
Tepat pukul 7 pagi, Yara sudah tiba dikediaman Nadine seperti permintaan majikannya itu.
Yara mulai membereskan rumah. Dimulai dari kamar Nadine sampai ke area dapur. Tak lupa, ia juga membuatkan Nadine sarapan sebelum wanita itu beraktivitas seperti biasa.
Nadine memperhatikan Yara, ia dapat menilai jika Yara adalah wanita yang cantik dan cekatan. Yara juga pandai memasak, bahkan Yara juga cepat tanggap dalam setiap apapun yang ia katakan. Dalam hati, Nadine yakin ada penyebab yang membuat Yara menjadi seorang Asisten rumah tangga, sebab jika dilihat-lihat, Yara lebih cocok memiliki pekerjaan yang lain, mungkin.
"Yara?"
"Ya, mbak?" Yara menghampiri Nadine yang tengah menikmati teh hijau di beranda rumah.
"Maaf ya, aku mau tanya sedikit. Jujur, aku penasaran kenapa kamu mau jadi ART di rumah aku. Kalau aku lihat, kamu itu punya banyak kemampuan... kenapa gak coba buka usaha aja gitu, atau pekerjaan lain yang lebih daripada ini?"
Yara menyengir. "Saya gak berbakat soal bisnis, mbak. Lagian juga gak punya modal, kalau yang lain saya gak punya pengalaman," akuinya terus terang.
Nadine mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi ya, aku kan emang belum sempat interview kamu. Meskipun cuma jadi ART, aku mau tau latar belakang kamu, boleh kan?"
"Latar belakang ya, mbak?"
"Iya. Misalnya alamat kamu. Keluarga kamu sama yang lain-lainnya," kata Nadine.
"Buat apa, Mbak?"
"Bukan apa-apa, sih. Cuma, kalau ada apa-apa aku kan bisa ngabarin keluarga kamu. Jujur aja, Ra, aku punya sedikit trauma sama ART yang lama."
Yara tersenyum kecil, ia memahami keingintahuan Nadine.
"Kedua orangtua saya udah meninggal, Mbak. Adanya cuma kakak lelaki, tapi saya gak tinggal sama dia, karena kita sama-sama udah berkeluarga."
"Kalau suami?"
"Suami... saya belum mau ketemu sama dia," kata Yara terus terang.
Nadine menatap Yara yang sekarang menundukkan kepala. Sedikitnya, ia mulai bisa menarik kesimpulan jika Yara sedang memiliki problem dengan rumah tangganya.
"Oke, saya gak bakal nanya lebih lanjut soal suami kamu. Tapi boleh dong saya tau pengalaman kerja kamu?"
Yara menggeleng lesu. "Belum pernah kerja, baru ditempat Mbak Nadine aja," tuturnya.
"Lho? Aku pikir kamu udah pernah kerja ditempat orang. Ya, memang sih aku ragu pas liat fisik kamu."
"Emang saya kenapa, mbak?" tanya Yara sedikit keheranan dengan jawaban sang majikan.
"Kamu itu terlalu cantik untuk kerja disini. Masih muda juga lagi."
Yara tertawa pelan. "Mbak buat telinga saya panjang aja," katanya.
Nadine akhirnya ikut tertawa. "Serius, Ra. Emang pendidikan terakhir kamu apa?" tanyanya.
"Ehm... saya S1 ekonomi, mbak..." jawab Yara agak gugup.
Nadine tidak terkejut dengan hal itu, seolah ia bisa tahu jika Yara memang wanita yang cukup memiliki pendidikan. "Kenapa dulunya kamu gak sempat cari kerja supaya dapat pengalaman?"
"Dulu .... pas tamat kuliah, saya langsung diminta menikah sama mendiang Bapak."
__ADS_1
Yara tidak tahu kenapa ia bisa menceritakan kehidupannya pada Nadine yang bahkan baru dua hari ia kenal. Entahlah, ia merasa wanita itu tidak hanya cerdas tapi juga dapat memahami, hingga percakapannya terasa sangat nyaman dan mengalir begitu saja bersama wanita itu.
"Dulu saya juga seperti kamu. Diminta menikah sama orangtua saya."
"Apa mbak dijodohkan?" tebak Yara.
Nadine mengangguk. Dia juga tidak mengerti kenapa bisa terbuka pada Yara. Tapi, setelah memutuskan untuk mengajak Yara bicara ia mengerti bahwa dirinya sendiri memang membutuhkan seorang teman untuk tempat bertukar cerita.
"Mas Lucky orang yang baik, jadi aku menyetujui perjodohan itu." Wajah Nadine berubah sendu.
Yara sendiri takut untuk menanyakan perihal rumah tangga Nadine lebih lanjut lagi. Maka ia hanya mengangguki ujaran sang majikan.
"Lima tahun berumah tangga, kami belum dikaruniai anak, Ra... aku meminta Mas Lucky untuk menikah lagi karena kesalahan itu memang ada padaku."
Mendengar itu Yara terbelalak. "Mbak? Mbak serius ngelakuin itu?"
Nadine mengangguk. "Ya, dia butuh keturunan, kan?" ujarnya enteng. "Sementara aku gak bisa mengandung, Ra," lanjutnya kemudian.
"Terus, suami mbak mau?"
Nadine mengendikkan bahu. "Sejauh ini dia gak ada tanggapan. Tapi aku yakin dia bakalan mau jadi aku udah siap kalau dimadu," katanya tersenyum getir.
"Mbak, yang sabar ya... saya gak tau mau bilang apa lagi selain hal itu." Yara tidak menyangka hal semacam ini bisa Nadine ceritakan kepadanya.
"Iya, Ra. Kamu juga ya. Aku tau kamu pasti punya problem tersendiri. Aku gak nuntut kamu supaya ceritain ke aku juga tapi buat kamu... kamu juga harus sabar menghadapi apapun ujian dalam pernikahan."
"Saya juga belum dikaruniai anak, Mbak."
"Kamu udah pernah cek kesehatan?"
"Coba deh, mudah-mudahan kalian sehat biar bisa segera punya keturunan."
Yara hanya tersenyum tipis, mana mungkin ia berharap memiliki keturunan dari Juna. Sedangkan ia dan Juna sedang dalam problem yang cukup berat sekarang. Tapi, saran dari Nadine cukup memberinya masukan. Mungkin nanti ia akan melakukan tes itu. Entahlah.
Menjelang siang, Nadine pun bersiap pergi untuk mengurus bisnisnya. Dia memang memiliki usaha butik dan bridal di Indonesia.
"Ra, mbak jalan dulu ya. Ntar kalau sore mau pulang, gak apa-apa pulang aja."
"Iya, mbak. Makasih ya mbak."
"Hemm, jangan lupa sebelum pulang cek semua keadaan rumah ya. Jangan lupa matiin kompor kalo habis masak," katanya sambil tersenyum kecil.
"Oke, mbak."
Yara cukup senang bekerja dirumah Nadine. Ia melakukan kegiatan selayaknya dirumahnya sendiri. Dulu ia juga bersih-bersih dan masak di rumahnya, kan? Jadi pekerjaannya sekarang seperti aktivitasnya yang biasa dan itu membuatnya tak terbebani sama sekali. Apalagi Nadine orang yang sangat baik.
Yara berharap, jikapun Nadine tidak bisa mengandung, semoga ada keajaiban yang bisa membuatnya dapat memiliki anak. Tanpa sadar, Yara justru mendoakan kebahagiaan Nadine didalam hatinya.
...~~~~...
Anton bingung bagaimana caranya ia harus memberitahu Yara mengenai masalah Shanum dan Juna. Adiknya itu menghilang dengan sengaja.
Yang membuat Anton khawatir adalah Yara yang tidak bisa dihubungi sepertinya Yara memang sengaja menghindar sampai mengganti nomor ponselnya.
__ADS_1
Anton sudah mencari Yara ke rumah kontarakan yang biasa dia tempati bersama Juna. Meski Anton merasa tidak yakin Yara ada disana tapi inilah usahanya untuk mencari sang adik.
"Cari siapa, Pak?"
Seorang tetangga Yara--- menyapa Anton yang kala itu hanya mendapati rumah kontrakan itu dalam keadaan kosong. Mungkin Juna sedang bekerja atau bahkan sudah tak tinggal disana sebab membersamai Shanum dirumah baru yang sempat mereka ungkit kemarin. Entahlah, Anton tak mau memikirkan dua orang itu lagi, karena baginya yang terpenting sekarang adalah keadaan sang adik.
"Permisi, Pak. Saya kakaknya Yara... apa Bapak tau Yara kemana? Atau ada melihat dia dalam dua hari ini dirumah ini?"
Bapak yang tadi menyapa Anton itu tampak mengernyit sejenak, lalu kembali bersuara.
"Oh kamu kakaknya Yara. Yara memang udah gak kelihatan dua hari ini. Biasanya tiap Jumat dia sering kasi makanan gratis buat saya, tapi Jumat semalam gak ada, hari ini pun sepertinya gak ada, biasanya dia udah kelihatan nyiramin tanaman jam segini," terang Bapak tua itu.
"Oh gitu, ya, Pak. Makasih ya. Saya permisi."
Anton melemparkan senyum ramah pada sang Bapak tua. Tapi saat ia baru saja ingin mengendari motornya seseorang dari samping rumah Yara tampak memanggil-manggilnya.
"Mas cari Yara?" pekik wanita itu.
Anton kembali turun dari motor dan menghampiri wanita berbaju hijau itu.
"Apa mbak tau Yara dimana?" tanya Anton pada sang wanita.
"Jangan panggil mbak, saya Irna, Mas."
"Oh, iya Irna. Saya Anton, kakaknya Yara."
"Iya, saya tau. Makanya saya panggil Masnya."
"Apa Irna tau dimana Yara sekarang? Saya ada hal penting yang mau dibicarakan dengan dia."
Irna mengangguk. "Dia kerja, Mas. Saya yang masukin kerja kesana. Dirumah temannya majikan saya. Tapi, mas jangan bilang sama suaminya Yara ya. Soalnya gitu pesan Yara ke saya."
Anton tersenyum kecil. "Iya, saya gak akan kasi tau Juna. Tapi boleh saya tau alamat tempat kerja Yara kan? Karena ini penting sekali," paparnya.
Irna mengangguk kemudian memberikan sebuah alamat pada Anton.
"Terima kasih ya, Ir..."
"Sama-sama, Mas ganteng. Eh, salah, Mas Anton..." katanya kelepasan dan itu malah membuat Anton terkekeh.
Bersambung ...
****
Jangan lupa lempar vote Senin ke sini. Nanti aku bakal up lagi kalo vote nya nambah🤣🤭 ngelunjak✌️😆
Oh iya, aku kasih Clue ya.... nanti Mas Anton bakal aku kasih jodoh baru untuk menggantikan Shanum. Tentu yang lebih baik dong.
Mau tau kelanjutannya? Baca terus ya...
Nih aku kasi visual Mas Anton.
__ADS_1