
Malam itu, Yara tidak bisa tidur. Bukan karena Juna tidak pulang tetapi Sky yang nekat bermalam dirumahnya tanpa tahu takut.
Yara keluar kamarnya dan melihat Sky yang tertidur pulas di sofa depan tv.
"Sky, pulang dong, udah jam 2 malam..." Yara membangunkan Sky dan mencoba untuk membujuknya kembali.
Sebelumny, Yara sudah meminta berulang kali agar Sky kembali ke kediamannya sendiri, tetapi Sky ngotot ingin tetap menemani Yara sampai Juna pulang. Nyatanya suami Yara itu tidak kunjung pulang hingga berdampak pada Sky yang jadi ikut tak mau pulang karena tidak mau meninggalkan Yara sendirian.
"Sky, kalau sampai ada tetangga yang lihat mobil asing disini, gimana?"
Lagi-lagi Yara mengajak pria yang sedang pulas itu untuk mengobrol, padahal tentu saja ujarannya tak mendapat sahutan sama sekali.
Yara mendengkus, tapi melihat Sky terlalu nyenyak ia jadi tak tega membangunkan lagi pria itu. Yara ingin beranjak dan kembali masuk ke kamarnya tetapi Sky menahan pergelangan tangannya.
"Ayara...." pria itu mengigau, memanggil nama Yara.
"Bahkan dalam tidurpun kamu mikirin aku, ya?" gumam Yara pelan. Tangan satunya mulai merapikan rambut-rambut Sky yang berantakan. "Kenapa sih, kamu harus segininya sama aku?" lanjut Yara didalam hati sambil terus memperhatikan wajah Sky yang terlelap.
Yara memutuskan duduk disana, ia memangku kepala Sky dan terus mengelus kepala pria itu dengan lembutnya. Tidak bisa dipungkiri, hal ini kembali membuatnya mengingat masa lalu mereka yang terdahulu. Momen-momen indah bersama Sky seperti sebuah film yang kembali diputar slow motion didalam ingatan Yara sekarang.
Yara tersenyum mengingat itu. Dulu ia dan Sky termasuk siswa yang nakal. Terlambat, dihukum, bahkan bolos sekolah hanya untuk berpacaran di warnet. Yara terkekeh tiba-tiba, suara kekehannya itu berhasil membangunkan Sky sampai pria itu mengucek-ngucek matanya sendiri.
"Ayara?" gumam Sky yang merasa bermimpi jika Yara tengah ada didekatnya bahkan memangku kepalanya sekarang.
Sisa-sisa kekehan dari Yara, masih terdengar di indera pendengaran Sky sekarang.
"Kenapa, sih?" tanya wanita itu yang melihat Sky masih saja keheranan saat melihatnya.
"Kamu yang kenapa? Kok disini, gak dikamar? Terus kenapa ketawa-ketawa sendiri?"
Kenapa Yara tertawa dan terlihat bahagia sekarang? Bukankah Yara baru saja memergoki Juna dengan wanita lain beberapa waktu lalu? Seharusnya Yara sedih atau semacamnya, kan? Sky jadi takut Yara depresi karena kelakuan Juna yang telah mengecewakan wanita itu.
"Gak apa-apa, aku ingat zaman kita SMA. Kamu selalu bantuin aku manjat pagar kalo telat. Terus kita sering bolos ke warung internet."
Mendengar itu, Sky jadi menyunggingkan senyumannya. Tangannya terulur keatas, dimana wajah Yara berada dan berhenti di pipi Yara. "Kamu senyum karena hal itu?" tanyanya.
Yara mengangguk. "Iya, pengen jadi Anak sekolah lagi, cuma ribet mikirin PR sekolah, gak ribet mikirin kisruh rumah tangga," kelakarnya.
Sky lega mendengar penyataan Yara, itu artinya Yara bukan depresi karena kelakuan suaminya. Yara justru senang mengingat momen masa lalu mereka.
"Kamu gak sedih lagi?"
"Aku gak mau larut dalam kesedihan, Sky. Buat apa? Semuanya udah terjadi. Aku juga gak lebih baik dari Mas Juna, buktinya aku ngebiarin kamu disini."
Sky akhirnya bangkit dari posisinya. Ia menatap Yara lama.
__ADS_1
"Jadi, itu artinya kamu bakal maafin dia?
Yara tersenyum lembut sambil menggeleng. "Aku mau minta pisah sama dia," ujarnya sampai pada keputusan final.
"Serius?" Sky menangkup pipi Yara. "Abis itu kembali sama aku, iya?" tanyanya antusias.
"Hmmm..." Yara mengangguk. "Tapi, kasi aku waktu sampai permasalahanku dengan Mas Juna benar-benar selesai," tandasnya.
"Aku bakal nunggu kamu, Ra. Aku janji."
Sky memeluk Yara. Ya, akhirnya ia bisa melakukan itu sekarang, membawa Yara ke dalam dekapannya.
Saat Sky memangkas jarak diantara mereka dan bermaksud ingin mencium Yara, rupanya secepat kilat tangan Yara mencegahnya. Yara membekap bibirnya sendiri, kemudian berlalu meninggalkan Sky yang tidak berhasil mendapatkan keinginannya.
Meski demikian, Sky tetap mematut raut bahagia. "Hah... terima kasih, Tuhan..." katanya tenang sekaligus senang, karena Yara sudah mengambil keputusan.
Menjelang subuh, Sky meninggalkan kediaman Yara. Sebelum benar-benar pergi dari sana, ia curi-curi cara agar bisa mengecup dahi wanita itu--yang akhirnya dibalas Yara dengan pelototan tajam. Tapi, Sky tak peduli, ia beranjak dengan menyunggingkan senyum tengil khasnya.
Seperginya Sky, Yara memutuskan untuk membuat sarapan pagi. Bukan untuk Juna, tetapi untuk dirinya sendiri.
Saat hari mulai terang, benar saja jika Juna baru tiba dikediaman mereka.
Jadi ternyata begini, dia sering pulang pagi dengan alasan lembur dan mengurus usaha. Usaha apa? Usaha memuaskan dirinya sendiri dan menyenangkan wanita lain? Batin Yara menatapi Juna dengan tatapan meremehkan.
Meski Yara sudah tak pernah menyambut kepulangannya lagi, tapi melihat tatapan Yara saat ini cukup membuat Juna berpikir keras.
Yara menuangkan teh panas ke dalam gelas Juna. Lalu menyajikannya dihadapan pria itu. Yara duduk didepan Juna dengan tatapan mengintimidasi sang suami.
Melihat tatapan Yara, Juna sadar bahwa ada yang tidak beres. Untuk menghilangkan kegugupannya, Juna meraih gelas teh dan meneguknya begitu saja.
Byurrrr!
Teh itu terasa membakar lidahnya. Sial, itu sangat panas.
Bukannya khawatir atau memberikan Juna tisu untuk membersihkan teh yang membasahi sebagian mulut dan lehernya, Yara malah menatapi kejadian itu dengan tatapan datar dan biasa-biasa saja.
"Kamu kenapa, sih?"
"Kenapa, emang?" tanya Yara, justru balik bertanya.
"Kenapa natap aku kayak gitu, ada yang salah?" tanya Juna kemudian.
"Jadi, kamu gak ngerasa salah, Mas?"
"Salah apa maksud kamu?"
__ADS_1
"Oh, gak ngerasa salah," kata Yara dengan tenangnya. "Ya udah kalau gitu."
"Kamu ini kenapa?" Juna masih keheranan. "Kamu marah karena aku pulang pagi lagi? Kamu kan tau usaha aku baru aja mau di buka, aku sibuk. Pulang lembur langsung kesana," sambungnya mencoba menjelaskan.
"Oh..." sahut Yara sambil menatapi kuku-kuku jarinya sendiri. Terlihat menjengkelkan di pandangan mata Juna tapi Yara memang sengaja melakukan itu.
"Kamu ini kenapa? Bilang! Kalau ada yang mau kamu sampaikan, kamu bilang sama aku biar aku tau salah aku dimana, jangan bersikap kayak anak-anak begini, Ra!"
Seketika itu juga Yara tertawa sumbang. "Kayak anak-anak? Astaga, Mas...." ujarnya tak habis pikir dengan ucapan sang suami.
"Jadi, kamu kenapa?"
"Aku mau lihat usaha kamu, usaha yang buat kamu sering pulang pagi, Mas, boleh?"
Wajah Juna langsung pias. "Bo---boleh, kapan-kapan ya," katanya gugup.
"Kapan-kapan? Kapan, Mas?"
"Ya, nanti tunggu usahanya beneran udah resmi dibuka."
"Emang rencananya kapan dibuka?"
"Du--dua minggu lagi..." jawab Juna asal.
"Oke," kata Yara enteng. "Aku tunggu." Yara pun berlalu dari hadapan Juna dan kembali menoleh saat Juna buka suara.
"Kamu gak masak? Aku mau lanjut kerja loh ini?"
"Masak sendiri, atau pesan online aja, Mas."
"Yara!!!" Intonasi suara Juna langsung naik.
"Aku bukan pembantu kamu, Mas. Pembantu aja digaji. Aku istri kamu sendiri malah kekurangan."
Mata Juna langsung terbelalak kaget, tak menyangka Yara bisa melawan ucapannya.
"Kamu bilang apa barusan?"
"Udahlah, Mas. Aku emang gak masak. Uang yang kamu kasi gak cukup sampe akhir bulan. Jadi, kalau mau makan ya bisa-bisa kamu ajalah, Mas. Aku yakin kamu pasti punya uang untuk ngisi perut kamu sendiri."
"Yara... kamu---" Juna kehabisan kata-kata, tapi firasatnya tak enak karena Yara sudah berani menentangnya. Apalagi Yara sempat menanyakan usahanya, apa Yara tahu jika ia berbohong soal usaha itu?
Bersambung ....
*****
__ADS_1