
Yara tentu sangat terkejut melihat Sky yang berada tak jauh di seberangnya. Dalam hitungan menit, pria itu sudah menyebrangi jalanan dan berdiri tegak di hadapan Yara-- bahkan, sebelum Yara sempat berpikir ini nyata atau hanya khayalannya saja.
"Ayara, kamu kemana aja?"
Itulah kalimat pertama yang di ajukan Sky pada Yara yang masih tertegun dengan hal ini.
Kenapa pria ini selalu hadir tiba-tiba dan tidak disangka-sangka? Apa ditubuh Yara ada sebuah radar yang bisa dengan mudah dilacak oleh seorang Sky Lazuardi?
"S-Sky..." kata Yara dengan tercekat.
"Kenapa bisa disini, hmm?"
Sorot matanya teduh, diiringi dengan suara yang sangat lembut. Ada kekhawatiran yang terpancar jelas dari tatapannya, seketika itu juga perasaan bersalah menghantam diri Yara.
Yara masih tergugu dengan wajah yang pasti sangat konyol. Pasti ia tampak seperti orang bo doh sekarang.
"Nomor kamu gak bisa aku hubungi..." Sekali ini, suara Sky melirih membuat Yara sadar akan keadaan.
"Sky, nanti aku jelasin semuanya, ya. Maaf, aku harus masuk, aku kerja disini nanti jadi gak enak," ujar Yara tak kalah lembutnya demi memberi pria itu pengertian.
"Oke, aku tunggu sampe jam kerja kamu selesai."
Yara menggeleng. Entahlah apa yang harus ia katakan pada Sky nanti. Ia belum tau. Apalagi mengingat ucapan terakhir Anton yang mengatakan tidak akan mendukung hubungannya dengan pria yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya bersama Juna ini.
"Kenapa? Kamu gak mau ngobrol sama aku?"
"Udah aku bilang aku kerja disini, aku tinggal disini sekarang..." bohong Yara.
"Jam kerja kamu sampai jam berapa?"
Sekali lagi Yara menggeleng. Pertemuannya dengan Sky hari ini membuatnya sangat serba salah. Ia mau menenangkan diri tanpa menjawab banyak pertanyaan. Apa bisa?
Sky menarik nafas dalam. Seakan memahami keinginan wanita dihadapannya, ia pun kembali buka suara.
"Oke, aku bakal tunggu kamu. Kalau perlu aku bakal datang kesini setiap hari sampai kamu mau bicara sama aku."
Yara menatap Sky tidak percaya. Kenapa pria ini harus membuang-buang waktu hanya untuk wanita seperti dia? Jika Sky tahu, usahanya itu tidak akan membuat keputusan Anton berubah, bagaimana?
Tidak ada gunanya Sky berusaha, bahkan sebelum semuanya kembali dimulai, tembok itu sudah terbentang luas diantara mereka, sehingga Yara enggan untuk memberi harapan lebih lanjut.
"Terakhir kita ketemu, kamu gak gini, kamu bahkan ngirimin aku pesan buat pamit ke rumah Mas Anton. Kamu kenapa sebenarnya? Kalau kamu gak bilang, aku gak akan tau, Ayara ...."
"Aku---aku ..." Yara sebenarnya sulit untuk mengatakan hal ini, tapi dia harus. "Aku mau, kamu berhenti berusaha untuk aku. Aku juga gak mau kasih kamu harapan lebih. Mulai sekarang, kita jalani hidup kita masing-masing. Kita berdua pasti bisa, karena kita udah pernah melewati hari tanpa kebersamaan sejak 11 tahun yang lalu."
__ADS_1
Sky terperangah dengan serangkaian kalimat yang Yara katakan padanya. Apa barusan ia salah mendengar? Apa Yara sedang demam sampai mengigau?
Yara menarik nafas dalam-dalam. Ia tak berani menatap Sky lagi. "Semuanya udah cukup sampai disini aja, Sky. Gak ada harapan untuk kita bersama-sama lagi. Apalagi sampai ke jenjang yang lebih serius," imbuh Yara membuat Sky semakin terdiam membeku di tempatnya.
Bahkan, sampai Yara berbalik dan masuk ke dalam rumah yang dia katakan sebagai tempat kerjanya--Sky masih saja terdiam dengan pikiran yang mendadak buntu akibat mencerna ucapan Yara yang diluar prediksinya.
"Sky... are you oke?" (Sky... apa kamu baik-baik saja?)
Sky menoleh dan tiba-tiba saja ia sudah mendapati Michelle ada disebelahnya. Wanita itu memang menyusul Sky setelah merasa jika Sky tidak kunjung kembali ke pesta ulang tahun Abel.
"What are you doing here?" (Apa yang kamu lakukan disini?")
Sky menatap Michelle datar. "It's oke, all is well. Ayo kembali," katanya sambil mengurut kepala.
Akhirnya, Sky kembali ke pesta ulang tahun Abel. Tapi, ia sama sekali tidak menikmati serangkaian acara tersebut.
"O-om Cekai?"
Sky menatap Abel yang berdiri disisinya. Bocah kecil itu sudah pandai bicara dan sangat aktif meski umurnya baru menginjak 2 tahun.
"Abel?" Sky membawa Abel ke dalam pangkuannya.
"Yuk, yuk, kan ue yuk!"
"Ue uyang taun beyom..." kata Abel lagi dengan kepolosannya.
Akhirnya, Sky pun mengiyakan ajakan Abel untuk mencicipi kue ulang tahunnya.
Sky mau memotong kue itu sedikit, tapi kegiatannya itu dihentikan oleh Michelle.
"Wait, biar aku potongkan untuk kamu," katanya mengajukan diri.
Sky sedikit bergerak, memberi ruang agar Michelle dapat mengambil alih untuk memotong kan kue.
Saat Michele ingin menyerahkan piring itu kepada Sky, rupanya Abel mengoceh dengan ucapannya yang tidak jelas alias cadel.
"Cuap cuapin o'om Cekai ..." pintanya pada Michelle sambil melompat-lompat.
Sky langsung mengernyit, tapi permintaan Abel yang polos tidak bisa ia abaikan.
"Anti... cuapin, yuk!" kata Abel lagi yang kini dengan tatapan memohon pada Michelle. (Anti \= Aunty)
Michelle tersenyum tipis, sorot matanya seolah menanyakan kesediaan Sky akan hal ini.
__ADS_1
Sky hanya berpikir biasa, mungkin Abel ingin mengulangi momen suap-suapan kue seperti yang tadi sempat dilakukannya bersama Jenifer dan Beno. Akhirnya, Sky mengangguk samar pada Michelle, membiarkan gadis itu menyuapinya kue ulang tahun milik Abel.
"Yeay...." Abel bersorak senang.
Kejadian itu turut diabadikan oleh kamera milik Beno yang juga menyaksikannya.
"Ku pikir mereka akan cocok," kata Jennifer pada suaminya.
Beno tertawa pelan. "Ya, tapi sayang... Sekai sudah punya wanita yang menjadi pilihannya sendiri," sahutnya.
"Are you seriously?"
Jennifer merasa tak pernah melihat Sky bersama wanita manapun, sehingga ia memang berniat mendekatkan sepupunya Michelle dengan sahabat suaminya, Sky.
"Ya, kita tidak bisa memaksanya untuk dekat dengan Michelle. Kecuali dia yang memang menginginkan hal itu terjadi," tanggap Beno.
Jennifer mengendikkan bahu. "Ya, semua terserah mereka saja. Tapi aku menangkap jelas jika Michelle tertarik pada Sky," paparnya.
"Kita tidak usah ikut campur, Honey .... mereka sudah dewasa, kan?" kata Beno.
Jennifer menganggukkan kepalanya. Semua memang terserah Sky dan Michelle, ia hanya memiliki niat dan bukan untuk memaksakan keduanya.
Sementara disisi lain, Yara harus menahan perasaannya dalam-dalam. Ia terpaksa melontarkan kalimat menyakitkan itu pada Sky sebab ia tidak mau pria itu semakin tersakiti nantinya.
Sejak awal, Yara tahu dan menyadari bahwa Sky layak mendapatkan wanita yang lebih baik daripada dia.
Kenapa ia memiliki harapan yang terlalu tinggi untuk bisa bersama Sky suatu hari nanti? Bahkan seujung kuku pun alam seakan tidak merestui kebersamaan mereka meski Yara sadar bahwa sejauh apapun ia bersembunyi, semesta terlampau sering mempertemukan mereka kembali.
Yara terduduk disamping lemari bufet yang ada dikediaman Nadine, ia memeluk lututnya sendiri dan tidak bisa mencegah air matanya untuk tidak jatuh.
Yara merasa sakit hati dengan perkataannya sendiri, apalagi Sky yang tadi mendengarnya melontarkan ucapan itu?
Pasti sekarang Sky tengah memikirkan apa kesalahannya padanya, sehingga secara mendadak ia meminta Sky untuk menyudahi semua ini bahkan sebelum benar-benar dimulai.
"Maafin aku, Sky... maaf, aku cuma gak mau kamu makin sakit hati kalo nanti kamu tau mas Anton menolak hubungan kita. Aku juga gak mau merasakan penolakan yang sama dari Mama kamu."
Bagaimanapun, Yara harus berpikir realistis. Penolakan itu pasti juga akan ia terima jika ia nekat untuk tetap bersama Sky.
"Aku takut, aku gak senekat kamu, Sky... aku gak siap nerima penolakan dari berbagai pihak. Tapi aku juga gak siap kalau harus bener-bener ngelepasin kamu. Aku harus apa, Sky?"
Bersambung....
***
__ADS_1
Sorry ygy, kemarin aku up 2 bab tapi sama pihak NT gak lolos2 review, akhirnya rilis pagi tadi padahal itu bab untuk kemarin.... 😭😭😭 Yang terlewat, boleh scroll ke atas lagi ya... 2 bab aku kirim, bukan 1 bab... siapa tau ada yang bacanya lompat🙏