
Anton menggendong tubuh Yara yang pingsan sesaat setelah menangisi kematian suaminya. Kepulangan mereka ditunda karena Yara akhirnya masuk ruang perawatan lagi.
Jenazah Sky sudah dipindahkan dari ICU dan sekarang berada dalam ruang khusus jenazah.
Kabar meninggalnya Sky juga sudah disampaikan Anton pada Nadine yang menjaga anak-anak di rumah.
Hal ini sekaligus membuat Nadine bingung bagaimana caranya dia menyampaikan berita ini kepada anak-anak, terutama pada Aura dan Cean.
Anton mengatakan pada Nadine untuk tetap tenang karena nanti dia yang akan memberitahukan kabar duka ini pada kedua keponakannya. Anton berjanji akan memberi pengertian pada kedua bocah itu. Aura dan Cean akan mengerti dan memahami situasinya, pikir Anton.
Kedatangan Beno dan Jenifer ke Rumah Sakit turut membuat Anton sibuk karena Yara dan Indri tidak bisa meladeni sahabat Sky itu sebab mereka pun masih syok.
"Maaf aku baru bisa kesini, Mas. Abel baru sembuh juga dari demam berdarah," kata Beno dengan tangisan.
Beno amat menyesal, dia tidak dapat bertemu Sky disaat-saat terakhirnya. Dia sudah mendengar Sky koma apalagi berita kecelakaan sahabatnya itu, tapi kondisi anaknya juga tidak bisa ditinggal sebab Rumah Sakit yang merawat Abel dan Sky berbeda dan jaraknya juga lumayan jauh.
"Gak apa-apa. Makasih kalian udah datang kesini. Kalau bisa, aku mau minta tolong ..." Anton mulai berujar, setidaknya kedatangan Beno dapat meringankan tugasnya sedikit.
"Boleh, Mas. Apa yang bisa aku bantu?"
"Aku mau urus Yara sama Tante Indri. Yara kebetulan pingsan dan ada di ruang perawatan. Tante Indri lagi nungguin juga disana. Aku minta tolong urus kepulangan jenazahnya Sky, ya."
"Oke, Mas. Gak usah minta tolong. Ini udah kewajiban aku buat ngurusin Sky."
Beno langsung mengikuti perawat yang menunjukkan ruang jenazah.
"Kamu tunggu disini dulu ya, Sayang."
Jenifer menganggukkan kepala atas ujaran suaminya.
Baru saja duduk, ponsel Jenifer berdering dan itu adalah panggilan dari Michele, sepupunya.
"Hai, Jen. Kamu lagi dimana? Aku ke rumah kalian cuma ada Mama kamu sama anak-anak."
"Ah, iya, aku lagi di Rumah Sakit."
"Ngapain? Bukannya urusan Abel udah selesai? Atau mau menebus obat Abel, ya?" terka Michele dari seberang panggilan.
"Bukan, ini bukan tentang Abel." Jenifer menarik nafasnya perlahan. "Kamu pasti udah denger berita yang belakangan santer di televisi kan? Tentang kecelakaan Sky."
"Aah, Sky... ya, aku udah denger. Kabarnya dia koma, ya?"
"Sky meninggal, Michi."
__ADS_1
"Apa?" Suara kekagetan Michele atas berita yang baru saja disampaikan Jenifer tidak bisa dia sembunyikan, dia sangat terkejut mendengar kabar ini.
Jenifer menggaruk dahinya sekilas. "Iya, Sky meninggal satu jam yang lalu. Padahal tadi aku sama Beno udah dijalan mau jengukin, pas nyampe disini malah dapat kabar duka."
Tidak ada sahutan dari Michele.
"Michi? Kamu masih disana?"
"Ehm... y-ya, aku hanya terkejut. Rasanya, baru kemarin aku mendengar Sky akan ke Surabaya, ternyata hari ini dia udah meninggal."
"Lho, kamu tau darimana Sky ke Surabaya?" Jenifer sendiri tak pernah merasa memberitahu sepupunya ini. Apa Michele menjalin komunikasi lagi dengan Sky? Mungkin lewat medsos sehingga Michele mengetahui kegiatan Sky?
"Ah, iya. Aku tidak sengaja mendengar Beno bicara lewat telepon dan meminta Sky menggantikan dia ke Surabaya karena Abel masuk rumah Sakit tempo hari."
"Oh begitu. Ya, sekarang dia sudah tidak ada. Semoga dia tenang di dunia yang baru," kata Jenifer dengan nada sedih.
"Hm.. semoga saja ya," tanggap Michele.
"Kamu sekarang di rumahku? Aku sekalian titip Abel dan Jeno ya," ujar Jenifer merujuk pada anak-anaknya.
"Oke ..."
Panggilan itu pun terputus. Jenifer tidak berpikir yang lain-lain lagi.
"Aku gak percaya semuanya jadi begini. Ya ampun, Sky ... padahal sedikit lagi rencana aku bakal berhasil."
Wanita itu meneteskan airmata, entah kenapa dia merasa bersedih, mungkin karena dia belum sempat mendapatkan Sky yang menjadi incarannya. Pria itu telah menjadi obsesinya selama beberapa tahun terakhir. Lebih tepatnya, saat dia melihat Sky yang semakin berwibawa setelah menikah, entah kenapa pesona suami orang ini justru membuatnya merasa kepanasan.
Padahal ketika Sky masih lajang, dia tidak merasa demikian. Meskipun ada rasa tertarik, tapi berbeda ketika dia melihat Sky yang semakin matang setelah menjadi seorang ayah. Michele merasa pria itu pasti sangat hebat di ranjang dan bisa membuatnya mabuk kepayang.
Kemudian, pada hari dimana Sky ditugaskan ke Surabaya dan menggantikan Beno. Michele tidak sengaja mendengar kabar itu. Dia pun mulai merencanakan sesuatu.
Mungkin, dengan memanfaatkan situasi ini dimana ada jarak yang memisahkan Sky dengan Yara, michele dapat mengambil peluang yang menguntungkan.
Michele tak mau menyia-nyiakan keadaan ini. Dia berniat untuk mengikis rasa percaya Yara terhadap suaminya. Setelah berhasil, nanti dia akan masuk sebagai orang ketiga, begitulah pemikirannya kala itu.
Perlu diketahui, jika selama di Indonesia Michele bekerja sebagai seorang editor foto disebuah perusahaan iklan. Berbekal ilmu yang dia miliki dan melalui kemampuannya mengedit, Michele pun memanfaatkan keahlian itu untuk mengedit beberapa foto sahabatnya, Daisy dan Radja yang adalah pasangan.
Radja memiliki postur tubuh yang tinggi dan jika duduk bisa dikatakan mirip dengan Sky, meski tidak bisa dikatakan persis dan serupa.
Hingga akhirnya, dia tersenyum puas saat melihat hasil editannya sendiri. Lalu dengan sengaja mengirimkan foto-foto itu ke nomor Yara yang dia dapatkan dari Jenifer karena mengatakan bahwa ada sebuah kepentingan. Jenifer yang mempercayai Michele, tidak menanyakan secara detail dan dia memberikannya begitu saja.
Dihari kedua menjalankan misinya, Michele semakin meradang karena Yara memblokir nomornya. Dia sampai membeli beberapa kartu perdana lain untuk meneror Yara dengan rencananya.
__ADS_1
Hingga saat dimana Yara mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Michele kembali menghubungi wanita itu.
"Hallo?" Terdengar suara Yara yang menyahut.
"Hai, Yara." Michele sengaja menggunakan kain didekat bibirnya untuk menyamarkan suaranya.
"Siapa kamu?" Yara bertanya ketus. Michele tau jika Yara sudah menduga nomor ini adalah nomor yang dimiliki orang yang sudah mengiriminya foto kemarin.
"Santai dong! Aku cuma mau klarifikasi aja, soal foto yang kamu terima kemarin ..."
"Sorry ya, sebenarnya aku gak niat mau ngirimin foto itu ke kamu. Tapi, kayaknya kamu emang perlu tau deh gimana kelakuan suami kamu itu kalau diluaran. Terlalu lama terpenjara sama kamu sih, jadi pas diluar dia ngerasa bebas banget." Dengan sengaja Michele memanas-manasi Yara berharap wanita itu mau terprovokasi ujarannya.
"Dengar ya, aku gak tau siapa kamu. Jangan memprovokasi aku karena sedikitpun aku gak percaya sama kamu,"
Jawaban Yara itu, berhasil membuat Michele tersenyum sinis diposisinya. Rupanya Yara tau bahwa dia tengah memprovokasi wanita itu.
"Oh, ya? Kamu gak percaya? Ya udah, lihat aja abis ini aku bakal kasih kamu bukti yang lebih akurat dan buat kamu percaya."
Telepon itu langsung diputus oleh Michele sebelah pihak, karena dia kesal pada Yara yang seolah tidak termakan dengan doktrinnya, padahal dia sudah mengedit foto sesempurna mungkin.
Masih segar dalam ingatan Michele tentang percakapannya dengan Yara waktu itu. Mengingat Yara yang tak mempercayainya, Michele langsung memikirkan banyak cara untuk membuat Yara percaya. Apakah dia harus mengedit foto lain lagi?
Saat Michele sibuk memikirkan sebuah rencana baru, dia mendengar berita jika Sky mengalami kecelakaan bersama seorang wanita yang adalah model. Diandra Calista.
Kebetulan sekali. Michele pun memanfaatkan hal ini demi mendoktrin Yara kembali, dia mengirimkan istri Sky sebuah pesan.
[Gimana? Udah terbukti kan, kalau suami kamu ada main sama wanita lain? Harusnya kecelakaan ini bisa membuat kamu sadar dan meninggalkan dia. Bebasin dia sekalipun wanita itu udah meninggal. Karena apa? Karena Sky udah gak cinta sama kamu!]
Sayangnya, pesan itu tidak dibalas oleh Yara. Michele semakin berang.
Akhirnya, berbekal seorang kenalannya yang bekerja di media dan infotainment, Michele mengirimkan berita-berita mengenai Sky dan Diandra yang ada affair. Ya, dia mengarang cerita itu untuk dikirimkan ke infotainment.
Berawal dari aduannya, segala pihak jadi ramai memperbincangkan hal itu. Bisa dikatakan, aduan Michele itu merupakan pancingan ditengah-tengah kabar kecelakaan Sky dengan Diandra. Michele memantik api agar berita itu semakin memanas. Ya, dia adalah dalang dari semua kekacauan ini.
Wanita itu percaya, seberapapun Yara mengabaikan berita ini, pasti selentingan itu akan sampai ditelinga Yara.
Sayangnya, belum juga Michele mendapat bayaran atas kerja kerasnya yaitu berupa Yara yang akhirnya meninggalkan Sky, ternyata dia sudah lebih dulu mendengar kabar bahwa pria itu meninggal hari ini.
Sial. Benar-benar usaha yang sia-sia. Ditambah lagi rasa sedih yang kini justru melingkupinya.
"Harusnya kamu jadi milik aku, Sky! Kenapa jadi begini!" Michele merutuk. Dia mencengkram kepalanya sendiri yang terasa nyaris meledak.
Bersambung ...
__ADS_1