EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
110. Takut lupa daratan


__ADS_3

Seolah mau membuktikan janjinya, pagi-pagi sekali Nadine telah mengunjungi kediaman Anton. Dia mau melihat Baby Elara sebab kemarin tidak bertemu dengan sang bayi.


Saat Nadine datang, Anton baru saja hendak memandikan bayi itu karena Baby Elara memang baru bangun tidur.


"Kalau aku yang mandiin, boleh, gak, Mas?"


Untuk beberapa saat, Anton tertegun. Tapi kemudian dia mengangguki permintaan Nadine. Anton ingat. Ucapan Nadine kemarin seakan terngiang-ngiang di benaknya.


Jika bukan Elara, Nadine mungkin tak dapat melakukan aktivitas semacam ini seumur hidupnya.


Ada rasa kasihan dan kagum yang bercampur menjadi satu dalam diri Anton terhadap wanita itu. Nadine sepertinya sangat merindukan sesosok kecil yang saat ini sudah berada dalam gendongannya.


Anton tau, Nadine adalah istri dari seseorang, tapi dia tidak pernah menanyakan kehidupan pribadi sang wanita secara terang-terangan kecuali Nadine sendiri yang mengutarakannya.


Tapi, perasaan mengagumi wanita itu timbul begitu saja saat dia dengan tulus memandikan Baby Elara.


Jemarinya yang halus memang lebih cocok ketika memomong bayi itu, ketimbang tangan Anton yang terbiasa memegang mesin dan membongkar sparepart.


Baby Elara mandi dengan tenang, bahkan Nadine mengajaknya bermain kecipak air sambil sesekali bercanda ria.


Pemandangan seperti ini yang dulunya sempat Anton bayangkan jika Shanum sudah memiliki anak darinya. Sayangnya sebelum itu terjadi, Shanum sudah lebih dulu tertangkap basah mengkhianatinya, kemudian meninggalkannya dan Baby Elara untuk selama-lamanya.


Hhh ... sudahlah, masa-masa menyakitkan itu telah berlalu. Rasanya sudah terlalu terlambat jika menanyakan apa perasaan Anton mengenai kepergian Shanum--tapi sekedar mengingat sekilas mungkin itu tak masalah.


Jujur saja, kepergian Shanum cukup membuatnya merasa kehilangan.


Terlepas dari kesalahan wanita itu, tetap saja Shanum pernah menjadi bagian dalam hidup Anton.


Melihat kedekatan Nadine dengan Baby Elara, seolah mengingatkan Anton pada sosok ibu yang seharusnya menjaga putrinya itu. Jika saja Shanum tak meninggal, apa ia diberi kesempatan untuk mengasuh bayinya seperti sekarang? Atau justru Shanum akan mengasuh bayi itu sendiri dan tetap memilih bersama dengan Juna?


"Mas?"


Anton terkesiap saat merasa Nadine mengibaskan jemari didepan wajahnya. Ah, dia sampai melamun tak jelas hanya karena melihat interaksi Nadine dengan bayinya.


"Kamu melamun, ya, Mas?" Senyuman diwajah manis itu membuat Anton akhirnya menyengir kuda.


"Kenapa? Ingat Almarhum istri kamu ya?" tanya Nadine sambil sibuk menangani Baby Elara, sekarang dia tampak memakaikan Baby Elara pakaian setelah sebelumnya membaluri tubuh mungil itu dengan minyak telon.


"Iya, kalau Shanum masih hidup mungkin dia yang bakal jaga Elara," akui Anton terus terang.

__ADS_1


"Jadi, keberadaan aku disini buat kamu ingat sama mamanya Elara, Mas? Maaf ya, Mas... pasti kamu sedih sekarang."


Nadine memang pernah mendengar dari Yara bahwa selingkuhan Juna adalah istri dari kakaknya sendiri yang artinya itu adalah istri Anton, kan?


Itu berarti Anton pernah patah hati juga--sama seperti dia? Ah, hidup memang terasa miris sekali bagi dia, Yara dan Anton.


Kenapa sekarang Nadine merasa kasihan pada Anton? Padahal hidupnya juga tak jauh berbeda dari pria itu.


"Saya bukan sedih karena mengingat Shanum, tapi saya sedih melihat Elara yang gak punya ibu." Anton menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"... seharusnya Elara dimandikan dan diasuh oleh ibunya sendiri, tapi malah kamu yang ada disini."


"Kamu gak senang aku disini, Mas?"


"Bukan gitu, Nad. Justru saya berterima kasih sama kamu karena mau menyempatkan diri kesini. Terima kasih juga karena kamu mau menyayangi Elara."


Nadine tersenyum tipis. "Kamu tau gak, Mas. Karena hal ini lah yang membuat aku merasa bahwa Elara seolah ditakdirkan untuk aku asuh. Yah, selain namanya juga sama dengan namaku, tapi kehidupan Elara membuat aku merasa kalau dia memang benar-benar dikirim buat aku jagain. Kamu marah gak mas, kalau aku merasa seperti itu?"


"Kalau kamu senang melakukannya, saya gak mungkin marah, Nad. Justru saya ikut senang ada orang yang mau menjaga dan menyayangi putri saya-- layaknya anak sendiri."


Nadine menatap Anton dengan sendu. Merasa pria itu sangat dewasa menyikapi sesuatu. Ada rasa iba dan kagum yang bercampur menjadi satu. Tapi ada rasa lain yang tidak bisa Nadine tafsirkan sebab dia bingung untuk mengatakan namanya. Rasa itu belum punya nama, tapi Nadine bahagia karena Anton memberinya akses untuk mengunjungi Baby Elara.


"Ya udah, kamu pergi aja, Mas. Biar Elara dalam asuhan aku. Aku bakal jaga dia. Kamu belanja aja dengan tenang, dia aman sama aku kok."


Entah kenapa baru mendengar pernyataan itu dari Nadine hati Anton sudah merasa tenang. Ia bisa meninggalkan Elara dan dapat mempercayai wanita itu tanpa rasa khawatir.


"Makasih ya, Nad."


Nadine menggeleng. "Aku yang harusnya makasih, Mas. Karena kamu kasih aku kesempatan untuk tau bagaimana rasanya menjadi seorang ibu."


Terkesima. Itu lah yang Anton rasakan selanjutnya setelah Nadine mengutarakan kalimatnya. Dia tertegun lama, mereka saling menatap dalam diam. Entah apa yang ada di benak keduanya-- tapi mereka saling mengagumi sosok satu sama lain didalam keheningan itu.


Anton segera memutus kontak mata yang terjadi diantara mereka. Lagi-lagi dia takut membawa hal ini ke dalam perasaannya. Kebaikan Nadine bisa saja membuatnya lupa diri hingga naik ke langit dan enggan menginjak tanah. Ia takut melambung tinggi dan lupa daratan. Perasaan seperti itu harus dienyahkan, sebab Nadine adalah istri orang lain dan lagi dia terlalu cantik untuk seorang Anton yang biasa saja. Begitulah pemikiran pria itu.


Kenapa pula Anton harus mempunyai pemikiran demikian? Tidak sepantasnya.


Ah, seharusnya tidak perlu dimasukkan dalam hati. Nadine disini hanya untuk Baby Elara, bukan dirinya.


"Ehm ... ngomong-ngomong, suami kamu gak marah kalau kamu disini menjaga Elara?"

__ADS_1


Nadine tertawa hambar. "Mas gak jadi pergi?" tanya wanita itu mengalihkan pembicaraan. Dia sedang tidak mau membahas Lucky sekarang, apalagi membicarakannya pada Anton. Bukan dia tak mau terbuka, tapi mengingat Lucky--rasanya membuatnya hilang semangat.


"Ah, iya..." buru-buru Anton bergegas, dia melihat gurat sendu itu lagi dimata Nadine.


Sekali lagi mereka saling menatap, Anton seakan mencari jawaban dari mata bening wanita itu. Namun, entahlah, justru yang dia dapatkan hanya sebuah kepedihan dan luka yang seakan bersarang disana.


Seberapa dalam kepedihan kamu? Ingin rasanya Anton berkata demikian, tapi lagi-lagi dia menepis rasa ingin tahunya itu sebab ia tidak mau lupa daratan.


Dibantu oleh Nadine mengurus bayinya saja sudah sangat bersyukur, tak perlu ngelunjak untuk tahu lebih dalam terkait masalah pribadi sang wanita.


"Saya ... pergi dulu," kata Anton berpamitan.


"Ya, Mas. Hati-hati dijalan."


Anton mengangguk singkat, ada sebuah sunggingan kecil disudut bibirnya, entah kenapa hal semacam ini membuatnya senang, mungkin karena sudah lama dia tak berpamitan dengan seorang wanita. Terlebih, wanita itu menetap dirumah dan menjaga putrinya.


Anton berderap, mendekat pada posisi Nadine, melabuhkan sebuah kecupan ringan pada bayi mungilnya yang sudah tampak cantik dan harum di dalam gendongan wanita itu.


"Ayah pergi dulu, jangan buat Tante Nadine repot ya, El...." kata pria itu berbicara pada sang bayi.


Baby Elara menggeliat ringan seakan merespon ucapan sang Ayah.


"Dia gak nangis, padahal saya mau pergi. Sepertinya dia nyaman sama kamu."


Wajah Nadine memerah, bukan karena ucapan Anton, tapi pria itu bicara padanya masih dalam jarak yang cukup dekat. Entah kenapa sekarang Nadine merasa gugup.


"Y-ya, Mas." Nadine menunduk, berusaha mengalihkan kegugupannya dengan menatap wajah lucu Baby Elara.


Anton terkekeh pelan, entahlah, dia seakan menyadari kegugupan Nadine.


"Dah...." pria itu beringsut sambil melambaikan tangan sekilas.


"Dah, Mas!" sahut Nadine, tapi entah kenapa dia merasa hatinya menghangat saat melihat sikap Anton hari ini.


Bersambung ...


Jangan lupa dukungannya, next 2 bab lagi bakal menyusul.


Nantikan lanjutannya yah, gaes🙏

__ADS_1


Eh iya, meskipun setiap komentar kalian gak semuanya sempat untuk othor balasin satu persatu, tapi komentar itu pasti othor baca dan kadang itu yang juga buat semangat utk lanjut nulis 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2