
Yara POV.
Tidak bisa ku pungkiri, pesan yang ku dapat tadi membuatku tidak tenang, apalagi sampai saat ini Sky belum memberi kabar lewat chat atau telepon.
Haruskah aku meneleponnya sekarang dan menanyakannya saja?
Beberapa menit berpikir, aku tidak bisa menahan rasa keingintahuanku. Aku mengambil kembali ponsel yang tadinya sudah ku letakkan sembarangan diatas tempat tidur.
Aku menghubungi Sky karena ku pikir aku memang membutuhkan penjelasannya.
"Ya, Sayang?"
"Sayang? Kok diem?"
Aku tersentak, rupanya panggilan itu sudah tersambung. Sekarang aku bimbang apakah aku harus to the point menanyakan perihal siapa wanita itu pada Sky? atau justru berpura-pura tak tau dan menunggu Sky jujur kepadaku?
"Sayang? Hallo... kamu kenapa?"
"Eh, iya. Aku cuma lagi nungguin telepon kamu tadi."
"Ah, iya, barusan memang mau telepon kamu. Cuma keburu kamu duluan yang nelpon."
Aku menghela nafas pelan, mencoba memberi pengertian pada diri sendiri agar tidak meluapkan amarah dan meledak sekarang juga jika mengingat foto yang sempat ku terima beberapa saat lalu.
"Kamu udah makan malam, Sayang?" tanyaku akhirnya. Mau memancing kejujurannya.
"Udah, kamu sendiri udah makan belum?"
"Belum sih."
"Lho, kenapa? Makan dulu. Jangan mentang-mentang aku gak ada kamu ngelewatin makan malam gitu aja, Sayang."
"Iya, abis ini aku makan, kok. Aku cuma mau denger suara kamu dulu."
Sky terkekeh diseberang panggilan. "Udah kangen, ya? Sama, aku juga," ujarnya.
Entah kenapa aku merasa jawaban Sky kali ini tidak serius. Mungkin karena pengaruh rasa cemburu yang semakin menggerogoti hatiku atau apa. Yang jelas, aku tidak bisa mempercayainya begitu saja.
Ya Tuhan, masa hanya karena foto itu kepercayaanku pada suamiku sendiri langsung lenyap? Buru-buru aku mengenyahkan pemikiran itu.
"Tadi kamu makan dimana? Sama siapa?" Aku kembali memancing-mancing Sky, siapa tau dari jawabannya-- nanti aku bisa menghubungkan siapa sosok yang tadi menemani Sky disana.
"Tadi makan malam di Resto dekat hotel, Sayang. Sama Putra, sama Ibra juga."
Aku tau Putra dan Ibra memang rekan seprofesi Sky. Mereka menginap di Hotel selama berada di Surabaya. Tapi, tentu yang ingin aku tau bukan itu, aku mau tau siapa perempuan yang tadi tertangkap kamera dan fotonya seolah sengaja dikirimkan langsung ke nomorku.
Entah kenapa Aku merasa kecewa dengan jawaban Sky. Aku merasa dia sudah membohongiku. Jelas-jelas di foto itu dia tengah berdua saja dengan wanita itu tanpa Putra dan Ibra.
"Sayang? Kamu kenapa? Kok kayaknya banyak diem?"
"Ah, gak apa-apa. Ehm, kamu udah balik ke kamar belum? Kalau sekarang Aku mau video call, boleh?"
__ADS_1
"Tentu aja boleh."
Tak lama, mode telepon yang tadinya hanya berupa panggilan suara, kini sudah berubah menjadi panggilan video.
"Kamu kenapa?"
Alih-alih aku yang bertanya setelah melihat raut wajah suamiku itu, justru Sky lah yang lebih dulu menanyakan kenapa dengan diriku.
"Kenapa? Gak kenapa-kenapa, kok," sanggahku.
"Kok kayak sedih gitu? Kenapa? Cerita sama aku. Aura sama Cean nakal, terus buat kamu sedih?"
Ingin rasanya aku menyahut bahwa dia lah yang telah menyebabkan aku sedih. Airmata yang sejak tadi ku tahan akhirnya tumpah ruah saat itu juga.
"Lho, lho, kok mewek? Kamu kenapa, sih? Aku ada salah sama kamu?"
"Kamu ... bohong! Kamu bohongin aku, kan?" Akhirnya sebuah kalimat yang sejak tadi mau ku utarakan terlontar juga. Aku kesal, kenapa aku harus bicara sambil menangis. Harusnya aku bisa menahan, paling tidak sampai semuanya jelas dulu.
"Aku? Bohong?" Sky menunduk dirinya sendiri, aku dapat melihat ekspresi bingungnya dari layar handphone.
"Iyalah, kamu! Siapa lagi!" tudingku tanpa tedeng aling-aling.
Tampak Sky menghela nafas berat. "Sayang, aku bohongin kamu apa? Coba cerita, bilang salah aku dimana?"
"Kamu tadi makan malamnya gak cuma sama Putra dan Ibra, kan?" tuduhku langsung ke poin yang ingin ku ketahui. "Kamu sama wanita lain, kan? Jangan ngeles kamu!" cercaku tanpa bisa di kontrol lagi.
Sky tampak mengerutkan dahi. Apa kata-kataku tadi kurang jelas? Kenapa dia terlihat kebingungan begitu? Apa suami yang telah menikahiku selama lima tahun ini sudah pandai berakting sekarang?
"Jangan pura-pura gak tau, deh. Kamu ingat kan janji kamu dulu saat kita baru menikah? Kamu gak akan melakukan apa yang udah pernah Mas Juna lakuin ke aku!" ujarku nyolot.
"Aku gak nuduh! Aku punya buktinya!" tandasku dan langsung memutus panggilan video call saat itu juga.
Aku langsung menangis sejadi-jadinya. Bayangan dan kilasan-kilasan buruk memenuhi kepalaku. Memang tadi aku dapat melihat jika Sky tengah sendirian saja di dalam kamar hotelnya, tapi salahkah aku menuduhnya yang bukan-bukan setelah ada bukti foto itu ditanganku sekarang?
Ponselku terus berdering menandakan panggilan dari Sky. Aku tidak menggubrisnya. Dia juga sepertinya tidak mau berhenti berusaha. Pria itu terus menghubungiku meski tak satupun panggilannya ku tanggapi.
Aku memilih menonaktifkan ponsel, geram karena Sky tak mengaku meski aku sudah jelas memiliki bukti itu.
Tak berapa lama, pintu kamarku di ketuk. Bi Dima memanggilku sebab ada panggilan di saluran telepon rumah kami.
"Bu, Bapak menelpon di line dua." Bi Dima terus mengetuk pintu sembari memberikan pesan--bersamaan dengan itu, tablephone yang ada dikamar terus berdering-dering minta segera diangkat.
Tidak, aku tidak boleh egois, Sky juga berhak menjawab dan menjelaskan padaku selayaknya aku memang butuh penjelasannya.
Akhirnya, aku mengangkat panggilannya dari telepon nirkabel yang ada dirumah.
"Sayang?"
Panggilan mesranya selalu berhasil membuatku rindu, tapi mengingat foto itu kembali hatiku langsung memanas.
"Kamu mau jujur atau enggak, hmm?" Ku tahan air mataku yang lagi-lagi hendak mengalir deras. Mataku sembab karena terus terisak.
__ADS_1
"Oke aku jujur."
Hatiku mencelos mendengar ucapannya, berarti tadi dia berbohong, begitu?
"Tapi, sebelum itu aku mau tau kenapa kamu bisa menuduh aku berselingkuh."
"Aku punya buktinya, Sky."
"Bukti apa? Bukti aku berselingkuh, gitu?"
"Iya lah, apa lagi!" jawabku ngegas.
"Dengar, Sayang! Aku gak selingkuh. Apapun yang kamu lihat dan kamu bilang mengenai bukti perselingkuhan aku, itu gak bener. Oke?"
"Terus, aku harus percaya sama kamu?"
"Iya dong, Sayang. Kamu istri aku, wajib percaya sama aku. Kamu paling tau aku gimana. Diri aku seluruhnya milik kamu. Gak ada perselingkuhan atau semacamnya! Our mariage is perfect! Gak ada alasan buat aku berselingkuh! Aku cinta kamu selamanya!" Sky berkata tegas, dapat ku bayangkan ekspresi keseriusannya saat ini.
"Maaf, aku gak bisa percaya sama kamu kali ini, karena aku udah punya buktinya."
Dapat ku dengar dengkusan kerasa dari pria yang sudah membersamaiku selama bertahun-tahun itu.
"Ayara, kamu sadar gak, dari cerita kamu ini, aku langsung bisa mengambil kesimpulan kalau ada yang gak senang sama rumah tangga kita yang bahagia. Kamu gak seharusnya menelan info itu bulat-bulat, Sayang. Kamu harus pertimbangkan dari aspek lain. Aku harap kamu bisa berpikir lagi, jangan mau kalah sama yang ngarang cerita untuk menghancurkan kita."
Aku tergugu dengan kalimat Sky yang seakan mengajariku untuk membaca situasi. Apakah tindakanku mencurigai Sky salah? Terlebih setelah melihat foto-foto itu.
"Jadi, tadi kamu bilang mau jujur, ya udah, ayo jujur sekarang!" tantangku.
"Ya, itu tadi aku udah jujur, aku gak selingkuh. Gak ada perselingkuhan. Aku komitmen sama janji aku ke kamu. Aku juga gak mau mengkhianati kamu. Itulah kejujurannya."
"Jadi, tadi kamu makan malam sama siapa?"
"Udah dibilang sama Putra dan Ibra. Gak ada yang lain."
"Oke. Aku tutup teleponnya."
"Ayara! Kamu percaya sama aku, kan?" tanya Sky lagi setelah telepon itu hampir benar-benar terputus.
"Biar aku memikirkannya dulu. Kasih aku waktu, bukannya tadi kamu meminta aku untuk memikirkan ini. Lagian, siapa yang mau merusak rumah tangga kita? Kalau gak karena kamu yang benar-benar berselingkuh, rumah tangga kita bakal baik-baik aja."
"Oke, aku pegang ucapan kamu, kalau aku gak selingkuh, rumah tangga kita bakal baik-baik aja. Dan satu lagi, apapun yang kamu bilang sebagai bukti itu, coba kamu teliti lagi, Sayang. Aku mohon jangan seperti ini saat kita sedang terhalang jarak."
Aku mengembuskan nafas berat, tanpa menyahut lagi ku tutup panggilan itu dan menyeka airmata yang sudah mengering di pipi.
"Siapa, Sky? Siapa yang tidak senang dengan rumah tangga kita?"
Aku bergumam sendiri dengan perasaan yang frustrasi. Kembali ku aktifkan ponsel dan mencari pesan yang tadi ku terima berupa foto-foto kebersamaan Sky dengan wanita lain.
Aku membukanya satu dan kembali merasa sesak kala memperhatikan foto itu.
"Aku gak mau kehilangan kamu, Sky ..." ucapku bermonolog pada diriku sendiri. "Tapi kalau kamu memang mengkhianati aku, aku gak tau harus gimana. Apakah aku akan sanggup tanpa kamu ..."
__ADS_1
Bersambung ....
Yuk mampir yuk ke Novel Cean anaknya Skyara. Udah bab 23 disana. Judulnya Tetangga Meresahkan✅