
Sky dan Yara memperhatikan Abel yang bermain dan berlarian pelan di taman komplek. Keduanya sesekali tertawa melihat tingkah lucu gadis kecil itu. Tapi, Yara buru-buru menoleh saat Sky sudah kembali bicara mengenai mereka.
"Ra, apa kamu udah yakin soal perpisahan dengan Juna?"
Kali ini pertanyaan Sky membuat Yara tak paham. Jika selama ini Sky selalu takut dia akan merubah keputusannya dan kembali pada Juna, kenapa sekarang Sky menanyakan hal semacam ini padanya?
"Kenapa kamu menanyakan itu?" Yara malah balik bertanya.
"Aku takut kamu menyesali semuanya setelah kalian berpisah. Aku takut kamu akan merasa kehilangan dia. Aku takut kamu bersedih, walau bagaimanapun kamu sudah hidup dengannya cukup lama, dalam hitungan tahun. Aku rasa kamu sudah terbiasa dengan dia."
Yara menatap Sky lama, entah kenapa pria ini terlihat pesimis, walau Yara tidak tahu apa motif dibalik pernyataan Sky kali ini.
Melihat Yara diam tak menanggapinya, Sky kembali berkata-kata.
"Aku memang mencintai kamu, Ra. Bahkan kadang aku seperti memaksakan kamu untuk kembali sama aku. Tapi kamu harus tau bahwa ... yang terpenting buat aku adalah kebahagiaan kamu. Aku gak mau kamu sedih, sekalipun aku patah hati lagi jika kamu kembali sama Juna, gak apa-apa, yang penting kamu harus janji untuk bahagia dengan hal yang udah kamu pilih."
Disini lah Yara memahami bahwa level tertinggi mencintai dari seorang Sky kepada dirinya adalah 'bukan memilikinya' melainkan 'membiarkan dia bahagia meski tidak bisa kembali bersama'.
"Kamu yakin bakal ikhlas kalau ternyata aku mutusin untuk kembali sama Mas Juna?"
Seketika itu juga Sky menoleh pada Yara, padahal sejak tadi dia bicara sambil menatap Abel didepan sana.
"Ikhlas gak ikhlas, pahit dan sakitnya biar aku yang rasain. Kebahagiaan kamu nomor satu meski bukan aku yang mewujudkannya."
"Kenapa kamu nanya hal itu, tapi kamu sendiri gak siap, Sky? Kamu harus bilang itu lagi kalau kamu benar-benar udah siap melepaskan aku. Karena kalau aku udah memutuskan, kamu gak akan bisa hadir dan jadi pengganggu lagi di rumah tangga aku nantinya."
"Jadi, kamu beneran mau kembali sama dia?" lirih Sky dengan mata yang sudah mengembun.
Yara mengulumm senyum. "Kayaknya kamu bener, aku udah terbiasa sama dia. Jadi, aku harus berpikir lagi biar gak menyesal, gitu kan?"
Sky terdiam. Ada rasa kesal dalam dirinya tapi ia tau apapun keputusan Yara jika itu menyangkut kebahagiaan wanita itu maka ia harus berusaha mengikhlaskan.
"Aku udah mikirin ini beberapa hari ini, Sky. Keputusanku tetap berpisah, sekalipun aku udah terbiasa dengan Mas Juna."
Mendengar itu, satu sudut bibir Sky tertarik. Ia menatap Yara lagi, kali ini dengan tatapan penuh binar pengharapan.
"Kamu gak takut nyesel?"
Yara menggeleng. "Tapi, setelah nanti aku berpisah sama dia, aku harap aku bisa dapatkan kebahagiaan itu---" Yara pun meraih jemari Sky. "... sama kamu," sambungnya.
Sky tertegun untuk beberapa saat. Ia melihat pada genggaman tangan Yara yang erat melingkupi jemarinya. Tekadnya menjadi bulat, ia percaya Yara ingin bergantung padanya.
"Baguslah kalau kamu gak menyesalinya. Aku cuma takut kamu sedih ... jadi, apapun yang terjadi setelah pertemuan kamu dengannya nanti, kamu harus ingat kalau ada aku yang nungguin kamu." Sky membalas genggaman tangan Yara. Ia menatap Yara dengan tatapan mendamba.
__ADS_1
" ... izinkan aku untuk menjadi orang yang membahagiakan kamu. Aku bakal nunggu, sampai kamu benar-benar resmi berpisah dari dia. Jangan ada yang tersisa dari hubungan kalian berdua. Lepasin semua tentangnya dan mulai dari awal lagi sama aku."
Setelah mengucapkan itu, Sky pun mengecup punggung tangan Yara beberapa kali sampai Yara memprotes kelakuannya yang tidak kunjung menghentikan hal itu.
"Udah, Sky! Stop! Kamu gak malu dilihatin Abel!" katanya, tapi Sky malah mengelus pipi Yara sekilas sambil tertawa pelan karena tingkah absurd nya sendiri.
...~~~...
Sementara di tempat lain. Juna yang baru saja selesai dari pekerjaannya. Memutuskan untuk menyambangi sebuah Mall. Mengingat Yara yang sempat menghubunginya dan mengajaknya bertemu malam ini, Juna ingin mempunyai sesuatu untuk menunjukkan keseriusannya dalam mempertahankan rumah tangga mereka.
Untuk itu, ia memasuki sebuah toko perhiasan. Ia ingat, ia sudah menggunakan set perhiasan Yara dan menjualnya demi menambahi pembelian rumah waktu itu.
Kali ini, ia berniat mengganti perhiasan Yara sekaligus membujuknya. Siapa tau usahanya ini akan membuat Yara berubah pikiran dan melihat kesungguhannya. Lagipula biasanya wanita sangat senang dibujuk dengan hal semacam ini, pikirnya.
Biarlah ia harus kembali menggesekk kartu kredit di mesin yang terdapat di toko tersebut. Yang penting Yara melihat bahwa ia benar-benar berniat baik untuk rumah tangga mereka.
Juna memilih set perhiasan yang lumayan mahal. Kebetulan limit credit card nya masih ada. Setelah membeli itu, Juna buru-buru keluar dari toko tersebut.
Brakkk
Tanpa sengaja Juna malah menabrak seorang wanita dari arah berlawanan. Hingga akhirnya ia merasa bersalah dan membantu wanita itu untuk kembali berdiri sembari memunguti beberapa paperbag belanjaan sang wanita yang juga berjatuhan di lantai.
"Maaf ya, saya gak sengaja. Saya memang terburu-buru... Maaf sekali," kata Juna sungguh-sungguh.
Juna mengangguk, saat ia ingin beranjak rupanya sang wanita kembali buka suara.
"Maaf, mas suaminya Yara, kan?"
"Ya benar..." kata Juna sambil berpikir siapa wanita yang ada dihadapannya ini?
"Aku temennya Yara, Mas. Ingat, gak?"
Disaat yang sama Juna juga telah mengingat siapa wanita didepannya ini.
"Di...andra?"
"Iyaa ... wah kebetulan ketemu disini ya, mas," kata Diandra ramah.
"Iya, sekali lagi maaf ya soal kejadian nabrak tadi."
"Gak apa, mas. Kan aku juga salah. Mas sama siapa kesini? Yara mana?" tanya Diandra.
Juna menipiskan bibir. "Lagi gak sama Yara. Kebetulan pulang kerja langsung kesini tadi." Juna mengendikkan dagu ke arah toko perhiasan didekatnya.
__ADS_1
"Wah, mau kasih kejutan ke Yara, ya, mas?" terka Diandra.
Juna mengangguk-anggukkan kepala. "Gitulah," katanya.
"Baik banget ya, Mas Juna ini. Kalau Yara sampai nyakitin mas, keterlaluan banget sih!" oceh Diandra.
"Maksud kamu?" Juna jadi mengurungkan niat untuk segera pergi sebab mendengar ucapan salah satu teman istrinya ini.
"Gitu deh, Mas. Mas jangan terlalu percaya sama Yara. Eh, maksud aku, sekali-kali Mas lihat deh gimana pergaulan Yara..."
"Memangnya Yara kenapa?"
"Loh, emang mas gak tau kalau Yara itu dekat lagi sama mantan pacarnya?"
Seketika itu juga wajah Juna menegangg, ia menggeram rendah dan mengepalkan tangannya.
"Duh, aku salah ngomong deh. Maaf ya, Mas." Diandra menggosok lehernya sendiri karena merasa kelepasan bicara. Ia tidak bermaksud mengompori Juna, tetapi ia hanya tidak menyangka suami sebaik Juna malah dikhianati oleh Yara.
Saat Diandra ingin pergi, Juna menghentikannya.
"Dian, apa mantan pacar Yara itu salah satu teman kalian di SMA juga?" sergapnya. Jika Diandra tahu soal ini, maka kemungkinan pria itu adalah bagian dari teman-teman SMA Yara yang juga Diandra kenal, kan?
Diandra yang merasa terintimidasi oleh Juna akhirnya mengangguk.
"Siapa dia?" tanya Juna kemudian.
Diandra menggeleng. "Maaf, mas. Aku gak bisa ngasih tau. Mas cari tau sendiri ya. Ini bukan kapasitas aku, atau mas tanya langsung aja sama Yara," katanya mengelak.
"Apa pria itu juga ada waktu kalian family gathering ke Bali?" tebak Juna dan kembali Diandra mengiyakan.
"Bahkan dia yang membiayai semua villa untuk kepentingan kita selama di Bali," kata Diandra didalam batinnya. Tapi ia tak berani mengutarakannya, bagaimanapun Yara dan Sky tetaplah teman-temannya, ia cuma keceplosan tadi dan tidak berniat mengadu.
Meski Sky pernah menolak Diandra mentah-mentah, hingga membuatnya kesal-- apalagi ternyata pria itu malah memilih Yara, tapi Diandra tidak pernah menaruh dendam akan hal itu. Ia terpaksa mengiyakan pada Juna, sebab sudah terlanjur salah bicara sejak awal. Dan, untuk mengakui pada Juna jika pria itu salah Sky pun--- Diandra tidak bisa.
"Kamu gak mau kasih tau aku siapa mantan pacar Yara yang sekarang dekat lagi sama dia?" tanya Juna, kali ini suaranya terdengar lebih serius dan menuntut.
"Maaf, mas. Aku gak bisa. Aku... ada urusan lain, maaf aku pergi ya, Mas." Diandra buru-buru berlari kecil ke arah lainnya, sehingga Juna tidak bisa mencegah kepergian wanita itu.
Bersambung ...
****
Dear Readers, makasih ya yang selalu tinggalin komentar di tiap bab novelku. Kadang aku gak balasin semua, tapi percaya deh aku bacain semua komentar kalian yang bikin aku tetap semangat buat lanjut novel ini.❤️
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan kirimkan bunga+kopi bergelas-gelas,🙏🌼