EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
131. Blue and Pink


__ADS_3

6 bulan kemudian ...


Sky mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap peluh istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan. Sudah 2 hari ini Yara merasakan kontraksi palsu yang menyebabkan sakit luar biasa.


Sky sudah menawarkan Yara untuk melalui proses operasi caesar, sebab dia tidak tega melihat istrinya kesakitan tapi Yara tetap kekeuh ingin melahirkan secara normal, lagipula keadaannya dan bayi-bayi dalam kandungannya sehat dan sudah siap untuk lahir.


Akhirnya, Sky hanya bisa memberi dukungan penuh untuk istrinya itu, dia percaya Yara bisa melewatinya namun tetap saja dia jadi lelaki cengeng saat melihat masa-masa pembukaan jalan lahir bagi bayi kembarnya.


"Bu Yara, ayo sedikit lagi, ini kepala bayinya sudah kelihatan, ayo!" Dokter Metha yang memimpin proses melahirkan itu terus menyemangati Yara. Beberapa asisten sang Dokter juga melakukan hal yang sama.


Sebenarnya, Sky tidak kuat, rasanya dia hampir pingsan saat melihat cairan bening ikut merembes dan keluar dari tubuh Yara. Bukan karena dia takut menyaksikan hal itu, tapi dia ikut merasakan sakit yang Yara rasakan. Hanya saja, Sky berusaha untuk lebih kuat didepan Yara yang pasti lebih tau rasa sakitnya.


Bukannya Sky yang menenangkan Yara, justru istrinya lah yang memberinya kata-kata penghiburan. Mungkin Yara tau jika saat ini Sky terkena panic effect.


"Aku gak ... apa-apa," Yara pun tersenyum lirih. "Ka--mu te--tenang, hmm?" ujar Yara dengan susah payah karena dia juga sedang mengatur nafas.


Suara dokter terus terdengar memberikan instruksi dan Yara dengan susah payah mengikuti hal itu sebab inipun pengalaman pertama bagi dia. Syukurnya saat hamil Yara juga pernah mengikuti les kehamilan sehingga ia tak terlalu sulit untuk mengartikan instruksi sang dokter.


Disaat Yara menjerit tertahan saat ingin melahirkan bayi-bayinya, Aku memejamkan mata rapat-rapat.


"Owek ... Owek ... Owek..." Suara tangis bayi tiba-tiba terdengar dan pria itu segera melebarkan pandangan.


"Bayinya sudah lahir, Pak, Ibu. Selamat ya, Baby twins nya perempuan dan laki-laki."


Sky kegirangan, dia menghujani wajah Yara dengan ciuman yang bertubi-tubi. Hilanglah sudah rasa kesakitan Yara melihat kedua bayinya lahir dengan selamat.


"Makasih sayang, kamu menyempurnakan pernikahan kita. Kamu memberiku bonus yang luar biasa. Terima kasih, meski kata-kata itu gak cukup mewakili semuanya." Sky mengecup bibir Yara penuh kasih sayang, dia mengabaikan dokter Metha dan beberapa asistennya disana, dia menikmati ciumannya bersama Yara sampai akhirnya dia sadar bahwa dia harus melihat rupa anak-anaknya.


Sky menggendong Baby perempuan yang lebih dulu lahir.


"Hai, kakak ..." Sky menyebut bayi itu sebagai kakak, pertanda sang bayi adalah anak pertama. Lalu menyusul melihat baby laki-laki yang digendong oleh suster. "Hai, adik ..." ujarnya kemudian.


Sunggingan senyum haru dan bahagia terlihat jelas dari wajah seorang Sky Lazuardi.


Yara yang masih ditangani pasca proses melahirkan itu memandangi suami yang menggendong dua bayinya sekaligus, dia meneteskan air mata kebahagiaan.


"Terima kasih, Tuhan. Kau memberiku jackpot yang sangat istimewa," batin Yara.


Suasana bahagia, syahdu dan hari biru mendadak hadir dan menerpa ruang kelahiran bayi kembar itu. Sky berjalan mendekat, dia memperlihatkan wajah-wajah mungil itu pada istrinya.


"Aku bahagia banget, sayang. Ini adalah hari paling sempurna dalam kehidupanku." Sky berujar.


Yara mengangguk sekilas. "Iya, aku juga bahagia sekali sudah menyandang status jadi seorang mama," kata Yara dengan suara lesu.


Sky mendekatkan bayinya pada Yara.


"Hai, twins..." Yara menyapa bayi-bayinya dan mengelus lembut pipi bayi yang masih merah itu. "Lihat, pipi si kakak lucu, warnanya pink," kata Yara terkekeh.

__ADS_1


Sky mengangguki perkataan istrinya. "Kalau si adek gimana?" tanyanya.


Yara memperhatikan bayi lelakinya. "Dia tampan sekali, Sayang," pujinya. "Oh, anak-anak mama...." katanya antusias dengan rasa takjub dan bahagia.


Brak....


Suara pintu ruangan yang dibuka dari luar, membuat Sky dan Yara otomatis melihat pada arah pintu.


"Cucu Oma mana? Udah lahir, kan? Maaf ya, Oma baru tiba tadi pagi dari Singapore." Indri masuk ke ruangan dengan senyum semringah.


"Udah, Ma," sahut Sky dengan senyuman bangga.


Indri mendekat, dia tau bayi Yara kembar, tapi mereka memang belum tau jenis kelamin bayi-bayi itu karena memang meminta untuk dirahasiakan setiap melakukan USG.


"Bayinya cewek-cowok?" tanya Indri speechless dan Sky mengangguk sebagai tanggapan atas pertanyaan Indri.


"Ya Tuhan, terima kasih." Indri senang sekali. Dia diberikan cucu dua sekaligus.


Dia dan Sky pun berebutan untuk menggendong bayi-bayi itu, sementara Yara hanya tertawa pelan melihat suami dan mertuanya yang mendadak berubah lucu hari ini.


...~~~...


"Kamu udah punya nama untuk bayi kita?" Sky menatap Yara serius, dia ingin lebih dulu menanyakan istrinya mengenai hal ini meski mereka sudah pernah sepakat dengan beberapa nama pilihan.


"Hmm, Ocean dan Aurora."


"Nama papanya kan berarti langit. Jadi, nama anak-anak juga minimal punya makna yang sama. Nama kamu langit yang luas. Nah, Ocean itu samudera yang juga luas, jadi dia harus bisa seperti kamu, Sayang."


Sky mengangguk. "Kalau Aurora?"


"Aurora itu cahaya yang ada di langit. Aku suka nama itu," papar Yara dengan senyumnya.


"Aurora dan Ocean."


Kedatangan Anton dan Nadine ke ruang perawatan Yara sore itu, menambah kelengkapan yang ada. Baby Elara juga sudah tumbuh dengan cepatnya. Sekarang bayi mungil itu sudah berusia hampir 10 bulan dan dia sudah bisa berceloteh tidak jelas.


"Kakak Elara punya adek kembar," kata Nadine seolah menjelaskan pada Elara.


Elara terkekeh-kekeh senang, seperti paham saja apa yang terjadi.


"Selamat ya, Dek... Mas seneng banget. Mas selalu doakan kamu supaya bahagia."


"Mas..." Yara terharu dengan ucapan sang kakak. Anton memeluknya dan dia membalas pelukan hangat itu. "Seandainya masih ada bapak dan ibu, mereka pasti senang kalau lihat cucu-cucu mereka berkumpul kayak gini, Mas." Yara berujar sembari melihat Nadine yang mengajak Elara berinteraksi dengan baby twins.


"Iya, dek, Mas juga berpikiran begitu."


Sky kembali ke ruangan setelah sebelumnya keluar sekejap untuk membeli buah-buahan pesanan Yara.

__ADS_1


"Mas, mbak? Kapan nyampek?" Sky menyapa Anton dan Nadine.


"Belum lama, baru sekitar 10 menit," kata Anton menjawab.


Sky duduk setelah meletakkan bungkusan buahnya di meja dekat sofa.


"Jadi, kapan Mas Anton dan Mbak Nadine menikah?"


Anton melirik Nadine yang pura-pura tak mendengar, wanita itu sibuk dengan anak-anak disudut ruangan.


"Nadine belum mau."


"Hah?" Sky dan Yara terkejut karena hal ini.


"Kenapa?" Yara angkat suara.


"Tanya aja sama orangnya langsung," jawab Anton sembari mengendikkan bahunya.


Nadine sudah resmi bercerai dengan Lucky dua bulan yang lalu. Tapi, dia belum mau untuk ke jenjang pernikahan bersama Anton meski dia pernah mengakui rasa cintanya pada pria itu.


"Sabar ya, Mas." Sky menimpali. "Aku dulu juga gitu, pas Yara baru cerai kan mas bilang harus nunggu setahun dulu," kata Sky yang kini berbisik pada Anton.


Mendengar ujaran adik iparnya, Anton langsung melotot. Iya juga, pikirnya.


"Mas mau ikutin cara kita gak, biar cepat diresmikan?" tanya Sky sembari menaik-naikkan kedua alisnya menggoda Anton.


"Sembarangan kamu, ya!" marah Anton tapi kemudian dia terkekeh.


Memang lucu ingat saat bagaimana Yara dan Sky menikah dadakan waktu itu, tapi mana mau Anton mengikuti jejak mereka demi bisa menikahi nadine secepatnya.


"Percaya deh, mas. Itu cara instan, kita juga gak dosa karena kan emang gak ngapa-ngapain." Sky menghasut Anton sementara Yara geleng-geleng kepala di atas bed. Yara tau Sky tengah mempengaruhi Anton sekarang.


"Halah!" Anton mendengkus, adik iparnya kadang-kadang memang minim akhlak. "Oh iya, siapa nama bayi-bayi kalian?" tanyanya membahas hal lain.


"Yang laki-laki, Blue Ocean Lazuardi. Yang perempuan Pink Aurora Lazuardi."


"Terus? Aku manggilnya Blue and Pink, gitu?" kekeh Anton.


"Ya boleh aja sih, Mas."


"Cean dan Aura lebih bagus kayaknya," usul Anton.


Sky dan Yara pun setuju dengan panggilan yang disarankan oleh kakak mereka itu.


Bersambung ....


Next? Komen, ✅

__ADS_1


Yang nunggu karma untuk Lucky dan Firda, itu tetap bakal ada ya. Othor mau kalian puas baca novel ini. Setiap perbuatan akan ada balasannya. Yuk yuk ikuti terus update othor karena ini belum tamat🥰🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️


__ADS_2