyak jalan untuk membantu putranya. Dan, keputusan final mereka adalah memaksa Michele pergi lalu tinggal di negara krisis, itu adalah hukuman yang pantas untuknya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2