EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
85. Belajar


__ADS_3

Setelah puas bertukar cerita dengan Indri, Yara memutuskan untuk menyusul Sky di lantai atas--dimana kamar pria itu berada.


Sky memang sudah lebih dulu masuk ke kamar karena ingin membuat Yara dan Indri kembali akrab seperti dulu. Dengan kata lain, pria itu memberi ruang dan waktu agar kedua wanita yang disayanginya itu-- bisa terbiasa satu sama lain dikala ia tidak berada diantara mereka.


Sebelumnya, Yara memang tidak pernah mengetahui letak kamar Sky. Tadi Indri hanya memberitahukan sekilas keberadaan ruangan itu.


"Naik keatas, terus belok ke kiri. Kamarnya pas didepan lukisan besar."


Yara mengingat ucapan sang mertua dan sekarang ia sudah berada tepat di depan pintu kamar tersebut.


Tidak etis jika Yara langsung masuk begitu saja, kan? Sebab ini memang pertama kali baginya untuk menyambangi kamar Sky meski sekarang pria itu sudah berstatus suaminya.


Yara memilih untuk mengetuk pintu kamar sampai dia mendengar sahutan Sky dari dalamnya.


"Masuk aja, Ra!"


Sepertinya Sky sudah tau jika itu adalah Yara.


Yara menekan handle pintu, entah kenapa sekarang perasaannya mendadak gugup, padahal beberapa saat lalu ia sudah mulai terbiasa dengan sikap Sky yang sepertinya juga sama saja dan tidak berubah kepadanya.


Klek.


Yara masuk dan melihat ruangan kamar itu kosong. Kemana Sky? Pikir wanita itu.


Namun, saat Yara masih sibuk berpikir rupanya secara tiba-tiba matanya di tutup oleh seseorang yang berada di belakang tubuhnya.


Rupanya Sky bersembunyi di balik pintu, hingga saat Yara masuk tadi, ia tidak melihat keberadaan pria itu.


"Sky!" protes Yara. Sky tak menyahut, ia hanya menahan tawa dalam diri.


"Jangan aneh-aneh, deh! Baru juga diceritain tadi," gumam Yara.


Tidak salah Indri memberinya pesan mengenai sikap Sky yang sering aneh dan diluar prediksi. Hal itu memang harus Yara akui kebenarannya sekarang.


Sky membuka bekapan tangannya di mata Yara, hingga wanita itu terkesima saat melihat sesuatu yang sekarang ada dihadapannya.


"Hadiah untuk pernikahan kita," ujar Sky dengan senyum hangat.


Yara speechless, kenapa bisa Sky memberinya hadiah pernikahan padahal mereka menikah pun sangat instan dan dadakan?


"Maaf ya, aku belum bisa kasih hadiah yang bener buat kamu. Ini juga aku buat udah lama banget, rencananya waktu itu mau aku kasih ke kamu pas aku pulang dari Australia. Tapi berhubung aku tau kamu udah menikah sama Juna, jadi hadiah ini aku simpan dirumah untuk koleksi sendiri."


Yara menatap haru pada lukisan dihadapannya. Meski Sky mengatakan ini bukan hadiah yang benar, tetapi bagi Yara ini sangat istimewa karena Yara tau ini adalah gambar dirinya yang dilukis menggunakan tangan dan keahlian dari pria itu sendiri.


"Suka enggak?" Sky kembali bersuara, menanyakan pada Yara sebab tidak satupun kalimatnya dijawab oleh sang wanita.


Yara mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian menatap Sky dengan tatapan penuh cinta.


"Kamu gak perlu bilang makasih, karena ucapan terima kasih dari aku buat kamu... jauh lebih banyak. Salah satunya, makasih udah mau jadi istri aku."


Yara memeluk Sky saat itu juga. Ia tidak menyangka seberuntung ini bisa mendapatkan lalu memiliki hati pria seperti seorang Sky Lazuardi.

__ADS_1


"Meskipun kamu larang, aku bakalan tetap bilang makasih sama kamu. Makasih untuk hadiahnya. Aku suka. Makasih juga udah mau menerima aku apa adanya. Terutama, makasih karena udah tulus sama aku-- sampai saat ini."


Sky tersenyum dan membalas dekapan Yara. "Iya, sayang. Sama-sama," katanya.


Sky melerai pelukan mereka, menangkup kedua pipi Yara yang tampak merona, lalu memangkas jarak diantara mereka.


Berawal dari sebuah kecupan singkat, hingga akhirnya Sky tidak rela melepaskan tautann itu begitu saja.


Sembari memperdalam ciumannya, tangan Sky mengelus punggung Yara dengan sentuhan yang seringan kapas.


Tanpa ada peringatan, Sky membungkuk lalu meraup tubuh Yara kedalam gendongannya. Ia bahkan tidak memedulikan teriakan Yara yang terkejut karena diangkat begitu saja olehnya.


"Sky!" Yara memekik sembari tangannya mencengkram erat baju yang Sky kenakan.


Sky mendudukkan Yara, hingga wanita itu sudah berada tepat diatas meja kerja yang ada dikamar Sky.


Sekarang, sang pria menatap Yara dengan mata yang meredup, bibirnya kembali mengecup bibir Yara untuk kesekian kalinya.


Tatapan Sky tampak berkabut, seolah memancarkan gai rah yang panas dan keinginan yang paling mendamba.


Nafas Yara masih tidak stabil saat Sky kembali memulai-- hingga membuatnya memasrahkan diri dan tidak menolak. Sky amat bersyukur karena Yara tidak melakukan penolakan terhadapnya.


Ajaibnya, saat ciuman itu terhenti, dahi mereka masih menempel satu sama lain dengan dada yang naik-turun seakan membutuhkan oksigen yang lebih banyak.


"Aku cinta kamu, Ra."


Sebelah tangan Yara terangkat untuk memberikan sentuhan lembut di pipi suaminya.


"Kenapa kamu cinta aku, Sky? Kenapa gak wanita yang lain?" tanya Yara. Bahkan sampai sekarang ia masih tak percaya Sky memilih dirinya.


"Lalu, kamu mau aku melakukan apa?" tanya Yara dengan raut malu-malu. Yara tidak sadar, bahwa sikapnya itulah yang merupakan godaan terbesar yang berhasil memancing gai rah dalam diri suaminya.


Sky memejamkan matanya, kembali menghujani Yara dengan ciumannya yang semakin intens saja. Tidak ada sesuatu pun yang pernah membuatnya candu untuk mencium--- selain Ayara Yasmin, yang sekarang sudah menjadi istrinya.


Dengan Yara, semuanya terasa berbeda, Yara membuat Sky merasa tidak pernah puas untuk membuat banyak tanda pada tubuhnya. Hingga ia membiarkan naluri alamiah dalam dirinya bergerak dan menuntun untuk menyusuri leher jenjang Yara dan betah untuk berada disana.


Hingga semuanya terasa begitu liar dengan pergerakan yang seolah saling tidak sabar. Mereka berdua seolah berebut untuk membuktikan siapa yang paling cepat.


Tapi sepertinya Sky tidak mau kalah, tangannya bergerak dengan cekatan-- hingga sekali sentakan membuat blus merah jambu milik Yara langsung terlepas dengan cara mengenaskan. Bagaimana tidak, itu terlihat sudah robek dalam sekali tarikan.


Tapi, Yara dan Sky sudah tidak memperdulikan itu. Ketika bibir Sky bergerak di tempat yang lain, Yara berusaha keras untuk tidak memekik dan mengakui dalam diri bahwa ia sangat menyukai tindakan yang dilakukan suaminya itu.


Hingga akhirnya, Yara hanya bisa mengigit bibirnya sendiri saat merasakan sentuhan Sky yang kini sudah memil1n dadanya.


Yara menatap Sky yang sudah dalam keadaan berantakan-- seperti dirinya. Semua kancing kemeja pria itu telah terbuka, bahkan rambutnya tak lagi rapi.


Begitupun Yara, bibirnya sudah bengkak karena intensitas ciuman mereka.


Tapi, entah kenapa melihat penampilan Sky yang seperti ini justru membuat ketampanan pria itu bertambah hingga berkali-kali lipat.


"Mau berhenti?" tanya Yara berniat menggoda sang suami.

__ADS_1


"Jika kamu bilang berhenti, maka aku akan menghentikannya."


Yara tersenyum lembut. Kemudian membingkai wajah Sky yang ada dihadapannya, mengecup kedua mata pria itu dan mendekap kepala Sky di dadanya.


"Kalau begitu, lakukanlah..."


Sky tersenyum di posisinya, ia tidak akan membuat Yara memerintahkan sampai kedua kalinya. Sky langsung menyambut itu karena ini adalah sebagian jawaban atas doa-doanya selama ini.


Sky yang selama ini tidak pernah terobsesi pada tubuh wanita manapun--- kecuali Ayara-nya. Jadi, tak heran jika saat ini ia begitu menikmati bagaimana proses ini yang akhirnya benar-benar terjadi.


Yara memejamkan matanya rapat, merasakan sentuhan Sky pada tubuhnya. Pasrah dan mengikuti kemanapun Sky akan melambungkannya hari ini.


Hingga Yara menahan nafas saat tangan Sky benar-benar sudah menyentuh tepat di tempat paling nikmat dibawah sana.


"Keluarkan aja, gak ada yang bisa mendengar kita," kata Sky seolah memahami jika saat ini Yara ingin sekali menjerit akibat aktivitas jari Sky di bawah sana.


Dan Yara menurut, ia mengeluarkan suaranya sesuka hati dan itu memancing Sky untuk semakin bersemangat lagi.


Yara merasakan pandangannya buram, tubuhnya mengej@ng, hingga merasa bahwa sekarang ia berada di ambang kepuasan. Bibirnya meracau, meneriaki nama Sky hingga membuat pria itu tidak dapat menahan dirinya lagi.


"Sky, tung---"


Terlambat, Yara tidak bisa mencegah karena Sky sudah menerobosnya saat itu juga.


Dan yang dirasakan Yara setelahnya adalah kejanggalan, karena sejak tadi ia sudah dapat memperkirakan--saat melihat milik Sky yang ternyata benar-benar diluar ekspektasinya.


"Kamu makin cantik saat wajah kamu merah kayak gini," kata Sky berusaha menetralkan suasana.


Wajah Yara yang sebelumnya sudah merah semakin memerah saja karenanya. Sekarang Sky belum bergerak, seolah dia tau dan memahami. Sky juga mau Yara menyesuaikan diri atas pe-nya-tu-an mereka ini.


Yara sendiri merasa sulit berkata-kata sekarang. Dia merasa penuh oleh Sky di bawah sana. Sky terlihat berpengalaman dan sangat pengertian.


"Kenapa kamu pintar melakukannya, Sky?" tanya Yara dengan suara merintih-rintih.


"Pintar? Aku baru mempraktekkannya hari ini, sama kamu."


Tidak bisa dipercaya, bahkan gerakan pria ini terarah dan beritme. Sky berbeda dari Juna, mantan suaminya itu lebih sering melakukan dengan tergesa-gesa. Tapi Sky tidak, dia pandai memainkan tempo.


"Aku gak yakin," akui Yara akhirnya. Ia merasa Sky sangat liar namun lembut diwaktu bersamaan. Entahlah, Yara menyukai permainan ini. Sangat.


"Sayang, di dunia ini ada yang namanya belajar. Right?"


"Hmm, sama siapa kamu belajar?" tanya Yara ditengah-tengah kegiatan yang menyatukan mereka itu.


Sky tersenyum sekilas. "Sama kamu. Kamu ajarin aku setiap hari, oke?" ujarnya dengan sangat tenang.


Setelah itu, Yara tidak bisa lagi berkata-kata karena Sky seolah tidak memberikannya kesempatan untuk membahas itu lebih lanjut. Kebanyakan Yara hanya men-des@h sampai akhirnya menger@ng nikmat di saat permainan itu berakhir.


Bersambung ....


****

__ADS_1


Dah ya, meskipun ini @degan pemers@tu b@ngsa, katanya..... tapi jujurly, othor migren nulis ginian✌️🤪


Please, tinggalkan komentar gaes🙏


__ADS_2